Sunday, February 15, 2015

Menlu Arab Saudi Saud Al-Faisal : Arab Saudi Tidak Ada Masalah Dengan Ikhwan

Ahad, 26 Rabiul Akhir 1436 H / 15 Februari 2015 18:46 wib
artikel terkait : 27/01/2015, 28/01/2015, 29/01/2015, 31/01/2015.

Menteri Luar Negeri Kerajaan Negeri Arab Pangeran Saud al-Faisal menegaskan bahwa tidak ada masalah antara pemerintah Arab Saudi dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin, ungkap surat kabar Al-Jazeera Arab.
Al-Faisal mengatakan, “Tidak ada masalah antara Kerajaan Arab Saudi dengan Jamaah Ikhwan”, kata Menteri Luar Negeri Pangeran Saud Al-Faisal kepada wartawan, di Riyadh, Jum’at, 13/2/2015.
Sebelumnya, selama masa pemerintahan Raja Abdullah bin Abdul Aziz, pemerintah Arab Saudi bersama dengan Mesir dan sejumlah negara Arab Teluk lainnya, menjatuhkan ‘vonis’ Ikhwan sebagai "organisasi teroris".
Pemerintah Abdullah telah membantu al-Sisi dengan dana miliaran dollar untuk menggulingkan Presiden Mesir Mohammad Mursi yang merupakan anggota senior Gerakan Islam terbesar di dunia itu.
Dibagian lain, seorang anggota Dewan Syura Arab Saudi, Ahmed Al-Tuwaijri, membantah bahwa kerajaan pernah menetapkan Jamaah Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris.
Pejabat dibidang hukum Arab Saudi, menolak pernyataan bahwa Ikhwan sebagai teroris. Karena  menurut pejabat itu, mereka yang ditetapkan sebagai teroris, yang terang-terangan melakukan kekerasan, termasuk melakukan pemboman dan peledakan.
Berbicara kepada TV Rotana Khalijia, Al-Tuwaijiri mengatakan bahwa Jamaah Ikhwanul Muslimin termasuk bagian bangsa dan negara, sehingga tidak ada orang yang secara sadar dapat menetapkan Jamaah Ikhwan sebagai organisasi teroris. Jamaah Ikhwan, menurut Al-Tuwaijiri telah ada dan eksis mulai dari Maroko sampai ke Indonesia.
Jamaah Ikhwan hanya melaksanakan dakwah,  menyerukan reformasi masyarakat, termasuk penerapan Hukum Syariah dalam konstitusi negara, berusaha untuk memperbaiki konsepsi masyarakat tentang isu-isu yang berbeda dan berusaha mencapai tujuan mereka secara damai, tegas Al-Tuwaijiri.
“Mereka tidak memiliki masalah dengan Kerajaan," tambah al-Tuwajiri. Sebelumnya, pemerintah Turki, Maroko, Tunisia, dan Kuwait yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, menyerukan membentuk  aliansi strategis. Ini merupakan perkembangan baru yang sangat penting di kawasan Teluk.
Selain itu, Al-Tuwaijiri menekankan bahwa hubungan antara Jamaah Ikhwanul Muslimin dan Kerajaan Arab Saudi  sangat bersejarah, meskipun mengalami pasang surut. Kerjasama yang baik antara kedua belah pihak, yaitu antara Kerajaan  Arab Saudi dengan Ikhwan "tidak boleh dilupakan," tegasnya.
Diperkirakan hubungan antara Jamaah Ikhwanul Muslimin dan Kerajaan Arab Saudi  akan pulih kembali, dan meninggalkan kebijakan yang menempatkan  Ikhwan  sebagai organisasi teroris seperti ketika di bawah almarhum Raja Abdullah.
Jamaah Ikhwan akan dapat melakukan berbagai aktifitas secara bebas di Kerajaan Saudi, sebelumnya ada rekomendasi dari mantan kepala ‘Royal Court’, Khalid Al-Tuwaijri, yang melarang Ikhwan.
Khalid al-Tuwaijir sebagai tokoh dibalik kampanye melawan Jamaah Ikhwanul Muslimin di Arab Saudi. Sekarang Khaled Al-Tuwaijiri dikenakan tahanan rumah, dan dilarang melakukan perjalanan keluar negeri.
Para pengamat melihat adanya pergeseran dalam kebijakan Saudi terhadap Mesir sejak kematian Raja Abdullah bulan lalu.
Beberapa hari yang lalu, media Rassd corong aktivis Koptik (Kristen Ortodok) Majdi Khalil, yang mendukung kudeta militer di Mesir, melawan Arab Saudi dan Raja Salman, dan dia mengatakan bahwa Kerajaan Arab Saudi akan “habis dan hilang” jika tidak membayar uang kepada Mesir.
Menurut surat kabar Saudi Al-Riyad, Arab Saudi memberikan dana ‘cash’ kepada junta militer Abdel Fattah Al-Sisi senilai $ 8.6 miliar dollar.
Namun, para pejabat di Riyadh mengatakan, bahwa Arab Saudi memberikan kepada al-Sisi sebesar $ 20 milliar dollar, tahun 2014. Sekarang negara-negara Arab Teluk (GCC), mengumpulkan dana $ 39 milliar dollar kepada al-Sisi.
Dibagian lain, sebelumnya menurut ‘The Observer Mesir’ untuk Hak Asasi Manusia dan Kebebasan yang mengutip sumber-sumber informasi di Arab Saudi yang mengatakan bahwa ada kemarahan di kalangan para pangeran Saudi, karena tingkat dukungan yang diberikan oleh Kerajaan Arab Saudi, di masa Raja Abdullah kepada junta kudeta militer di Mesir yang sangat luar biasa. Wallahu’alam
*mashadi

Raja Salman dan Masa Depan Ikhwanul Muslimin
Nandang Burhanudin, Lc - 05/02/15 | 15:20 | 14 Rabbi al-Thanni 1436 H

Tentu masa depan hanya Allah yang Mahatahu. Harapan terbaik adalah yang disandarkan kepada Allah semata. Hanya saja, jika Allah menghendaki kebaikan, maka Allah akan memilih manusia-manusia yang menjadi khalifahnya. Tidak ada salahnya kita berharap perubahan signifikan terhadap Raja baru Saudi Arabia. Kendati saat ini, tak satupun penguasa, melainkan harus mendapat restu dari Amerika dan Inggris.

Namun perubahan yang memunculkan harapan baru, sangat terasa. Terutama kebijakan Raja Saudi tentang hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin, gerakan Islam terorganisir dan terbesar di dunia. Banyak yang memprediksi, Saudi akan lebih berpihak kepada Ikhwan. Alasannya ada dua:
  kebijakan Saudi yang sangat membenci Ikhwan, telah disingkirkan Raja Salman hanya dalam 2 jam setelah Raja Abdullah diumumkan wafat. 6 Titah Raja dikeluarkan dan 30 titah raja selanjutnya diterbitkan hanya dalam waktu kurang dari 7 hari setelah dibaiat menjadi raja.
   Raja baru Saudi lebih mengakomodasi lembaga-lembaga keIslaman dibanding Raja Abdullah yang lebih mengakomodasi lembaga-lembaga sekuler dan liberal. Raja Salman diprediksi akan lebih mengapresiasi peran dan sumbangsih Ikhwan yang diakui sejak lama turut menggairahkan dunia pendidikan di Saudi Arabia.
Peran Raja Salman yang ditunggu-tunggu adalah, kebijakan luar negeri Saudi Arabia, khususnya terhadap negara-negara anti-Ikhwan, misalnya Mesir, Emirates Arab, Kuwait. Kedekatan Raja Salman dengan Presiden Turki, Erdogan berikut Emir Qatar, menjadi sinyal penting perubahan KSA yang di masa Raja Abdullah disebut-sebut membentuk poros koalisi setan yang dekat dengan Yahudi Israel. Membenci Ikhwan tapi membiarkan Syiah menguasai halaman depan dan dapur Saudi Arabia.
Indikasi terkuat, Aljazeera kembali “galak” dan berani menyerang Jenderal kudeta As-Sisi dengan lontaran berita yang lebih garang dibanding sebelumnya. Kembalinya Qatar menjadi pendukung IM, terindikasi kuat berkah dari meninggalnya Raja Abdullah yang beberapa bulan lalu “menjewer” Qatar dengan ancaman-ancaman menakutkan: penarikan Dubes, penutupan jalan darat Saudi-Qatar, bahkan pemutusan keanggotaan Kerjasama Teluk.
Pantas saja belum apa-apa Raja Salman sudah diserang ormas-ormas atau orpol tertentu. Salah satunya yang paling nyaring adalah pendapat Amir HT, sikap Emir Dubai, media kudeta Mesir yang sangat negatif soal Raja Salman. Kita hanya bisa berdoa, semoga Allah mengaruniakan taufik dan hidayahnya untuk raja-raja dan para pemimpin dunia Islam. Allaahumma qad ballaghtu, fasyhad.

Al sisi presiden Mesir tinggal gigit jari
Oleh: Nandang Burhanudin
Subhanallah. Walhamdulillah. Walaa Ilaaha Illallah. Wallaahu Akbar. Saya tak henti-henti bertasbih, meyakini bahwa Allah tidak akan pernah menerlantarkan hamba-hamba-Nya yang berjuang membela agama Allah. Terutama pejuang-pejuang di Palestina (Gaza) yang diwakili HAMAS-Jihad Islam, di Mesir yang dikomando Ikhwanul Muslimin, di Saudi Arabia dengan Raja Salman, juga AKP di Turki yang dipimpin Erdogan serta Emir Qatar.
Setelah revolusi di lingkungan istana Saudi, Raja Salman kembali melakukan gebrakan-gebrakan baru. Di antaranya:
1. Menunjuk kembali Dr. Syaikh Syuraim, sebagai imam dan khatib tetap Masjidil Haram.
2. Membebaskan ratusan tawanan politik dari penjara-penjara Saudi Arabia.
3. Fokus mereformasi ekonomi dengan memperhatikan tunjangan sosial, pemberian rumah gratis untuk warga Saudi, dan tentunya menutup bantuan untuk rezim-rezim diktator.
4. Membatalkan ancaman tehadap Qatar, yang di era Raja Abdullah Saudi mengancam akan mengisolasi Qatar dan mengeluarkan dari keanggotaan Majlis Kerjasama Teluk.
5. Menempatkan pangeran-pangeran Saudi yang memiliki kedekatan dengan Turki. Di antaranya menunjuk Pangeran Muhammad bin Naif, sebagai penanggungjawab kerjasama dengan Turki untuk membendung arus Syiah yang membentang dari Irak, Yaman, Libanon, dan Syiria.

