Thursday, April 23, 2015

"Silakan cari Al-Qur'an di Iran, kalian dapati Al-Qur'annya sama"

Menurut berita seorang guru besar salah satu Universitas Islam yang telah mengadakan perjalanan ilmiah ke negara Iran yang merupakan negara Syiah, pemahaman kita selama ini bahwa Al Quran orang Syiah tidak sama dengan Al Quran kaum Muslimin hari ini adalah keliru dan salah besar, buktinya setelah beliau melihat langsung Al Quran yang berada dan dibaca di Iran ternyata sama bahkan beliau langsung mengecek di percetakannya, tidak ada yang beda sama sekali. Adapun informasi tahrif (pengubahan) yang termaktub dalam kitab al Kafi (kitab hadis nomor satunya orang Syiah dan telah diakui oleh Imam Mahdi Al Muntazhar) menurut seorang ayatullah yang diajak diskusi oleh beliau bahwa orang Syiah tidak menganggap kitab al Kafi sebagai kitab suci yang tidak mungkin salah, di situ banyak kesalahan yang dikritisi langsung oleh mereka.
Dengan nada menghina, seorang Syiah menyatakan bahwa memang Al-Quran Syiah beda. Bedanya, Al-Qur'an di Iran dicetak dengan sampul lux dan lebih indah.

Menanggapi kenyataan di atas hendaknya kita harus obyektif dan tidak mudah tertipu dengan kondisi yang ada di Iran pada hari ini begitu saja,. Tidak serta merta apa yang terajadi di sana menggambarkan kondisi keimanan dan kayakinan mereka yang sebenarnya, terkhusus pada Al Quran. karena bisa saja itu hanyalah taqiyah orang Syiah Iran hari ini kepada seluruh kaum Muslimin. Karena mereka menganggap taqiyah (berbohong/ melakukan sesuatu yang tidak diyakininya) itu boleh.

Berikutnya mari kita cek dan ricek langsung ke kitab-kitab ulama mereka yang menjelaskan akidah dan manhaj kehidupan mereka yang sebenarnya.
Setelah menelaah kitab-kitab rujukan orang Syiah kami menemukan bahwa bukan hanya Muhammas Ya’qub al Kulaini (kitab Al Kafi) saja yang mengakui adanya perubahan pada Al Quran, di sana ada kitab Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab (kata pemisah untuk menegaskan terjadinya perubahan pada Kitab Tuhannya para Tuhan) yang ditulis oleh An Nur Ath Thibrisi, seorang ulama kenamaan Syiah pada zamannya, di dalam kitab itu terdapat banyak contoh perubahan ayat-ayat Al Quran. (lihat daftarnya di buku “Mengapa Kita Menolak Syiah” terbitan LPPI Jakarta), bahkan dalam muqaddimah kitab itu penulisnya mencantumkan tidak kurang dari 30 nama ulama Syiah yang mendukung pendapatnya!, ini bukti pertama bahwa orang Syiah meyakini ketidak aslian Al Quran!
Ulama Syiah yang lain, Al Karmani mengatakan, “Terjadi perubahan dan pengurangan pada Al Quran!, Al Quran yang terjaga itu tidak ada melainkan ada pada Al Qa’im (Imam Mahdi), dan Syiah itu TERPAKSA membaca Al Quran ini (Al Quran sekarang) sebagai bentuk taqiyyah, karena ini perintah keluarga Muhammad alaihis salam” (Al Karmani, Ar Radd ‘ala Hasyim Asy-Syami, hal 13, cet Iran), ini bukti kedua! Al Quran bagi mereka hanyalah sebagai beban dan membacanya di hadapan kaum Muslimin hanyalah taqiyah!
Bahkan Ulama Syiah yang lain, Ni’matullah Al Jaza’iri mengatakan, “diriwayatkan dari berita-berita bahwa mereka (para Imam Syiah) alaihimus salam memerintahkan pengikut mereka membaca Al Quran yang ada sekarang ini di dalam shalat dan selainnya, juga mengamalkan hukum-hukumnya sampai muncul Maulana Shahibuz Zaman (Imam Mahdi) kemudian ia akan mengangkat Al Quran ini dari tangan manusia ke langit dan mengeluarkan Al Quran yang disusun oleh Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib ra) kemudian dibaca dan hukum-hukumnya dilaksanakan” (Ni’matullah Al Jaza’iri, Al Anwar An Nu’maniyyah, Jilid 2, hal 363-364), ini bukti ketiga bahwa Al Quran di mata orang Syiah akan diganti dengan Al Quran yang akan dibawa oleh Imam Mahdi yang telah disusun oleh Imam Ali bin Abi Thalib di masa lalu.
Menurut kami ini sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan keyakinan asli mereka, ulama-ulama mereka sendiri yang berkata demikian, olehnya apakah kita bisa menolerir dan bersatu dengan orang Syiah jika pokok pemersatu kita sudah berbeda (Al Quran)?, kemudian apakah kita bisa mendiamkan hal ini, mendiamkan kesesatan yang nyata ini?
(lppimakassar.com)
http://www.lppimakassar.com/2012/11/silakan-cari-al-quran-di-iran-kalian.html

Ahli Hadis dan Ahli Tafsir Syiah Sepakat Al-Qur'an telah diubah-ubah

Kali ini mari kita baca penjelasan ulama Syiah yang lain tentang Aqidah Syiah terhadap Al-Quran Al-Karim, di bawah ini pembaca akan mendapatkan kumpulan ulama-ulama besar Syiah meyakini Al-Qur'an sudah tidak asli.
  
Araa’u Haula Al-Qur’an, karya Al-Fani Al Ashfahani, Dar Al Hadi, Beirut, Cet pertama 1411 H.

Berikut terjemahannya:

Soal kelima: Siapakah mereka yang berpendapat tentang tahrif (perubahan) Al-Qur’an dan apa dalil mereka?

Jawab: Sekumpulan ahli hadis dan ulama ahli riwayat menyatakan adanya tahrif dalam Al-Qur’an dengan bentuk pengurangan, oleh karena itu
Mereka berpendapat tentang adanya tahrif Al-Qur’an dengan bentuk pengurangan.

Yang paling pertama yang berpendapat tentang itu yang saya ketahui adalah Ali bin Ibrahim dalam kitab tafsirnya, di dalamnya terdapat perkataan Abu Al-Hasan Ali bin Ibrahim Al-Hasyimi Al-Qummi: “Di dalam Al-Qur’an terdapat Nasikh dan Mansukh… ada juga yang terputus, bengkok, dirubah tempat hurufnya, dirubah-rubah dan di dalamnya juga terdapat kebalikan dari apa yang diturunkan Allah Azza Wajalla –sampai perkataannya- adapun yang dirubah darinya adalah firman-Nya:
لَكِنِ اللَّهُ يَشْهَدُ بِمَا أَنْزَلَ إِلَيْكَ
maksudnya tentang Ali, seperti ini diturunkan.
أَنْزَلَهُ بِعِلْمِهِ وَالْمَلائِكَةُ يَشْهَدُونَ
juga firman-Nya:
(lihat ayatnya di gambar scan di bawah)
Maksudnya tentang Ali
(lihat ayatnya di gambar scan dibawah)
Juga firman-Nya:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا
Maksudnya yang menzalimi keluarga Muhammad

لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا
وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا
Maksudnya yang menzalimi keluarga Muhammad
 أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ
Juga firman-Nya:
وَلَوْ تَرَى
Maksudnya orang-orang yang menzalimi keluarga Muhammad
فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ


Dan yang semisal ini banyak. Kami sebutkan di tempatnya. Begitulah maksud dari perkataannya, hal itu nampak dari Al-Kulaini di mana dia meriwayatkan hadis-hadis yang jelas tentang itu dan dia tidak mengomentarinya sedikit pun.

