Monday, May 4, 2015

Andai Risalah Amman Mensahkan Syiah pun Tidak Dapat Membatalkan Fatwa-Fatwa Para Ulama Salafunas Shalih

Jika pun deklarasi tersebut mengesahkan aliran Syiah, maka keputusan tersebut tidak dapat membatalkan fatwa-fatwa para ulama generasi terdahulu dari kalangan salafuna shalih yang sudah ijmak bahwa aliran Syiah itu sesat-menyesatkan. (Kholili Hasib, Risalah Amman dan Kampanye Politis Syiah, hidayatullah.com, Rabu, 23 April 2014 – 13:52 WIB)
Imam Ibnu Katsir menegaskan: Dari ayat ini (surat Al Fath ayat 29), dalam satu riwayat dari Imam Malik, beliau mengambil kesimpulan bahwa golongan Rofidhoh (Syiah), yaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah Kafir.
Beliau berkata: “Karena mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama. (Tafsir Ibn Katsir, 4-219)
Imam Al Qurthubi berkata : “Sesungguhnya ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya juga benar, siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin”. (Tafsir Al Qurthubi, 16-297).
Imam Ahmad:
الامام احمد ابن حمبل:
روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سألت ابا عبد الله عمن يشتم

أبا بكر وعمر وعائشة ؟  قال: ماأراه على الاسلام
( الخلال / السنة : ۲، ٥٥٧)

Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat bahwa dia bukan orang Islam”. ( Al Khalal / As Sunnah, 2-557).
(syiahindonesia.com/nahimunkar.com)
***
Disamping tidak dapat membatalkan fatwa-fatwa para ulama salafunas shalih, masih pula di antara para ulama penandatangan deklarasi Amman tetap tegas menilai sesatnya syiah. 
Tetap bersifat tegas terhadap Syiah.
Beberapa ulama yang menandatangani deklarasi (Amman) tersebut tetap bersifat tegas terhadap Syiah. Seperti Syeikh al-Qardhawi, dan Syeikh Ahmad Thayyib.
Lihatlah fatwa Syeikh Yusuf al-Qardhawi. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya perbedaan yang mendasar di antara kedua madzab ini (Sunni dan Syiah) adalah perbedaan di dalam masalah ushuluddin (pokok-pokok agama) dan bukan di dalam masalah furu’. Oleh karena itu, sebutan untuk perbedaan ini adalah perbedaan di antara dua golongan, yaitu Ahlus Sunnah di satu sisi dan Syiah di sisi yang lainnya. Perbedaan ini bukan di antara dua madzab fikih.” (Fatawa Mu’ashirah jilid IV).
Dalam fatwanya tersebut Syeikh al-Qardhawi menerangkan kesesatan-kesesatan Syiah. Beliau menjelaskan, memang benar, tidak mungkin kita akan bersatu. Ketika saya mengatakan, ”Abu Bakar semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya. Umar semoga Allah Subhanahu Wata’ala meridhainya.” Sedangkan engkau (Syiah) berkata, ”Abu Bakar semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknatnya. Umar semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknatnya.” Ingat, alangkah besarnya jurang perbedaan antara kalimat ‘semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya’ dengan kalimat ‘semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknatnya’.
Tentang gerakan kaum Syiah yang sering mengelabuhi kaum Muslimin beliau berkata: “Kami melihat mereka (Syiah) bersikap masa bodoh. Mereka menerobos masuk ke masyarakat Sunni dengan memanfaatkan kekaguman Ahlu Sunnah atas sikap Syi’ah di bidang politik dan militer. Mereka menjadikan hal tersebut sebagai alat propaganda”.
Syeikh Ahmad Thayyib, Mufti al-Azhar, mengatakan, “Meski para ulama besar Al-Azhar terdahulu pernah terlibat di dalam berbagai konferensi persatuan Islam antara Sunni dan Syiah guna melenyapkan fitnah yang memecah belah umat Islam, penting saya garis bawahi bahwa seluruh konferensi itu nyatanya hanya ingin memenangkan kepentingan kalangan Syiah (Imamiyah) dan mengorbankan kepentingan, akidah dan simbol-simbol Ahlus Sunnah, sehingga upaya taqrib itu kehilangan kepercayaan dan kredibilitasnya seperti yang kami harapkan. Kami juga sangat menyesalkan celaan dan pelecehan terhadap para sahabat dan istri Nabi SAW yang terus menerus kami dengar dari kalangan Syiah, yang tentu saja hal itu sangat kami tolak. Perkara serius lainnya yang kami tolak adalah upaya penyusupan penyebaran Syiah di tengah masyarakat Muslim di Negara-negara Sunni.”(lihat tulisan Fahmi Salim, Sikap Al-Azhar Mesir tentang ‘Taqrib’ Sunni-Syiah di hidayatullah.com).
Terlepas dari itu, jika pun deklarasi tersebut mengesahkan aliran Syiah, maka keputusan tersebut tidak dapat membatalkan fatwa-fatwa para ulama generasi terdahulu dari kalangansalafuna shalih yang sudah ijmak bahwa aliran Syiah itu sesat-menyesatkan. Mereka lah generasi yang mendapat garansi.
Mereka lah generasi yang mendapat garansi.
Ajakan taqrib (pendekatan) Syiah ternyata hanya strategi Syiah untuk mensyiahkan kaum Ahlus Sunnah. Syeikh Mustafa al-Siba’i pernah dikhianati oleh orang-orang Syiah ketika beliau bersepakat untuk mengadakan taqrib. Namun ajakan itu dikhianati dengan kelakuan Syiah yang mencaci para Sahabat Nabi dan melakukan Syiahisasi. Ia pun sampai pada kesimpulan bahwa ajakan Syiah sebetulnya bukan ber-ukhwah dengan Ahlus Sunnah, namun sejatinya mengajak Sunni untuk menjadi Syiah.*
Penulis (Kholili Hasib) adalah Peneliti InPAS, Anggota MIUMI Jawa Timur
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar/ hidayatullah.com