Pangeran Sa'ud Saifun Nashr Al-Saud, cucu dari Raja Suud bin Abdul Aziz bahkan terang-terangan menyerukan untuk segera mengadili para pendukung kudeta. Di antaranya Kepala Kantor Kerajaan Saudi, Khalid At-Tuwajiri serta melakukan penyelidikan atas penggunaan uang 20 Milyar dollar AS yang dikirimkan kepada junta kudeta di Mesir.

Pangeran Su'ud menegaskan, "20 Milyar dollar benar-benar telah dicuri dan sama sekali tidak menyentuh rakyat Mesir kebanyakan. Buktinya, tidak ada satupun perubahan positif yang dialami rakyat Mesir, bahkan semakin hari makin menderita."

"Kita harus menyelidiki pemubaziran uang rakyat Saudi yang dibagi-bagikan kepada jendeal-jenderal kudeta di Mesir. Tanyakan, 20 milyar dollar itu statusnya sebagai apa: pinjaman hutang, hibah, donasi, atau memang perampokan? Bayangkan, mengapa 20 milyar dollar tidak mengubah apapun kehidupan rakyat Mesir. Krisis listrik, gaz, bahan makanan pokok terus berlanjut. Sangat jelas, siapa yang menjadi penikmat utama milyaran dollar uang rakyat Saudi. Siapa lagi kalau bukan mafia kudeta di Saudi dan para jenderal di Mesir."

Demikian. Allah Swt. membiarkan kudeta terjadi di Mesir dan Ikhwanul Muslimin menolak mengangkat senjata. Ternyata Allah bukakan hikmah-hikmah mendalam. Membuka tabir juru-juru dakwah yang mengajak pada neraka Jahannam, dengan menghalalkan pembantaian dan memutarbalikkan dalil demi kepentingan kudeta.
Aneh rezim Thaghut Al sisi di Mesir dibela dengan dukungan dana untuk menggulingkan pemerintahan yang sah dari Ikhwanul muslimin yang banyak mengganti perundangan Mesir hingga  cocok dengan al Quran sekalipun bertahap. Rezim Thaghut al sisi  adalah sekuler yang anti denngan pemeraktekan hukum al Quran.
Saya   mendengar  yel – yel al ikhwan  al qur an dusturuna – al quran adalah undang  - undang kami , mati sahid adalah harapan kami dan Allah tujuan kami, beda sekali dengan selogan rezim sekuler yang mengandalkan hukum positif yang bertentangan dengan hukum Allah untuk  dibuat landasan hukum bagi masarakat Islam. Ini selogan jahiliyah yang di budayakan dikalangan kaum muslimin> Mestinya sebarkan saja di kalangan  masarakat kafir. Kita pegang teguh ayat ini:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?

Al Azhar Tolak Kafirkan Kelompok-Kelompok Bersenjata Di Irak Dan Suriah
zahid – Kamis, 16 Rabiul Akhir 1436 H / 5 Februari 2015 12:03 WIB

Sekretaris Jenderal Majma’ Buhuts Islami, Dr Mohiuddin Afifi, menyatakan bahwa kelompok bersenjata yang mengatasnamakan Islam seperti Negara Islam, Al Qaeda, dan lain-lain bukanlah kelompok “kafir” meskipun ia menganggap mujahidin tersebut telah “membuat kerusakan”  di muka bumi.
Dalam wawancaranya melalui sambungan telepon di program acara Cairo Today pada Rabu (04/02) malam, Dr Mohiuddin Afifi mengatakan, “Al Azhar menolak untuk mengkafirkan organisasi Negara Islam, meskipun Al Azhar menganggap mereka telah “berbuat kerusakan” di muka bumi.”
Dr Mohiuddin Afifi menambahkan, “Al Azhar memiliki pendekatan dan cara tersendiri dalam menyebut seseorang kafir atau tidak,” dan menjelaskan bahwa mereka tidak kafir selama tidak keluar dari iman.
Menurut Dr Mohiuddin Afifi Azhar bukanlah lembaga yang dengan mudah memvonis seseorang ataupun kelompok tersebut kafir.
Majma’ Buhuts Islami adalah lembaga milik universitas Al Azhar yang diisi oleh ulama-ulama Islam terkemuka, yang bertugas meriset dan meneliti segala perkembangan terbaru di dunia dan  bagaimana hukumnya di dalam Islam. (Dostor/Ram)

menyeramkan !!! 
Jendral Qassem Suleimani : ISIS Akan Segera Tamat di Irak dan Suriah?
Seorang jenderal Iran yang berpengaruh, dan berada di geris depan, menegaskan bahwa kelompok jihadis ISIS, “mendekati akhir hidup mereka”, tegasnya. Betapa pemimpin militer Iran sudah berani sesumbar dengan sangat lantang akan mengalahkan ISIS.
Jendral Qassem Suleimani, komandan pasukan Brigade al-Quds yang menjadi tulangpunggung pasukan Iran, dan sekarang terjun dalam  medan perang di Irak dan Suriah menghadapi para pejuang ISIS, jelas-jelas mengatakan ISIS akan berakhir.
Iran dan sejumlah milisi dari berbagai negara telah memberikan dukungan kepada pasukan Irak, membebaskan Mosul. Sekarang Brigade al-Qud bersama dengan milisi Syi'ah dari berbagai negara, termasuk Hesbollah berada di garis depan menghadapi ISIS di Irak dan Suriah.
Suleimani bersama dengan pasukan Kurdi, pasukan Irak, milisi Syi’ah, dan dengan dukungan Amerika Serikat, sekarang berada di garis depan menghadapi pejuang ISIS.
"Melihat kekalahan besar yang diderita ISIS di Irak dan Suriah, kami yakin kelompok ini mendekati akhir hidup mereka," tegas Suleimani seperti dikutip oleh kantor berita setengah resmi Fars, dengan menggunakan bahasa Arab.
Jendral Suleimani mengatakan pengaruh regional Teheran semakin besar dan kuat, dan Iran akan menentukan percaturan politik secara regional. "Hari ini kita melihat tanda-tanda revolusi Islam menyebar ke seluruh wilayah, tambahnya.
ISIS telah menguasai sebagian besar Suriah dan Irak, mendeklarasikan "khilafah". Suleimani dilaporkan berada di Baghdad setelah ISIS menyerbu Mosul pada bulan Juni dan memimpin pasukan melawan ISIS, dan memimpin komando pasukan Irak menghadapi ISIS di Irak.
Pasukan al-Quds merupakan sayap dari Garda Pengawal Revolusi, sebuah pasukan  elite Iran – yang tugasnya melakukan kontra gerakan terhadap semua kekuatan yang dianggap membahayakan bagi  keamanan Iran di luar negeri, dan melindungi republik Islam.
Langkah strategis ini dijalankan oleh pemerintah Iran dalam melindungi kepentingan golongan Syi’ah, di semua negera. Kekuatan ekonomi dan militer yang mereka miliki digunakan melakukan ekspansi ideologi (Syi'ah) ke berbagai negara.
Seperti sekarang yang dilakukan oleh Iran dalam membela golongan Syi'ah di Lebanon, Bahrain, Kuwait, Suriah, Irak, dan Yaman
Brigade al-Qud di terjunkan di berbagai negara, termasuk di wilayah yang sekarang bergolak seperti di Yaman. Sementara, pemimpin Sunni di berbagai negara, justru bersatu dengan Iran memerangi para pejuang Sunni, yang sudah diberi lebel teroris oleh Zionis.
Sekarang negeri-negeri Muslim Sunni jatuh ke tangan Syi’ah, dan dibawah kendali Iran, ini seperti teori ‘domino’, dan menjadi kenyataan.
Di Indonesia Syi’ah sudah berani melakukan serangan terhadap Az-Dzikra. Ini hanya gambaran betapa kekuatan Syi’ah di berbagai negara sudah melakukan ofensif. Mereka tidak takut lagi, karena mereka mendapatkan dukunga negara, Iran.Muslim Indonesia harus bersiap-siap menghadapi skenario yang buruk ini. Wallahu'alam. 
mashadi1211@gmail.com


Jenderal Iran : 
Revolusi Syiah Diekspor ke Berbagai belahan Dunia !
Sabtu, 25 Rabiul Akhir 1436 H / 14 Februari 2015 10:16 WIB

Jenderal Qassem Suleimani, komandan militer pasukan khusus Quds yang jarang terlihat , telah menjadi bukti keterlibatan  Iran dalam pertempuran dengan Mujahidin Daulah di Irak dan Suriah.
Dia  sering terlihat di media sosial di Irak bersama dengan pasukan pro-pemerintah, pejuang Kurdi dan milisi Syiah di daerah pertempuran.
Pernyataan ‘tanpa bukti’ itu disampaikannya dalam pidato pada hari Rabu di provinsi  Kerman untuk menandai ulang tahun ke-36 revolusi Syiah  Iran.
Suleimani juga mengatakan pengaruh  Syiah  di dunia semakin berkembang.
“Hari ini kita melihat tanda-tanda revolusi (Syiah)  diekspor di seluruh wilayah dunia , dari Bahrain ke Irak dan dari Suriah ke Yaman serta Afrika  Utara,” katanya.
Pasukan Quds – sayap asing Pengawal Revolusi elit Iran – tugasnya melakukan fungsi invasi Syiah Iran keluar negeri, termasuk intelijen, operasi khusus (pembunuhan tokoh yang dianggap menghambat) dan tindakan politik apapun yang dianggap perlu untuk melindungi republik Syiah Iran. 


ISIS  dikeroyok lima puluh negara sunni, Syi`ah dan Yahudi berbulan bulan masih mampu bertahan, dan tiada tanda kekalahan. Bandingkan bila negara Iran yang dikeroyok, sudah tentu akan berantakan. Irak dimasa  Sadam, Libia di masa Gadafi di keroyok  dengan kekuatan sekutu dalam jarak  beberapa minggu sudah jatuh ke tangan sekutu. Tapi Isis masih tegar dan belum terungkap  tanda kekalahan.
Kalau sumbar Jendral Qassem Suleimani, komandan pasukan Brigade al-Quds yang menjadi tulangpunggung pasukan Iran harus di tanggapi dengan wajar saja. Buktinya Amirika  saja tidak berani sesumbar seperti itu. Sumbar di dalam peperangan bagaikan bunga – bunganya  dan akan cepat layu. Saya ingat ayat ini:

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ اْلأَعَزُّ مِنْهَا اْلأَذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَ يَعْلَمُونَ

Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya". Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu'min,  tetapi
 tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui
هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لاَ تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَوَاتِ 
وَاْلأَرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لاَ يَفْقَهُونَ
Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)". Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.
Mudah – mudahan pemerintah Syi`ah di Irak dan Surialah yang akan tamat dengan segera dengan izin Allah sekalipun setan – setan manusia membenci.



















