Monday, 5 October 2015
KETIKA pasukan Tartar (Mongolia)
–yang dipimpin Hulagu Khan- menaklukkan Baghdad (656H/1258 M), kavalerinya
membuang buku-buku yang berada di perpustakaan Bagdhad ke sungai Tigris. Buku
yang berjumlah banyak tersebut,
dijadikan jembatan penyebrangan dari arah Barat ke Timur (baca: Rāghib
al-Sirjāni , Qisshatu al-Tatār min al-Bidāyah ila `Ain Jālūt, 161-162).
Bayangkan, luas sungai Tigris
yang hampir sama dengan Nil (kedalamannya mencapai 10-11 meter) itu, dipenuhi
buku untuk dijadikan jembatan.
Anda bisa membayangkan berapa
besar jumlah buku yang ada saat itu. Ada satu kata kunci untuk memahami cerita
tersebut, yaitu: produktivitas tulisan para ulama.
Banyaknya buku yang tersimpan
diperpustakaan Baghdad adalah salah satu bukti prokdutivitas ulama dalam bidang
kepenulisan.
Dalam sejarah Islam, begitu
banyak contoh mengenai produktivitas ulama dalam hal menulis di antaranya: Ibnu
Jarir At-Thabari, karangannya berjumlah 358 ribu lembar, dalam sehari ia mampu
menulis sebanyak 40 lembar ( dalam Qīmatu al-Zaman `Inda al-`Ulamā, Abdu
al-Fattah Abu Ghuddah, 43).
Imam Ibnu Jauzi meninggalkan
karya sebanyak lima ratus buku ( dalam Qimatu al-Zaman, 56). Abu Bakar
al-Bāqalāni tidak tidur hingga menulis 35 lembar (Qimatu al-Zaman, 86) dan
ulama lainnya.
Itu hanya contoh kecil dari
sekian banyak contoh produktivitas ulama dalam bidang tulisan.
Yang menjadi pertanyaan kemudian
ialah, “Mengapa mereka bisa produktif di zaman yang fasilitas untuk menulis
begitu ala kadarnya, hanya tinta dan kertas.
Pada zaman itu, untuk menggandakan buku saja harus ditulis ulang secara
manual?”.
Untuk menjawab pertanyaan
tersebut, berikut ini akan dijelaskan secara gambalang –melalui kaca mata
historis peradaban Islam- tentang rahasia produktivitas ulama dalam bidang
tulisan. Di antara rahasianya ialah:
Pertama, para ulama menulis
didasari keikhlasan sebagai investasi akhirat (dakwah). Dalam hadits
disebutkan, bahwa mereka adalah pewaris para Nabi (HR. Bukhari, Abu Daud, dan
Turmudzi).
Bagi mereka menulis bukan sekadar
urusan hobi, karena mereka adalah penerus estafeta perjuangan para Nabi, maka
menulis adalah urusan investasi akhirat.
Kedua, manajemen waktu yang
mantap dan brilian. Mereka sadar betul bahwa waktu adalah nafas kehidupan.
Sehingga, memanfaatkannya adalah sebuah keniscayaan bagi orang yang ingin
sukses. Sebagai contoh riil-tanpa bermaksud membatasi-, Ibnu Jarir At-Thabari
yang mampu menulis 40 lembar tulisan dalam sehari sangat pandai dalam mengatur
waktu.
Muridnya sendiri –al-Qadhi Abi
Bakar bin Kamil-memberi kesaksian bahwa beliau mempunyai waktu khusus untuk
menulis dari ba`da Dzuhur hingga Ashar (baca: Qīmatu al-Zaman, hal. 44).
Bahkan, menjelang meninggal pun ia menyempatkan diri untuk mencatat ilmu(hal.
44).
Ibnu Rusyd –dalam sejarah- tidak
pernah meninggalkan mala-malamnya, kecuali membaca buku. Beliau selalu begitu,
kecuali dua malam saja: Pertama, waktu ayahnya wafat. Kedua, waktu malam
pengantin (baca: Kaifa Tushbinu `Āliman, Rāghib al-Sirjāni).
Lebih dari itu, ada cerita unik
mengenai Tsa`lab al-Nahwi (Ahmad bin Yahya al-Syaibani), di antara sebab
wafatnya ialah karena ditabrak kuda ketika membaca buku hingga jatuh ke jurang
(baca: wafayātu al-A`yān, Ibnu Khillikan, 1/104).