(nahimunkar.com)

Hina Sahabat Nabi, Syiah Langgar Kesepakatan Ulama Se-Dunia di Qatar

Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab meminta penganut aliran Syiah dan Sunni saling menghormati. Hal ini pernah disampaikan Habib ketika menanggapi penyerangan Pondok Pesantren Al Ma’hadul Islami, di Pasuruan, Jawa Timur, 15 Februari 2011 lalu.

"Saya pikir soal Syiah dan Sunni ini kan sudah ada kesepakatan muktamar internasional di Qatar Februari 2009 lalu. Dimana Sunni dan Syiah harus saling menghargai satu sama lainnya," kata Habib Rizieq usai bertemu Menteri Dalam Negeri di Jakarta, Rabu (16/2/2011).

Menurutnya ada dua poin poin penting hasil mukhtamar yang harus dijalankan oleh Sunni dan Syiah. Pertama ulama Suni maupun Syiah tidak boleh membuat pernyataan lisan maupun tulisan yang menghina keluarga dan kerabat nabi. “Ini sudah kesepakatan," jelasnya.


Kedua, lanjut Habib, ulama Sunni juga tidak boleh membawa misi Sunni ke negeri berpenduduk Syiah begitu juga sebaliknya."Intinya kalau kita tahu mayoritas Sunni jangan ada kelompok lain memanfaatkan dan memaksakan kehendaknya, itu pasti mengundang konflik," tegasnya.

Dia mencontohkan ulama Sunni tidak coba-coba men-sunnikan orang Iran yang kebanyakan beraliran Syiah, begitu juga ulama Iran jangan coba-coba mensyiahkan orang Indonesia. "Jadi saya pikir masing-masing pihak jaga diri, kita tidak melarang setiap orang punya keyakinan, tapi pahamilah kondisi di republik ini," pintanya. 