Tuesday, February 3, 2015

Menag: Kita Adalah Orang Indonesia Yang Islam, Bukan Orang Islam di Indonesia

Dalam penerbangan kembali ke Jakarta tadi pagi, saya berkesempatan membaca surat kabar yang diberikan pihak maskapai, Harian Nasional.  Lembar demi lembar saya baca dan sampailah pada halaman dimana dimuat satu kolom informasi singkat seputar kunjungan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) bersama sejumlah jurnalis asing yang tergabung dalam East-West Center : Collaboration, Ekpertise, Leadership ke Kementrian Agama pada selasa (2/9). Lukman Hakim Saifuddin sebagai Menteri Agama langsung menerima kunjungan para juru warta tersebut.
“Umat Islam Indonesia adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia” ujar Lukman Hakim seperti dikutip harian Nasional, Rabu (3/8). Lukman menjelaskan bahwa dua ungkapan ini mengandung makna yang berbeda dan mengulang kembali ungkapan diatas guna mempertegas maksudnya.
Ungkapan Menteri Agama yang mengawali karirnya dengan kontroversi pengesahan Bahai sebagai sebuah agama yang sah di Indonesia ini cukup menarik. Ungkapan tersebut memang mengandung makna yang berbeda. “Orang Indonesia yang beragama Islam” bermakna identitas yang dominan adalah nasionalisme dan agama hanyalah asesoris tambahan, sementara ungkapan “orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia” menggambarkan identitas Aqidah yang dominan sementara penyebutan nama negara atau wilayah Indonesia hanya keterangan tambahan yang menggambarkan salah satu kawasan di muka bumi yang dihuni oleh sekelompok orang tanpa makna mendalam apapun serta tidak mengandung konsekuensi signifikan jika keterangan wilayah itu dirubah menjadi Yaman, Inggris, Afrika dan lain sebagainya.

Selasa, 2 September 2014, 17:09 –
Menag: Kita Adalah Orang Indonesia Yang Islam, Bukan Orang Islam di Indonesia
Jakarta (Pinmas) —- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin hari ini, Selasa (02/09), menerima kunjungan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bersama beberapa wartawan internasional yang tergabung dalam East-West Center: Collaboration, Ekpertise, Leadership.
Kedatangan sekitar 14 jurnalis ini dalam rangka “2014 Senior Journalist Seminar: Bridging Gaps Betwen The U.S. and The Muslom World” sekaligus lebih mengenal kehidupan umat Muslim di Negara-negara Muslim, termasuk di Indonesia. Mereka berasal Bangladesh, India, Iran, Iraq, Malaysia, Pakistan, Palestina, Singapura, USA, dan juga Indonesia.
Kepada mereka, Menag menegaskan bahwa umat Islam Indonesia adalah orang Indonesia yang beragama Islam dan bukan orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia. “Kita berupaya betul meyakinkan kepada umat Islam Indonesia bahwa kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang sedang tinggal di Indonesia,” tegas Menag.
“Ini dua hal yang berbeda,” tambahnya didampingi Sekjen Kemenag Nur Syam, Pgs. Kepala Balitbang-Diklat, Kepala Pusat Informasi dan Humas, serta beberapa pejabat eselon II lainnya.
Menag menegaskan bahwa dalam kehidupan Islam di Indonesia, umat Islam senantiasa mengkaitkan antara Indonesia, Islam, dan kemodernan. “Kami di Indonesia itu sejak lama melalui tokoh-tokoh kami mencoba menerapkan paham keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Kita selalu mengkaitkan antara Islam, Indonesia, dan kemodernan,” katanya.
“Jadi, bagaimanapun keindonesian kita inilah yang perlu dikedepankan dalam kita menjalani kehidupan keagamaan kita, termasuk kehidupan keislaman kita dengan tetap bisa menyerap nilai-nilai modernitas itu,” tandasnya.
Indonesia Sebagai Model
Dalam kesempatan berdialog, Guy Taylor dari Washinton Time mengatakan bahwa Islam Indonesia yang moederat toleran harusnya bisa menjadi model kehidupan beragama di dunia. Tapi, Guy Taylor mempertanyakan kenapa pemberitaan di justru tentang Islam yang militan dan ekstrimis.
“Indonesia sebagai Negara muslim moderat, kenapa bukan ini yang muncul di internasional, justru berita-beritanya yang militan?” tanyanya.
Akan hal ini, Menag mengatakan bahwa Indonesia terus mensosialisasikan dan memperkenalkan bagaimana Islam yang rahmatan lil alamin bisa menjadi mainstrean dalam kehidupan antar kita, bahkan di dunia internasional. Menurutnya, banyak forum internasional yang sekarang mulai melihat Indonesia sebagai contoh bagaimana mengelola keragaman dengan penuh kedamaian dan harmoni.
“Karenanya, yang perlu ditekankan di sini, kasus-kasus di Timur Tengah misalnya yang selama ini menjadi kiblat dunia melihat Islam, harus mulai diubah. Jangan hanya Timur Tengah saja yang menjadi potret wajah Islam, tapi juga belahan timur di mana Indonesia bisa menjadi contoh sesungguhnya dalam melihat bagaimana nilai-nilai Islam itu bisa diterapkan dalam ikut menjadi perdamaian di dunia,” pungkas Menag. (mkd/mkd)
                                                                                      Statemen Menag di web resmi Kemenag
Pikiran saya pun melambung jauh tertuju pada satu karya tokoh intelektual Islam bernama Sayyid Quthb Rahimahullah yang berjudul “Ma’alim fi Thoriq” (Petunjuk Jalan, dalam edisi berbahasa Indonesia). Dalam satu Bab dibuku itu, Sayyid Quthb membahas seputar tema “Kewarganegaraan Seorang Muslim adalah Aqidah-nya” di situ Sayyid Quthb menjabarkan kebathilan segala macam ikatan yang bernada Nasionalisme seperti pan Arabisme dan seruan-seruan serupa.
Beliau Rahimahullah juga menganalisa fakta sejarah bahwa di awal kemunculan Rasulullah SAW, pertama kali hal yang didakwahkan adalah aqidah tauhid yang justru banyak mendapat penentangan dari bangsa Arab pada masa itu. Padahal jika Nabi SAW mengawali dakwahnya dengan seruan kebangsaan mungkin akan berbeda, pasalnya bangsa Arab ketika itu sangat gandrung dengan isu kesukuan dan kebangsaan, terlebih Nabi SAW berasal dari suku terpandang.
Sayyid Quthb memaparkan fakta sejarah bahwa Nabi SAW tidak melakukan seruan kebangsaan, seruan aqidah tauhid seberapapun tantangan yang menghadang dan resiko yang besar tetaplah menjadi pilihan. Allah SWT memerintahkan seruan aqidah tauhid dan memang inilah inti ajaran Islam dan karakteristikanya yang menghancurkan sekat-sekat jahiliyah termasuk sekat kesukuan, kebangsaan serta konsep kewarganegaraan primordial-primitif lainnya.
Sayyid Quthb mengatakan,”Kewarganegaraan yang dikehendaki oleh Islam untuk manusia (seluruhnya, pen.) adalah kewarganegaraan aqidah, dimana sama seorang Arab dengan seorang Romawi, seorang Parsi, setiap jenis dan warna (semuanya sama) di bawah panji-panji Allah. Dan inilah jalannya”
Penjelasan Sayyid Quthb ini juga dikuatkan dengan Sabda Rasulullah SAW yang mencela ashobiyah (fanatisme golongan/kesukuan/kebangsaan), beliau SAW bersabda, ”Bukanlah termasuk golongan umatku orang yang menyerukanashobiyah”.  Takdir Allah bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah untuk saling mengenal menjalin ukhuwah dan bukan untuk terkotak-kotak dalam bingkai kesukuan ataupun kebangsaan itu sendiri.
Islam memang lahir untuk mempersatukan manusia di bawah satu panji dengan aqidah sebagai ikatan yang utama. Menjadikan ikatan kebangsaan atau kenegaraan menjadi ikatan utama diatas ikatan aqidah maka itu menyalahi syariat Islam, terlebih terpecah-pecahnya dunia Islam menjadi negara-negara yang ada hari ini adalah ulah kaum imperialis yang tidak bisa dijadikan dasar ikatan untuk menandingi ikatan yang didasari wahyu.
“Dalam wacana ilmu politik modern pengertian ‘bangsa’ lebih bersifat imajinatif” (Benedict Anderson, 1999). Imajinatif karena kata bangsa tidak lagi sesuai dengan teori asalnya berdasarkan kesamaan ras, suku, budaya dan bahasa. Menilik penyebutan Indonesia sebagai bangsa, tentu jelas sangat imajinatif dan absurd, mengingat di dalam Indonesia justru terdapat banyak suku/ras/bangsa dan bahasa. Oleh karenanya kata “Indonesia” pun tidak bisa bermakna mewakili sebuah bangsa.

Dengan demikian “bagaimana ungkapan sang Mentri Agama di atas? Apa maknanya?” Silakan Anda menilai.  Setelah menilai dan merenung, jangan lupa tentukan pilihan apakah anda adalah “Orang Islam yang ditakdirkan tinggal di Indonesia” atau “Orang Indonesia yang Beragama Islam”.
Penulis: Usyaqul Hurr
Editor: Hamdan


Menag: 
Islam Ala Indonesia Bukan Islam yang Terlalu Hitam-Putih
KIBLAT.NET, Jakarta – Menteri Agama RI, Lukman Hakim Syaifuddin kembali menegaskan apa yang ia maksud sebagai Islam ala Indonesia atau Islam Nusantara.
“Islam Nusantara itu ialah Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang penuh dengan kedamaian, Islam yang bisa hidup di tengah keragamaan. Karena hakikatnya Indonesia adalah bangsa yang sangat besar dan penuh dengan keragaman,” jelas Lukman Hakim kepada Kiblat.net usaiacara Launching Musabaqah Kedubes Saudi di Hotel Raffles, Jakarta, tadi malam (11/02).
Menurut beliau, para pendahulu kita telah mewariskan ajaran Islam yang toleran dan rahmatan lil alamin. Sehingga, mampu melihat perbedaan itu sebagai keragaman yang variatif bukan yang kontradiktif.
“Saya lebih senang menyebut perbedaan sebagai keragaman. Itu adalah dalam rangka untuk saling melengkapi dan mengisi sehingga saling menyempurnakan kita manusia yang pada dasarnya terbatas,” tambahnya.
Lukman menambahkan, Islam ala Indonesia bukanlah Islam yang terlalu hitam-putih, yang mudah untuk menyalah-nyalahkan atau bahkan mengkafirkan.
“Karena beberapa negara sudah mulai ke arah sana sehingga di era globalisasi ini agar paham-paham seperti itu tidak terlalu mempengaruhi umat Islam Indonesia yang sesungguhnya mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu Islam Nusantara itu,” jelas Lukman.
Seperti diberitakan Kiblat.net sebelumnya, dalam sambutannya di acara ta’aruf Kongres Umat Islam Indonesia VI di Yogyakarta, Menteri Agama Lukmanul Hakim menyatakan bahwa Islam ala Indonesia yang moderat adalah Islam yang diharapkan dunia.
“Islam Indonesia oleh beberapa ilmuwan dari dalam dan luar negeri dianggap dapat menjadi model yang bisa diharapkan,” ujar Menag, Ahad (8/2/2015).