Sayyid Al Jaza’iri juga berpendapat tentang terjadinya tahrif dalam dua syarahnya terhadap 2 tahdzib, beliau memperpanjang pembahasan tentang itu di dalam risalahnya yang ia beri judul Manba’ Al Hayat

(Ayatullah Al Uzhma Al Ashfahani menerangkan akidah Imamnya para mufassir, Al-Qummi, dan imamnya ahli hadis, Al-Kulaini, tentang tahrif Al-Quran)

berikut hasil scannya:
                                                          
(Jika ingin gambarnya lebih besar silakan klik kanan dan buka di jendela yang baru)

"Innah Nahnu Nazzalna Adz-Dzikra Wa Inna Lahu Lahaafzhuun" Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an) dan sesungguhnya kamilah yang akan menjaganya. (QS. Al-Hijr: 9)

(Oleh: Muh Istiqamah/ LPPI Makassar)

Dialog Indah antara Aisyah, Ali dan Muawiyah radhiyallahu anhum

Serial ulasan ke-13 terhadap buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial ulasannya secara lengkap di sini:Akhirnya Kutemukan Kebenaran
Kaedah Ketiga, Meskipun mereka berselisih, namun tak seorangpun diantara mereka mencela kualitas keagamaan masing-masing dari mereka. Setiap pihak memandang dirinya sebagai seorang mujtahid dengan mengakui keutamaan masing-masing dalam agama Islam dan persahabatan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Masalah ini juga telah disepakati oleh para ahlul ilmi melihat riwayat-riwayat yang shahih bahwa para sahabat saling memuji satu sama lain. Diantaranya apa yang diucapkan Ali ketika usainnya perang Jamal. Pada waktu itu ia mencari korban dan menemukan Thalhah bin Ubaidillah telah terbunuh. Ali mengusap debu dari wajahnya dan berkata, “Semoga rahmat Allah terlimpah atasmu wahai Abu Muhammad. Saya gemetar melihatmu majdulan[1] di bawah bintang-bintang langit.” Kemudian ia berkata, “Hanya kepada Allah aku mengadukan ujra dan bujra[2].”[3]
Ketika Ali didatangi oleh Ibnu Jarmuz sang pembunuh Zubair yang menenteng pedang Zubair meminta izin, Ali berkata, “Jangan kalian beri dia izin dan berilah berita gembira dengan neraka” dalam riwayat lain Ali berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallamberkata: Berilah berita gembira kepada pembunuh Ibnu Shafiyah dengan neraka!”
Ketika Ali melihat pedang Zubair ia berkata, “Telah lama masa ketika segala musibah terangkat dari wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (dengan pedang itu dari setiap musuh-musuh Islam)”[4]
Seusai perang Jamal, Ali menghadap ke Aisyahradhiyallahu anhuma dan berkata, “Bagaimana keadaanmu wahai ibuku?” Aisya menjawab, “Baik” Ali mendoakan, “Semoga Allah mengampunimu” Aisyah menjawab, “Dan engkau juga”[5]
Disebutkan oleh at-Thabari bahwa Ali radhiyallahu anhumendengar dua orang yang mencela Aisyah radhiyallahu anha. Segera beliau mengutus al-Qa’qa’ bin Amr dan membawa mereka berdua. Ali berkata, “Penggal leher mereka!” kemudian ia berkata, “Kami akan berikan mereka hukuman” lalu mereka berdua dicambuk masing-masing seratus kali dan baju mereka dilepas.[6]
At-Thabari meriwayatkan dari Muhammad bin Abdullah bin Sawad dan Thalhah bin al-A’lam tentang persiapan yang dilakukan Ali untuk mengantar Aisyah pulang dari Bashrah, “Aisyah dipersiapkan segala sesuatu yang pantas untuknya berupa kendaraan, bekal atau harta. Beliau pulang bersama orang-orang yang selamat yang dulu ikut berperang bersamanya kecuali orang yang lebih menyukai Bashrah. Beliau juga dipilihkan empat puluh orang wanita penduduk Bashrah yang baik-baik” Ali berkata, “Persiapkanlah wahai Muhammad dan bawalah beliau kembali (ke Madinah)”
Pada hari diberangkatkannya Aisyah, Ali mendatanginya dan berdiri di hadapannya sedang manusia berkumpul melihat mereka. Aisyah pun keluar dan berkata, “Wahai anakku, engkau telah merepotkan dirimu dengan menyiapkan kami bekal, maka janganlah sekali-kali kalian memusuhi karena adanya ganjalan di hati. Demi Allah, tidak ada yang terjadi antara saya dengan Ali pada waktu itu kecuali seperti yang terjadi antar seorang wanita dengan iparnya. Dan beliau dalam penialianku adalah termasuk orang-orang pilihan” Ali menimpali, “Wahai manusia, beliau benar. Demi Allah, tidak ada yang terjadi antara saya dengan beliau melainkan seperti yang disebutkannya. Beliau adalah istri Nabi kalian shallallahu alaihi wasallam di dunia dan di akhirat.”[7]
Diantara riwayat yang shahih tantang kejadian ini adalah yang diriwayatkan oleh Ammar radhiyallahu anhudimana beliau berada di pasukan Ali pada peristiwa perang Jamal. Riwayat ini diketengahkan oleh Ath-Thabari dari Malik bin Dinar ia berkata, “Ammar melempar tombak dengan pelan ke arah Zubair” Zubair pun berkata, “Apakah kamu hendak membunuh aku?” Ammar menjawab, “Tidak, tapi menghindarlah”[8]
Diriwayatkan dari Amir bin Hafs, ia berkata, “Ammar melempar tombak dengan pelan ke arah Zubair pada peristiwa perang Jamal”, Zubair berkata, “Apakah kamu hendak membunuhku wahai Abul Yaqdhan?” Ammar menjawab, “Tidak wahai Abu Abdillah”[9]
Inilah yang terjadi antara sahabat radhiyallahu anhum ajmain pada peristiwa perang Jamal.
Adapun yang terjadi antara Ali dan Muawiyahradhiyallahu anhuma pada perang Shiffin adalah sebagai berikut,
Riwayat shahih dari Ali yang diketengahkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari Ishak bin Rahuyah dengan sanadnya dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya ia berkata, pada perang Jamal atau perang Shiffin Ali mendengar seorang laki-laki terlalu berlebihan dalam mengomentari peristiwa itu, maka Ali berteriak, “Janganlah berkomentar kecuali yang baik-baik saja, karena mereka adalah kaum yang mengira bahwa kita membangkang terhadap mereka, namun kita memandang merekalah yang membangkang terhadap kita, akhirnya kita pun memerangi mereka.”[10]
Dari Muhammad bin Nasr dengan sanadnya dari Makhul, “Orang-orang yang bergabung di pihak Ali bertanya kepada Ali tentang kedudukan orang-orang yang dibunuh dari pihak Muawiyah” Ali menjawab, “Mereka adalah kaum Mukminin”[11]
Dari Abdul Wahid bin Abu Aun ia berkata, “Ali berjalan sambil bersandar pada Al-Asytar mencari korban perang Shiffin. Ia menemukan seorang dari Yaman telah terbunuh. Al-Asytar pun berkata, “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, seorang dari Yaman ini berada di pihak Muawiyah, pada tubuhnya melekat tanda bahwa ia adalah pasukan Muawiyah, bukankah –Demi Allah- anda telah menyaksikannya sebagai seorang Mukmin?”Ali menjawab, “Sekarang pun dia adalah seorang Mukmin”.”[12]
Adapun Muawiyah radhiyallahu anhu –pujiannya kepada Ali radhiyallahu anhu telah kita tengahkan sebelumnya- begitu pula pengakuan Muawiyah akan keutamaannya sebagaimana yang terekam pada perbincangan beliau bersama Abu Muslim al-Khaulani ketika ia mengatakan, “Anda menyelisihi Ali ataukah Anda bersikap sepertinya?” Muawiyah pun menjawab, “Tidak, demi Allah sungguh saya tahu bahwa ia lebih utama dari saya dan lebih pantas memegang tampuk kekhilafahan daripada saya….”[13]
Abu Nuaim meriwayatkan dalam Hilyatul Auliya bahwa Dhararah bin Dhamrah As-Shada’i menemui Muawiyah, ia pun berbicara kepada Muawiyah, “Gambarkanlah kepadaku kepribadian Ali” ia menjawab, “Maukah engkau memaafkanku wahai Amirul Mukminin?” ia menjawab, “Saya tidak memaafkanmu” Muawiyah menjawab, “Adapun jika itu harus maka sesungguhnya beliau –Demi Allah- sangat tangguh, kuat, senantiasa mengucapkan hal-hal yang mulia, menghakimi dengan adil….” Beliau menyebutkan banyak hal tentang ilmu, keberanian dan kezuhudannya.
Sampai perkataannya, “Air mata Muawiyah pun menetes hingga membasahi jenggotnya karena tidak bisa lagi beliau tahan. Beliau menghapus air matanya dengan pakainnya. Dan semua yang ada disekelilingnya ikut menangis” Muawiyah menutup perkataannya, “Beginilah Abul Hasan rahimahullah[14]
Inilah sebagian riwayat yang dinukil dari para sahabatradhiyallahu anhum ajmain –terkhusus yang terlibat dalam peperangan- tentang pujian dan pengagungan mereka satu sama lain serta cinta di antara mereka karena Allah.
Adapun perselisihan dan peperangan yang terjadi maka itu timbul dari ijtihad masing-masing mereka dimana mereka memandang ada maslahat untuk umat dan penegakan agama Allah dan Syariat-Nya. Meskipun demikian, setiap sahabat bersikap adil kepada yang lainnya. Perbedaan mereka tak membuat mereka saling mencela dalam agama mereka, tak membuat mereka saling bermusuhan dan menzalimi, bahkan justru setiap mereka mengakui kemuliaan dan keutamaan lebih dulunya masuk Islam. Ini –demi Allah- merupakan keutamaan. Karena berlaku adil ketika sedang bertikai adalah hal yang berat. Hal ini sangat jarang terjadi pada manusia, kecuali yang derajat keimanan mereka tinggi, dan jiwa mereka disucikan dari berbagai syahwat layaknya sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah Allah pilih –dengan ilmuNya- untuk menemani Nabi-Nya.
Kita memohon kepada Allah agar melimpahkan kita anugrah untuk mencintai mereka semua dan beradab yang baik terhadap mereka dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang Allah firmankan, “Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata Wahai Tuhan kami maafkanlah kami dan saudara-saudara yang telah mendahului kami beriman. Janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kebencian terhadap orang-orang yang beriman. Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mahapengasih mahapenyayang."[15]
Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal. Hal 243-249
(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

