Wednesday, May 25, 2016

Prof DR KH. Said Aqil Sirajd : Membandingkan (Penyebab) Dinasti Bani Umayyah hanya berkuasa selama 70 tahun ( Ikuti Syi'ah, Menghujat Muawiyah RA ) Dan Kerajaan Islam Di Spanyol Pernah Berkuasa Selama 800 Tahun ( Yang Melahirkan Ulama-Ulama Besar ) Dengan Indonesia (Menaklukan Imperium Majapahit) Dimana Islamnya Masih Bertahan Meskipun Belum Pernah Melahirkan Seorangpun Ulama Besar ?


Cuplikan sebagian ( tidak merubah makna ) :
Transkrip ceramah Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj (Ketua Umum PBNU saat ini) dalam acara Madrasah Karbala dan Asyura di serambi Masjid al-Mukhlishin Bojonegoro Jatim tahun 2002. Acara ini berlangsung selama sepuluh hari berturut-turut yang pada puncaknya yakni pada malam kesepuluh (Asyura) diadakan di lapangan sepakbola Singonoyo Sukorejo Bojonegoro. Inilah Madrasah Karbala dan Asyura pertama di Indonesia yang diselenggarakan oleh masyarakat NU dan Syiah secara guyub, harmonis dan terbuka untuk umum. Kami hadirkan Transkrip ini mudah-mudahan bermanfaat.
Bagi kita yang masih memiliki hati nurani yang ikhlas dan iman yang cukup ideal, kita mencintai hari ini, acara ini, bukan karena kepentingan, politik, target, atau apapun yang bersifat duniawi, tapi kita betul-betul melihat peristiwa Karbala sebagai peristiwa ’adzim, salah satu peristiwa agama. ‘Asyirul Karamah (hari berkeramat yang ke-10), sejajar dengan hari-hari mulia lainnya seperti peristiwa lahirnya Nabi Muhammad, Nuzulul Quran, Lailatul Qadr, Yaumil Arafah, Lailatul 'Idain (Idul Fitri dan Idul Adha). 
Kerajaaan Majapahit yang awalnya dipertahankan oleh masyarakat Jawa akhirnya mereka tinggalkan. Sewaktu Majapahit diserang oleh orang Islam, mereka bertahan, sehingga menyebabkan gugurnya lima orang kyai di pintu gerbang Majapahit (Syekh Abdul Qadir Assini, Syekh Ibrahim as-Samarkandi, Syekh Jumadil Qubra, Syekh Utsman al-Hamadani, Syekh Marzuki). Mereka ingin menyerang Majapahit dengan kekerasan, tetapi gagal karena rakyat mempertahankan Majapahit yang merupakan simbol kebesaran Jawa. Tetapi, dengan pendekatan Ahlul Bait, dengan cara tsaqafah, pendidikan, moral, pergaulan yang baik, akhlaqul karimah, bahkan melalui seni, akhirnya lama-kelamaan tanpa paksaan masyarakat Majapahit berbondong-bondong masuk Islam.
Sampai-sampai orang Jawa sendiri mengakui, “suro diro joyoningrat lebur diningpangastuti”, keningratan orang Jawa hancur lebur oleh kebersihannya orang santri.
“Sirno ilang kertaning bumi”, kebesaran Jawa hilang ditelan bumi. Kerajaan Majapahit, imperium yang sangat besar bahkan sampai ke Kolombo dan Philipina Selatan, kini tidak ada lagi, hanya sedikit sekali peninggalannya Seluruh Jawa akhirnya masuk Islam. Sehingga Sunan Ampel mengizinkan muridnya yaitu Raden Fatah mendirikan kerajaan Islam yang pertama di Demak. Itulah hasil perjuangan dengan pendekatan moral, akhlak, dan pendidikan, yang dilakukan oleh Ahlul Bait, dalam hal ini Wali Songo.
Coba bandingkan dengan kerajaan Islam di Spanyol yang berkuasa selama 800 tahun dan sudah melahirkan ulama-ulama besar seperti Ibnu Malik seorang pengarang Alfiyah, Ibnu Arabi seorang sufi besar, Syathibi ahli qiraat, Ibnu Hazm, Ibnu Zaidun seorang sastrawan, dan lain-lain. Kerajaan ini hilang dan tidak ada bekasnya sama sekali, bahkan masjid yang terbesar, Cordoba, sudah kembali menjadi gereja. Makam khalifah dan istrinya sudah digali dan tulang-tulangnya dibakar oleh pasukan Isabela. Padahal kerajaan itu dahulu begitu besar dan kuat, melahirkan suatu peradaban yang besar, bahkan menjadi pintu gerbang ke Eropa, dan banyak kata-kata Arab yang masuk ke Eropa melalui Spanyol. Mengapa demikian? Setelah dianalisa dan direnungkan, selama 800 tahun pemerintahan Bani Umayyah di Spanyol, tidak pernah ada raja yang menghormati Ahlul Bait.