SELASA, 10 FEBRUARI 2015 | 02:14 WIB
Apa kata tokoh JIL/sepilis ( perusak agama) si azyumardi azra !!

Islam Indonesia Bukan Arab, Wanita Bisa Jadi Raja
[terkuak kedengkiannya terhadap bangsa Arab ]
TEMPO.CO, Yogyakarta - Kasultanan Yogyakarta merupakan salah satu kasultanan Islam di Indonesia. Sesuai dengan tradisi kerajaan Islam yang berkembang di Nusantara, seorang perempuan bisa diangkat sebagai sultan. "Tak apa-apa sultan perempuan," kata cendekiawan muslim, Azyumardi Azra, seusai pembukaan Kongres Umat Islam VI di Yogyakarta, Senin, 7 Februari 2015.
Islam di Indonesia, menurut dia, adalah Islam yang rileks. Itu berbeda dengan Islam yang berkembang di Arab. Perbedaan corak Islam itu pun berdampak pada cara memandang raja perempuan. "Kalau di Arab, jangankan jadi raja, (perempuan) menyetir mobil saja tidak boleh," ujarnya.
Dia menuturkan kasultanan di Nusantara memiliki sejarah adanya sultan perempuan. Di Kasultanan Aceh pada abad ke-XVII, dia memberi contoh, ada tiga perempuan yang menjadi raja (sultonah). "Kita bukan di Arab," katanya.
Undang-Undang Keistimewaan DIY mengamanatkan gubernur merupakan Raja Keraton Yogyakarta yang bertahta, Sultan Hamengku Buwono. Ada indikasi dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 itu bahwa sultan harus seorang lelaki. Sepanjang sejarah kasultanan Yogyakarta, dari Hamengku Buwono I hingga X, sultan merupakan seorang lelaki.
Azyumardi menjelaskan, pada dasarnya, Islam Nusantara tak menghalangi seorang perempuan menjadi sultan. "(Kalau tidak bisa) mungkin karena aturan kerajaannya," katanya. Namun aturan itu bisa saja diubah.
 
Ketua Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin menuturkan keraton Yogyakarta merupakan salah satu kasultanan Islam di Indonesia. Bergelar Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah, sultan tak hanya merupakan pemimpin politik, tapi sekaligus pemimpin agama bagi rakyatnya. "Sultan gelarnya luar biasa," ujarnya.
Posisi sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin agama itu, menurut dia, tak hanya berlaku di Keraton Yogyakarta, tapi juga di hampir semua kasultanan di Indonesia. Dalam pembukaan Kongres yang berlangsung di Pagelaran Keraton Yogyakara itu, dihadiri pula oleh 42 kasultanan di Indonesia.

DALAM sambutannya di acara ta’aruf Kongres Umat Islam Indonesia VI di Yogyakarta, Menteri Agama Lukmanul Hakim menyatakan bahwa Islam Indonesia yang moderat adalah versi Islam yang diharapkan dunia.
“Islam Indonesia oleh beberapa ilmuwan dari dalam dan luar negeri dianggap dapat menjadi model yang bisa diharapkan,” ujar Menag, Ahad (08/02/2015).
Para ilmuwan dari dalam dan luar negeri mengharapkan model Islam Indonesia.
Nah para ilmuwan itu bisa kasih apa di akherat nanti?
Bagaimana jika Islam yang diharapkan para ilmuwan itu berbeda dengan Islam yang diharapkan Allah?

sultan Palembang Tolak “Islam Indonesia” ala Menag

DALAM sambutannya di acara ta’aruf Kongres Umat Islam Indonesia VI di Yogyakarta, Menteri Agama Lukmanul Hakim menyatakan bahwa Islam Indonesia yang moderat adalah versi Islam yang diharapkan dunia.
“Islam Indonesia oleh beberapa ilmuwan dari dalam dan luar negeri dianggap dapat menjadi model yang bisa diharapkan,” ujar Menag, Ahad (08/02/2015).
Namun pernyataan terkait “Islam yang Indonesia” ini ditolak oleh Sultan Palembang Iskandar Mahmud Badaruddin, saat memberi sambutan di kesempatan yang sama.
Menurutnya sebelum Indonesia berdiri, Kesultanan di Nusantara sudah memeluk Islam yang tidak dapat dibedakan antara satu sama lainnya.
“Kalau Bapak Menteri tadi bilang ada Islam ini dan itu, saya tidak sepakat, sebab Islam adalah rohmatan lil alamin dan hanya satu,” tegas Sultan.
Selain itu, Sultan Palembang menyatakan bahwa banyaknya krisis yang menimpa Indonesia disebabkan produk hukumnya masih menggunakan hukum Belanda yang notabene bertentangan dengan ajaran Islam.
“Ini produk hukum kafir,” tandasnya.
Sebagai Sultan dari Palembang yang memiliki akar keislaman yang kuat, Mahmud Badaruddin berharap agar dalam Kongres Umat Islam Indonesia ini hukum Islam dapat kembali dikuatkan sebagaimana pernah dicontohkan para Sultan Nusantara. [Eza/Islampos]

Ada Islam Arab Apalagi Islam Indonesia
FUI: Islam Bukan Produk Budaya, Tidak Ada Islam Arab Apalagi Islam Indonesia
KIBLAT.NET, Jakarta – Sekjen Forum Umat Islam, Ustadz Muhammad Al Khaththath menegaskan Islam yang perlu dianut umat Islam di dunia dan di Indonesia adalah Islam model Rasulullah SAW bukan Islam versi mana pun.
“Sebab Rasulullah SAW adalah satu-satunya model Islam. Tidak ada model lain, apalagi Islam model Indonesia,” katanya kepada Kiblat.net pada Selasa (10/2).
Menurut beliau, agama Islam bukan hasil buatan manusia, sehingga Islam tidak memiliki varian yang diukur dari nilai suatu daerah.
“Islam bukan produk budaya masyarakat atau bangsa tertentu. Jadi, tidak ada Islam model Arab Saudi atau model Islam Indonesia,” ucap Ustadz Khaththath.
Apalagi, lanjutnya, sewaktu ajaran Islam diturunkan belum ada negara-negara bangsa seperti Arab Saudi ataupun Indonesia.
“Islam adalah risalah yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad pada 15 abad lalu, sedangkan Arab Saudi dan Indonesia baru ada pada abad 20 kemarin,” tutur Ustadz Khaththath.
Ia menambahkan, dalam firman Allah pada QS Al-Ahzab: 21 diterangkan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan teladan yang baik bagi seluruh manusia.
Laqad kaanaa lakum fi rasulullahi uswatun hasanah. Sungguh dalam diri Rasulullah SAW ada model teladan yang baik dan wajib diikuti oleh setiap Muslim dimanapun dan kapanpun,” tandasnya.
“Islam Indonesia oleh beberapa ilmuwan dari dalam dan luar negeri dianggap dapat menjadi model yang bisa diharapkan,” ujar Menag, Ahad (8/2/2015).

Reporter: Bilal Muhammad

Editor: Fajar Shadiq

Syarif Baraja: Islam Ala Indonesia Berarti Bukan Islam Ala Sahabat Nabi SAW

KIBLAT.NET, Jakarta – Dai muda dan Motivator ‘Sholat For Success’, Ustadz Syarif Baraja menolak pandangan Menteri Agama yang meminta agar Islam moderat atau Islam ala Indonesia dikembangkan. Menag beralasan, model Islam ala Indonesia menjadi harapan para ilmuwan di dalam dan di luar negeri.
“Islam ala Indonesia itu berarti bukan Islam ala Sahabat Nabi shalallahu alaihi wassalam,” katanya menanggapi pertanyaan dari pertemanan Facebooknya, pada Senin (9/2).
Menurut da’i muda yang memiliki 30 ribu follower twitter ini, para ilmuwan bukanlah standar kebenaran untuk menentukan Islam mana yang cocok diterapkan oleh umat Islam baik di Indonesia ataupun di luar negeri.
“Para ilmuwan itu bisa kasih apa di akhirat nanti? Bagaimana jika Islam yang diharapkan para ilmuwan itu berbeda dengan Islam yang diharapkan oleh Allah?” tanyanya retoris.
Seperti diketahui, dalam sambutannya di acara ta’aruf Kongres Umat Islam Indonesia VI di Yogyakarta, Menteri Agama Lukman Hakim menyatakan bahwa Islam Indonesia yang moderat adalah Islam yang diharapkan dunia.
“Islam Indonesia oleh beberapa ilmuwan dari dalam dan luar negeri dianggap dapat menjadi model yang bisa diharapkan,” ujar Lukman pada Ahad lalu (08/02).
Reporter: Bilal





Sunday, February 1, 2015

Pernyataan para tokoh umat islam atas penyerangan warga az zikra oleh pembela syiah