[1] Majdulan: Terkapar dalam keadaan meninggal di atas tanah, al-Nihayah, Ibnu Atsir, 1/248
[2] Ujra dan Bujra: Gundah gulana dan kesedihanku, al-Nihayah, Ibnu Atsir, 3/185
[3] Al-bidayah wa al-Nihayah, Ibnu Katsir, 7/258
[4] Riwayat-riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, 7/260.
[5] Tarikh at-Thabari, 4/534
[6] Tarikh at-Thabari, 4/540
[7] Ibid, 4/544
[8] Ibid, 4/512
[9] Ibid
[10] Minhaj As-Sunnah, 5/244-245
[11] Ibid
[12] Ibid
[13] Siyar A’lam Nubala, 3/140
[14] Hilyatul Auliya, 1/84-85
[15] QS. Al-Hasyr: 10

Sebaik-Baik Khaliifah



Al-Aajuriiy rahimahullah berkata:
وَأَنْبَأَنَا أَبُو الْقَاسِمِ أَيْضًا، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمٍ الطَّائِفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ الطَّيَّارِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ: وَلِيَنَا أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَخَيْرُ خَلِيفَةٍ أَرْحَمُهُ بِنَا وَأَحْنَاهُ عَلَيْنَا
Dan Telah memberitakan kepada kami Abul-Qaasim, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Sulaim Ath-Thaaifiy, ia berkata Telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari ‘Abdullah bin Ja’far Ath-Thayyaar radliyallaahu ‘anhum, ia berkata : “Abu Bakr telah mengurus kami, ia adalah sebaik-baik Khaliifah Allah, paling mengasihi kami, dan paling penyayang terhadap kami” [Asy-Syarii’ah, 2/440 no. 1247].
Diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq dari 30/386-387 jalan Abu Khaitsamah.
Abu Khaitsamah mempunyai mutaba’aat dari:
1.     Ibraahiim bin Mundzir Al-Hizaamiy; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Haakim dalamAl-Mustadrak 3/79
2.     Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm 1/180; dan darinya Al-Muzanniy dalam As-Sunan Al-Ma’tsuurah no. 468, Ad-Daaraquthniy dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 26, dan Al-Baihaqiy dalam Al-Ma’rifah no. 85;
3.     Muhammad bin ‘Abdirrahiim Asy-Syaruus; sebagaimana diriwayatkan oleh Khaitsamah bin Sulaimaan dalam Hadiits-nya hal. 131 dan Ibnu ‘Asaakir dalamTaariikh Dimasyq 30/386;
4.     Al-Humaidiy; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 2459
5.     Muhammad bin Qudaamah Al-Jauhaariy; sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Qathii’iy dalam Zawaaid Fadlaailish-Shahaabah no. 699.
6.     Muhammad bin Ash-Shabbaah Al-Jarjaraaiy; sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daaraquthniy dalam Fadlaailush-Shahaabah no. 25.
7.     Ismaa’iil bin Yaziid Al-Qaththaan; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq dari 30/387.
8.     Muhammad bin Ismaa’iil Al-Khusyuu’iy; sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam Taariikh Dimasyq dari 30/387.
Riwayat ini berporos pada Yahyaa bin Sulaim. Para ulama berselisih pendapat tentangnya. Ada yang menta’dilnya, ada pula yang menjarhnya. Namun yang raajih –wallaahu a’lam – haditsnya hasan, dan riwayatnya lemah jika ia meriwayatkan dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar[1].
Adapun Ja’far bin Muhammad dan ayahnya (Muhammad Al-Baaqir) adalah dua orang ulama Ahlul-Bait yang dianggap orang Syi’ah sebagai imam-imam mereka. ‘Abdullah bin Ja’far adalah masih kerabat dekat dari Ahlul-Bait ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhum.
Oleh karena itu, sanad riwayat ini hasan.
Faedah :
1.     Abu Bakr Ash-Shiddiq adalah orang yang sangat penyayang dan memperhatikan para shahabat, terutama Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
2.     Abu Bakr Ash-Shiddiiq dianggap ‘Abdullah bin Ja’far radliyallaahu ‘anhum sebagai sebaik-baik khalifah sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
3.     Pujian terhadap Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu tersebut tentunya terkait dengan baiknya muamalah terhadap sesama dan baiknya ia menjalankan pemerintahan sepeninggal Nabi. Hal ini seperti perkataan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu:
ثُمَّ اسْتُخْلِفَ أَبُو بَكْرٍ، فَعَمِلَ بِعَمَلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِسُنَّتِهِ، ثُمَّ قُبِضَ أَبُو بَكْرٍ عَلَى خَيْرِ مَا قُبِضَ عَلَيْهِ أَحَدٌ، وَكَانَ خَيْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا، ثُمَّ اسْتُخْلِفَ عُمَرُ، فَعَمِلَ بِعَمَلِهِمَا وَسُنَّتِهِمَا، ثُمَّ قُبِضَ عَلَى خَيْرِ مَا قُبِضَ عَلَيْهِ أَحَدٌ، وَكَانَ خَيْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا وَبَعْدَ أَبِي بَكْرٍ "
“.....Kemudian diangkatlah Abu Bakr menggantikan beliau, lalu ia menjalankannya berdasarkan yang diperbuat oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Abu Bakr wafat dalam keadaan sebaik-baik hamba yang diwafatkan. Ia adalah sebaik-baik umat setelah Nabinya. Kemudian diangkatlah ‘Umar menggantikannya. Ia pun menjalankan berdasarkan yang diperbuat dan sunnah mereka berdua (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr). Kemudian ‘Umar pun wafat dalam keadaan sebaik-baik hamba diwafatkan. Ia adalah sebaik-baik umat setelah Nabinya dan setelah Abu Bakr” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf no. 38050, dan darinya Ahmad dalam Al-Musnad, 1/128 no. 1059 dan Adl-Dliyaa’ dalamAl-Mukhtarah no. 671; sanadnya hasan[2]].
Al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhum berkata:
مَنْزِلَتُهُمَا السَّاعَةَ
“Kedudukan keduanya adalah seperti kedudukan mereka berdua pada saat ini (yaitu sangat dekat dimana kedua berdampingan dengan kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam)” [Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad dalam Zawaaid Al-Musnad, 4/77; shahih[3]].
4.     Seandainya yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin Ja’far tentang diri Abu Bakr adalah dusta, niscaya Ja’far bin Muhammad dan ayahnya tidak akan meriwayatkannya tanpa ada pengingkaran. Apalagi jika orang Syi’ah menganggap Abu Bakr dan ‘Umar adalah kafir hanya karena perbedaan loyalitas dalam masalah khilaafah.
Wallaahu a’lam, semoga ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai – 12042015- 01:43].