Sebaliknya, di Indonesia, meskipun belum melahirkan ulama-ulama besar seperti di Spanyol, tetapi Islamnya masih bertahan. Inilah bi barakati Ahlul Bait, karena umat Islam di Indonesia masih menghormati Ahlul Bait. Tentu ini hanyalah tinjauan spiritual. Analisa yang dilakukan bukan analisa rasional, tetapi analisa metafisis. Islam saat ini sudah semakin mantap dan menyatu dengan kehidupan masyarakat.
Kita ketahui bahwa Dinasti Bani Umayyah yang sudah begitu banyak merekayasa sejarah ( fitnah , tipikal syiah.red lamurkha ) hanya berkuasa selama 70 tahun, berakhir tahun 112 H dan diganti dengan dinasti Bani Abbasiyah. Dalam masalah seperti ini, orang-orang yang rasional terkadang tidak percaya bahwa ada barakah, ada faktor x yang bersifat metafisis dan supranatural, yang tidak bisa dilihat dengan mata kasat ( ?! ). Hal itu tidak bisa dilihat dengan bashar tapi harus dengan bashirah, tidak bisa dipikirkan tapi harus ditafakuri, tidak bisa dengan akal tapi dengan ta’aqqul, tidak bisa dengan manthiq tapi dengan dzauq, tidak bisa dengan logika tapi dengan intuisi. Kita harus memahami itu semua ( kebanyakan baca filsafat ).
(Menghujat sahabat Muawiyah RA, membuat tasykik atau keragu-raguan terhadap sunnah sebab Abu Hurairah RA belasan tahun bersama Muawiyah RA. Bermuara pada eksistensi dan otoritas Bukhari; red. lamurkha )
Mudah-mudahan, dengan berkumpulnya kita di tempat ini dengan niat yang tulus ikhlas, bukan karena kepentingan apapun, kita semua mendapatkan barakah dan syafaat dari Ahlul Bait.
http://biografiulamahabaib.blogspot.co.id/2012/12/ceramah-prof-dr-kh-said-aqil-sirajd.html?m=0
======================
Muawiyah Dan Keutamaannya, Beliau Adalah Juru Tulis Rasulullah, Bahkan Dijanjikan Masuk Surg
Keutamaan Muawiyah, Kaum Anshar dan Siapa ( Dimana Posisi ) Kita ? ( Bagian Pertama )
Keutamaan Muawiyah, Kaum Anshar dan Siapa ( Dimana Posisi ) Kita ? ( Bagian Kedua )
‘Aliy bin Abi Thaalib : Mu’aawiyyah adalah Saudara Seiman, Sama dengan Dirinya
Imam Ali: Andai Saja Muawiyah Mau Menukar 1 Orangnya Dengan 10 Syiahku
Fitnah Terhadap Daulah Bani Umayyah
Meluruskan Pemahaman Tentang Shahabat Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu
Sesungguhnya Mu'awiyyah Radhiyallaahu 'Anhu Lebih Baik Bagiku Daripada Mereka Yang Mengaku-Ngaku Sebagai Syi'ahku!!!!
Pembelaan Salafi Ahlussunnah terhadap Kehormatan Shahabat Nabi, Mu’awiyah bin Abi Sufyan (1): SIAPA KITA, SIAPA MU’AWIYAH?
Pembelaan Salafi Ahlussunnah terhadap Kehormatan Shahabat Nabi, Mu’awiyah bin Abi Sufyan (2): KONSPIRASI MENCABIK KEHORMATAN MU’AWIYAH BIN ABI SOFYAN
Pembelaan Salafi Ahlussunnah Terhadap Kehormatan Shahabat Nabi, Mu’awiyah bin Abi Sufyan (3): KEUTAMAAN MU’AWIYAH KESEPAKATAN AHLUSSUNAH SEPANJANG ZAMAN
Muawiyah, Gerbang Kehormatan Sahabat
[ Mengenang Kembali ] Muawiyyah Ibnu Abu Sofyan
Kitab Syiah: Bagaimana pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah?
Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Mu'awiyah Dan Pertikaiannya Dengan Ali
Tanggapan Atas Artikel “Distorsi Sejarah dalam Serial Muawiyah, Hasan dan Husein”
Dialog Indah antara Aisyah, Ali dan Muawiyah radhiyallahu anhum
Memandang Perang Shiffin Bukan dari Mata Pendengki
Imam Hasan, Imam Maksum Yang Dibenci Syiah, Mengapa Dia Membai'ah Muawiyah?
Surat kepada Abu Hasan ( Penggugat ) : Muawiyah r.a – 1
Kisah Tahkim Yang Palsu
Mengenal Muawiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu 'anhuma
Majmu Fatawa: Kedudukan Muawiyah dan Amr Bin Ash
Makam Muawiyah Oleh Syi’ah Dianggap Tempat Pembuangan Sampah
Menghujat Abu Hurairah, Syiah Menghujat Kitabnya Sendiri, Apakah Imam Syiah Menjadi Antek Muawiyah?
Al Isra’ Ayat 33: Muawiyah Menuntut Hukum Qisas Ke Atas Pembunuh Khalifah Usman.
Meneliti 5 Riwayat Hadits Yang Menghujat Sahabat Mu'awiyah