February 12, 2015   
Inilah Pernyataan Resmi Tokoh Umat Islam atas Penyerangan Warga Az Zikra oleh Pembela Syi’ah
Bismillahirrahmanirrahiim
Pernyataan para tokoh umat islam atas penyerangan warga az zikra oleh pembela syiah
1. Kami bersatu untuk membela seluruh kelompok umat Islam dan akan melakukan pembelaan kepada seluruh kelompok umat Islam dari serangan musuh-musuh umat Islam.
2. Kami mengimbau seluruh ulama/habaib/pimpinan umat Islam dan seluruh jamaah umat Islam agar senantiasa bersatu dan mewaspadai serangan dalam bentuk apapun kepada masjid atau tempat kediaman ulama/habaib/pimpinan umat Islam.
3. Kami mendesak kepada pihak kepolisian dan pihak yang berwenang agar menindak tegas para pelaku perbuatan pengeroyokan, penganiayaan dan penculikan di atas sesuai hukum yang berlaku.
4. Kami sepakat mempertahankan Indonesia sebagai negeri Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan akan melawan orang, kelompok, atau ormas yang akan berusaha mempengaruhi, mendoktrin, serta memaksakan aqidah selain Ahlu Sunnah wal Jama’ah.
5. Kami menuntut kepada pihak kepolisian agar tidak melepaskan ke-40 pelaku penyerangan, penganiayaan, dan penculikan di atas.
6. Kami menilai serangan kaum yang kami duga pembela Syiah di atas jelas-jelas menodai dan menghina dan merupakan tindakan amoral yang mengancam keamanan dan ketahanan NKRI.
7. Fakta peristiwa ini membuktikan bahwa gerombolan pembela Syiah adalah gerombolan radikal dan anarkis yang sebenarnya.
8. Menolak segala intervensi yang bertujuan untuk membebaskan ke-40 pelaku penyerangan, penganiayaan dan penculikan tersebut dari tahanan dan dari jerat hukum.
9. Menuntut pemerintah melarang faham Syiah yang bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah serta kegiatan gerakan Syiah dan para pembelanya yang terbukti melakukan tindakan anarkis.
Demikian pernyataan kami atas peristiwa penyerangan, penganiayaan, dan penculikan atas saudara kami Faisal Salim Ketua Komite Penegak Syariah Islam Masjid Az Zikra dan kami memohon pertolongan Allah SWT agar kami mampu menghadapi dan mengalahkan musuh-musuh umat Islam.
Bogor, 23 Rabiut Tsani 1436 H/12 Februari 2015
Kami yang membuat pernyataan ini:
1. KH. Muhammad Arifin Ilham Pengasuh Majelis AZ Zikra
2. KH. Luthfie Hakim SH MH Ketum Forum Betawi Rempug

3. Habib Muhsin bin Zaid al Atthas Sekjen Gerakan Masyarakat Jakarta
4. KH. Endang Supardi Ketum Forum Betawi Bersatu
5. KH. Abu Jibril Wakil Amir Majelis Mujahidin
6. KH. Bachtiar Natsir Sekjen MIUMI
7. KH. Misbahul Anam Ketua Majelis Syura DPP FPI
8. Habib Muhsin Alatas Ketum DPP FPI
9. KH. Muhammad al Khaththath Sekjen FUI
10. Hudan Dimyati Ahmad anggota Dewan Pembina HASMI


Dewan Syuro ANNAS Abu Jibril: Syiah Bukan Islam

Anggota Dewan Syuro Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Abu Jibril mengatakan, Syiah bukan Islam sebab syahadatnya, ajarannya lain. Namun, mengapa masih banyak yang  segan mengatakan itu bukan Islam.
"Kami yakin kalau Syiah bukan Islam. Mereka sendiri menyatakan kalau mereka minoritas, berarti memang bukan Islam sebab Islam itu mayoritas," kata Abu Jibril di Jakarta, Rabu, (04/02/2015).
Syiah sendiri sebagai minoritas, terang dia, membutuhkan  perlindungan dari undang-undang. Maka DPR harus cerdas membedakan Syiah dengan Islam.
"DPR harus  cerdas dan  bijak membuat  hukum. Kami datang  hanya untuk bercerita kisah Syiah,  keputusan di tangan DPR," ujar Abu Jibril.
Sementara itu, Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) KH Athian Ali mengatakan, saat ini perkembangan aliran Syiah yang makin menguat semakin terasa. Padahal, Syiah sudah lama berkembang.
"Baru lima tahun terakhir perkembangan paham Syiah semakin terasa. Ini terlihat dari terjadinya kasus Sampang," ujar KH Athian di Jakarta, Rabu, (04/02/2015).
Supaya tidak terjadi gesekan antara Islam dan Syiah, ia menyarankan agar Syiah segera mendeklarasikan diri menjadi agama baru yang diakui di Indonesia.
Pemerintah dalam melindungi umat beragama, kata KH Athian, tidak boleh hanya berpijak pada paradigma melindungi minoritas dengan dalih HAM. Pemerintah juga harus melindungi mayoritas dari pihak-pihak yang mengusik prinsip dasar agama mayoritas.
"Pemerintah jangan hanya memihak dan melindungi minoritas. Tapi juga melindungi umat mayoritas." tegasnya.


Sambangi DPR, ANNAS Minta Pemerintah Hentikan Kerjasama dengan Iran

Perkembangan Syiah yang masif, ofensif, dan agresif di Indonesia dilakukan oleh dua lembaga utama mereka yaitu Ahlul Bait Indonesia (ABI) dan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI). Namun, eksistensi keduanya tidak dapat dipisahkan dari sponsor dan peran Kedutaan Besar Iran di Jakarta.
Hal itu diutarakan oleh Ketua Harian Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS), KH. Athian Ali Dai dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) pada Rabu, (04/02) bersama tokoh-tokoh Islam di ruang Komisi VIII DPR RI, Senayan, Jakarta.
Menurut beliau, melalui atase kebudayaan Kedubes Iran, gerakan Syiah diarahkan, dikordinasikan, dan dibiayai. Untuk itu, ANNAS mendesak pemerintah untuk menghentikan hubungan dengan Iran.
“ANNAS mendesak agar kerjasama Indonesia-Iran di bidang pendidikan, kebudayaan, dan agama dihentikan. Segera tutup Atase Kebudayaan Kedubes Iran di Jakarta,” tegas ketua Forum Ulama Umat Islam (FUUI) ini.
Langkah ini, kata Kiyai Athian, sangat strategis untuk membangun martabat dan memperkuat ketahanan bangsa dari ancaman dan ekspansi ideologi transnasional, Syiah Iran.
Pantauan Kiblat.net di lokasi, dalam kesempatan itu hadir sejumlah anggota Komisi VIII DPR, di antaranya, Deding Ishak, Shodiq Mujahid, dan Arzeti Bilbina. Sementara dari pihak ulama yang hadir diantaranya, Habib Zein Al Kaff (PWNU Jatim), KH. Ali Karrar (NU Sampang), KH. Kholil Ridwan (Ketua MUI), Said Abdushshomad (LPPI Makassar), dan Fahmi Salim (Muhammadiyah).

Mantan pengurus IJABI: Syiah 100% bukan Islam!
Adiba Hasan Senin, 6 Rabiul Akhir 1436 H / 26 Januari 2015 19:15

Ustadz Roisul Hukama, Mantan Pengurus Ikatan Jama’ah Ahlul Bayt Indonesia (IJABI) membeberkan kesesatan ajaran Syiah. Menurutnya, ajaran Syiah sudah bertolak belakang seratus persen dengan ajaran Islam, sebagaimana dilansir SI pada Sabtu (24/1/2015).
 “Bukan lagi separuh persen, tapi seratus persen. Jadi setelah tahu begitu saya out. Karena kita tidak mau semakin jauh. Nanti kita tidak mau jadi robot yang diremote. Ya kalau untung akhiratnya, sudah didunia diremote orang, akhiratnya pun kacau balau,” tandasnya setelah rapat antara MUI dengan Ulama se-Jawa Timur di kantor MUI Pusat, Selasa (24/01).
Adik kandung Tajul Muluk ini mulai aktif dalam struktur IJABI pada tahun 2007. Namun dalam perkembangannya, banyak kedustaan dan penyimpangan yang dilakukan Organisasi Syiah terbesar di Indonesia itu.
“Katanya (IJABI) mengusung pluralisme, nonpolitik. Katanya non-mazhab, seluruh ahlul bait bisa masuk ke dalamnya. Tapi nyatanya, di dalam semua mau diajak ke wilayatul faqih. Wilayatul Faqih itu artinya revolusi imamah. Ketika saya tahu begitu dan penyimpangan-penyimpangan ushul lainyna, ini sudah masuk ahlul bid’ah fii aqidah. Akhirnya saya keluar,” sambungnya.
Selanjutnya, ia juga membantah pemberitaan media sekuler dan opini yang dihembuskan bahwa konflik di Sampang terjadi karena persoalan keluarga. “Tidak ada itu. Malu mas, naïf bicara begitu, sampai-sampai dunia internasional turun tangan. Masak gara-gara keluarga. Istimewa sekali,” kilahnya.
Sebelumnya, Ketua Dewan Syura IJABI Jalaluddin Rakhmat mengatakan, konflik yang terjadi antara Sunni-Syiah di Sampang, Madura, bukan karena perbedaan pendapat, melainkan karena perbedaan pendapatan yang dipicu oleh konflik internal keluarga antara Ustadz Raisul Hukama dan kakaknya, Tajul Muluk. 
Posted by: "Sunny" <ambon-AVELsB7rqi0@public.gmane.org>







Saturday, January 31, 2015

Raja Salman Mengangkat Sheikh Syuraim Penentang Rezim al-Sisi

Raja Salman memperlihatkan sikap politik dan cara kepemimpinan yang ternyata bertolak belakang dengan pendahulunya, mendiang raja Abdullah. Terutama terkait sikapnya tentang kudeta militer yang terjadi di Mesir.
Setelah dikabarkan memiliki hubungan kurang harmonis dengan Abdel Fattah As-Sisi presiden kudeta Mesir, sekarang raja Salman kembali membuat pemerintah kudeta Mesir panas. Raja Salman baru saja mengangkat kembali Syaikh DR. Su'ud As-Syuraim sebagai imam resmi Masjidil Haram, Makkah yang sebelumnya dipecat mendiang raja Abdullah terkait sikap beliau yang menolak aksi kudeta di Mesir.