Kakek Ibnu Taimiyah pun juga
sangat bagus dalam manajemen waktu. Ia minta dibacakan buku ketika sedang buang
hajat, supaya waktunya tidak sia-sia (baca: Dzailu Thabaqāt al-Hanābilah, Ibnu
Rajab al-Hanbali, 2/249).
Cerita-cerita tersebut, menunjukkan bahwa mereka sangan pandai
mengatur waktu. Sehingga, wajar kalau mereka sangat produktiv menulis. Bagi
siapa saja yang ingin produktiv menulis, maka tak ayal lagi harus menapaktilasi
jejak mereka dalam manajemen waktu.
Ketiga, apresiasi negara yang
begitu tinggi pada penulis.
Khalifah Ma`mun –selaku Khalifah
Daulah Abbasiyah-misalnya, memberi imbalan emas bagi para penerjemah buku
(baca: `Uyūnu al-Anbā`, Ibnu Abi Ushaibah, 2/133).
Para penulis pada masa itu sangat
didukung dan dihargai oleh negara, sehingga produktivitas menulis sedemikian
tinggi. Salah satu bukti produktivitas mereka bisa dilihat dari banyaknya
perpustakaan.
Pada masa keemasan Islam,
perpustakaan sudah menjadi sebuah keniscayaan, baik di rumah, gedung
pemerintahan, di desa, kota, di rumah sakit dan lain sebagainya. Waktu itu
perpustakaan dibagi menjadi lima bagian: Pertama, perpustakaan akademis. Kedua,
pribadi. Ketiga, umum. Keempat, sekolah. Kelima, perpustakaan masjid dan
universitas (baca: Rāghib al-Sirjāni, Mādza Qaddama al-Muslimūna li al-`Ālam
Ishāmātu al-Muslimīn fī al-Hadhārah al-Insāniyah,hal. 224-225)..
Di antara contoh perpustakaan
besar dalam Islam ialah: Perpustakaan Baghdad (yang jumlahnya sangat banyak,
sampai-sampai bisa dibuat jembatan oleh Tartar).
Perpustakaan Darul `Ilm Kairo
(Setiap bagian berisi 18000 buku) lebih dari tujuh ratus ribu kitab.
Perpustakaan Cordova (berisi setengah juta kitab) Perpustakaan Tripoli (baca:
Kaifa Tushbihu `Āliman, Raghib al-Sirjani).
Ada juga perpustakaan koleksi
pribadi. Sebagai contoh, Abu al-Fadhl bin al-`Amīd, ketika dia mau pindah dari
satu tempat ke tempat lain, ia membutuhkan seratus unta untuk mengangkatnya.
Al-Shahib bin `Abbād, menurut
penuturan Gustav Lobon atau Will Durent: “Perpustakaan al-Shahib bin `Abbād,
pada abad keempat hijriah berisi lebih dari buku-buku yang ada di semua negara
Eropa.
Dari paparan di atas, kita bisa
mengetahu bahwa ada tiga hal mendasar di balik produktivitas ulama dalam bidang
tulisan:
Pertama, keikhlasan.
Mereka menulis dalam rangka
investasi akhirat, bukan mencari sekadar dunia atau sanjungan umat.
Kedua, mereka sangat pandai dalam
manajemen waktu.
Ketiga, adanya apresiasi dan
kontribusi negara.
Bila ketiga hal tersebut saling
bersinergi, maka produktivitas ulama dalam bidang tulisan akan kembali bangkit.
Kalau diamati secara cermat,
problem umat Islam sekarang ini, terkait dengan lesuhnya produktivitas ulama
dalam bidang tulisan, diakibatkan banyaknya orang menulis bukan dalam rangka
investasi akhirat, tapi orientasi keduniaan.
Di samping itu, tidak pandai
menghargai waktu. Dan yang terpenting, negara sebagai lembaga paling strategis
dalam mengembangkan produktivitas, kurang apresiatif dalam menghargai
karya-karya penulis.
Mudah-mudahan, dengan mengetahui
rahasia produktivitas ulama dalam bidang tulisan, kita sebagai umat Islam,
kembali bisa produktiv, sehingga nilai-nilai luhur Islam bisa tersebar ke
seantero alam. Bukan saja tersebar secara lisan, namun juga tulisan. Apalagi di
era perkembangan teknologi-informasi
seperti sekarang ini, keinginan itu sangat riil, bukan mustahil. Wallahu a`lam
bi al-Shawab.*
Penulis adalah penulis adalah peserta PKU
VIII UNIDA Gontor 2014 [Hidayatullah]