[1]      Berikut perkataan para ulama tentangnya:
a.      Menta’dilnya:
Ibnu Ma’iin berkata : “Tsiqah” [At-Taariikh lid-Daarimiy no. 859, Al-Jarh wat-Ta’diil 9/156 no. 647, dan Al-Kaamil, 9/63]. Di lain tempat ia berkata : “Tidak mengapa dengannya, ditulis haditsnya” [Al-Kaamil, 9/62-63].
Ibnu Sa’d berkata : “Tsiqah, banyak haditsnya”. Al-‘Ijliy berkata : “Tsiqah” [Tahdziibut-Tahdziib, 11/226-227].
Ibnu ‘Adiy berkata : “Yahyaa bin Sulaim mempunyai hadits-hadits yang baik, ifraadaat, dan gharaaib yang ia bersendirian dengannya; dari Ismaa’iil bin Umayyah dari ‘Ubaidullah bin ‘Amru bin Khutsaim, dan seluruh gurunya. Hadits-haditsnya berdekatan, dan ia seorang yang shaduuq, tidak mengapa dengannya” [Al-Kaamil, 9/63].
Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat dan berkata : “Yukhthi’” – sebagaimana dikatakn Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal (31/368-369). Akan tetapi dalam Ats-Tsiqaat(7/615) tidak terdapat kata ‘yuhkthi’’.
Ibnu Basykawal memasukkannya ke jajaran syaikh Ibnu Wahb; lalu ia (Ibnu Basykawal) berkata : “Ath-Thaaifiy, syaikh”.
Ibnu Khuzaimah dan Al-Haakim menshahihkan haditsnya.
b.      Menjarhnya.
Abu Haatim berkata : “Seorang syaikh yang shaalih, tempatnya kejujuran, namun tidakhaafidh. Ditulis haditsnya, namun tidak boleh berhujjah dengannya” [Al-Jarh wat-Ta’diil9/156 no. 647].
Al-Baihaqiy berkata : “Jelek hapalannya dan banyak salahnya” [As-Sunan Al-Kubraa, 10/293].
Abu Bisyr Ad-Duulabiy berkata : “Tidak kuat (laisa bil-qawiy)” [Tahdziibul-Kamaal, 31/368].
Ad-Daaraquthniy berkata : “Jelek hapalannya” [Tahdziibut-Tahdziib, 11/27].
c.      Menjarhnya secara muqayyad.
Ahmad bin Hanbal mengkritiknya. Akan tetapi beberapa riwayat yang ternukil darinya (Ahmad), kritikannya tersebut tertuju pada riwayat Yahyaa dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar [Suaalaat Al-Marruudziy no. 259, Suaalaat Abi Daawud no. 238, dan Adl-Dlu’afaa lil-‘Uqailiy hal. 1516-1517 no. 2034]. Di lain tempat ia (Ahmad) memujinya dengan mengatakan: “Tsiqah” [Al-Kaamil, 9/62].
Di sini dapat dipahami dengan memperhatikan seluruh perkataan Ahmad bahwa kritikannya terkait pada riwayat Yahyaa dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar, wallaahu a’lam.
Al-Bukhaariy berkata : “Yahyaa bin Sulaim meriwayatkan hadits-hadits dari ‘Ubaidullah (bin ‘Umar), dan ia sering mengalami keraguan padanya” [‘Ilal At-Tirmidziy hal. 192 no. 339]. Ibnu Hajar menukil perkataan Al-Bukhaariy dalam Taariikh-nya dalam biografi ‘Abdurrahmaan bin Naafi’ : “Apa yang diriwayatkan Al-Humaidiy dari Yahyaa bin Sulaim, maka shahih” [Tahdziibut-Tahdziib, 11/227]. Al-Bukhaariy berhujjah dengan hadits Yahyaa bin Sulaim dalam Shahiih-nya selain dari haditsnya yang berasal dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar.
An-Nasaa’iy berkata : “Tidak kuat” [Al-Kaamil, 9/63]. Di lain tempat ia berkata : “Tidak mengapa dengannya. Ia seorang yang munkarul-hadits dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar” [Tahdziibul-Kamaal, 31/368].
As-Saajiy berkata : “Shaduuq, sering ragu dalam hadits dan keliru dalam hadits-hadits yang ia riwayatkan dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar” [Tahdziibut-Tahdziib, 11/227].
Sama seperti Ahmad, yang nampak dari perkataan mereka (Al-Bukhaariy, An-Nasaa’iy, dan As-Saajiy) kritikan mereka muqayyad pada riwayat dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar.
Adapun Ya’quub bin Sufyaan Al-Fasawiy berkata : “Sunniy, seorang yang shaalih. Tidak mengapa dengan kitabnya. Apabila ia meriwayatkan dari kitabnya, haditsnya hasan. Dan apabila ia meriwayatkan dari hapalannya, maka itu diketahui dan diingkari” [Al-Ma’rifah, 3/51].
Adz-Dzahabiy menyimpulkan : “Tsiqah” [Al-Kaasyif, 2/367 no. 6180]. Ia pun memasukkan Yahyaa dalam kitab Man Tukullimaa fiihi wa Huwa Muwatstsaq hal. 541-542 no. 371.
Ibnu Hajar menyimpulkan : “Shaduuq, namun jelek hapalannya” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1057 no. 7613]. Basyar ‘Awwaad Ma’ruuf memberikan sanggahan dengan mengatakan : “Bahkan, iashaduuq, hasan haditsnya. Ia dla’iif dalam riwayatnya dari ‘Ubaidullah bin ‘Umar” [Tahriir At-Taqriib, 4/86-87 no. 7563].
Afqi Al-Pantouw mengatakan...

**Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallaahu ‘anhu adalah khalil bagi Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam**

Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri radliyallaahu ‘anhu, berkata:

ﺧﻄﺐ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻗﺎﻝ : ﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮ ﻋﺒﺪﺍ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺑﻴﻦ ﻣﺎ ﻋﻨﺪﻩ ﻓﺎﺧﺘﺎﺭ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻣﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ . ﻗﺎﻝ : ﻓﺒﻜﻰ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ، ﻓﻌﺠﺒﻨﺎ ﻟﺒﻜﺎﺋﻪ ﺃﻥ ﻳﺨﺒﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻦ ﻋﺒﺪ ﺧﻴﺮ ، ﻓﻜﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻫﻮ ﺍﻟﻤﺨﻴﺮ ، ﻭﻛﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺃﻋﻠﻤﻨﺎ . ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : ﺇﻥ ﻣِﻦ ﺃﻣَﻦّ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻲّ ﻓﻲ ﺻﺤﺒﺘﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ، ﻭﻟﻮ ﻛﻨﺖ ﻣﺘﺨﺬﺍً ﺧﻠﻴﻼً ﻏﻴﺮ ﺭﺑﻲ ﻻﺗﺨﺬﺕ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺃﺧﻮﺓ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﻣﻮﺩﺗﻪ ، ﻻ ﻳﺒﻘﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺑﺎﺏ ﺇﻻ ﺳُـﺪّ ﺇﻻ ﺑﺎﺏ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ
“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berkhutbah kepada manusia, beliau berkata: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala memilih hamba di antara dunia dan apa yang ada di dalamnya. Namun hamba tersebut hanya dapat memilih apa yang Allah tentukan’. Lalu Abu Bakar menangis. Kami pun heran dengan tangisan beliau itu, hanya karena Rasulullah mengabarkan tentang hamba pilihan. Padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam lah orangnya, dan Abu Bakar lebih paham dari kami. Lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam kedekatan dan kerelaan mengeluarkan harta, ialah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seorang kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja’.”