Ketika kudeta militer yang dipimpin Abdel Fattah As-Sisi terjadi, Syaikh As-Syuraim langsung merespon dengan penolakan, tidak cukup sampai disitu, Syaikh As-Syuraim juga mengecam pembantaian yang terjadi di Rab'ah dan mengecam sikap represif militer terhadap rakyat sipil, yang akhirnya memaksa raja Abdullah memecat beliau dari jabatan sebagai imam resmi Masjidil Haram.
Syaikh As-Syuraim sebelumnya menyeru agar tentara Mesir tidak membunuh saudara sebangsa dengan alasan apapun. Menurut beliau apa yang dilakukan militer Mesir hanya akan membuat senang musuh islam dan bangsa Mesir.
Syaikh As-Syuraim juga mengecam pembantaian di depan markas garda republik Mesir yang dilakukan di waktu fajar, Syaikh As-Syuraim menyebut pembantaian tersebut sebagai tindakan keji dan khianat terhadap rakyat Mesir.
Atas sikap penolakan terhadap rezim kudeta Mesir, Syaikh As-Syuraim kemudian dituduh Raja Saudi sebagai anggota Ikhwanul Muslimin.
Atas sebutan sebagai anggota Ikhwanul Muslimin, Syaikh Syuraim kemudian menuliskannya melalui akun twitternya (@saudalshureem), antara lain:

"Jika manhajmu tidak sesuai dengan para pemuja hawa nafsu (penyokong kudeta, Raja Abdullah, dan para penguasa Arab), mereka akan menyebutmu sebagai orangnya Ikhwan yang mereka bid'ahkan (mungkin di arab terminologi dibid'ahkan ini kurang lebih kalau di indonesia sama dengan di-PKI-kan)!
Apa yang Allah SWT katakan tentang orang seperti mereka ini dalam al Quran? 'jika mereka tidak beriman dengannya, mereka berkata, "inilah kebohongan yang sejak dulu sudah ada"' (al Ahqaf: 12).
Syaikh Syuraim juga berkata, "Siapa yang berlaku zalim pada orang-orang yang menasehati, sejarah akan menguburkannya."

Kini kondisi Saudi dengan Raja baru, Salman bin Abdulaziz, pelan-pelan berubah. Syaikh As-Syuraim kembali diangkat sebagai imam resmi Masjidil Haram. Segala sesuatu yang ada di dunia akan berubah. Termasuk  kebijakan Arab Saudi juga berubah, di bawah Salman. (hasmi bachtiar)
http://www.voa-islam.com/read/world-news/2015/02/10/35583/raja-salman-mengangkat-sheikh-syuraim-penentang-rezim-alsisi/#sthash.HlSdK6L0.dpuf


pandangan ulama saudi tentang al-ikhwan al-muslimin
POSTED BY AGUS SOELARTO ON SEP 14, 2013 IN INTERNASIONAL 