Syiah Melanggar Kesepakatan 
Lalu apa yang terjadi, setelah Muktamar Internasional di Qatar? Terbukti, Syiah di Indonesia justru melanggar kesepakatan, yakni terus menerus melakukan penyebaran ajaran Syiahnya di kalangan Sunni. Jika melihat hasil dari `kaderisasi` pemeluk syi`ah di Indonesia, akan membuat kita tercengang. Secara kuantitas, pertambahan kader Syiar di Indonesia mengalami peningkatan.
Betapa tidak, rupanya kekuatan Syi`ah di negeri kita ini diam-diam terus bekerja siang malam, tanpa kenal lelah. Hasilnya, ada begitu banyak agen-agen ajaran syi`ah yang siap merenggut umat Islam Indonesia untuk menerima dan jatuh ke pelukan ajaran sesat ini.
Sebagai contoh, perkembangan Iranian Corner di Indonesia khususnya Perguruan Tinggi cukup marak. Di Jakarta, Iranian Corner ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Bahkan, di Jogjakarta yang dikenal sebagai kota pelajar malah punya tiga sekaligus, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa dibayangkan, Yogyakarta, satu kota saja ada tiga Iranian Corner; yang satu UIN, yang dua Muhammadiyah. Di Malang juga ada di Universitas Muhammadiyah Malang.
Syiah berkembang di negeri ini setelah berdiri lembaga pusat kebudayaan Republik Iran, ICC (Islamic Cultural Center) -- sejak 2003 -- di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari ICC itulah didirikannya Iranian Corner di 12 tempat tersebut, bahkan ada orang-orang yang aktif mengajar di ICC itu.
Dii antara tokoh yang mengajar di ICC itu adalah kakak beradik: Umar Shihab ( salah seorang Ketua MUI -Majelis Ulama Indonesia Pusat) dan Prof Quraish Shihab (mantan Menteri Agama), Dr Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir dan O. Hashem. Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin atau habaib, seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.
Syi’ah juga merekrut para pemuda untuk diberi beasiswa untuk dibelajarkan ke Iran. Kini diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang dibelajarkan di Iran untuk dicuci otaknya agar menjadi pendukung Syiah, disamping sudah ada ribuan yang sudah pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan dan sebagainya. Sekembalinya ke tanah air, para lulusan Iran ini aktif menyebarkan faham Syi’ah dengan membuka majelis taklim, yayasan, sekolah, hingga pesantren.
 Kabar ini pernah dikemukakan oleh salah seorang anggota DPR Komisi VIII ketika itu, Ali Maschan Musa. “Saya tahun 2007 ke Iran dan bertemu dengan beberapa anak-anak Indonesia di sana yang belajar Syiah. Mereka nanti minta di Indonesia punya masjid sendiri,” kata Ali
Kabarnya, ada banyak ulama NU dan Muhammadiyah yang juga diajak ke Iran, baik dalam rangka memperkenalkan Syiah, atau pun sekedar wara-wiri ke negeri yang dulu dikenal dengan sebutan Persia itu.  Ini berarti dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia akan diramaikan oleh paham Syi`ah. Karena dalam hitungan 4-5 tahun ke depan, tentu mereka akan kembali ke Indonesia dengan membawa paham yang bertentangan dengan paham umat Islam di Indonesia yang notabene ahli sunnah wal jamaah.
Bentuk pelanggaran kaum Syiah lainnya adalah adanya pengikut Syi’ah yang terang-terangan mengucapkan penistaan terhadap sahabat Abu Bakar, Umar dan ‘Aisyah istri Rasulullah SAW. Bahkan penistaan blak-blakan ditulis aktivis Syi’ah di jejaring sosial. Tentu saja, ini membuat resah sejumlah kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Pasuruan, Jember dan Bondowoso, Jawa Timur.
Kholili Hasib, Alumni Program Pasca Sarjana Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor Ponorogo yang menulis dalam sebuah situs membongkar surat rahasia dari seorang di Iran tentang strategi penyebaran Syiah di tengah mayoritas Sunni di Indonesia. Surat itu berisi tentang keberhasilan propagandis Syiah menebarkan pengaruhnya di Tanah Air. Berikut sebagaian isi surat tersebut: “Saya telah berhasil merangkul sejumlah ulama mereka yang lumayan banyaknya, sehingga mereka memahami jutaan madzhab Ahlul Bait atas lainnya. Saya anggap ini sebagai kemajuan dalam langkah-langkah perjuangan kita”.
Surat ini sempat menjadi berita heboh di Pasuruan dan membuka mata sejumlah orang. Banyak yang kemudian menyadari, bahwa selama ini akidah Syi’ah diajarkan secara sembunyi-sembunyi. Beberapa ulama’ kemudian tertarik untuk mempelajari kitab-kitab rujukan Syi’ah yang asli, terutama kitab al-Kafi. Dari pendekatan pustaka ini banyak yang sudah mengenal apa dan bagaimana Syi’ah di Indonesia.


Mengapa Syiah Wajib Ditolak

                                                 
Rujukan penguat :
Fatwa Para Ulama Besar (mu'tabar) Tentang Kesesatan Syiahhttp://www.lppimakassar.com/2012/05/fatwa-ulama-sejagad-tentang-kesesatan.html
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Kertas kerja “Mengapa Syiah Wajib Ditolak” telah dibentang dan dikulliahkan di Masjid Negeri, Negeri Perlis.  Penulis merasakan bahawa masyarakat Islam Perlis amat perihatin tentang isu Syiah. Mereka juga sangat mengharapkan ketampilan para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang dapat menerangkan kepada umat Islam tentang bahaya dan sesatnya akidah serta fahaman Syiah.  Penulis merasa bertanggungjawab memenuhi permintaan mereka setelah diminta memberi kulliah tentang kegiatan Syiah yang sudah lama menyebarkan fahaman mereka di seluruh Malaysia dan kini mula ingin menyebarkannya pula di Negeri Perlis.Semoga Jabatan Agama Islam Perlis, para iman, ahli jawatan kuasa Masjid Negeri Perlis dan para ulama Perlis sentiasa berusaha menghidupkan kegiatan dakwah Islamiyah dalam usaha menghalang, menggagalkan dan membasmi kegiatan dakwah Syiah di Perlis.  Mudah-mudahan segala usaha suci mereka mendapat keredhaan dan dirahmati Allah Subhanahu wa-Ta’ala.  Amin!! 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اِنَّ الْحَمْدَ للهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتِعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ سُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .  أمَّا بَعْده:


          Baru-baru ini penulis telah diminta agar memberi penjelasan kepada umat Islam Perlis tentang bahayanya fahaman Syiah terhadap akidah Islamiyah.  Isu ini disuarakan kerana terdapatnya beberapa orang aktivis Syiah yang cuba menyebarkan fahaman Syiah di Negeri Perlis.  Oleh kerana fahaman Syiah ini benar-benar sesat, menyesatkan dan boleh memecah-belahkan umat Islam, maka dengan ‘inayah Allah penulis dengan rasa tanggungjawab dan hati yang ikhlas insya-Allah akan berusaha sedaya mungkin bekerjasama dengan para ulama dan masyarakat Islam untuk sama-sama menyekat dan membenteras fahaman sesat ini supaya tidak tersebar di kalangan umat Islam yang berakidah Ahli Sunnah wal-Jamaah walau di mana saja mereka berada.
            Agar hakikat kesesatan akidah Syiah dapat diketahui dan difahami oleh masyarakat Islam Ahli Sunnah wal-Jamaah, maka penulis menyiapkan kertas kerja tentang penyelewengan dan bahayanya fahaman serta akidah Syiah.  Kertas kerja yang ringkas ini akan dibentangkan sebagai siri kulliah akidah terutamanya di beberapa masjid di sekitar Perlis, Pulau Pinang dan Selangor insya-Allah.
            Semoga Allah membantu kita sekalian menghapuskan fahaman yang sesat ini dari terus merebak  dan sentiasa memelihara akidah Ahli Sunnah wal-Jamaah, kedaulatan agama, negara, kerajaan, masyarakat dan perpaduan Ummah Islamiyah.  Amin Ya Rabbal 'Alamin.


Definisi (شِيْعَة) Syiah Dan Tasyayyu' (تَشَيُّع) 
            Dari segi etimologis (bahasa), Syiah bererti "Para Pengikut, Penyokong, Pendukung atau Pembela".  Contohnya:  Syiah Ali, bermaksud satu kelompok yang berupa "Penyokong, pendokong atau pembela Ali".  Menurut Terminologi (istilah) syara, Syiah bermaksud "Sesiapa yang mengangkat kepimpinan Ali radiallahu 'anhu dan anak-anaknya".  Dan apabila disebut si Fulan itu Syiah maka dia menganut atau berfahaman Syiah.
            Tasyayyu' (التشيع) pula menurut keterangan Syeikh al-Mufid ialah[1]:
التشيع لغة : هوالاتباع على وجه التدين والولاء للمتبوع علىالاخلاص.

"Tasyayyu' menurut etimologi adalah sikap mengikut yang didasari agama dan mengangkat orang yang diikuti dengan ikhlas".[2]
            Pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman kalimah syiah dalam erti faktual suatu kelompok atau fahaman belum wujud dan belum terbentuk.  Tetapi kelompok ini lahir ketika terjadinya pertikaian dan peperangan antara Syiah (penyokong) Ali dan Syiah Muawiyah.  Hanya kelompok Syiah di waktu itu kesemua mereka berfahaman Ahli Sunnah wal-Jamaah. 


Abdullah Bin Saba' (Si Munafik)
            Abdulah bin Saba' adalah seorang pendita Yahudi dari Yaman.  Berpura-pura masuk Islam (secara nifak) di zaman Khalifah 'Uthman bin Affan radiallahu 'anhu.  Dialah pereka ajaran Syiah yang ekstrem yang menjadi punca bersemaraknya perpecahan dalam kalangan masyarakat Islam terutama dalam kelompok Syiah itu sendiri.  Abdullah bin Saba' pernah berkata yang ditujukan kepada Khalifah Ali radiallahu 'anhu:  "Engkaulah Allah".[3]  Maka Ali mengisytiharkan bunuh terhadap Abdullah bin Saba' tetapi ditegah oleh Ibn Abbas.  Penyokong Ali membuangnya ke Madain (Ibu Negeri Iran lama).
            Abdullah bin Saba' orang pertama mengkafirkan Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman dan tidak mengiktiraf kekhalifahan kecuali hanya dari kalangan Ahli Bait".[4]  Seorang ulama Syiah Muhammad Husin al-Zain pernah memperkatakan tentang Abdullah bin Saba':
"Abdullah bin Saba' mengeluarkan qaul (yang sesat), mengajarkan fahaman yang ghalu (keterlaluan)..... dan perbuatannya sangat melampaui batas".[5]
            Saad bin Abdullah al-Qumy seorang ulama, pemimpin serta ahli hukum Syiah yang lahir pada 229H mengakui wujudnya Abdullah bin Saba'.  Beliau menyebut beberapa nama orang yang berkonspirasi yang digelar sebagai Saba'iyah.  Menurut beliau lagi bahawa komplot Saba'iyah adalah firqah pertama dalam Islam yang mengeluarkan perkatan-perkataan yang ghalu (keterlaluan).
Saad bin Abdullah al-Qumy ulama besar Syiah yang masyhur ini telah memastikan bahawa Abdullah bin Saba' adalah orang yang mengeluarkan perkataan dan menampakkan dirinya mengecam dan menentang Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman radiallahu anhum serta tidak mengiktiraf kekhalifahan mereka.[6]
            Pegangan Syiah Imamiyah yang ada sekarang adalah berasaskan ideologi dan doktrin sesat Abdullah bin Saba'. Fahaman ini disampaikan (dipelihara) dalam bentuk riwayat hadis yang dinasabkan kepada keluarga Nabi (Ahli Bait) dengan penuh kebohongan tetapi diterima oleh mereka yang jahil.[7]


Syiah Mengkafirkan Para Sahabat
            Agama Syiah mengkafirkan para pembesar sahabat secara umum.  Pengkafiran ini boleh dilihat dalam kitab-kitab besar Syiah yang ditulis oleh ulama mereka, contohnya ialah wasiat para ulama mereka:
1.     Abu Ja'far berkata:
"Semua manusia (kaum muslimin Ahli Sunnah wal-Jamaah) menjadi Ahli Jahiliyah (kafir/murtad setelah kewafatan Rasulullah) kecuali empat orang, Ali, Miqdad, Salman dan Abu Dzar".[8]
2.     Al-Kulaini[9] mensifatkan Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman telah terkeluar dari kalangan orang yang beriman (murtad/kafir) lantaran tidak melantik Ali sebagai khalifah setelah Rasulullahsallallahu 'alaihi wa-sallam wafat.[10]  Malah al-Kulaini mengkafirkan seluruh penduduk Mekkah dan Madinah.  Menurut Kulaini: 
"Penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah dan penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah dengan terang-terang".[11]
         Al-Kulaini juga menetapkan dalam kitabnya al-Kafi:
"Sesiapa yang tidak beriman kepada Imam Dua Belas maka dia adalah kafir walaupun dia keturunan Ali atau Fatimah".[12]
3.     Al-Majlisi  seorang ulama besar Syiah menegaskan:
“Bahawa mereka (Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman) adalah pencuri yang khianat dan murtad, keluar dari agama, semoga Allah melaknat mereka dan semua orang yang mengikut mereka dalam kejahatan mereka, sama ada orang dahulu atau orang-orang kemudian".[13]

Budak Ali bin Husin berkata:

"Saya pernah bertanya kepada Ali bin Husin tentang Abu Bakar dan 'Umar.  Maka dia menjawab:  Keduanya kafir dan sesiapa yang mencintainya juga kafir".[14]
4.     Abu Basir (ulama Syiah) menegaskan:
"Sesungguhnya penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah secara terang-terang dan penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah, lebih buruk tujuh puluh kali dari penduduk Mekkah".[15]
            Demikianlah kenyataan, fatwa, kepercayaan, pandangan dan tuduhan jahat para ulama Syiah terhadap Ahli Sunnah wal-Jamaah sama ada terhadap ulama atau orang awamnya.


Al-Quran Menurut Syiah
            Menurut kepercayaan penganut Syiah al-Quran yang ada sekarang sudah diubah-suai, ditambah dan dikurangi oleh para sahabat dan tidak asli.  Al-Quran yang asli berada di tangan Ali yang kemudian diwariskan kepada putera-puteranya.  Menurut Syiah lagi bahawa pada masa sekarang ini al-Quran yang asli berada di tangan Imam Mahadi al-Muntazar.
Al-Kusyi pula berkata:
"Tidak sedikitpun isi kandungan di dalam al-Quran (yang digunakan oleh Ahli Sunnah wal-Jamaah sekarang,  Pent.) yang boleh kita jadikan pegangan".[16]
            Menurut para ulama Syiah:
“Seseorang itu akan dianggap kafir dan masuk neraka kerana tidak mengikut Imam Dua Belas Syiah atau kafir terhadap Syiah”.
Syiah banyak merubah ayat-ayat al-Quran dan tafsirannya.  Contohnya ayat:
مَاسَلَكَكُمْ فِى سَقَرٍ
"Mengapa kamu masuk neraka?"
             (Menurut penafsiran ulama Syiah):
  قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْن
"Orang-orang kafir menjawab, Kami tidak solat".
            Ulama Syiah merubah tafsirannya yang sebenarnya kepada maksud dan tafsiran:
"Kami (masuk neraka kerana) tidak mengikut Imam (Syiah)".[17]
            Begitulah kekarutan, khurafat dan batilnya kepercayaan penganut syiah yang telah disepakati oleh para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah sebagai akidah yang sesat lagi menyesatkan.


Hadis Menurut Syiah
            Syiah menolak hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh muhaddis Ahli Sunnah wal Jamaah, seperti Imam Bukhari, Muslim, Turmizi dan yang lainnya.  Syiah hanya menerima hadis yang diriwayatkan oleh perawi Ahli Bait.  Menurut Syiah hadis bukan semata-mata dari Nabi tetapi dari Imam Dua Belas yang maksum.  Nilai perkataan imam yang maksum senilai dengan wahyu dan sabda nabi.[18]


Syiah Mengkafirkan Ahli Sunnah Wal-Jamaah
1.     Syiah menggelar golongan Ahli Sunnah wal-Jamaah sebagai Nasibi(نَاصِبِي)  "Penipu, Pembangkang atau penentang Ali bin Abi Talib" kerana mereka mendahulukan Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman sebagai khalifah.
         Begitu juga ulama Syiah mengkafirkan pengikut mazhab Syafie, Hambali, Maliki dan Hanafi kerana mereka digolongkan sebagai an-Nasibi.  Menurut ulama Syiah lagi:
"Dalam kalangan ulama (Ahli Sunnah) dari Malik, Abi Hanifah, Syafie, Ahmad dan Bukhari semua mereka kafir dan terlaknat".[19]
         Keyakinan Syiah yang sesat ini diambil dari keterangan ulama mereka Syeikh Husin al-'Usfur ad-Darazi al-Bahrani.  Beliau menegaskan:
"Riwayat-riwayat para imam menyebutkan bahawa an-Nasibi (si Kafir) adalah mereka yang digelar Ahli Sunnah wal-Jamaah".[20]
2.     Syiah menganggap seluruh Ahli Sunnah wal-Jamaah kafir yang setara dengan orang-orang kafir musyrikin dan najis.  Berkata Abu Qasim al-Musawi al-Khuri (ulama besar Syiah):
         "Najis ada sepuluh jenis, yang ke sepuluh adalah orang kafir, iaitu yang tidak beragama atau yang beragama bukan Islam atau beragama Islam menolak yang datang dari Islam.  Dalam hal ini tidak ada perbezaan antara murtad, kafir asli, kafir zimmi, Khawarij yang ghalu atau an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)".[21]
         Berkata Ruhullah al-Musawi (ulama Syiah):
         "Sesungguhnya an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dan Khawarij dilaknati Allah Subhanahu wa-Ta'ala.  Keduanya adalah najis tanpa diragukan lagi".[22]
3.     Syiah mengkafirkan Ahli Sunnah kerana tidak mengiktiraf (tidak mengimani) Imam Dua Belas.  Berkata Yusuf al-Bahrani (ulama Syiah):
         "Tidak ada perbezaan antara orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa-Ta'ala, RasulNya dan yang kafir kepada para Imam Dua Belas".[23] 

         Dan berkata Kamil Sulaiman (ulama Syiah): 
         "Sesiapa yang meyakini para Imam Dua Belas maka dia adalah orang yang beriman dan sesiapa yang mengingkarinya dia adalah kafir".[24]
Syiah menghalalkan darah dan harta Ahli Sunnah.  Berkata Muhammad bin Ali Babawaihi al-Qummi, dia meriwayatkan dari Daud bin Farqad:
         "Aku bertanya kepada Abu Abdullah 'alaihis salam:  Bagaimana pendapat engkau membunuh an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)?  Dia menjawab:  Halal darahnya akan tetapi lebih selamat bila engkau sanggup menimpakan dengan tembok atau menenggelamkan (mati lemas) ke dalam air supaya tidak ada buktinya.  Aku bertanya lagi:  Bagaimana dengan hartanya?  Dia menjawab:  Rampas sahaja semampu mungkin".[25]
         Berkata Abu Ja'far ath-Thusi (ulama Syiah): 
        
         "Berkata Abu Abdullah 'alaihis salam (Imam as-Sadiq):  Ambillah harta an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dari jalan apapun kamu mendapatkannya dan berikan kepada kami seperlima".[26]

         Yusuf al-Bahrani berkata (ulama Syiah):
         "Dari dahulu sehinggalah sekarang, bahawa an-Nasibi kafir dan najis secara hukum, dibolehkan mengambil segala harta benda mereka bahkan dihalalkan membunuhnya".[27]
            Begitulah sikap golongan Syiah terhadap Ahli Sunnah wal-Jamaah yang mereka gelar sebagai an-Nasibi.  Mereka bukan sahaja memusuhi Ahli Sunnah malah mengistiharkan bunuh dan rampas harta benda Ahli Sunnah wal-Jamaah.  Dan rampasan tersebut dianggap oleh mereka sebagai ganimah (harta rampasan perang).


Agama Syiah Mewajibkan Taqiyah
            Taqiyah (dissimulation) adalah satu prinsip yang diyakini oleh syiah Imamiyah.  Berpegang kepada taqiyah adalah wajib bagi setiap penganut Syiah.  Ianya adalah satu sikap yang menyembunyikan kebenaran yang (kononnya) jika didedahkan akan membawa kemusnahan diri atau agama seseorang Syiah.[28]  Pada mulanya taqiyah dilakukan kerana takut terjadinya penindasan dari pihak pemerintah.  Tetapi selanjutnya diamalkan untuk menipu, berbohong dan seterusnya untuk menghalalkan sesuatu yang haram atau sebaliknya.
Orang-orang Syiah akan menyamar sebagai Ahli Sunnah secara taqiyyah untuk memerangkap Ahli Sunnah yang kurang faham akan agama mereka.  Tujuannya supaya dapat dirosakkan fahaman, akidah dan amal ibadahnya.
Abu Ja'far berkata:
"Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku.  Dan tidak beragama bagi sesiapa yang tidak bertaqiyah".[29]

Abdullah berkata:

"Wahai Abu 'Umar!  Sesungguhnya sembilan persepuluh dari agama terletak pada taqiyyah, tidak beragama bagi sesiapa yang tidak bertaqiyyah pada segala sesuatu, kecuali arak dan menyapu sepatu".[30]

Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad:

"Wahai Daud!  Sekiranya kamu mengatakan bahawa orang yang meninggalkan taqiyah sama seperti orang yang meninggalkan solat, maka sesungguhnya betullah kata-katamu itu".[31]
          Sebenarnya taqiyyah dalam agama Syiah adalah perbuatan nifak, pembuat nifak adalah seorang munafik.  Tidak ada hadis sahih yang menghalalkan taqiyah sebagaimana yang dilakukan oleh golongan Syiah.  Si Munafik pula dilaknat Allah dan ditempat di neraka yang paling bawah (kerak neraka), maka Ahli Sunnah wal-Jamaah diharamkan dari bertaqiyah.


Syariat Syiah Yang Menyesatkan
            Syariat Syiah yang sebenar amat bertentangan dengan syariat Ahli Sunnah wal-Jamaah.  Syiah digolongkan oleh Imam Syahrastani di dalam bukunya “Al-Milal Wan-Nihal” dan al-Bagdadi dalam bukunya “Al-Faraq Bain al-Firaq” segabai golongan 72 yang ke neraka, kerana penganut Syiah selain mengkafirkan Amirul Mukminin Abu Bakar, ‘Umar al-Khatab, Uthmanradiallahu anhum dan para sahabat yang lain, mereka juga lebih meyakini syariat Daud 'alaihis salam  daripada syariat Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam.  Abu Ja'far berkata:
"Apabila Imam ghaib (Imam Mahdi) datang, ia akan memerintah dengan hukum syariat Daud (bukan syariat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam, pent)".[32]



Nikah Mut'ah
            Syiah menghalalkan nikah mut'ah seberapa banyak, beberapa kali yang diinginkan dan yang semampu.  Mereka menghalalkan nikah mut'ah sehingga ke Hari Kiamat.  Sebaliknya Ahli Sunnah wal-Jamaah telah mengharamkan nikah mut'ah sehinggalah ke Hari Kiamat.  Antara hadis (hadis-hadis sahih) dari Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam yang mengharamkan nikah mut’ah ialah:
عَنْ عَلِيِّ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ اْلاَهْلِيَّةِ.

"Dari Ali (Bin Abi Talib):  Sesungguhnya Nabi Sallallahu 'alaihi wa-sallam telah melarang nikah mut'ah pada hari peperangan Khaibar dan baginda mengharamkan makan daging keldai kampung".[33]

اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى يَوْمِ الْفَتْحِ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ.

"Sesungguhnya Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam melarang nikah mut'ah pada hari futuh (pembukaan) Mekkah".[34]
            Antara tanda-tanda penganut agama Syiah ialah menghalalkan nikah mut’ah walaupun telah diharamkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam.  Golongan Syiah telah menyelewengkan hadis-hadis sahih yang mengharamkan mut’ah.  Oleh itu, orang-orang beriman yang mengakui sebagai Ahli Sunnah wal-Jamaah perlu membenteras fahaman dan ajaran Syiah kerana Syiah adalah golongan yang sesat lagi menyesatkan.


RUKUN IMAN AGAMA SYIAH
            Rukun iman Agama Syiah berbeza dengan rukum iman Ahli Sunnah wal-Jamaah, kerana rukun iman Syiah hanya lima perkara, iaitu:
1.     Beriman kepada keEsaan Allah    -             (التوحيد)
2.     Beriman kepada Keadilan         -                  (العدل)
3.     Beriman kepada Kenabian      -                    (النبوة)
4.     Beriman kepada Imam          -                       (الامانة)
5.     Beriman kepada Hari Kiamat    -                 (المعاه)
            Imam Malik secara terang-terangan telah mengkafirkan golongan Syiah kerana golongan ini membenci para sahabat Nabi dan sesiapa yang membenci sahabat Nabi adalah kafir.  Hal ini telah disepakati oleh sebahagian besar ulama.[35]
Imam Malik rahimahullah juga pernah menjelaskan tentang Syiah:
"Mereka (Syiah) jangan diajak berbual dan jangan pula diberi perhatian, mereka adalah golongan pembohong".[36]

Imam Syafie rahimahullah pula berwasiat:

"Belum pernah aku saksikan di kalangan manapun manusia yang begitu berani menjadi pendusta dan sebagai saksi-saksi palsu seperti golongan Syiah".[37]
             Begitulah fatwa-fatwa para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah terhadap golongan Syiah.  Tidak terdapat seorangpun dari kalangan mereka yang menerima Syiah sama ada fahaman atau akidah mereka.  Oleh itu, berwaspadalah terhadap gerakan, doktrin dan di’ayah Siyah, kerana pada hakikatnya mereka adalah pembohong yang hanya mengajak kepada kesesatan, pecah-belah dan kehancuran umat Islam.  Wallahua’lam.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.






[1].  Syeikh al-Mufid adalah seorang ulama Syiah abad (414 H/ 1022M).
[2].  Lihat:  Awaailul Maqalat. hlm. 2.  Syeikh al-Mufid. 
[3].  Lihat:  Rijal al-Kusyi. Hlm. 106-108.  (Kitab ini "Rijal al-Kusyi") adalah kitab tertua menjadi rujukan dan pegangan golongan Syiah.
[4].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithna 'Asyariah.  (1/74).
[5].  Lihat:  الشيعة فى التاريخ  Hlm. 213.  Muhammad Husin al-Zain.
[6].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithna 'Asariyah. (1/74).
[7].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithan 'Asariyah. (1/77).
[8].  Lihat:  Tafsir as-Safi.  (1/389).
[9].  Al-Kulaini, nama penuhnya Muhammad bin Yakub al-Kulaini. Meninggal dunia pada 328H
[10]. Lihat:  Usul al-Kafi. (1/488).
[11]. Ibid.  (2/409).
[12]. Lihat:  Al-Kafi. (1/372-374).
[13]. Lihat: بحار الانوار.  (4/385). Muhammad Baqir al-Majlisi
[14]. Ibid.   (2/216).
[15]. Ibid.   (2/410).
[16]. Lihat:  As-Safi. (1/33).
[17]. Lihat:  Usul Kafi.  (1/438).
[18]. Keyakinan bahawa para imam maksum menjadikan semua perkataan yang keluar dari mereka adalah sahih.  Maka tidak diperlukan menyandarkan sanadnya kepada Rasulullah s.a.w sebagaimana di kalangan Ahlu Sunnah wal-Jamaah.  Lihat:  Tarikh al-Imamiyah. Hlm. 140.  Abdullah Faiyad.
[19]. Lihat:  Asy-Syiah wa as-Sunnah.  Hlm.  7.  Ihsan Ilahi Zahiri.
[20]. Lihat:  Al-Masail al-Khurasaniyah. Hlm. 147.
[21]. Lihat:  Manhaj Shalihin. (1/116).
[22]. Lihat:  Tahrirul al-Wasilah. (1/116).   Cetakan Beirut.
[23]. Lihat:  Al-Hadiq an-Nadirah. (28/153).   Cetakan Beirut.
[24]  Lihat:  Kitabul Khalash Fi Zilli al-Qaimmul Mahdi.  Hlm.  44.  Cetakan Beirut, Lebnon.
[25]. Lihat:  'Ilal asy-Syar'i.  Hlm. 44.  Cetakan Beirut.
[26]. Lihat:  Tahzibul Ahkam.  (1V/122)   Cetakan Tehran.
[27]. Lihat:  Al-Hadiq an-Nadirah Fi Ahkam al-Atraf at-Tahirah.  (X11/323-324).
[28]. Lihat:  Al-Qummi, terjemahan Asaf .A Fyze.  Hlm. 71.
[29]. Lihat:   Usul Min Kafi.  (2/219).
[30]. Ibid.
[31]. Lihat:  Wasail asy-Syiah (X1/466).  Cetakan Tehran.
[32]. Lihat:  Tarikh Ma Ba'da Zuhur.  Hlm. 728.  Cetakan Beirut.
[33]. H/R Bukhari (5/78 dan 6/129).   Muslim (9/189-190). 
[34]. H/R Muslim.  (4/133).
[35]. Lihat:  Sunnah dan Syiah, Mungkinkah Dipertemukan?  Hlm. 57.  Dr. Abdullah Muhammad Gharib.  Edisi pertama,  Surabaya. 1984.
[36]. Ibid.  Hlm.  57.
[37]. Ibid.  hlm.  57.

http://www.lppimakassar.com/2012/01/mengapa-syiah-wajib-ditolak.html