Bukti-bukti Pengkhianatan Kaum Syiah terhadap Ahlul Bait

                                                          
Kaum Syi’ah menyangka bahwa mereka berloyalitas kepada Ahli Bait (keluarga) Rasulullahshallallâhu ‘alaihi wa sallam dan mencintai Ahlul Bait. Mereka juga menyangka bahwa madzhab mereka diambil dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan Ahlul Bait dan dibangun di atas pendapat-pendapat dan riwayat-riwayat dari Ahlul Bait. Karena alasan kecintaan kepada Ahlul Bait, kaum Syi’ah mengafirkan para shahabat yang dianggap menzhalimi dan melanggar kehormatan Ahlul Bait. Inilah keyakinan yang tertanam pada akal-akal kaum Syi’ah.
Benarkah kaum Syi’ah mencintai Ahlul Bait?
Mari kita melihat bagaimana sebenarnya kecintaan kaum Syi’ah kepada Ahlul Bait dan bagaimana sikap Ahlul Bait itu sendiri terhadap kaum Syi’ah.
Definisi Ahlul Bait
Kaum Syi’ah Rafidhah bersepakat untuk membatasi Ahlul Bait Nabishallallâhu ‘alaihi wa sallam hanya pada Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu ‘anhû, Fathimah radhiyallâhu‘anhâ, Al-Hasan radhiyallâhu‘anhumâ, dan Al-Husain radhiyallâhu ‘anhumâ. Kemudian, mereka memasukkan sembilan orang imam dari keturunan Al-Husain radhiyallâhu anhû dalam hal tersebut: (1) Ali Zainul ‘Âbidin, (2) Muhammad Al-Bâqir, (3) Ja’far Ash-Shâdiq, (4) Musa Al-Kâzhim, (5) Ali Ar-Ridhâ, (6) Muhammad Al-Jawwâd, (7) Ali Al-Hâdy, (8) Al-Hasan Al-‘Askar, dan Imam Mahdi mereka, (9) Muhammad Al-‘Askar. [Al-Anwâr An-Nu’mâniyah 1/133, Bihâr Al-Anwâr35/333, dan selainnya. Bacalah Al-‘Aqidah Fî Ahlil Bait Bain Al-Ifrâd Wa At-Tafrîd karya Sulaimân As-Suhaimy hal. 352-356 dan Asy-Syi’ah Wa Ahlul Bait hal. 13-20 karya Ihsân Ilâhî Zhahîr]
Hakikat definisi kaum Syi’ah tentang Ahlul Bait di atas adalah celaan terhadap Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan, dan Al-Husain radhiyallâhu‘anhum.
Mereka meriwayatkan dari Abu Ja’far Muhammad Al-Bâqir bahwa beliau berkata, “Manusia menjadi murtad setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa âlihi, kecuali tiga orang.” Saya (perawi) bertanya, “Siapakan tiga orang itu?” Beliau menjawab, “Al-Miqdad, Abu Dzarr, dan Salman Al-Fârisy ….” [Raudhah Al-Kâfy 8/198]
Juga datang sebagian riwayat mereka tentang pengecualian untuk tujuh orang, yang Al-Hasan dan Al-Husain tidak tersebut dalam pengecualian itu.
Mereka meriwayatkan dari Amirul Mukmin Ali bin Abi Thalibradhiyallâhu‘anhû bahwa beliau berkata kepada Qunbur, “Wahai Qunbur, bergembiralah dan berilah kabar gembira serta selalulah merasa gembira. Sungguh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa alihi meninggal dan beliau murka terhadap umatnya, kecuali Syi’ah.” [Al-Amâly hal. 726 karya Ash-Shadûq]
Kaum Syi’ah juga tidak mengakui putri Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai Ahlul Bait beliau, kecuali Fathimah saja. Mereka berkata, “Ahli tarikh menyebut bahwa Nabi (sha) memiliki empat putri. Berdasarkan urutan kelahirannya, mereka adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah. Namun, menurut penelitian cermat tentang nash-nash tarikh, kami tidak menemukan dalil yang menunjukkan (keberadaan) anak (untuk beliau), kecuali Az-Zahrâ` (‘ain), Bahkan, yang tampak adalah bahwa anak-anak perempuan yang lain adalah anak-anak Khadijah dari suaminya yang pertama sebelum Nabi Muhammad (sha) ….” [Dâ`irah Al-Ma’ârif Al-Islâmiyah Asy-Syi’iyyah 1/27 karya Muhsin Al-Amin]
Demikianlah kedunguan kaum Syi’ah dalam menentang Allah Ta’âlâ, padahal Allah menyebut anak-anak perempuan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan konteks jamak yang menunjukkan jumlah lebih dari tiga sebagaimana dalam firman-Nya,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin bahwa hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka ….” [Al-Ahzâb: 59]
Kaum Syi’ah juga tidak memasukkan istri-istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam lingkup Ahlul Bait, padahal ayat tentang keutamaan Ahlul Bait asalnya ada dalam konteks penyebutan istri-istri Nabishallallâhu ‘alaihi wa sallam. Perhatikanlah firman-Nya,
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا. وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا. وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
“Wahai istri-istri Nabi, kalian tidaklah seperti perempuan lain jika kalian bertakwa. Maka, janganlah kalian lembut dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Hendaklah kalian tetap berada di rumah-rumah kalian, janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dahuluserta dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahlul bait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa-apa yang dibacakan di rumah kalian berupa ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabi). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” [Al-Ahzâb: 32-34]
Kebencian kaum Syi’ah terhadap para istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallamsangatlah besar, terkhusus terhadap Aisyah dan Hafshahradhiyallâhu‘anhmâ, sehingga salah seorang pembesar mereka dari Hauzah, Sayyid Ali Gharwy, berkata, “Sesungguhnya, sebagian kemaluan Nabi harus masuk ke dalam neraka karena beliau telah menggauli sebagian perempuan musyrik.” [Disebutkan dalam Kasyful Asrâr hal. 21 karya Husain Al-Musawy]
Mereka juga tidak memasukkan anak-anak Ali bin Abi Thalib –kecuali Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallâhu‘anhumâ – ke dalam golongan Ahlul Bait, padahal Ali memilliki beberapa anak selain Al-Hasan dan Al-Husain, yaitu Muhammad bin Al-Hanafiyyah, Abu Bakr, Umar, Utsman, Al-‘Abbâs, Ja’far, Abdullah, ‘Ubaidullah, dan Yahya. [Asy-Syi’ah Wa Ahlul Bait hal. 20 karya Ihsân Ilâhî Zhahîr]
Kaum Syi’ah juga tidak menganggap anak-anak Al-Hasan sebagai Ahlul Bait sebagaimana mereka juga tidak menganggap anak-anak Al-Husain sebagai Ahlul Bait, kecuali Ali Zainul ‘Abidin. Padahal, Al-Husain memiliki anak yang bernama Abdullah dan Ali (lebih tua daripada Ali Zainul ‘Abidin) yang keduanya ikut mati syahid bersama Al-Husain di Karbalâ`. [Huqbah Min At-Târikh hal. 242 karya Utsman Al-Khumayyis]
Sebagaimana pula, mereka juga tidak menganggap Bani Hasyim sebagai Ahlul Bait, padahal Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memasukkan mereka ke dalam lingkup Ahlul Bait sebagaimana dalam kisah Abdul Muthlib bin Rabî’ah bin Harits bin Abdul Muthlib dan Al-Fadhl bin ‘Abbâs bin ‘Abdul Muthlib, yang meminta untuk dipekerjakan terhadap harta sedekah agar keduanya memperoleh upah untuk menikah maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada keduanya,
إِنَّ الصَّدَقَةَ لَا تَنْبَغِي لِآلِ مُحَمَّدٍ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ
“Sesungguhnya sedekah tidaklah pantas bagi keluarga Muhammad. Hal tersebut hanyalah kotoran-kotoran manusia.” [Diriwayatkan oleh Muslim]
Bahkan, kaum Syi’ah menyebut bahwa Ali bin Abi Thalib berdoa, “Ya Allah, laknatlah dua anak Fulan -yaitu Abdullah dan ‘Ubaidullah, dua anak Al-‘Abbâs, sebagaimana dalam catatan kaki-. Butakanlah mata keduanya sebagaimana engkau telah membutakan kedua hati mereka ….” [Rijâl Al-Kisysyi hal 52]
Juga sebagaimana mereka menghinakan ‘Âqil dan Al-‘Abbâs dalam sejumlah riwayat mereka.
Beberapa Penghinaan kaum Syi’ah terhadap Ahlul Bait [1]
Tidak pernah suatu hari pun kaum Syi’ah mencintai dan menaati Ahlul Bait. Bahkan, buku-buku mereka telah menetapkan penyelisihan dan penentangan mereka terhadap Ahlul Bait.