AQL Islamic Center — Dewasa ini, media massa Mesir telah memberitakan penyerangan yang berlebihan sehingga berhasil membentuk opini yang jahat terhadap keberadaan organisasi Al-Ikhwan al-Muslimin. Media tersebut menuding dengan tuduhan yang jahat dan penuh dengan kebohongan, karena telah mendorong dilakukannya pembunuhan; bertepuk tangan dengan adanya korban yang berjatuhan; dan bergembira dengan penangkapan dan penyiksaan yang dialami oleh Al-Ikhwan al-Muslimin. Seakan-akan mereka pasukan Yahudi yang ada di Palestina.
Lembaran ini akan membawa kita jauh dari kampanye sekulerisme ataupun kampanye yang dibayar. Inilah pendapat para ulama yang jujur dalam memberikan informasi sesungguhnya tentang Al-Ikhwan al-Muslimin, juga mengenai sikap mereka terhadap ormas Islam internasional itu.
Al-Ikhwan al-Muslimin termasuk golongan Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Lajnah Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta mengeluarkan fatwa yang isinya adalah :
“Kelompok Islam yang paling dekat dengan kebenaran dan paling semangat untuk menerapkan kebenaran adalah Ahlus Sunnah, seperti  halnya : Ahlul Hadits, Jama’ah Ansharus Sunnah, dan Al-Ikhwan al-Muslimin. Secara umum setiap kelompok tersebut dan kelompok-kelompok lainnya memiliki kesalahan dan kebenaran. Maka menjadi kewajiban Anda untuk saling tolong-menolong dalam kebenaran yang ada di kelompok-kelompok tersebut. Demikian juga, Anda harus menjauhi kesalahan yang ada di kelompok tersebut dengan diiringi usaha saling menasehati dan bekerja sama dalam kebajikan dan taqwa.” (fatawa al-Lajnah, jilid 34, hal 91)
Fatwa ini diputuskan atas nama : Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Abdur Razzaq ‘Afifi, Abdullah bin Qa’uud, dan Abdullah bin Ghadiyan rahimahumullah Jami’an.
Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah berkata, “Adapun beberapa kelompok yang ada, maka kami tidak menganggapnya sebagai kelompok yang sesat hanya karena adanya perbedaan nama jika tujuannya sama. Ada jamaah Tabligh di Arab Saudi dan sekitarnya yang kebanyakan dari mereka adalah alumni Jamiah Islamiyah dan beraqidahkan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka berpendapat bahwa berdakwah dengan amal perbuatan dan melakukan banyak bepergian itu mempunyai pengaruh yang sangat besar. Ada kelompok Salafi yang juga Ahlus Sunnah wal Jamaah yang berpendapat tentang utamanya belajar dan mendalami ilmu aqidah.
Ada juga kelompok Al-Ikhwan al-Muslimin yang selalu menyibukkan diri dengan berdakwah dan lantang menolak kemunkaran. Ada yang lebih memilih menghindar dan menjauhi para pelaku kemaksiatan walaupun mereka para penguasa, dan ada juga yang membolehkan masuk ke wilayah kekuasaan agar dapat meminimalisir kejahatan yang dilakukan para penguasa. Pada dasarnya semua kelompok tersebut beraqidahkan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan tidak termasuk kelompok yang sesat.
Dan jika ada oknum tertentu dari kelompok di atas yang berada pada aqidah yang sesat seperti berpendapat ta’thil (mengingkari sifat-sifat Allah dan menafikannya), tasybih(menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya.), membolehkan perilaku syirik, berpendapat seperti kelompok murjiah atau khawarij, atau mengingkari kekuasaan Allah, maka orang yang berpendapat demikian termasuk dari golongan yang sesat dan kita harus waspada agar tidak tertipu dengan ajakannya. Wallahu A’lam.” (Mauqi’ Syekh Ibnu Jibrin, fatwa nomer 11.622)
Cinta dan loyalitas terhadap Al-Ikhwan al-Muslimin
Syekh Ibnu Jibrin rahimahullah berkata, “Setiap jamaah dan kelompok yang mengamalkan al-Sunnah dan mengajak kepada Syariat Allah, mengajak kepada kebaikan dan melarang kemunkaran, dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan Allah, dan meninggalkan bid’ah. Maka kelompok seperti ini harus kita dukung dan mencintainya, walau mungkin ada sedikit kekurangan atau sedikit penyelewangan yang kita harus memberikan nasehat dan memperingatkan mereka agar tidak melakukan penyimpangan terhadap aturan syariat.
Kelompok Al-Ikhwan al-Muslimin termasuk kategori di atas. Mereka telah menghidupkan dakwah, memberikan nasehat kepada umat, dan mereka menjelaskan kebaikan kepada orang uang ditemuinya.” (Mauqi’ Syekh Ibnu Jibrin, fatwa nomer 2975),
Bekerja sama dengan Al-Ikhwan al-Muslimin
Al-Lajnah al-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’ mengeluarkan fatwa yang isinya: “Kelompok Islam yang paling dekat dengan kebenaran dan paling semangat untuk menerapkan kebenaran adalah Ahlus Sunnah, seperti  halnya : Ahlul Hadits, Jama’ah Ansharus Sunnah, dan Al-Ikhwan al-Muslimin. Secara umum setiap kelompok tersebut dan kelompok-kelompok lainnya memiliki kesalahan dan kebenaran. Maka menjadi kewajiban Anda untuk saling tolong-menolong dalam kebenaran yang ada di kelompok-kelompok tersebut. Demikian juga, Anda harus menjauhi kesalahan yang ada di kelompok tersebut dengan diiringi usaha saling menasehati dan bekerja sama dalam kebajikan dan taqwa. (fatawa al-Lajnah, jilid 34, hal 91)
Fatwa ini diputuskan atas nama : Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Abdur Razzaq ‘Afifi, Abdullah bin Qa’uud, dan Abdullah bin Ghadiyan rahimahumullah Jami’an.
Al-Lajnah al-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’ mengelurkan fatwa tentang Jamaah Al-Ikhwan al-Muslimin, Jamaah Tabligh, jamaah Ansharus Sunnah al-Muhammadiyyah, al-Jam’iyyah al-Syar’iyyah, dan Salafaiyyah, yang isinya :
“Setiap kelompok di atas memiliki kebenaran dan juga kebatilan, ada yang salah di dalamnya dan ada juga yang benar. Sebagian dari mereka ada yang lebih mendekati kebenaran dan memiliki kebaikan  dan manfaat yang lebih banyak dari sebagian lainnya. Maka yang harus Anda lakukan adalah bekerja sama dengan setiap kelompok dalam hal kebenaran dan memberikan nasehat kepada mereka yang menurut Anda melakukan kesalahan.” (fatawa al-Lajnah, jilid 2, hal 239)
Fatwa ini diputuskan atas nama : Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Abdur Razzaq ‘Afifi, Abdullah bin Qa’uud, dan Abdullah bin Ghadiyan rahimahumullah Jami’an.
Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Seseorang harus mengikuti kelompok yang mengikuti kebenaran, jika kebenaran ada di pihak Al-Ikhwan al-Muslimin maka kebenaran yang ada padanya harus diikuti,  jika kebenaran ada di pihak Ansharus Sunnah maka kebenaran yang ada padanya harus diikuti,  jika kebenaran ada di pihak yang lainnya maka kebenaran yang ada padanya harus diikuti. Semua tergantung kebenaran yang ada padanya, kelompok-kelompok yang ada ditentukan dengan kebenaran yang ada.” (Fatawa Ibnu Baz, jilid 8, hal 237-238)
Hubungan antara Salafiyyah dengan Al-Ikhwan al-Muslimin
Syekh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Jika penyebutan nama, seperti Ansharus Sunnah, al-Ikhwan al-Muslimin, atau yang lainnya memberi pengaruh terhadap persaudaraan keimanan dan kerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan maka hal ini tidak diperbolehkan. Semuanya adalah saudara karena Allah, yang selalu bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan dan juga saling menasehati walaupun dengan penamaan yang berbeda-beda.” (Fatawa Nuur ‘ala al-Darb, jilid 3, hal 171)
Tidak boleh saling serang dan bermusuhan dengan al-Ikhwan al-Muslimin
Syekh Bin Baz rahimahullah ditanya:
Kita melihat ada fenomena yang berbahaya yang mulai tersebar di kalangan para ulama dan penuntut ilmu yaitu menjelek-jelekkan kelompok-kelompok Islam yang ada di dunia Islam dan memecah belah antar kelompok dakwah. Kita menemukan ada yang mengatakan orang ini memiliki manhaj kelompok fulan dan yang ini bermanhaj menurut kelompok lainnya. Ada yang menilai baik dan buruknya suatu  kelompok dan juga menyerang kelompok tertentu, yang mana hal ini sudah menyebar di tengah-tengah para pencari ilmu. Apa pendapat Syekh tentang fenomena tersebut? Bukankah itu akan berpengaruh dengan ­al-wala’ (loyalitas) dan al-bara’ (disloyalitas) dan juga berpengaruh terhadap kesatuan umat dan para dai yang kita inginkan?”
Syekh Bin Baz rahimahullah menjawab:
“Al-Ikhwan al-Muslimin, jamaah Tabligh, dan kelompok-kelompok lainnya dengan nama yang berbeda-beda, tujuannya harus ikut dengan syariat Allah, mengikiti sunnah Rasulullah, dan menjauhi tujuan-tujuan selain keduanya. Jika itu menjadi tujuannya maka qalbu-qalbu menjadi berdekatan, kesungguhan menjadi terkumpul, pertentangan terminimalisir, dan qalbu-qalbu menjadi jernih.
Jika ada seseorang yang memiliki kritikan kepada kelompok tertentu hendaknya dia memberikan nasehat kepadanya dan menuliskan surat kepadanya atau kepada pemimpinnya, lalu menjelaskan kritikannya dengan dalil-dalil dan menggunakan cara yang lembut dan hikmah. Seperti inilah bentuk saling menasehati dan berkeinginan untuk selalu memberikan kebaikan, menjauhkan keburukan, salah satu sebab tersentuhnya qalbu, dapat memberikan kebaikan dan meminimalisir keburukan.
Adapun saling menjuluki suatu kelompok dengan beberapa gelaran yang mengandung ejekan dan mencelanya, maka inilah yang dapat memecah belah barisan dan mencerai beraikan kelompok. Dan yang didapat adalah bertambahnya keburukan.
Nasehat saya kepada semua kelompok yang mengatasnamakan Islam, dan nasehat saya kepada al-Ikhwan al-Muslimin yang didukung oleh beberapa orang dan dimusuhi, dicela, dan dibenci oleh sebagian lainnya, untuk selalu saling menasehati dan tidak memberikan celaan yang dapat memecah belah umat.” (Muhadharah dengan tema “Akhlaqul ulama’ wa atsaruha fil Ummah).
Syekh Bin Baz rahimahullah berkata, “Jika ada sebagian yang menamakan dirinya; Ansharus Sunnah, Salafiyyah, al-Ikhwan al-Muslimin, atau yang lainnya, maka ini tidak memberikan efek buruk jika bersama dengan kebenaran, dan beristiqamah mengikuti al-Qur’an dan Sunnah, memberlakukan hukum berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah, dan memiliki aqidah yang lurus baik dalam perkataan Maupun perbuatan. Jika ada kelompok yang salah, maka para ahli ilmu berkewajiban untuk mengingatkan kepadanya dan menunjukkannya jalan yang benar dengan dalil yang jelas.
Yang kami maksudkan adalah kita harus senantiasa bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan memperbaiki suatu kesalahan dengan ilmu dan hikmah dengan metode yang bagus. Jika ada kelompok yang memiliki kesalahan yang berhubungan dengan aqidah, hal-hal yang diwajibkan Allah, dan hal-hal yang diharamkan oleh Allah maka mereka ini harus diingatkan dengan menggunakan dalil-dalil syariat dengan lembut dan hikmah serta dengan cara yang baik. Hal ini dilakukan agar mereka dapat patuh dan menerima sebuah kebenaran serta tidak lari darinya.
Seperti itulah yang harus dilakukan oleh umat Islam untuk selalu bekerja sama dalam kebaikan dan ketaqwaan, saling menasehati antara yang satu dengan yang lainnya, dan tidak saling menjatuhkan antara yang satu dengan lainnya yang mana ini semua akan menjadi angin segar bagi musuh.” (Fatawa Ibnu Baz, jilid 8, hal 183)
Yang diikuti dan ditolak dari al-Ikhwan al-Muslimin
Syekh Bin Baz rahimahullah berkata, “Adapun kelompok-kelompok yang ada maka tidak boleh diikuti kecuali hal tersebut sesuai dengan yang haq. Baik kelompok tersebut mengatasnamakan dirinya al-Ikhwan al-Muslimin, Jamaah Tabligh, Ansharus Sunnah, Salafiyyah, Jamaah Islamiyyah, Ahlul Hadits, atau yang nama-nama yang lainnya, maka mereka semua ditaati dan diikuti dalam hal yang haq. Haq di sini adalah yang sesuai dengan dalil. Sedang yang berseberangan dengan dalil harus ditolak, dan kita katakan kepadanya, ‘engkau salah dalam hal ini.’
Yang semestinya dilakukan adalah mengikuti mereka pada hal yang sesuai dengan al-Qur’an, sunnah, dan Ijma’. Dan jika mereka tidak sesuai dengan al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ maka harus dengan tegas ditolak.
Jika ada yang benar dikatakan kepadanya, ‘engkau benar’ jika dia benar dan ‘engkau salah’ jika dia salah, dan yang diikuti hanya yang haq saja dan diajak kepadanya agar mendapatkan taufiq.
Jika dia salah dikatakan kepadanya, ‘engkau salah dalam masalah ini dan pendapatmu berseberangan dengan dalil ini, engkau harus segera bertaubat kepada Allah dan kembali kepada jalan yang benar.’ Inilah yang dikatakan oleh para ahli ilmu. (Fatawa Ibnu Baz, jilid 7, hal 121-122).
Bergabung dengan al-Ikhwan al-Muslimin
Syekh Bin Baz rahimahullah berkata, “Jika ada seseorang yang bergabung dengan kelompok Ansharus Sunnah dan menolongnya dalam hal yang haq, atau bergabung dengan kelompok al-Ikhwan al-Muslimin dan ikut mendirikan kebenaran di dalamnya tanpa berlebih-lebihan atau melampaui batas maka hal ini diperbolehkan. Adapun jika dia bergabung dengan mereka hanya mengikuti pendapat mereka dan tidak boleh menyimpang darinya, maka tidak diperbolehkan.” (Fatawa Ibnu Baz, jilid 8, hal 237-238).
Pemberian nama dengan sebutan “al-Ikhwan al-Muslimin”
Syekh Bin Baz rahimahullah berkata, “Adapun beberapa penamaan seperti Ansharus Sunnah, al-Ikhwan al-Muslimin, Jamaatul Muslimin, atau yang lainnya, maka penamaan dengan nama-nama tersebut diperbolehkan. Penamaan tidak masalah yang penting adalah amal perbuatan yang ada di dalamnya.” (Fatawa Nuur ‘ala al-Darbi, jilid 3, hal 169)
Syekh Bin Baz rahimahullah berkata, “Adapun sebagian kelompok yang memberikan nama kepada kelompoknya sebagai tanda atasnya, seperti Ansharus Sunnah di Sudan atau di Mesir maka hal ini diperbolehkan asalkan mereka beristiqamah pada jalan yang benar: jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau menamakan dirinya dengan sebutan al-Ikhwan al-Muslimin yang mereka gunakan sebagai penghubung di antara mereka, maka hal ini tidaklah memberikan kemudharatan.” (Fatawa Ibnu Baz, jilid 3, hal 170)
Syekh Bin Baz rahimahullah berkata, “Kelompok yang beruntung adalah kelompok yang mengajak kepada al-Qur’an dan sunnah, walaupun dari kelompok ini atau itu, selama masih satu aqidah dan satu tujuan. Tidaklah mengapa suatu kelompok mengatasnamakan dirinya: Ansharus Sunnah, al-Ikhwan al-Muslimin, atau yang lainnya. Yang terpenting adalah aqidah dan amal perbuatan mereka. Jika mereka beristiqamah dalam haq, tauhidullah, ikhlas, mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan, maka beberapa penamaan kelompok diperbolehkan.” (Fatawa Ibnu Baz, jilid 8, hal 183).
Syekh Bin Jibriin rahimahullah berkata, “Jika mereka semua beragamakan Islam dan beraqidah seperti aqidahnya para salafus shalih, dan mereka berbeda pendapat dalam hal-hal furu’ seperti adanya empat madzhab, berbeda dalam manhaj da’wah, berbeda dalam penamaan dan perbuatannya sesuai dengan namanya seperti: al-Ikhwan al-Muslimin, ahlut Tauhid, Salafiyyah, Tabligh yang beraqidahkan ahlus sunnah, maka penamaan-penamaan tersebut diperbolehkan.” (Mauqi’ Syekh Bin Jibriin, fatwa nomer 8326)
Wahai al-Ikhwan al-Muslimin, kenapa kalian memerangi rezim Arab dan Para Sekutunya?
Syekh Bin Jibriin rahimahullah berkata, “Kelompok al-Ikhwan al-Muslimin yang muncul di Mesir, yang mana mereka memiliki tujuan untuk memberikan perbaikan dan berdakwah kepada Allah, dan melalui gerakan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada orang dengan jumlah yang banyak sehingga mereka bertaubat dari meninggalkan shalat, dari minum-minuman keras, dan dari perilaku yang haram dan keji.
Ada beberapa kebiasan jahiliyyah yang belum dilaksanakan karena para da’i tidak dapat menghilangkannya, sehingga mereka berusaha untuk meminimalisirnya dikarenakan mereka adalah rakyat biasa yang tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan. Oleh karena inilah, mereka tidak dapat menghancurkan kubah di atas kuburan dan mencegah beberapa perilaku kesyirikan, karena mereka tidak memiliki kekuatan.
Para penguasa telah menjebloskan sebagian dari mereka ke penjara, para penguasa tersebut juga membunuhi mereka karena mereka beralasan bahwa al-Ikhwan al-Muslimin telah menggerakkan mayoritas rakyat melawan mereka, membongkar kejahatan mereka, menentang aturan-aturan mereka seperti undang-undang yang mereka buat, adat istiadat buruk, tidak melaksanakan hukum had, dan memperbolehkan zina dan minuman keras. Maka para penguasa tersebut berusaha sebisa mungkin untuk memecah belah mereka, menekan mereka, dan menghancurkan kekuatan mereka.” (Mauqi’ syekh Bin Jibriin, fatwa nomer 11.622).
Sikap Syekh Bin Baz tentang Pembunuhan terhadap al-Ikhwan al-Muslimin di Suriah 30 tahun silam.
Pada awal tahun delapan puluhan, pemerintah Suriah telah menyerang al-Ikhwan al-Muslimin sebagaimana yang terjadi sekarang di Mesir.
Syekh Bin Baz rahimahullah dalam surat terbukanya kepada presiden Suriah pada masa itu, yaitu Hafidz Asad berkata, “Majlis Tinggi di Jami’ah Islamiyyah yang diselenggarakan di Madinah al-Munawwarah dan dihadiri oleh perwakilan ulama muslim dan para pemikir di dunia Islam telah melihat hal yang menakutkan atas apa yang terjadi di Suriah, seperti pembunuhan, penyiksaan, dan penangkapan terhadap kaum muslimin yang menuntut ditegakkannya syariat Allah. Itu semua dilakukan dengan kedok Insiden yang terjadi di Halb (Aleppo).
Beberapa kantor berita dan media massa Arab Internasional telah menyebutkan bahwa peristiwa tersebut dilakukan oleh beberapa sayap partai lokal dikarenakan kesusahan, beban berat, dan tidak adanya akhlak yang mulia di setiap tempat di dalam perilaku sehari-hari. Dan juga disebabkan karena adanya perbedaan afiliasi dan loyalitas terhadap kelompok.
Yang seharusnya dilakukan adalah menyelesaikan akar dari sebab permasalahan dan tidak menambah runcing permasalahan. Begitu juga dengan mendukung para pemuda yang ikhlas berbuat untuk agama dan umatnya dan menghentikan tindakan-tindakan buruk terhadap mereka dan keluarga mereka.
Majelis Tinggi di Jami’ah Islamiyah sangat menyayangkan terhadap apa yang terjadi di negara yang sangat berharga tersebut. Seperti pertumpahan darah terhadap orang-orang yang menuntut apa yang seharusnya dilakukan oleh sebuah pemerintahan yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan memberlakukan syariat-Nya dan kembali kepada kemuliaan yang luhur dan disegani oleh yang lainnya ketika muncul sebuah peradaban yang sangat tinggi yang diketahui oleh manusia.
Majelis Tinggi juga merasa heran bahwa orang yang berdakwah seperti itu di sebuah negara Islam dituduh sebagai bentuk kejahatan yang berhak ditangkap, disiksa, dan dibunuh. Dan perbuatan buruk tersebut dilakukan tanpa memberikan kebebasan sedikitpun bagi para terdakwa untuk melakukan pembelaan.” (diterbitkan di Majalah I’tisham al-Misriyyah pada bulan Januari 1980)
Syekh Bin Baz rahimahullah juga pernah mengatakan, “Di Suriah telah terjadi pertempuran besar antara kaum muslimin dengan pemerintahan dari kalangan Nushairiyyah. Dan ini termasuk peperangan dan jihad antara kaum muslimin dan musuh-musuhnya. Kaum Muslimin sangat membutuhkan sekali dukungan material, dakwah dengan kalimatthayyibah dan juga dengan jihadun Nafs.
Bagi kaum muslimin harus mengetahui kewajibannya terhadap mereka dan mencurahkan segala tenaga untuk menolong wali-wali Allah, para mujahidin, para penduduk, menolong dengan harta dan jiwa, dan juga dengan kalimat thayyibah yang dapat menolong, menguatkan, dan mendukung mereka dalam melawan musuh mereka yang berlaku dzalim dan sewenang-wenang.” (Muhadharah dengan tema Pentingnya Jihad). [Jum’at, 16 Syawal 1434 H]
Oleh: Khoirul Masmu

Pandangan Ulama Salafi Arab Saudi Tentang Jama’ah Ikhwanul Muslimin
BY REDAKSI HASAN AL BANNA · 26 NOVEMBER 2012 
بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوُلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا، أَمَّا بَعْدُ.
Segala puji hanya milik Allah. Kami memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya dan memohon ampun kepada-Nya, serta berlindung kepada-Nya dari keburukan jiwa kami dan kejelekan perbuatan-perbuatan kami. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak akan ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam-Nya kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya.
Amma Ba’du,
Sungguh Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan berpegang teguhlahlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali ‘Imraan: 103)
Firman Allah Ta’ala, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.” (QS. Al-Anfaal: 46)
Perbedaan dalam memahami syariat agama Islam yang lurus ini pasti terjadi setelah meninggalnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam seiring dengan banyaknya peristiwa yang tidak ada pada masa beliau masih hidup. Allah Ta’ala telah menuntun kita dalam menyikapi sebuah perbedaan yakni dengan mengembalikan semuanya kepada Al-Qur`an dan hadits seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa`: 59)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga pernah bersabda, “Aku telah meninggalkan dua perkara yang mana kalian tidak akan pernah tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yakni Kitabullah (Al-Qur`an) dan sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik)
Ayat dan hadits di atas secara gamblang menyatakan bahwa dalil utama dalam urusan agama adalah Al-Qur`an dan hadits. Perbedaan pendapat dalam memahami teks ayat dan hadits juga biasa terjadi di kalangan ulama sehingga lahirlah beragam madzhab fikih seperti mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Para ulama tersebut sangat menghormati ulama lain yang berbeda pendapat dengan mereka dan tidak fanatik terhadap pendapat pribadi. Sikap fanatik yang berlebihan berasal dari pengikut ulama tersebut sehingga sampai pada tingkatan memalsukan hadits untuk membenarkan mazhabnya.
Di zaman sekarang hal yang sama juga terjadi. Banyak kelompok yang mengklaim merekalah yang paling benar dan kelompok lain itu salah. Di antara contohnya adalah Jama’ah Ikhwanul Muslimin dengan Salafi. Sebenarnya masing-masing tokoh dari dua kelompok ini saling menghormati tapi sebagian pengikutnya yang fanatik terhadap kelompok tersebut.
Di sini penulis tidak bermaksud apa-apa selain memberikan pencerahan tentang sikap para Ulama Salafi Arab Saudi terhadap Jama’ah Ikhwanul Muslimin Mesir. Berikut adalah kutipan dari Kumpulan Fatwa Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa, Jilid 3: Akidah, terbitan Darul ‘Ashimah, Riyadh, Kerajaan Arab Saudi.
Fatwa nomor 4161 hal. 236
Pertanyaan: Apakah setiap muslim wajib bergabung dengan satu kelompok Islam dan harus mempunyai seorang amir Jama’ah (pemimpin kelompok), padahal ini akan membuat kaum muslimin berpecah-belah dan membuat mereka berselisih sebagaimana firman Allah Ta’ala, Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar.” (QS. Al Anfaal: 46)
Jawaban: Kewajiban seorang muslim adalah mengikuti ajaran yang ada di dalam Kitabullah Al Quran dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam berupa perkataan, perbuatan dan keyakinan (ideologi), mencintai karena Allah, membenci karena Allah, menolong karena Allah dan memusuhi karena Allah, serta berusaha untuk menjadi orang yang paling dekat dengan kebenaran sebatas kemampuannya.

Fatwa nomor 620, halaman 237

Pertanyaan: Di dunia Islam sekarang terdapat banyak kelompok dan tarikat-tarikat sufi, seperti Jama’ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, Assiniyyin, Syi’ah. Manakah jama’ah (kelompok) yang benar-benar menerapkan Kitabullah dan Sunnah Rasul?
Jawaban: Jama’ah (kelompok) Islam yang paling dekat dengan kebenaran dan berusaha untuk mengaplikasikannya termasuk Ahlussunnah yaitu Ahlul Hadits, Ansharus Sunnah, Ikhwanul Muslimin.
Secara global, semua kelompok tersebut dan kelompok yang lainnya mempunyai kesalahan dan kebenaran, engkau harus bekerjasama dengan kelompok tersebut dalam hal-hal yang benar dan menjauhi hal-hal yang salah di samping tetap menasehati dan bekerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan.
Fatwa nomor 6282 halaman 238
Pertanyaan: Jama’ah atau kelompok yang ada sekarang seperti Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, Jama’ah Ansharussunnah Muhammadiyah, Jam’iyah Syar’iyah, Salafi, dan kelompok yang menamakan diri mereka Takfir dan Hijrah, semua kelompok ini dan juga kelompok lainnya ada di Mesir. Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana sikap seorang muslim terhadap kelompok-kelompok tersebut? Apakah hadits yang diriwayatkan Huzdaifah Radhiyallahu Anhu termasuk dalam hal ini? yaitu hadits yang berbunyi, “Maka jauhilah olehmu kelompok-kelompok itu walaupun kamu menggigit akar pohon sampai kamu mati dalam keadaan tersebut.” (HR. Muslim dalam kitab Shahih)
Jawaban: Dalam semua kelompok ini terdapat yang Haq dan Batil, begitu juga kebenaran dan kesalahan, sebagiannya ada yang lebih dekat kepada yang Haq dan kebenaran dan mempunyai manfaat yang lebih banyak daripada kelompok yang lain. Engkau harus bekerjasama dengan kelompok yang padanya terdapat kebenaran dan menasehati kelompok yang mempunyai kesalahan. Tinggalkanlah apa yang membuat kamu ragu dan ikutilah yang tidak membuat kamu ragu.
Fatwa nomor 7122
Pertanyaan: Di masa sekarang banyak terdapat jama’ah dan kelompok, semuanya mengklaim termasuk dalam Firqah Najiyah (Kelompok yang selamat), kami tidak mengetahui mana yang benar sehingga bisa kami ikuti. Kami harap Anda bersedia menunjuki kami perihal jama’ah (kelompok) yang lebih utama dan lebih baik sehingga kami mengikuti yang Haq (kebenaran) beserta dalil-dalil yang menguatkannya.
Jawaban: Semua jama’ah (kelompok) tersebut termasuk dalam kategori Firqah Najiyah (Kelompok yang selamat) kecuali jika ada kelompok yang melakukan hal-hal yang membuatnya dicap kafir dan mengeluarkannya dari pokok keimanan. Hanya saja tingkatannya berbeda-beda dari segi kekuatan dan kelemahannya sesuai dengan kebenaran yang mereka miliki dan amalan mereka dalam kebenaran tersebut, begitu juga kesalahan mereka dalam memahami dalil dan kesalahan dalam beramal. Kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran adalah yang lebih mengutamakan dalil dalam pemahaman dan amalan. Oleh karena itu, engkau harus mengetahui titik pandang mereka, ikutilah yang mengikuti kebenaran dan berusahalah untuk selalu bersama mereka. Janganlah engkau meremehkan saudara sesama muslim sehingga engkau menolak kebenaran yang berasal dari mereka. Ikutilah kebenaran walaupun berasal dari lisan orang yang berbeda dengan engkau dalam beberapa permasalahan. Kebenaran adalah petunjuk orang mukmin, kekuatan dalil dari Al Quran dan Hadits (Al Kitab was Sunnah) merupakan hal yang memisahkan antara haq dan batil (kebenaran dan kesalahan).
Hanya Allah-lah pemilik hidayah, dan semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya dan para sahabatnya.
Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi
Anggota: Abdullah bin Gadyan
Anggota: Abdullah bin Qa’ud