Tanya jawab Masalah 1:
Kita tidak pernah mengenal Madrasah Karbala, Imam Husain, maupun keturunan Rasulullah lainnya yang menjadi panutan para pencinta Ahlul Bait. Hal ini tidak terlepas dari proses sejarah, ketika Dinasti Bani Umayyah selama 90 tahun melakukan rekayasa informasi terhadap masyarakat Islam internasional, dengan memasukkan salah satu rukun khutbah adalah mencaci maki Ahlul Bait. Dilanjutkan dengan Dinasti Abassiyah selama 500 tahun yang juga membenci Ahlul Bait.
Di Indonesia kita mengenal salah satu institusi yang sangat mengagungkan Rasulullah dan keluarganya, yaitu Nahdhatul Ulama. Tetapi NU secara jam’iyah (keorganisasian) tidak pernah melakukan revisi terhadap sejarah yang dibangun di madrasah-madrasahnya. Sejarah yang diajarkan kepada kita tidak pernah sedikitpun menyangkut persoalan Ahlul Bait. Kita hanya diajarkan tentang sejarah kekhalifahan, sejarah Rasulullah dan sejarah lain yang sama sekali tidak menguatkan emosi kita. Oleh karena itu, diharapkan NU mengadakan perombakan secara total terhadap visinya, karena Ahlul Bait sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, berupa tawasul, wirid, dan doa-doa.
Mengapa Ahlul Bait dikucilkan di mata masyarakat Islam di Indonesia dan tidak mendapat tempat secara formal dalam organisasi Islam?
Jawaban 1:
Kecemburuan, ketakutan, dan kekhawatiran penguasa terhadap kelompok militan yang memegang Islam secara disiplin, aqidah, sikap, pola pikir, dan perilaku sehari-hari, senantiasa terjadi sepanjang sejarah. Dinasti Bani Umayyah memang merebut hak dari Ahlul Bait secara dzalim, sedangkan Dinasti Bani Abbasiyah sebenarnya berasal dari Ahlul Bait. Mereka melakukan kampanye untuk menggulingkan Bani Umayyah, dan seorang tokoh Persia yang berjasa besar mengkampanyekan Ahlul Bait adalah Abu Muslim al-Khurasani. Jadi, Dinasti Bani Abbasiyah berdiri karena mengatasnamakan Ahlul Bait.
Muawiyah ketika berkuasa, karena khawatir masyarakat akan memberontak, kemudian menyebarkan dan mengharuskan ajaran Jabariyah (fatalisme). Para ulama diperintahkan untuk menyebarkan ajaran tersebut, yaitu bahwa apa yang terjadi adalah kehendak Allah. Kematian Sayyidina Ali dan keluarganya, berkuasanya Muawiyah, semua itu merupakan kehendak Allah dan atas ridha Allah. Untuk meredam gejolak dalam masyarakat, diajarkan khairihi wa syar’ihi minallah, baik dan buruk itu adalah dari Allah. Tidak ada satupun ulama yang berani menentangnya, kecuali Muhammad al- Hanafiah, putra Sayyidina Ali dari istri yang bernama Haulah binti Ja’far dari suku Bani Hanifah. Beliau yang saat itu masih berusia 19 tahun, mengadakan majelis di masjid Madinah, dan mengatakan bahwa perbuatan hamba Allah terhadap sesamanya tidak tergantung qadha’ dan qodar. Apa yang terjadi adalah perbuatan Muawiyah, tidak ada campur tangan Allah. Ajaran itu hanya merupakan manipulasi aqidah. ( ????? )
Pengikut Muhammad al-Hanafiah cukup banyak, terutama orang Persia, salah satunya adalah Ma’bad al-Juhani. Dia bahkan mengatakan bahwa tidak ada qadha’ dan qadar, baik buruk manusia adalah dari manusia sendiri, tidak ada intervensi dari Allah. Bahkan Allah baru mengetahuinya setelah suatu kejadian terjadi. ( ????? pemahaman sesat )
Pengikut Muhammad al-Hanafiah yang lain adalah Wasil bin Atha’, seorang sastrawan yang cerdas. Dia adalah pendiri mu’tazilah, yang rukunnya ada lima yaitu at-tauhid wal ‘adl, wa’du wal wa’id, assulhu wal ashlah, al-manzilah bil manzilatain, al-amru anil ma’ruf wannahyu ‘anil munkar. Dia mengatakan, perbuatan hamba Allah terhadap sesamanya tidak tergantung qadha’ dan qadar, tetapi Allah mengetahuinya.
Wasil bin Atha kemudian berguru kepada putra Muhammad al-Hanafi yang bernama Abu Hasyim, yang memegang surat-surat rahasia berisi nama-nama yang memperjuangkan nasib Ahlul Bait. Abu Hasyim meninggal dalam perjalanan, di rumah Ali bin Abdullah bin Abbas. Di dalam tas beliau terdapat daftar nama-nama tokoh dari Khurasan, Persia, yang akan memperjuangkan nasib Ahlul Bait. Surat tersebut dibawa oleh Ali bin Abdullah bin Abbas, dan beliau menghubungi orang-orang tersebut untuk melanjutkan perjuangan Ahlul Bait didukung oleh masyarakat Persia sehingga memperoleh kemenangan. Akhirnya lahirlah Bani Abbasiyah yang raja pertamanya adalah Abu Abbas as-Saffah. Seluruh keluarga Bani Umayyah dibantai kecuali satu yang lari ke Spanyol, Abdurrahman ad-Dakhili. Jadi, sebenarnya Dinasti Abbasiyah lahir karena menggunakan Ahlul Bait.
Disclaimer:
Panitia Madrasah Karbala dan Peringatan Asyura, Masjid al-Mukhlishin Bojonegoro Jawa Timur, 2002.
Diposkan oleh Sya'roni As-Samfuriy di 14.23 


Oleh Maulana Mohd Asri Yusoff
Di antara tuduhan yang dilontarkan kepada Sayyidina Muawiyah r.a ialah kononnya beliau telah melayani Bani Hasyim terutamanya di kalangan Ahlul Bait dengan buruk dan telah bertindak kejam terhadap mereka, selain daripada tidak pernah terjalinnya perhubungan  yang baik di antara mereka dengan Muawiyah dan seterusnya khulafa’ daripada kalangan Bani Umaiyyah.

Alasan yang selalu dikemukakan ialah berpunca daripada gambar sejarah yang sememangnya bercampur baur di antara kebenaran dan kebatilan. Sebenarnya kita tidak  hairan dengan riwayat sejarah yang memuatkan cerita-cerita seumpama itu apabila kita memeriksa perawi-perawi (pewarta-pewarta) yang merupakan  sumber cerita-cerita itu.

Begitupun jika kita meneliti dengan cermat dan saksama terhadap fakta-fakta yang terdapat di dalam kitab-kitab sejarah samada ditinjau dari sudut riwayat mahupun dirayah dengan cepat akan teserlah di hadapan kita kepalsuan tuduhan-tuduhan itu.  Kenyataan yang dapat disimpulkan daripada fakta-fakta sejarah itu amat bertentangan sekali dengan tuduhan yang terdapat di dalamnya. Ini ialah kerana tak mungkin boleh terjalinnya hubungan persemendaan sebagai menantu, besan, biras dan lain-lain di antara dua keluarga yang bermusuhan begitu sekali seperti yang tersebut di dalam kitab-kitab sejarah. Tidak mungkin juga orang-orang yang bermaruah seperti individu-individu daripada kalangan Ahlul Bait terutama Hasan dan Husain r.a boleh menerima hadiah-hadiah saguhati, cenderamata atau habuan daripada orang yang zalim dan kejam yang sentiasa merendahkan kehormatan mereka.

Begitu juga tidak masuk akal jika orang-orang yang terhormat dan mulia seperti Sayyyidina Hasan dan Husain r.a boleh berulang alik ke istana Muawiyah yang dikatakan sebagai penipu dan jahat itu kemudian pulang dengan membawa hadiah-hadiah yang nilainya beratus-ratus ribu dirham, kecuali jika diterima bahawa Sayyidina Hasan dan Husin dan juga Ahlul Bait yang lain sebagai orang-orang yang gila dunia atau mata duitan.

Bagaimana mungkin kejam dan zalimnya orang yang Sayyidina Hasan dan Husain turut serta di dalam jihad yang dilancarkannya di samping menyandang pula jawatan-jawatan istimewa dalam kerajaan pimpinannya.

Di sini akan dikemukakan beberapa contoh dari fakta sejarah untuk menghapuskan segala tuduhan-tuduhan palsu itu:

1)    Hubungan baik di antara Sayyidina Muawiyah dan Ahlul Bait terutama Sayyidina Hasan dan Husain r.a.

Ibnu Katsir menulis, “Pada zaman pemerintahannya, Sayyidina Muawiyah melayan Sayyidina Hasan dan Husin dengan penuh mesra dan menghadiahkan kepada mereka hadiah-hadiah yang berharga. Pernah pada suatu hari beliau menghadiahkan wang sebanyak dua ratus ribu dirham kepada mereka berdua” (Al Bidayah wa An-Nihayah, jilid 8 m.s. 50).

Ibnu Abil Hadid menulis, “Muawiyah memberikan habuan terutama kepada Hasan dan Husain sebanyak seratus ribu dirham. Anaknya Yazid pula memberikan habuan tahunan kepada merka berdua sebanyak dua ratus ribu dirham. Sebanyak itu juga diberinya kepada Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Ja’afar (ipar Sayyidina Husain iaitu suami kepada Zainab, adiknya)” (Syarah Nahjul Balaghah).

Selain daripada habuan tahunan sebanyak seratus ribu dirham itu, Sayyidina Husain dikirimkan bermacam-macam cenderamata dan hadiah-hadiah berharga oleh Muawiyah dan Sayyidina Husain menerimanya dengan gembira sekali.

Sayyidina Husain berkunjung ke kediaman Muawiyah seorang diri dan kadang-kadang bersama abangnya Hasan pada tiap-tiap tahun dan Sayyidina Muawiyah melayani mereka dengan baik dan penuh penghormatan. Beliau memberikan kepada mereka bermacam-macam hadiah. Selepas kewafatan Hasan, Sayyidina Husain tetap berkunjung ke kediaman Muawiyah pada tiap-tiap tahun. Beliau dilayani dengan baik dan penuh penghormatan oleh Muawiyah. (Al Bidayah wa An-Nihayah, jilid 8, m.s. 150-151)

Pernah pada sutu ketika Sayyidina Hasan telah dihadiahkan oleh Muawiyah wang sebanyak empat juta dan pada ketika yang lain pula Sayyidina Hasan dan Husain telah dihadiahkan dua juta dirham. (Al Bidayah wa An-Nihayah, jilid 8, m.s. 137).

Pernah Sayyidina ‘Aqil (abang Sayyidina Ali r.a) memerlukan empat puluh ribu dirham maka beliau pergi menemui Muawiyah dan menyatakan keperluan itu kepadanya. Muawiyah bermurah hati kepadanya dan terus memberikan wang sebanyak lima puluh ribu dirham. (Usdul Ghabah, jilid 3, m.s. 223).

Sayyidatina Aisyah r.a pernah dikirimkan oleh Muaiwiyah wang sebanyak seratus ribu dirham dan sebaik sahaja Aisyah menerimanya dia terus membahagi-bahagikannya kepada orang-orang lain (yang memerlukannya) pada hari itu juga.

Pada suatu ketika pernah Sayyidatina Aisyah berhutang sebanyak 18 ribu dinar (Muawiyah mendapat tahu tentang itu ) maka beliau pun menjelaskan kesemua hutang Aisyah itu.

Pernah juga Muawiyah mengirimkan seutas kalung yang berharga seratus ribu dirham kepada Aisyah. Kiriman itu diterima oleh Aisyah dengan gembira sekali.

Pernah Sayyidina Hussain dan  Abdullah Bin Ja’far At Thayyar menghantar utusannya kepada Muawiyah untuk meminta bantuan kewangan daripada beliau, maka wang sebanyak sejuta dirham dikirimkan kepada mereka. Pada ketika yang lain pula Muawiyah mengirimkan wang kepada Sayyidina Hassan, Abdullah Bin Ja’far At Thayyar, Abdullah Bin Umar dan Abdullah Bin Zubair sebanyak seratus ribu dirham.

Setelah mendapat tahu tentang kewafatan Sayyidina Hassan, Muawiyah pergi menemui Abdullah bin Abbas untuk mengucapkan takziah kepadanya. Muawiyah berkata kepada Abdullah Bin Abbas, “Semoga Allah tidak menyedihkan dan menyusahkann hatimu atas kematian Hassan ini”. Ibnu Abbas lantas menyahut, “Semoga Allah tidak menyedihkan dan menyusahkan hatimu selama Allah memanjangkan umurmu”. (Al Bidayah Wa An Nihayah,jilid 8 m.s. 136 – 138.)

2)    Menyandang jawatan istimewa di dalam kerajaan Muawiyah.

Di antara individu dari Bani Hasyim ada yang menyandang jawatan istimewa (seperti qadhi dan lain-lain) didalam pemerintahan Muawiyah.

Di Madinah, Marwan Bin Al Hakam adalah gabenor yang dilantik oleh Muawiyah. Ketika itu perlu adanya seorang qadhi (hakim) di Madinah. Oleh itu, Marwan telah melantik Abdullah Bin Al Harith Bin Naufal Bin Al Harith Bin Abdul Muttalib sebagai qadhi di Madinah. Lantaran itu sesetengah golongan mengatakan itulah qadhi yang mula-mula  dilantik di Madinah.

Ibnu Sa’ad menulis di dalam Thobaqatnya: daripada Abi Al Ghaits, katanya: “Aku mendengar Abu Hurairah berkata”, “Setelah Marwan Al Hakam dilantik sebagai gabenor bagi pihak Muawiyah di Madinah iaitu pada tahun 42 Hijrah, beliau telah melantik Abdullah bin Al Harith sebagai qadhi di Madinah. Abu Hurairah berkata, “Itulah qadhi yang mula-mula aku lihat dalam Islam (di Madinah)”. Thobaqat Ibnu Sa’ad jilid 5 m.s. 13). Kenyatan yang sama di dalam Tarikh At Thobari, jilid 6 m.s. 12 di bawah tajuk peristiwa yang berlaku pada tahun 42 Hijrah.

3)    Qustam Bin Abbas r.a dan Sayyidina Hassan r.a ikut serta di dalam jihad yang dilancarkan oleh Muwiyah di zaman pemerintahannya.

Qustam Bin Abbas terbilang di antara sahabat kecil Rasullullah SAW. Beliau adalah saudara sesusu dengan Sayyidina Husin Bin Ali. Beliau telah pergi ke Khurasan di zaman pemerintahan Muawiyah untuk tujuan jihad. Kemudian beliau pergi pula ke Samarkand. Panglima perang yang beliau ikuti di dalam peperangan itu ialah Said Bin Uthman Bin Affan. Akhirnya beliau telah mendapat syuhada (syahid) dalam peperangan di Samarkand.

Demikian tersebut didalam Thobaqot Ibnu Sa’ad, jilid 7, m.s. 101, Nasabu quraisyin, m.s. 27, Tahtazikri Auladi Abbas, Siaru ‘Alami An Nubala’, jilid 3 m.s. 292, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid, jilid 5, m.s. 72.
           
Ahli-ahli sejarah menyebutkan dengan jelas bahawa Sayyidina Hussin juga turut serta di dalam jihad yang dilancarkan di zaman pemerintahan Muawiyah. Beliau menyertai jihad itu dengan suka cita dan relahati, bukan dengan paksaan malah telah memberikan pertolongan yang sepenuhnya  dalam jihad itu.

Ibn Katsir menulis, “Setelah Sayyidina Hassan wafat, Sayyidina Husain pada tiap-tiap tahun tetap mengunjungi Muawiyah. Beliau dikurniakan dengan hadiah-hadiah dan dimuliakan oleh Muawiyah. Beliau pernah menyertai angkatan tentera yang menyerang Constantinople di bawah pimpinan anak Muawiyah iaitu Yazid pada tahun 51 H”. (Al Bidayah Wa An Nihayah, jilid 8, m.s. 151). Perkara yang sama termaktub di dalam Tahzibu Tarikhi Ibni Asakir, jilid 4, m.s. 311, Tazkirah Husain bin Ali.

4)   Hubungan persemendaan di antara Bani Umaiyyah dan Bani Hasyim

Hubungan persemendaan di antara Bani Hasyim dan Bani Ummaiyah terjalin semenjak sebelum Islam lagi dan berterusan hingga ke zaman-zaman pemerintahan Bani Umayyah. Daripada kenyataan-kenyataan sejarah dapat dilihat betapa mesra dan eratnya hubungan di antara mereka.

Permusuhan dan perseteruan di antara mereka tidak lebih daripada cerita-cerita rekaan yang dicipta oleh golongan musuh-musuh Islam dengan tujuan membuktikan kepada dunia bahawa semangat perkauman jahiliyah masih lagi menguasai mereka dan begitu tebal sehingga kedatangan Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW sendiri masih gagal mencabut sampai ke akar umbinya.

Sebaliknya daripada fakta-fakta sejarah yang masih lagi boleh dirujuk dan dianggap muktabar samada daripada kalangan Ahli Sunnah mahupun musuh mereka Syiah, dapat kita temui kenyataan-kenyataan yang menyangkal dan mendustakan cerita-cerita rekaan itu.

Tidak mungkin terjadi hubungan persemendaan di antara dua golongan yang bermusuhan dengan begitu banyak sekali dalam keadaan  perseteruan di antara mereka sampai menumpahkan darah dan memaki hamun di antara satu sama lain di dalam khutbah-khutbah Jumaat .

Rasulullah SAW sendiri sebagai orang yang paling terkemuka daripada Bani Hasyim telah mengahwinkan tiga orang daripada empat orang anak perempuannya dengan Abul ‘Ash bin Ar-Rabii dan Uthman bin Affan, iaitu dua orang yang ternama dari kalangan Bani Umayyah. (lihat Ansabul Asraaf-Balezuri,jilid 5, ms 1,Thobaqotul Ibn Sa’ad, jilid 8, ms 166, Usdul Al-Ghabah, jilid 5, ms 191, Al-Mustadrak, jilid 3, ms 96, Mumtahar Al Amal, jilid 1 m.s. 9).

Aban, anak Sayyidina Uthman kemudiannya berkahwin dengan Ummi Kulthum bt Abdullah bin Ja’far, cucu saudara Sayyidina Ali sendiri. (Al-Ma’arif Ad-Dinawari, m.s. 86).

Sakinah, anak perempuan Sayyidina Husain dan cucu kepada Sayyidina Ali adalah isteri kepada cucu Uthman iaitu Zaid bin Amar bin Uthman. Bahkan beliau telah mewarisi Zaid selepas kematiannya. (Nasabu Quraisyin Mus’ab Az- Zubairi, jilid 4, ms 120, Al-Ma’arif-Ibn Qutaibah, m.s.  94, Jamharatu Ansabil Arab,jilid 1, m.s. 86, Thobaqat Ibn Sa’ad, jilid 6, m.s.  349).

Cucu Sayyidina Ali iaitu Fatimah anak perempuan Sayyidina Husain merupakan isteri kepada cucu Sayyidina Uthman yang lain bernama Abdullah dan mereka mendapat cahaya mata bernama Muhammad hasil dari perkahwinan itu. Perkahwinan di antara mereka berdua berlangsung setelah Fatimah menjadi janda kepada Hassan bin Hassan bin Ali. (Lihat Thobaqat Ibn Sa’ad, jilid 8, ms 348, Al-Ma’arif, ms 93, Nasabu Quraisyin, jilid 4, ms 114, Maqaatilu At-Tholibiyyin Al-Isfahani, m.s. 203, Nasikuh At Tawarikh, jilid 6, m.s. 534).

Kemudian cucu Sayyidina Hassan iaitu anak Sayyidina Hassan Al-Mutsanna berkahwin pula dengan cucu Marwan bin Aban bin Uthman. Bahkan ahli-ahli sejarah menyebutkan bahawa anak Hassan Al-Mutsanna yang dikenali dengan Ummul Qasim ini telah mendapat cahaya mata hasil perkahwinannya dengan Marwan tersebut, iaitu Muhammad. (Nasabu Quraisyin, jilid 2, m.s. 53, Jamharatu Ansabil Arab, jilid 1, m.s. 85, Al-Muhabbar Al-Baghdadi, m.s. 438).

Cucu saudara Sayyidina Ali iaitu Ramlah bt Muhammad bin Ja’far At-Thoyyar bin Abi Thalib mula-mula menjadi isteri kepada Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan. Kemudian menjadi pula isteri kepada Abul Qasim bin Wahid bin Uthbah bin Abi Sufian (Kitabu Al-Muhabbar, ms 449).

Ramlah anak perempuan Sayyidina Ali sendiri telah berkahwin dengan anak Marwan bin Al-Hakam yang bernama Muawiyah. Sebelum itu Ramlah adalah isteri kepada Abi Al-Hayyaj (Nasabu Quraisyin, ms 45, Jamharatu Ansabil Arab, m.s. 87).

Sementara Zainab anak perempuan Hasan Al-Mutsanna pula menjadi isteri kepada Walid bin Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi. (Nasabu Quraisyin, ms 52, Jamharatu Ansabil Arab, m.s.  228.

Selain daripada cicit kepada Sayyidina Ali, Hafisah bt Zaid bin Al-Hasan bin Ali adalah isteri kepada cucu Marwan iaitu Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan dan wafat sebagai isterinya. Ibunya ialah Lubabah bt Abdullah bin Abbas. (Thobaqat Ibn Sa’ad, jilid 5, ms 234, ‘ Umdatu At-Thalib fi ansabi’ah Abi Thalib, m.s. 70).

Hasil perkahwinan Sayyidina Husain dengan Laila bt Abi Muruah bin ‘Urwah bin Mas’ud At-Tsaqafi telah melahirkan Ali yang dikenali dengan Al-Ahbar yang kemudiannya terbunuh syahid bersama beliau di Karbala. Ibu kepada Laila ini ialah Maimunah bt Abu Sufian bin Harb bin Umayyah. Ini bererti Sayyidina Muawiyah adalah bapa saudara kepada Laila, iaitu isteri kepada Sayyidina Husain itu. (Nasabu Quraisyin, ms 57, Tarikh Khalifah bin Khayyat, jilid 1, m.s. 255).

Apa yang disebut ini adalah sebahagian daripada hubungan persemendaan di antara Bani Umaiyyah dan Bani Hasyim. Itu pun sudah mencukupi untuk menolak kekeliruan yang telah ditimbulkan. Cerita-cerita yang direka oleh musuh-musuh Islam ini mengatakan bahawa di antara dua keluarga ini telah tertanam permusuhan dan dendam kesumat yang amat mendalam sehingga akhirnya mencetuskan peperangan di antara Ali dan Muawiyah, Husain, Yazid dan seterusnya. Tetapi apabila kita melihat kepada hubungan persemendaan di antara mereka seperti  yang tersebut tadi, jelaslah bahawa cerita-cerita yang memburukkan perhubungan mereka itu tidak berasas sama sekali.

5) Ahlil Bait berimamkan pemimipin-pemimpin dari kalangan Bani Umayyah di  dalam sembahyang mereka   

Semasa Marwan bin Al-Hakam menjadi gabenor bagi  pihak Muawiyah, beliau mengimamkan sembahyang lima  waktu di masjid. Di antara ahli jamaah yang berimamkan beliau ialah Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain.

Fakta ini dapat dilihat dengan jelas di dalam riwayat seperti di bawah ini bahkan daripada riwayat ini dapat difahami bahawa Sayyidina Hasan dan Husain tidak mengulangi sembahyang yang telah ditunaikan secara berjamaah di masjid dengan berimamkan Marwan bin Al-Hakam. Muhammad Al-Baqir juga telah bersumpah bahawa mereka berdua tidak mengulangi sembahyang yang ditunaikan secara berjamaah itu sebagai menyangkal dakwaan setengah-setengah kalangan Syiah yang mengatakan mereka berjamaah dengan Marwan secara taqiyyah, kemudian mengulangi sembahyang yang telah dikerjakan itu di rumah pula.

Perhatikan riwayat ini :

Diriwayatkan daripada Ja’far As-Syadiq daripada ayahnya, katanya, “Hasan bin Ali dan Husain selalu bersembahyang di belakang Marwan.”.  Ja’far berkata, “Kerana itu ayahnya ditanya: “Tidakkah mereka bersembahyang semula setelah pulang ke rumah?”. Beliau menjawab, “Tidak! Demi Allah mereka tidak melebihkan sembahyang daripada sembahyang yang telah dilakukan dengan berimamkan para pemimpin itu”. (Al-Musannaf Ibn Abi Syaibah, jilid 2, m.s. 378, Al-Bidayah Wa An-Nihayah, jilid 8, m.s .258).

Imam Bukhari di dalam Tarikh Soghirnya mengemukakan riwayat tentang selalunya Sayyidina Hasan dan Husain bersembahyang di belakang Marwan dengan berimamkannya. (At-Tarikh As-Soghir, m.s. 57).

Ibn Sa’ad pula mengemukakan pengakuan Imam Muhammad Al-Baqir  tentang beliau dan ayahnya, Ali Zainal Abidin sentiasa bersembahyang dengan berimamkan pemimpin-pemimpin daripada kalangan Bani Umaiyyah. Beliau berkata, “Sesungguhnya kami bersembahyang dengan berimamkan mereka tanpa taqiyyah dan aku bersaksi bahawa Ali bin Husain (ayahnya) selalu bersembahyang berimamkan mereka tanpa taqiyyah’. (Thabaqat Ibn Sa’ad, jilid 5, m.s. 158).

Kitab-kitab Syi’ah pula menjadi saksi di dalam perkara ini. Di antaranya ialah kitab Biharu Al-Anwar apabila ia mengemukakan riwayat-riwayat yang seerti dengan yang dikemukakan oleh kitab-kitab Ahli Sunnah Wal Jamaah. Antara lain riwayat itu bermaksud : Daripada Musa bin Jaafar daripada ayahnya, katanya : “Hasan dan Husain  selalu bersembahyang di belakang dengan berimamkan Marwan bin Al Hakam. Maka mereka (Syiah) bertanya beliau, “Adakah datuk dan nenek tuan bersembahyang semula apabila pulang ke rumah?” Beliau menjawab, “Tidak! Demi Allah mereka tidak menambah lagi sembahyang yang telah dikerjakan”. (Biharu Al Anwar, Al Majlisi, jilid 10, m.s .139-141).

Selain daripada sembahyang fardhu yang lima itu, pemimpin-pemimpin daripada kalangan Bani Umaiyyah juga mengimamkan sembahyang jenazah daripada kalangan Ahlul Bait yang telah meninggal dunia. Perkara ini tersebut dengan jelas di dalam kitab-kitab sejarah, antaranya ialah Al-Bidayah Wa An Nihayah, Al Isti’aab, Al Isabah dan Thabaqat Ibn Sa’ad.

Sejarah membuktikan bahawa Aban bin Uthman ketika menjadi gabenor di Madinah bagi pihak Abdul Malik bin Marwan pernah diminta menyembahyangkan jenazah Muhammad bin Ali yang terkenal dengan Muhammad bin Al Hanafiah oleh anaknya sendiri iaitu Abu Hasyim Ali. (Thabaqat Ibn Sa’ad, jilid 5, m.s. 86). Selain itu beliau juga pernah menyembahyangkan jenazah anak saudara Sayyidina Ali, iaitu Abdullah bin Jaafar At Thoyar. (Al Isobah, jilid 2, m.s. 281, Al Isti’aab, jilid 2, m.s. 287 dan Usdu Al Ghobah, jilid 3, m.s. 135)

Penerimaan baik pemimpin-pemimpin daripada kalangan Bani Umaiyyah oleh pihak Bani Hasyim bukanlah suatu yang baru ketika itu kerana sebelum itu pun ayahanda kepada Aban iaitu Sayyidina Uthman bin Affan telah mengimamkan sembahyang jenazah bapa saudara Rasulullah SAW dan juga bapa saudara kepada Sayyidina Ali iaitu Abbas bin Abdul Mutalib. (Al Bidayah Wa An Nihayah, jilid 2, ms 162, Al Isti’aab, jilid 3, ms 100).

Itulah sedikit daripada gambaran hubungan baik di antara Bani Umaiyyah dan Bani Hasyim. Mereka sebenarnya merupakan dahan-dahan dan ranting-ranting daripada pohon yang sama. Mereka telah bekerjasama dan berganding bahu dalam menegakkan dan menyebarkan Islam. Jikalau ada pun permusuhan di antara mereka , itu adalah permusuhan di zaman jahiliyyah tetapi setelah kedatangan Islam, api permusuhan yang bernyala-nyala di zaman jahiliyyah itu terpadam oleh limpahan cahaya Islam yang mencurah-curah yang turun dari Tuhan Semesta Alam.
http://www.darulkautsar.net/article.php?ArticleID=177

Islam Timur Tengah vs Mahabharata versi Jawa

Zulkarnain El Madury

Menyimak cerita putra Pandu,  yg melahirkan kisah Pandawa lima dari negeri asalnya jauh berbeda dengan putra pandu versi jawa manakala dikemas dialektika jawa.  Kalau versi negeri asalnya (india) putra Pandu yg dimainkan oleh para aktor India, filmnya menggambarkan tokoh tokoh mahabarata secara narsis,  antagonis dan egois,  namun beda dengan  versi Jawa,  yg muncul adalah aktor aktor yang menampilkan sosok dan karakter lembut para tokoh mahabarata,  seperti Bisma, Yudistira, arjuna,  juga bentuk cerita yg diolah dengan kebiasaan jawa, jauh berbeda dengan negeri asalnya yg pemerannya menggarbarkan tokoh tokoh dalam cerita Mahabarata secara Narsis. Ini juga Islam yg lahir di Arab, yg bisa kita baca dalam sejarah Islam. Sejarawan Indonesia berusaha menampilkan Islam dengan sosok Islam dengan sosok dan karakter jawa. berbagai peristiwa penting yg terjadi di jaman Rasulullah yg berkaitan dengan wahyu Allah kepada Nabi Muhammadiyah diadopsi untuk melahirkan Islam walisongo, yg jauh berbeda denga retorika sejarah Islam versi arab. Para sejarawan jawa berusaha menampilkan Nabi dan sahabatnya menurut versi mereka, sehingga dibuat berbagai tasir terhadap kisah kisah nabi Muhammad dan para Sahabatnya. Sebagai sebab reduksi sejarah asal,  terjadi dialektika sejarah yg berbeda,  baik karakter para tokoh atau cara mensikapi ceritanya Tidak heran bila kemudian cerita Islam tidak sama dengan karakter Islam yg sebenarnya, membuat Islam lahir di Indonesia berbeda beda versi menurut karakter daerahnya. Yang biasa nonton Film Mahabharata atau Bharata yuda versi Jawa,  coba bandingkan dengan film versi India, akan banyak prilaku yg tidak sama dalam memerankan tokoh cerita, meskipun ceritanya sama.   Begitulah Islam Timur Tengah,  atau agama apapun yg asalnya diluar negeri,  ketika diperankan oleh orang indonesia, terutama jawa,  maka yg mencuat kepermukaan adalah pemeran agama yg berobsesi agama harus di Indonesiakan. Tidak heran kalau muncul berbagai label Islam berlatar belakang kesukuan yang ada di Indonesia. Akibatnya Islam di Indonesia terdiri dari beberapa versi, sesuai dengan pemeluk Islam dimana dilahirkan.
http://www.kompasiana.com/iskandariyah/islam-timur-tengah-vs-mahabharata-versi-jawa_5621722b5b7b61740d21466a


KH Said Aqil Siradj: Karakter Bangsa Indonesia Lebih Baik Dibanding Timur Tengah


Selasa, 17/05/2016 08:56:37
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj mengatakan, para kyai memiliki peran besar dalam membangun karakter bangsa. Ini terbukti, kata Said, meskipun memasuki era globalisasi tetapi budaya bangsa Indonesia tidak banyak yang berubah. 
Menurut dia kondisi tersebut sangat jauh berbeda dengan ulama Timur Tengah, begitu memasuki era globalisasi para pemuda bangsa Arab yang sekolah di Amerika Serkat dan Eropa saat pulang ke negerinya masing-masing mereka berubah.

"Namun, bangsa Indonesia tidak. Memang juga ada yang berubah tetapi sedikit. Mereka pulang sekolah dari luar negeri tetap memiliki karakter sebagai bangsa Indonesia," kata Said dalam pengajian umum dalam rangka haul dan khataman di Pondok Pesantren Raudhatut Thullab, Wonosari, Tempuran, Kabupaten Magelang, Jateng, Senin malam (16/05/2016).

Menurut Said Aqil, karakter bangsa Indonesia masih lebih baik dibanding Timur Tengah yang budayanya hancur. 

Sebelumnya, Said Aqil memaparkan bila kyai kampung memiliki peran besar terhadap pembangunan karakter bangsa. "Para kiai memiliki andil besar dalam pembangunan karakter, jati diri, dan kepribadian bangsa ini," katanya 

Ia mengatakan pertahanan dan ketahanan budaya harus diperkuat dalam menghadapi era globalisasi.

Ia menuturkan para ulama, kiai terutama kiai kampung setiap malam ceramah, mengaji jangan dikira kecil peranannya.

"Mereka ikut membangun karakter bangsa Indonesia sehingga dalam memasuki era globalisasi yang sangat ekstrem ini masih banyak umat Islam yang tidak terpengaruh arus globalisasi hasil andil para kyai membangun masyarakat," katanya.
red: farah abdillah
sumber: antara