Perhatikanlah kelancangan mereka terhadap Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat mereka, bahwa Ali memperbandingkan antara dirinya dan diri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Ali berkata, “Aku adalah pembagi Allah antara Surga dan Neraka. Aku adalah pembeda terbesar. Aku adalah pemilik tongkat dan misam. Sungguh seluruh malaikat dan rasul telah mengakui untukku apa yang mereka diakui untuk Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihi. Sungguh aku telah dibebani seperti beban Ar-Rabb. Sungguh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi akan dipanggil kemudian diberi pakaian, Aku juga dipanggil kemudian diberi pakaian. Beliau diminta berbicara dan Aku juga diminta berbicara. Hingga di sini, Kami adalah sama. Adapun Aku, sungguh Aku telah diberi beberapa sifat yang tidak pernah diberikan kepada siapapun sebelumku. Aku mengetahui angan-angan, bencana-bencana, nasab-nasab, fashlul khithab. Tidaklah luput sesuatu yang telah mendahuluiku, dan tidaklah pergi sesuatu yang telah berlalu dariku.” [Ushûl Al-Kâfy, kitab Al-Hujjah 1/196-197]
Nash di atas bukanlah hal aneh dalam buku-buku kaum Syi’ah, bahkan buku-buku mereka berisi pengutamaan Ahlul Bait terhadap para nabi dan para malaikat.
Mereka juga menyebutkan riwayat tentang peremehan terhadap putra Nabishallallâhu ‘alaihi wa sallam, Ibrahim. Simpulannya adalah bahwa Jibril mendatangi Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang menimang-nimang anaknya, Ibrahim, dan cucunya, Al-Husain. Jibril pun berkata, “Allah telah mengutusku dan memberi salam kepadamu dan berfirman bahwa dua anak ini tidak berkumpul dalam satu waktu maka pilihlah salah satu di antara keduanya dan korbankanlah yang lainnya.” Kemudian Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memandangi Ibrahim dan menangis, lalu beliau melihat kepada penghulu para syahid (Al-Husain) dan menangis. Beliau pun berkata, “Sesungguhnya Ibrahim, ibunya hanyalah seorang budak. Kalau dia meninggal, tak seorang pun yang bersedih terhadapnya, kecuali Aku. Adapun Al-Husain, ibunya adalah Fathimah dan ayahnya adalah Ali, sedang (Ali) adalah anak pamanku dan seperti kedudukan ruhku, serta dia adalah darah dan dagingku. Kalau (Al-Husain) meninggal, (Ali) akan bersedih dan Fathimah akan bersedih.” Kemudian beliau berbicara kepada Jibril, “Wahai Jibril, Aku mengorbankan Ibrahim untuk Al-Husain, dan Aku meridhai kematiannya agar Al-Husain dan Yahya tetap hidup.” [Hayâh Al-Qulûb1/593 karya Al-Majlisy]
Bahkan, terhadap Ali bin Abi Thalib sendiri, mereka menyebutkan kelemahan, ketakutan, dan kehinaan Ali saat Abu Bakr diangkat menjadi khalifah [kitab Salîm bin Qais hal 84, 89]. Ketika kaum Syi’ah menyikapi putri Ali, Ummu Kultsum, yang dinikahi oleh Umar, mereka menyebutkan riwayat dari Abu Abdillah Ja’far Ash-Shâdiq bahwa Ja’far berkata, “Itu adalah kemaluan yang telah Kami rampok.” [Furû’ Al-Kâfy 2/141 karya Al-Kulîny]. Dalam riwayat lain disebutkan, “Ali tidak ingin menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Umar, tetapi (Ali) takut terhadap (Umar) sehingga (Ali) mewakilkan kepada pamannya, ‘Abbâs, untuk menikahkan (Umar).” [Hadîqah Asy-Syî’ah hal. 277 karya Muqaddas Al-Ardabîly]
Syaikh Ihsân Ilâhî Zhahîr juga menyebutkan penghinaan kaum Syi’ah terhadap Fatimah, Al-Hasan, Al-Husain, dan keturunannya hingga imam kesepuluh mereka. Makalah ini tidak cukup memuat seluruh hal tersebut.
Sikap Ahlul Bait terhadap Kaum Syi’ah [2]
Dalam buku-buku kaum Syi’ah, mereka menyebutkan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu‘anhû berkata, “Andaikata aku membedakan Syi’ahku, tidaklah Aku akan mendapati mereka, kecuali sifat yang jelas. Andaikata menguji mereka, tidaklah Aku mendapati mereka, kecuali bahwa mereka telah murtad. Andaikata menyaring mereka di antara seribu orang, tidak akan ada seorang pun yang selamat.” [Raudhah Al-Kâfy 8/338]
Mereka juga menyebutkan ucapan Ali bin Abi Thalib terhadap kaum Syi’ah tatkala mereka berkhianat terhadap beliau. Ali radhiyallâhu‘anhû berkata kepada kaum Syi’ah, “Wahai orang-orang yang mirip lelaki, tetapi bukan lelaki, orang-orang yang berakal anak-anak kecil, dan akal-akal para perempuan bergelang kaki, Aku sangatlah berharap agar tidak melihat kalian dan tidak mengenal kalian dengan pengenalan bergetir penyesalan, demi Allah, dan bertabrak celaan. Semoga Allah memerangi kalian. Sungguh kalian telah memenuhi hatiku dengan nanah, mengumpat dadaku dengan kemarahan, menegukkan tegukan kebusukan yang menyesakkan nafas-nafas kami, dan kalian telah merusak ideku dengan penentangan dan penggembosan sehingga orang-orang Quraisy berkata, ‘Sesungguhnya Ibnu Abi Thalib adalah seorang pemberani, tetapi tidak berilmu tentang peperangan dan tidak memiliki pendapat terhadap orang yang tidak ditaati.’.” [Nahj Al-Balâghah 70-71]
Al-Husain bin Ali radhiyallâhu‘anhumâ juga mendoakan kejelekan terhadap kaum Syi’ah sebagaimana yang mereka sebutkan bahwa beliau berdoa, “Ya Allah, kalau Engkau memberi mereka tenggat waktu, cerai-beraikanlah mereka berkelompok-kelompok, jadikanlah mereka bergolongan-golongan yang beraneka ragam, dan janganlah Engkau menjadikan para pemerintah meridhai mereka selama-lamanya. Sesungguhnya mereka telah memanggil kami untuk menolong kami, tetapi mereka melampaui batas lalu memerangi kami.” [Al-Irsyâd hal. 241 karya Al-Mufîd]
Al-Hasan bin Ali radhiyallâhu‘anhumâ berkata sebagaimana dalam riwayat mereka, “Demi Allah, aku melihat Mu’âwiyah lebih baik bagiku daripada mereka. Mereka menyangka bahwa mereka adalah Syi’ahku, (tetapi) mereka ingin membunuhku dan mengambil hartaku. Demi Allah, andaikata dari Mu’âwiyah aku mengambil sesuatu yang menjaga darahku dan aku melindungi keluargaku, hal itu lebih baik daripada mereka membunuhku sehingga keluargaku akan terlantar. Demi Allah, andaikata aku memerangi Mu’âwiyah, pastilah mereka mengambil leherku hingga mereka menyerahkanku kepada (Mu’âwiyah) dengan selamat. Demi Allah, andaikata aku berdamai dengan (Mu’awiyah) dan berada dalam keadaan mulia, hal itu lebih baik daripada dia membunuhku sebagai tawanan.” [Al-Ihtijâj 2/10]
Ali bin Al-Husain Zainul Abidin berkata, “Bukankah kalian mengetahui bahwa kalian menulis kepada ayahku, tetapi kalian memperdaya beliau serta memberi janji dan persetujuan dari diri-diri kalian, kemudian kalian memerangi dan menelantarkan beliau. Dengan mata apa kalian memandang kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi ketika beliau berkata, ‘Kalian telah membunuh keluargaku dan melanggar kehormatanku. Kalian bukanlah bagian dari umatku.” [Al-Ihtijâj 2/32]
Beliau juga berkata, “Sesungguhnya mereka menangisi kami, tetapi siapa yang membunuh kami kalau bukan mereka?” [Al-Ihtijâj 2/29]
Muhammad bin Ali Al-Bâqir berkata, “Andaikata seluruh manusia adalah Syi’ah kami, pastilah tiga perempatnya adalah orang yang ragu terhadap kami, sedang seperempatnya adalah orang dungu.” [Rijâl Al-Kisysyi hal. 79]
Ja’far bin Muhammad Ash-Shâdiq berkata, “Demi Allah, ketahuila. Andaikata aku menemukan tiga orang mukmin di antara kalian yang (mampu) menyembunyikan pembicaraanku, tentu aku tidaklah halal menyembunyikan pembicaraan terhadap mereka.” [Ushûlul Kâfy 1/496]
Banyak lagi riwayat dari Ahlul Bait yang mengandung celaan dan penjelasan mereka tentang kaum Syi’ah yang mengaku mencintai Ahlul Bait.
Pengkhianatan Kaum Syi’ah terhadap Ahlul Bait tentang Sikap kepada Para Shahabat
Dalam Irsyâd Al-Ghâby Ilâ Madzhab Ahlil Bait Fî Shahbin Naby, Imam Asy-Syaukany menyebutkan dua belas jalur kesepakatan para Imam Ahlul Bait dari berbagai masa tentang sikap mereka yang sesungguhnya terhadap para shahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
Dalam riwayat-riwayat mereka sendiri, terdapat penyebutan ucapan-ucapan Ahlul Bait yang memuji dan memiliki hubungan baik dengan seluruh para shahabat, termasuk Abu Bakr, Umar, Utsman, dan selainnya.
Nash-nash dalam buku-buku Syi’ah tentang hal tersebut disebutkan dalam kitab Asy-Syî’ah Wa Ahlul Bait karya Syaikh Ihsân Ilâhî Zhahîrrahimahullâh.
Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu‘anhû sendiri memuji para shahabat dalam ucapan beliau, “Sungguh aku telah melihat para shahabat Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihi. Aku tidak melihat seorang pun di antara kalian yang menyerupai mereka! Sungguh pada waktu pagi mereka kusut lagi berdebut, pada waktu malam mereka bersujud dan melakukan qiyâm. Mereka beristirahat antara dahi-dahi dan pipi-pipi mereka, dan berhenti seperti bara-bara api ketika mengingat hari kebangkitan, seakan-akan antara mata-mata mereka seperti bekasan kambing karena sujud mereka yang panjang. Apabila Allah disebut, berlinanglah mata-mata mereka sehingga membasahi dada-dada mereka, bergoyang seperti pepohonan bergoyang pada hari saat angin kencang, karena takut terhadap siksaan dan harapan akan pahala.” [Nahj Al-Balâghah hal. 143]
Selain itu, telah berlalu penyebutan beberapa anak dari Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan, dan Al-Husain radhiyallâhu‘anhum yang bernama Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Hal ini menunjukkan kedekatan antara Ahlul Bait dan Khulafa` Ar-Rasyidin, yang berbeda dengan Syi’ah yang mengafirkan para shahabat, khususnya tiga Khulafa` Ar-Rasyidin.
Pembunuhan Al-Husain [3]
Di antara kamus pengkhianatan kaum Syi’ah adalah pembunuhan mereka terhadap Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu‘anhumâ. Berikut kisah tersebut secara ringkas.
Pada tahun 60 H, Yazîd bin Mu’âwiyah dibaiat sebagai khalifah, padahal umur beliau masih 34 tahun. Al-Husain dan Abdullah bin Az-Zubair tidak berbaiat kepada Yazîd bin Mu’âwiyah, padahal beliau berdua berada di Madinah. Kemudian keduanya keluar dari Madinah menuju Makkah tanpa berbaiat. Kejadian tersebut terdengar oleh penduduk Kufah yang notabene merupakan orang-orang yang mengaku loyal kepada Ali bin Abi Thalib dan anak-anaknya. Mereka pun mengirim berbagai surat kepada Al-Husain yang menyatakan, “Kami telah membaiatmu, kami tidak menginginkan, kecuali engkau. Di leher kami tiada baiat untuk Yazîd, tetapi baiat hanya untukmu.” Semakin banyak surat yang sampai kepada Al-Husain hingga lebih dari lima ratus surat. Semua surat itu berasal dari penduduk Kûfah.
Menanggapi hal tersebut, Al-Husain radhiyallâhu‘anhumâ mengirim anak pamannya, Muslim bin ‘Aqîl bin Abi Thalib, untuk mengetahui hakikat perkara. Begitu tiba di Kûfah, Muslim pun segera bertanya-tanya ke sana-sini sehingga Muslim mengetahui bahwa manusia tidak menginginkan Yazîd, tetapi menginginkan Al-Husain. Ketika Muslim berlabuh di rumah Hâni` bin ‘Urwah, manusia pun berbondong-bondong mendatangi rumah Hâni` dan membaiat Muslim di atas baiat kepada Al-Husain. Kemudian Muslim mengirim pesan kepada Al-Husain agar Al-Husain segera datang ke Kûfah.
Hal tersebut terdengar oleh Yazid, yang kemudian mengutus ‘Ubaidullah bin Ziyâd sebagai gubernur Kufah untuk menanggapi kejadian tersebut. Setelah memastikan dan menyelidiki kepastian berita, segeralah Ubaidullah menahan Hâni` bin ‘Urwah. Mendengar Hâni` bin ‘Urwah tertahan, Muslim keluar dengan membawa empat ribu orang penduduk Kûfah yang telah membaiat Al-Husain.
Hanya dalam hitungan beberapa saat, tidaklah tersisa di antara empat ribu, kecuali tiga puluh orang, setelah ‘Ubaidullah memberi janji-janji pemberian untuk sebagian orang terpandang agar membuat penduduk Kûfah takut terhadap tentara Syam, yang berada pada pihak Yazîd bin Mu’âwiyah. Setelah matahari terbenam, tidak tersisa seorang pun, kecuali Muslim bin ‘Aqîl seorang diri.
‘Ubaidullah bin Ziyâd kemudian menawan dan membunuh Muslim pada hari ‘Arafah. Namun, sebelumnya, Muslim telah mengirim wasiat kepada Al-Husain, menceritakan peristiwa tersebut agar Al-Husain kembali dan tidak tertipu oleh penduduk Kûfah.
Al-Husain, yang telah berangkat ke Kûfah semenjak hari Tarwiyah, menerima pesan dari Muslim bin Aqîl dan telah berniat kembali ke Makkah. Namun, sebagian anak Muslim yang ikut bersama rombongan memberi saran agar rombongan tetap berangkat supaya dia bisa menuntut darah ayahnya.
Akhirnya, Al-Husain tetap berangkat menuju Iraq hingga tiba di Karbalâ`, dan beliau terbunuh sebagai syahid di tempat tersebut berserta tujuh belas orang Ahlul Bait dari anak-anak Al-Husain, Al-Hasan, ‘Aqil, dan Abdullah bin Ja’far pada 10 Muharram 61 H.
Kaum Syi’ah bercerita, “Dua puluh ribu orang penduduk Iraq membaiat Al-Husain, tetapi kemudian berkhianat terhadap beliau dan keluar memerangi mereka, padahal baiat berada di leher-leher mereka, kemudian mereka membunuh (Al-Husain).” [Muhsin Al-Amin dalam bukunya, A’yân Asy-Syî’ah, bagian pertama hal. 34]
Al-Mas’ûdy berkata, “Seluruh tentara, yang menghadiri pembunuhan Al-Husain serta memerangi dan membunuh beliau, hanyalah penduduk Kufah. Tidak ada seorang penduduk Syam pun yang hadir.” [Murawwij Adz-Dzahab 3/76]
Al-Mas’ûdy juga berkata, “Begitu bala tentara semakin banyak (mengepung) Al-Husain, dan beliau menyangka tidak akan selamat lagi, beliau berdoa, ‘Ya Allah, tetapkanlah hukum antara kami dan kaum yang memanggil kami, tetapi kemudian mereka sendiri yang membunuh kami.” [Murawwij Adz-Dzahab 3/75]
Setelah kita mengetahui siapa sebenarnya pembunuh Al-Husainradhiyallâhu‘anhumâ, ternyata kaum Syi’ah tidak mencukupkan diri dengan pengkhianatan mereka. Bahkan, mereka membuat kedustaan-kedustaan terhadap Ahlul Bait akan anjuran untuk merayakan dan memperingati hari Karbalâ`(hari Âsyûrâ`, 10 Muharram).
Rujukan kaum Syi’ah, Ath-Thûsy, meriwayatkan dengan sanadnya dari Ali bin Musa Ar-Ridha bahwa Ali bin Musa berkata, “Siapa saja yang meninggalkan upaya menunaikan hajatnya pada hari Âsyûrâ`, Allah akan menunaikan hajatnya di dunia dan akhirat. Siapa saja yang menjadikan hari Âsyûrâ` sebagai hari musibah, bersedih, dan menangisnya, Allah ‘Azza Wa Jalla akan menjadikannya pada hari kiamat sebagai hari kegembiraan dan kesenangan, serta menyejukkan mata kami di surga ….” [Amâlî Ath-Thûsy hal. 194, Bihâr Al-Anwâr 44/284]
Al-Barqy meriwayatkan dengan sanadnya hingga Ja’far Ash-Shâdiq, bahwa Ja’far berkata, “Siapa saja yang Al-Husain disebut di sisinya, kemudian meneteskan air mata, walaupun seperti sayap nyamuk, dosanya akan diampuni, meskipun seperti buih di lautan.” [Al-Mahâsin hal. 36, Bihâr Al-Anwâr 44/289]
Bahkan, Al-Mufid meriwayatkan dengan sanadnya hingga Al-Husain bin Ali sendiri, bahwa Al-Husain berkata, “Tidak ada seorang hamba pun yang berlinang air mata untuk kami atau meneteskan satu tetes air mata untuk kami, kecuali bahwa Allah akan memasukkannya ke dalam Surga dalam kurun waktu yang panjang.” [Amâlî Al-Mufîd hal. 209, Bihâr Al-Anwâr44/279]
Demikianlah segelintir kedustaan kaum Syi’ah dalam pembunuhan terhadap Al-Husain bin Ali radhiyallâhu‘anhumâ.
Kami Perlu mengingatkan bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallambersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الخُدُودَ، وَشَقَّ الجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ
“Bukanlah dari kami, orang yang memukul pipinya, menyobek kantong bajunya, serta menyeru dengan seruan jahiliyah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ûd radhiyallâhu‘anhû]

[1] Disadur dari kitab Asy-Syî’ah Wa Ahlul Bait karya Syaikh Ihsân Ilâhî Zhahîr rahimahullâh.
[2] Disadur dari Kasyf Al-Asrâr Wa Tabriah Al-A`immah Al-Athhâr hal. 14-18 karya Sayyid Husain Al-Musawy, seorang ulama Najaf.
[3] Diringkas dari Huqbah Min At-Târikh karya ‘Utsmân Al-Khumayyis hal. 229-259, Al-‘Aqidah Fî Ahlil Bait Bain Al-Ifrâd Wa At-Tafrîd karya Sulaimân As-Suhaimy hal. 490-504, dan Man Qatala Al-Husain karya Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz.