Monday, December 29, 2014

Tokoh Indonesia vs Ulama' Ahlusunnah Tentang Syi'ah

[A] PARA TOKOH INDONESIA :
Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat): “Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni maupun Syiah tetap diakui Konferensi Ulama Islam International sebagai bagian dari Islam.” [rakyatmerdekaonline.com]
KH. Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU) : “Ajaran Syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni. Di universitas di dunia manapun tidak ada yang menganggap Syiah sesat.“ [tempo.co]
Prof Dr.Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah): “Tidak ada beda Sunni dan Syiah. Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat, guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim.” [republika.co.id]
KH. Abdurahman Wahid (gus Dur) : "Syiah itu adalah NU plus imamah dan NU itu adalah Syiah minus imamah".
Prof. Dr. Amin Rais (Mantan Ketua PP Muhammadiyah/Ketua MPR RI ): “Sunnah dan Syiah adalah mazhab-mazhab yang legitimate dan sah saja dalam Islam.“ [satuislam.wordpress.com]
Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta): “Syiah merupakan bagian dari sejarah Islam dalam perebutan kekuasaan, dari masa sahabat, karenanya akidahnya sama, Alqurannya, dan nabinya juga sama." [republika.co.id]
Prof. Dr.Syafi’i Ma’arif (Cendikiawan Muslim, Mantan Ketua PP Muhammadiyah): “Kalau Syiah di kalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima.” [okezone.com]
Marzuki Alie (Ketua DPR RI): “Syiah itu mazhab yang diterima di negara manapun di seluruh dunia, dan tidak ada satupun negara yang menegaskan bahwa Islam Syiah adalah aliran sesat.“ [okezone.com]
KH Nur Iskandar Sq (Ketua Dewan Syuro PPP): “Kami sangat menghargai kaum Muslimin Syiah.” [inilah.com]
KH. Alie Yafie (Ulama Besar Indonesia): Dengan tergabungnya Iran yang mayoritas bermazhab Syiah sebagai negara Islam dalam wadah OKI, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam. Itu sudah cukup. Yang jelas, kenyataannya seluruh dunia Islam, yang tergabung dalam 60 negara menerima Iran sebagai negara Islam [tempointeraktif]
=
[B] PARA ULAMA' AHLUSSUNNAH :
1) - Imam Syafi'i :

- Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata:

"Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok Terjelek!”. [al Manâqib, karya al Baihaqiy 1/468]
- "Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi palsu dari Syi’ah Rafidhah". [Adâbus Syâfi’i, hlm. 187, al Manaqib karya al baihaqiy 1/468 dan Sunan al Kubrâ 10/208]
- Asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang:
“Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, karena Allâh Ta'ala menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, …”. (Qs. al-Hasyr/59 : 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bagian fa’i). [at Thabaqât 2/117]
2) - Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)
3) - Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)
4) - Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.
5) - Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)
6) - Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)
7) Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah , maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah . Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)
==========================
Mana yang lebih Anda benarkan dan Anda percayai??
Sumber: Status ريزقينطو هيرماوان |https://www.facebook.com/Rizqianto/posts/4422795066723 
tambahan :
Imam Malik rahimahullah juga mengkafirkan syi’ah rafidhah, sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah:
وَمِنْ هَذِهِ الْآيَةِ انْتَزَعَ الْإِمَامُ مَالِكٌ -رَحِمَهُ اللَّهُ، فِي رِوَايَةٍ عَنْهُ-بِتَكْفِيرِ الرَّوَافِضِ الَّذِينَ يُبْغِضُونَ الصَّحَابَةَ
 “Dan dari ayat ini, Imam Malik memutuskan –dalam sebuah riwayat darinya- akan kafirnya syiah rafidhah yang mana mereka membenci para sahabat [Tafsir Ibnu Katsir 7/338]
Imam Syaukani rahimahullah juga mengkafirkan syiah rafidhah dengan perkataanya:
إن أصل دعوة الروافض كيد الدين ومخالفة الإسلام وبهذا يتبين أن كل رافضي خبيث يصير كافرًا بتكفيره لصحابي واحد فكيف بمن يكفِّر كل الصحابة واستثنى أفرادًا يسيرة
 “Sesungguhnya landasan dakwah syiah rafidhad adalah membuat tipu daya dalam agama dan menyelisihi islam. Maka dengan ini jelaslah bagi kita bahwasanya setiap orang syiah rafidhah adalah orang buruk yang menjadi kafir dikarenakan pengkafirannya terhadap salah satu sahabat nabi. Lantas bagaimana jika dia mengkafirkan seluruh sahabat nabi dan hanya mengecualikan beberapa jumlah yang sedikit saja ??”[ Natsrul Jauhar Alaa Hadiits Abii Dzarr hal. 106-116 ]
Dalam kaidah syariat disebutkan:
من لم يكفر الكافر فهو كافر
 “Barangsiapa yang tidak mengkafirkan seseorang yang kafir, maka dia adalah kafir”[ Al Ibthaal fii Nadzariyyatil Kholat Baina Al islaam Wa Ghoirihi Min Al Adyan 1/94]

Tentunya Muslim yg mempunyai AKAL sehat akal lebih memilih fatwa para Imam Ahlus Sunnah. apakah mereka (tokoh indonesia) masih bisa dipercaya bicara “mengenai agamanya/soal ucapan natal/syari'at  islam dll sbgnya “ ? untuk mendeteksi latar belakang sikap/statemen "tokoh2 islam di indonesia " terhadap agamanya seperti masalah syi'ah/ucapan natal/komentar2 keras terhadap pihak2 yang ingin menegakkan syari'at islam dll, bisa diamati dari "darimana sumber keuangan/nafkahnya". sikapnya merupakan kredit point kepada majikannya. wallahu a'lam

Saturday, December 27, 2014

INI DIA setannya MANUSIA, PENYUSUP YANG SELAMA INI MENIPU UMMAT. idahram atau marhadi penulis buku tuduhan SEKTE BERDARAH SALAFI WAHABI,

KAMIS, DESEMBER 25, 2014
(Membentengi ASWAJA dari Dajjal penyusup)

Masih segar di ingatan kita tentang buku2 propaganda yang penuh adu domba.Buku-buku yang mengatasnamakan ASWAJA padahal penulisnya adalah seorang Syi'ah.
Dengan terbitnya buku2 sesatyang dia tulis ini,kita Kaum ASWAJA mazhab Syafi'i di fitnah dan di adu domba dengan saudara2 kita kaum ASWAJA mazhab Hanbali,yang ia sebut dengan "Wahabi".
Dialah "Abu Salafy",yang juga bersembunyi di balik nama "Syaikh Idahram",padahal nama aslinya adalah MARHADI MUHAYYAR.
Buku2 yang penuh fitnah dan propaganda,membaca judulya saja terasa menjijikkan,saking bejad dan biadab nya penulisnya dalam berdusta dan memfitnah ummat Islam
Yang perlu di catat oleh kaum Muslimin:
Buku-buku ini BUKAN tulisan seorang Muslim Sunni, akan tetapi ia adalah Syi'ah (yang bertaqiyah seolah Sunni dan menyusup dalam tubuh Nahdhatul Ulama). nama samarannya 'Abu Salafy', padahal nama aslinya Marhadi Muhayyar. di dalam buku bangkainnya yg lain dia tampilkan namanya dengan 'Syaikh Idahram',itu sengaja dia balik dari dari nama aslinya 'Marhadi'.
INILAH HAKIKAT DUSTA SYI'AH DHOLALAH!!!
'Abu Salafy' alias 'Syaikh Idahram' alias Marhadi ini adalah orang Syi'ah yang lihai berdusta. dengan cara HALUS dan sungguh menipu ia memasukkan Agama Syi'ah-nya dalam buku2nya. di antaranya,dalam buku itu ia memaksa kaum Muslimin untuk meyakini adanya mazhab yang lima, yaitu Hanafi,Maliki,Syafi'i dan Hanbali, lalu ia tambahkan Mazhab Ja'fari.
Padahal seluruh 'Ulama kaum Muslimin ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) sepakat di atas satu keyakinan bahwa Mazhab Fiqih dalam Islam hanya Empat yaitu Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali. kalaupun ada mazhab Lain misalnya seperti Mazhab Tsauri dan Zhahiri, namun mazhab ini sudah punah. Adapun yang ia sebut Mazhab Ja'fari adalah Mazhab Fiqih dalam Agama Syi'ah,tidak di kenal dalam Ajaran Islam ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jamaah).Betapapun Imam Ja'far sendiri bukanlah seorang Ahli Fiqih dan tidak pernah membangun Mazhab Fiqih sama sekali.
INILAH HAKIKAT KEDUSTAAN SYI'AH DHOLALAH SELANJUTNYA!!
INDIKASI YANG MEMBUKTIKAN DIA ADALAH SYI'AH:
Lihat dan renungi apa yang di wasiatkan oleh 'Ulama kita Hadhratusy Syaikh Kyai Haji Hasyim Asy'ari Rahimahullah (Ra'is 'Aam Nahdhatul Ulama),dalam kitabnya Qanun Asasi Li-Jam'iyyati Nahdhatil Ulama,beliau berkata,
((Madzhab yang paling benar dan cocok untuk di ikuti di akhir zaman ini adalah empat Madzhab, yakni Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali (keempatnya Ahlussunnah Wal Jamaah). Selain empat Mazhab tersebut juga ada lagi Mazhab Syi’ah Imamiyyah (Ja'fariyah) dan Syi’ah Zaidiyyah,tapi keduanya adalah SESAT,tidak boleh mengikuti atau berpegangan dengan kata kata mereka)).
[Kitab Qanun Asasi halaman 9].
Kemudian,dalam bukunya tersebut,'Abu Salafy' alias 'Syaikh Idahram' alias Marhadi mencantumkan Rekomendasi dari Ustadz Kyai Haji Muhammad Arifin Ilham,Pimpinan Majelis Zikir Az-Zikra entul Bogor,lalu ketika di tanya langsung ke Ust.Muhammad Arifin Ilham malah beliau menjawab dengan Kaget,"DEMI ALLAH SAYA TIDAK PERNAH MEMBERI SAMBUTAN ATAU REKOMENDASI KEPADA BUKU ITU, MEMBACANYA SAJA SAYA BELUM PERNAH, SAYA BERLEPAS DIRI DARI BUKU ITU, IA TELAH BERDUSTA ATAS NAMA SAYA".
Lihat lah kaum Muslimin Bagaimana ia berdusta.....
'Abu Salafy' alias 'Syaikh Idahram' alias Marhadi Muhayyar ini,dia adalah ORANG SYI'AH!!!
Wallaahi!!!
INDIKASI APALAGI YANG MEMBUKTIKAN KALAU DIA SYI'AH!!??
Tidak mungkin seorang Sunni ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jama'ah) mengatakan bahwa tanah suci dalam Islam selain Makkah dan Madinah ada juga tanah suci yang lain,yaitu tanah Karbala di Iraq.
Demi Allah ini adalah DUSTA dan SESAT!!!
KAUM MUSLIMIN (Khususnya ASWAJA) di tipu & di kelabui mentah-mentah oleh dia!!!
Seluruh Kaum Muslimin ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) sepakat bahwa tanah suciummat Islam hanya ada tiga, yaitu: Masjidil Haram di kota Makkah, Masjid Nabawi di kota Madinah, dan Masjidil Aqsha di Palestina. Sebagaimana yang terdapat dalam Hadits2 Rasulullah...
Adapun Tanah Karbala di Iraq di mana tempat Husein Bin 'Ali Radhiyallahu'anhuma cucu Rasulullah Syahid,maka ini TIDAK TERMASUK TANAH SUCI. Akan tetapi itu merupakan padang pasir bersejarah yang menjadi saksi atas kebiadaban dan pengkhianatan orang-orang Syi'ah kepada Ahlul Bait 'Alaihim Salam hingga menyebabkan terbunuhnya Cucu tercinta Rasulullah,Husein Bin 'Ali,Radhiyaallaahu'anhu Wa Ardhah.
KESIMPULANNYA:
'Syaikh Idahram' yang bernama asli Marhadi Muhayyar ini,dia adalah seorang aktivis Syi'ah. dia bersembunyi di balik nama 'Abu Salafy' dengan menyusup di tengah-tengah Kaum Muslimin (khususnya NU) dan mengadu domba Kaum Muslimin lintas Mazhab. ia mengadu domba kaum Muslimin Mazhab Syafi'i yang di sebut ASWAJA dengan Kaum Muslimin mazhab Hanbali yang ia sebut 'Wahabi'.
Ia mengadu domba kaum Muslimin dengan cara menyusupkan 'Aqidah Syi'ah-nya dalam setiap kesempatan. Ia menghembuskan Fitnah kepada Kaum Muslimin Mazhab Hanbali dengan mengangkat Isu 'Wahabi'....
KENAPA SELALU ISU "WAHABI" YANG DIANGKAT???!!!
Dengan mengangkat isu 'Wahabi',maka Kaum Muslimin Mazhab Syafi'i (ASWAJA) akan tersibukkan dgn isu fiktif ini dan berpaling dari KESESATAN SYI'AH RAFIDHAH yang telah lama di peringatkan oleh tokoh mereka Kyai Haji Hasyim Asy'ari Rahimahullah. dan tanpa di sadari,Syi'ah ini sedang menyusup ke Ormas Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyyah,dua Organisasi besar Kaum Muslimin di Indonesia.
Padahal Ribuan massa yang menghancurkan dan membakar pesantren-pesantren Syi'ah di jawa timur,baik sampang,madura,atau jember,mereka adalah Ummat Islam kaum Nahdhiyyin (NU),BUKAN "Wahabi".!!!
Oleh karena itu WASPADALAH!!!!!!!!!!!
Terkait isu "Wahabi",maka cukuplah 'Ulama2 dan Tokoh2 Nasional kita di tanah air sebagai panutan.
Mari sejenak kita perhatikan apa yang di ceritakan oleh Prof.DR.Buya Hamka Rahimahullah tentang Kaum Muslimin Madzhab Hanbali yang di sebut 'Wahabi'.
Prof.DR.Buya Hamka berkata,
"Ketakutan Belanda itu bertambah lagi karena abad ke 19 sudah datang gerakan agama Islam militan langsung dari Makkah, menggerakkan umat Islam dan membangkitkan semangat Tauhid di alam Minangkabau.
Belanda yang lebih tahu daripada orang Minangkabau sendiri apa artinya Islam yang murni, karena mendapat advis dari ahli-ahli Orientalis tentang semangat Islam, melihat bahwa kemajuan gerakan Islam yang timbul di Padang Darat itu akan sangat berbahaya bagi rencananya menaklukkan seluruh Sumatera. Belanda telah mengetahui bahwa gerakan Wahabi di Tanah Arab yang telah menjalar ke Minangkabau itu bisa membakar hangus segala rencana penjajahan, bukan saja di Minangkabau, bahkan di seluruh Sumatera,bahkan di seluruh Nusantara ini.”
Gerakan "Wahabi" di ceritakan oleh Prof.DR.Buya Hamka sebagai gerakan Tauhid militan yang semangat mengumandangkan Jihad melawan penjajah hingga membuat gentar penjajah Belanda pada waktu itu.
Terakhir,Al-Habib KH.Ahmad Bin Zein Al-Kaff (Ketua PW NU Jember) berkata,"Wahabi itu adalah saudara kita,masih sama-sama Ahlus Sunnah.tapi kalau Syi'ah BUKAN".
Sedangkan Habib Mudhor Al-Hamid (Tokoh NU di Jawa Timur) mengatakan,"Syi'ah itu adalah Musuh Islam yang harus kita bumi hanguskan dari bumi pertiwi,mereka adalah Musuh Islam dan musuh Ahlul Bait".
Sekia dan terimakasih..
Hamba Allah yang Dha'if,Abu Husein At-Thuwailibi.
Wassalamu'alaikum Warahmatullah.



Dengar dan Amalkan, Nasehat Ulama Salafi buat " Salafi " !!

KAMIS, DESEMBER 25, 2014
Oleh Abu Husain Al Thuwailibi

Maasya Allah, seorang Ulama dari Saudi Arabia, Syaikh Ibnu Hadi Bin Umair Hafizhahullah memberi nasehat kepada kaum yang menamakan dirinya "Salafi", beliau memberi nasehat kepada segelintir manusia yang hobinya memakan bangkai orang lain, mencari-cari kesalahan Ulama dan Da'i, inilah wasiat emas ULAMA SALAFI UNTUK SALAFI dan untuk kita semua:

أُوصيكم –أيضأً- باستخدام الحكمةِ في التعامُلِ فيما بينكم، وتركِ الأسئلةٍِ -يا إخوان- التي تؤدّي إلى الشحناء، وإلى القيل والقال .هذه أضرّت –والله-. أنا –والله- الآنَ- مغلِقٌ هاتفي ؛ ما أستقبل الأسئلة؛لأني وجدتُ أنها سبّبت مشاكلَ لا أول لها، ولا آخر!
“Aku berwasiat juga, hendaknya kalian berlaku hikmah dalam bermuamalah di antara kalian. Dan tinggalkan pertanyaan-pertanyaan yaa ikhwaan yang mengarah kepada kebencian dan “katanya dan katanya”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu -demi Allah- menimbulkan mudharat. Aku -demi Allah- sekarang menutup teleponku, tidak akan menerima pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Karena aku melihat hal itu menjadi sebab timbulnya masalah yang tiada habisnya.
لكن الأسئلة عن فلان وفلان! إن مدحتَ، وإن قدحتَ: كلها يُراد بها فتنٌ -مدحتَ، أو قدحتَ-!! فاتركوا-يا إخوة – في هذه الأجواء الملبَّدة- اتركوا مثلَ هذه الأشياء بارك الله فيكم-. اتركوا القيل والقال! يعني: أنت تمدح فلاناً ، وتتعصّب له ! يجيء فلان ويتعصّب لواحد خصمه و…!!
Akan tetapi, pertanyaan tentang si Fulaan dan Fulaan! Jika engkau telah memujinya, atau jika engkau telah mencelanya, semua yang diinginkan dengannya hanyalah fitnah. Baik engkau memujinya atau mencelanya!! Maka tinggalkan “cuaca mendung” seperti ini, tinggalkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, semoga Allah memberkahi kalian. Tinggalkan “katanya dan katanya” yakni jika engkau memuji si Fulan lantas engkau memancangkan sikap ta’asshub (fanatik) kepadanya. Begitu pula yang lainnya, berta’asshub kepada si Fulaan yang bersebrangan dengannya..!
نحن قلنا لكم -غير مرة-:إنه كانت تقع خلافاتٌ بين الشيخ الألباني وبين غيره من علماء السنة (!)، والله: ما لها أيَّ أثرٍ في صفوف السلفيين في العالَم(!)- كله-،ما لها أيُّ أثر .. الآن : طُويلبٌ صاحبُ فتن يتعمَّد إثارةَ الفتن بين أهل السنة، فيصبح إماماً بين عشيَّة وضُحاها؛ جلس يدرس يومين: خلاص أستاذ! وله عُصبة يتحزّبون له! ولا يقبلون فيه أيَّ نقد مهما حمل هذا النقدُ من الحُجج والبراهين! وإذا انتقده إنسانٌ بالحُجج والبراهين قامت الدنيا وقعدت ! وهؤلاء يتحزّبون، ويتعصّبون له
Kami telah menyampaikan kepada kalian berkali-kali, dahulu pernah terjadi perselisihan antara Syaikh Al-Albaani dan selain beliau dari Ulama Sunnah. Demi Allah, perselisihan tersebut tidak berpengaruh sedikitpun atas persatuan Salafiyyin di dunia ini. Namun sekarang ini muncul thuwaylibul ‘ilm (penuntut ilmu junior) menjadi ahli fitnah dan sengaja membuat fitnah di antara Ahlussunnah, seolah ia menjadi seorang imam yang menjadi rujukan antara pagi dan siang hari, padahal ia hanya belajar sehari atau dua hari tiba-tiba dianggap sebagai ustadz. Bahkan ia juga punya pengikut yang berta’asshub kepadanya. Para pengikutnya itu tidak akan menerima kritikan apapun terhadap ustadznya, sekalipun kritikan itu bersifat ilmiyyah dilandasi hujjah-hujjah dan bukti-bukti nyata. Apabila ada yang bangkit mengkritiknya, seolah-olah dunia kiamat, dan mereka membikin hizbiyyah di kalangan Salafiyyin dan berta’asshub kepadanya.
وقد يكون هذا الأستاذُ مسكيناً طالبَ علم!هو فيه خير، لكنْ ؛ لماذا العصبيّات هذه؟! يعني: أخلاق الحزبيين تسلَّلت إلى بعض السلفيين! والله: ما كانت هذه الأخلاقُ بيننا. والله: لقد تناظر أَمامَنا الشيخ ابن باز والألباني –وغيرهما- في (الجامعة الإسلامية) ، والله: ما كان لها أيُّ أثر. وكَتَبَ الشيخ الألباني، وقال في وضع اليدين: بدعة… والله: ما كان لها أيُّ أثر وأراد الصوفية الخرافيُّون أن يضربوا الشبابَ بعضَهم ببعض -بابن باز وبالألباني- ، والله: ما وجدوا سبيلاً لذلك». ثم قال -حفظه الله- : «فتنبّهوا لهذه الأشياء -يا إخوة- .. اتركوا مثلَ هذه الأشياء .. اتركوا التعصُّبات لفلان وفلان، ولا تتعصَّبوا لأي أحد؛ تُفَرِّقون الدعوة السلفية .
Terkadang sang ustadz ini adalah seorang penuntut ilmu yang sangat kurang ilmunya akan tetapi ia memiliki kebaikan. Namun mengapa terjadi ‘ashabiyah seperti ini? Sungguh mental hizbiyyah telah menyelinap pada sebagian Salafiyyin. Demi Allah, dahulu tidak ada akhlaq seperti ini di antara kami. Demi Allah, telah terjadi perdebatan antara Syaikh bin Baaz dan Syaikh Al-Albaani dan selain keduanya di hadapan kami di Universitas Islam Madinah, namun tidak sedikitpun berpengaruh. Syaikh Al-Albaani menulis tentang permasalahan bersedekap saat i’tidaal hukumnya bid’ah, namun tidak sedikitpun berpengaruh kepada persatuan Salafiyyin. Padahal orang-orang Shufi ahli khurafat terus berusaha membuat percekcokan di antara pemuda melalui perselisihan pendapat antara Syaikh bin Baaz dan Syaikh Al-Albaani, akan tetapi mereka gagal. Kami peringatan dari semua ini yaa ikhwah, tinggalkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu, tinggalkan sikap ta’asshub kepada Fulaan dan Fulaan, janganlah kalian berta’asshub kepada seorang pun, karena akan memecah belah dakwah Salafiyyah.
ما نرضى لكم هذا –أبداً-؛ يحتملُ بعضكم بعضاً، وينصحُ بعضكم بعضاً –بالحكمة-. لا تدخلوا في متاهات التحزُّب ، والتعصُّب لفلان وفلان .. تمزَّقت السلفية بهذه الأساليب ،وسرَّبها إليكم الحزبيُّون ، ووجدوا في كثيرٍ منكم تقبُّلاً لمثلِ هذه الأمور.. اتركوها -بارك الله فيكم-. أسألُ الله أن يؤلِّف بين قلوبكم، وأن يدفعَ عنكم الفتنَ ما ظهر منها وما بطن.. فعودوا -يا إخوان- لما كان عليه أسلافُكم على امتداد التاريخ -مِن التناصح بالحكمة، والموعظة الحسنة ، والتحلِّي بالأخلاق العالية-».
Aku tidak akan pernah ridha dengan perkara ini selamanya. Akan tetapi hendaklah di antara kalian saling mengkritik dan menyampaikan nasehat dengan cara yang hikmah. Jangan sekali-kali kalian masuk dalam jejaring hizbiyyah dengan berta’asshub kepada si Fulaan dan Fulaan sehingga memecah belah Salafiyyin, lalu hizbiyyun mudah menyusup di antara kalian. Dan mereka hizbiyyun mendapati kebanyakan Salafiyyin mudahnya menerima mereka dalam berbagai urusan. Maka tinggalkanlah oleh kalian itu semua, semoga Allah memberkahi kalian. sikap ta’ashub barakallahu fiikum. Aku memohon kepada Allah agar menjinakkan hati-hati kalian, menjauhkan kalian dari fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Maka kembalilah yaa ikhwan, kembalilah kepada manhaj Salafusshaalih yakni saling mengkritik dengan cara yang hikmah, saling menasehati dengan cara yang baik, dan berhias dengan akhlaq yang tinggi.
(Kitab Al-Bayaan wal Iidhaah Li ‘Aqiidati Ahlissunnah wal Jamaa’ah Fi Ru’yatillaah Yaumal Qiyaamah” dari kitab “Haadiyil Arwaah ilaa Bilaadil ‘Afraah” Libnil Qayyim – Al-Baidhaa’ Al-‘Ilmiyyah)


Friday, December 26, 2014

apakah syi'ah kafir .....?

Desember 19, 2014
* Ada seorang ustadz yg membuat status, kira-kira maknanya spt judul di atas. “Gue jadi ragu neh buat ngafirin Syiah.”
* INTINYA gini saja Saudaraku: KITA AKAN MENGKAFIRKAN PAHAM APA SAJA YG MEMBAHAYAKAN ISLAM. Nah, begitu. Batasannya adalah: menjaga agama kita ini. Terserah deh Syiah atau Syibeh. Yg jelas, kalau agama kita dalam bahaya: TOLAK, TOLAK, dan TOLAK.
* Lalu paham macam apa dari kaum Syiah ini yg membuat kita harus bersikap tegas? Nah, ini perlu dijelaskan lagi & terus dijelaskan, bi idznillah.
* BERIKUT AKIDAH SYIAH:
A. Mereka menolak Al Qur’an kita, katanya sdh dipalsukan, diselewengkan para Shahabat Ra. Mereka punya kitab tandingan Al Qur’an. (Haidar Bagir pernah menulis riwayat-riwayat yg meragukan orisinalitas Al Qur’an).
B. Mereka punya konsep HADITS sendiri. Berbeda dg konsep hadits Ahlus Sunnah. (Berkali-kali Jalaluddin R mengkritik Aisyah Ra, Abu Hurairah Ra, Imam Bukhari, dll).
C. Mereka mengkafirkan mayoritas para Shahabat Ra, trutama Abu Bakar Ra, dan Umar Ra. Yg tdk dikafirkan cuma segelintir, seperti Ali, Salman, Miqdad dan beberapa Radhiyallahu ‘anhum. (ALLAH SWT telah ridha kepada Shahabat Ra, tapi oleh Syiah malah dilaknat, dicaci maki. Mereka memusuhi KERIDHAAN Allah. Mau nyari apa, man?).
D. Mereka mengeluarkan istri-istri Nabi dari Ahlul Bait, bahkan sgat memusuhi Aisyah Ra dan Hafshaf Ra. Istri yg Nabi cintai malah dimusuhi.
E. Mereka menyembah para Imam yg 12 dari silsilah Ahlul Bait. Orang-orang saleh itu ditempatkan pada maqam KETUHANAN. Mereka hukumi mukmin bagi yg mengimani sifat-sifat Ketuhanan para imam; dan dihukumi kafir bagi yg menganggap mereka manusia biasa (shalihin).
F. Syiah menjadikan kota Najaf, Karbala, Kufah sbg kota suci. Begitu juga kota Qum. Sbg tandingan atas Kota Suci Makkah dan Madinah.
G. Syiah meyakini konsep Bada’. Intinya, Allah SWT bisa salah dalam perbuatan-NYA. Mereka juga meyakini konsep Raj’ah, yaitu reinkarnasi tokoh-tokoh Ahlul Bait.
H. Syariat Islam sbg WAHYU ILAHI ditegakkan di atas prinsip Kejujuran, Kebenaran, Keadilan. Tapi Syiah menjadikan kebohongan, kepalsuan, khianat sbg DASAR AGAMA. Itulah konsep Taqiyah.
I. Syiah telah merusak, menodai, memfitnah, serta menghancurkan NAMA BAIK Ahlul Bait Nabi SAW. Ini adalah dosa sgat luar biasa yg tdk terampuni. Citra Ahlul Bait jadi rusak di tangan mereka. Oleh itu Zainal Abidin rahimahullah pernah berkata, “Jangan perlakukan kami sebagai berhala.” Mereka bukan memuliakan, tapi merusak reputasi Ahlul Bait.
J. Syiah pada hakikatnya telah memusuhi, melawan, memerangi, serta MENGKAFIRKAN para Ahlus Sunnah. Ya mengkafirkan kaum Muslimin secara umum seperti kita-kita ini. Selama kita belum iman kpd imam-imam Syiah, kita dianggap kafir. Nas’alullah AL ‘AFIYAH minal kufri was syirki wad dhalalah, amin.
* Inilah 10 POIN dasar kesesatan Syiah. Padahal kita tidak membahas soal nikah muth’ah dan khumus. Belum kesana.
* Semua poin-poin itu adalah KEKUFURAN. Tanpa terkecuali. Semua itu membahayakan ISLAM. Jadi BUKAN KITA MENGKAFIRKAN SYIAH; TETAPI MEREKA MENGKAFIRKAN DIRINYA SENDIRI.
* Aspek hukumnya begini: Siapa saja yg secara SADAR dan PAHAM meyakini poin-poin itu, dia jelas kafir, karena dia meyakini hal-hal yg MENGHANCURKAN Syariat Islam. Namun harus dipastikan dulu, yg bersangkutan: rela, sadar, mengerti!
* Tapi bagi kita, cukup pemahaman UMUM, bahwa meyakini poin-poin di atas adalah KEKAFIRAN. Adapun vonis ke pribadi-pribadi, kita serahkan ke ulama-ulama yg kredibel (misal MUI).
* Kita boleh bersikap TEGAS kepada para dai, ulama, atau orang-orang yg terang-terangan mendakwahkan akidah Syiah. Mereka itu bukan orang awam yg berhak diberi toleransi.
* Bolehkah kita melaknat orang Syiah? Jawab: Kalau kita tahu mereka SEDANG atau TELAH melaknat isteri-isteri Nabi dan Para Shahabat RA, kita boleh balas melaknat mereka dg dalil: “Radhiyallahu ‘anhum wa radhuu ‘anhu” (Allah ridha pada Shahabat Nabi dan mereka semua ridha kepada Allah). Kalau ada yg berani melaknat hamba-hamba yg telah diridhai Allah, balas laknat mereka!
* Adapun posisi Tengku Hasbi As Shiddiqi rahimahullah; beliau hanya melihat dari aspek PERBEDAAN FIQIH saja. Sejauh hal itu tidak MENGHALALKAN YG HARAM dan MENGHARAMKAN YG HALAL; masih bisa ditoleransi. Rata-rata ulama Sunni tidak mengkafirkan Syiah gara-gara pendapat fiqih yg masih DALAM KORIDOR Syariat Islam.
* KESIMPULAN: “Kami tidak mengkafirkan Syiah; tapi merekalah yang mengkafirkan dirinya sendiri.” Sorry ya, bukan kita yg kafirkan mereka.
* Semoga tulisen sederhana ini bermanfaat. Amin ya Allah. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.


Thursday, December 25, 2014

Syiah dan Kegagalan Mempropagandakan Imamah

Oleh: Bahrul Ulum
MINGGU ini, umat Islam Indonesia dihebohkan oleh status yang menamakan Emilia Renita AZ, istri Jalaluddin Rahmat, yang menyatakan bahwa Tuhan kaum Syiah berbeda dengan Tuhan umat Islam. Hal ini ia tulis dalam status akunFacebook Emilia Renita AZ yang diposting pada Selasa (04/10/2014).
Dalam statusnya, Emilia mengutip tokoh syiah Al-Gharawi yang mengatakan bahwa, “Tuhan kita (syiah) adalah Tuhan yang menurunkan wahyu kepada Ali, sedangkan Tuhan yang menurunkan wahyu kepada Muhammad maka bukan Tuhan kita. Shollu ‘Ala Nabii……”
Namun kabar yang baru saya dapatkan, Emilia menampik jika status akun itu adalah miliknya. [Baca: Emilia Renita: Saya Tak Tanggapi Fitnah dan Akun Facebook Palsu ]

Sebenarnya pernyataan seperti itu bukan hal baru dalam ajaran Syiah. Dan tulisan ini tidak membahas soal akun asli atau palsu.
Selain Al-Ghawari juga ada tulisan ulama hadits kenamaan Syiah bernama Sayyid Nikmatullah Al-Jazairi dalam kitabnya “Al-Anwar An-Nu’maniyyah” mengenai hal yang sama. Ia menulis,”Kita (Syiah Imamiyah dan Ahlus Sunnah) tidak satu Tuhan, tidak satu Nabi dan tidak satu Imam. Pasalnya, Tuhan yang mereka (Ahlus Sunnah wal Jamaah) akui adalah Tuhan yang menjadikan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai Nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai khalifahnya sepeninggal beliau, sedangkan kami (Syiah Imamiyah) tidak mengakui Tuhan yang seperti ini. Akan tetapi Tuhan yang menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah bukanlah Tuhan kami, dan Nabi itu pun bukanlah Nabi kami”. (Nikmatullah Al-Jazairi, Al-Anwar An-Nu’maniyyah, Jilid II/ hal 278).
Kalau kita telaah kitab-kitab Syiah, pernyataan seperti itu sebenarnya merupakan cerminan kegagalan Syiah memprogandakan konsep Imamah. Mereka sangat kecewa dengan nash-nash al-Qur’an maupun Sunnah Nabi yang ternyata tidak secara eksplisit menerangkan tentang konsep tersebut.
Kekecewaan itu kemudian diantaranya dengan menyalahkan Rasulullah karena dianggap menyembunyikan masalah tersebut. Dalam hal ini Khumaini dalam bukunya menulis bahwa seandainya Nabi Muhammad menyampaikan perkara Imamah sebagaimana yang Allah perintahkan (padanya) dan mencurahkan segenap kemampuannya dalam permasalahan ini, niscaya perselisihan yang terjadi di berbagai negeri Islam tidak akan berkobar…..” [Khumaini, Kasyful-Asraar, hal. 155].

Tentu saja tuduhan Khumaini ini tidak berdasar, karena Rasulullah telah menyampaikan semua ajaran yang diterimanya dari Allah. Tidak ada satupun khabar atau informasi yang beliau sembunyikan. Rasululah merupakan manusia yang paling takut kepada Allah dibanding manusia lainnnya. Dalam hal ini Allah berfirman:“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”. (Al-Maidah (5): 670).
Ayat ini menurut para ahli tafsir sebagai jaminan dari Allah bahwa Rasulullah tidak akan terbunuh dalam menyampakaikan ajaran Islam. Beliau akan wafat setelah semua ajaran Islam tersampaikan kepada umat manusia.
Ternyata Rasulullah Memilih Abu Bakar dan Umar
Kekecewaan kaum Syiah bukan saja mereka tujukan kepada Rasulullah, tetapi juga kepada para sahabat beliau. Mereka menuduh para sahabat telah merampas hak Ali dalam soal Imamah. Ketiga khalifah sebelum Imam Ali, yaitu Abu Bakar, Umar dan Ustman dianggap sebagai perampok yang merampas hak Ali dalm masalah kekhalifahan.
Abu Bakar dan Umar meski memimpin dengan amanah, adil, jujur dan ihlas, tidak dianggap sebagai khalifah Islam oleh kaum Syiah, tapi sebagai perampok yang mengambil alih hak Ali sebagai pengganti Rasulullah. (Nashir Abdullah Ibnu Ali al-Qofari, Ushul Mazhab Syiah, hal 825)
Karena alasan itulah hingga saat ini kaum Syiah sangat membenci Abu Bakar dan Umar. Sebagai bentuk kebencian terhadap dua sahabat Rasulullah itu, mereka selalu melaknat keduanya dalam do’a harian. Al-Kaf’ami dalam kitabnya al-Mishbah, menyebutkan doa yang berisi laknat terhadap Abu Bakar dan Umar yang dinamakan dengan Doa Shanamai Quraisy (doa atas dua berhala Quraisy).
Dia menyebutkan bahwa doa ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu. “Ya Allah limpahkan shalawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, dan laknatlah dua berhala Quraiys, dan kedua jibt dan thaghutnya (maksudnya: syetan yang disembah selain Allah-Pent), kedua tukang dustanya, dan kedua putrinya yang telah menyelisihi perintah-Mu dan mengingkari wahyu-Mu.” (Taqiuddin Ibrahim Ibnu Ali Husein ibnu Muhammad ibnu Shaleh al-Amili Kaf’ami, al-Mishbah, hal. 552)
Bahkan mereka menyalahkan secara total apa yang dilakukan oleh khalifah sebelum Ali, yang menurut kaum Syiah diangkat berdasar pemikiran atau persetujuan kaum muslimin. Bagi kaum Syiah, cara seperti ini dianggap melawan atau menentang wasiat Nabi Muhammad. Karena itu mereka menganggap ketiga khalifah sebelum Ali telah murtad dan kafir. Demikian pula orang yang mengakui kekhalifahan mereka juga dianggap sesat, baik orang-orang dahulu maupun orang-orang belakangan. ( al-Majalisi, Bihar al-Anwar, juz IV, hal. 385)

Berdasar keyakinan ini Syiah secara mutlak tidak mengakui kepemimpinan khalifah sebelum Ali karena mereka dipilih oleh manusia.
Padahal dalam persoalan kekhalifahan, Ali bin Abi Thalib tidak sebagaimana yang mereka yakini. Ali termasuk seorang sahabat yang tidak gila kekuasaan dan jabatan. Dalam kitab rujukan Syiah sendiri, yaitu Nahjul Balaghah, disebutkan bahwa Imam Ali menolak ketika akan diangkat menjadi khalifah/imam. Ia berkata: “Da’uuniy wal tamisuu ghairiy (Carilah orang selain aku)” (Sayid Syarif Radhi, Nahjul Balaghah, Khutbah 91)
Demikian juga saat khalifah Umar hendak wafat, beliau memilih 6 orang untuk melakukan syuro, supaya memilih diantara mereka sebagai penggantinya. Kemudian 3 orang dari mereka mengundurkan diri, lalu Abdurrahman bin Auf r.a. juga ikut mengundurkan diri, tinggal Utsman r.a. dan Ali r.a. Dalam kondisi seperti ini Imam Ali tidak mengatakan kepada mereka bahwa beliau telah menerima wasiat kekhalifahan dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam.
At-Thabarsy juga mengutip perkataan Muhammad Al-Baqir bahwa Ali menetapkan kekhilafahan Abu Bakar, mengakui akan keimanannya, turut mengangkatnya dengan kekuasaannya, sebagaimana yang disebutkan bahwa Usamah bin Zaid yang mencintai Rasul tatkala ia siap untuk berangkat, Rasul berpulang ke Al-Malaul A’la. Setelah ia menerima pemberitahuan akan kewafatan Rasulullah, ia kembali bersama pasukannya memasuki kota Madinah. Maka tatkala ia melihat bahwa manusia mengangkat Abu Bakar, ia mendatangi Ali bin Abi Thalib dan bertanya: “Apa ini?”. Ali menjawab: “Sebagaimana yang engkau lihat”. Berkata Usamah: “Apakah engkau turut mengangkatnya(Abu Bakar)?. Ali pun menjawab: “Iya”. (Abi Mansur Ahmad ibnu Ali ibnu Abi Thalib al-Thabarasy, al-Ihtijaj, Juz I,/hal.115
Adapun Ali yang terlambat membai’at Abu Bakar, diterangkan oleh ulama Syiah sendiri yaitu Ibnu Abil Hadid: “Kemudian berdiri Abu Bakar, berpidato kepada orang banyak dan menyatakan keuzurannya, berkata: “Sungguh pengangkatan saya adalah kekhilafan, mudah-mudahn Allah menghindarkan akan bahayanya. Aku takut akan fitnah, Demi Allah. Aku tak pernah menginginkannya walau hanya satu hari, aku sudah diserahi tugas yang amat berat lagi besar, aku merasa tak kuat dan tak mampu, aku ingin agar ada orang yang lebih kuat yang menggantikanku.’ Begitulah Abu Bakar mengakui keberatannya. Golongan Muhajirin menerima keberatan itu dan berkata Ali dan Zubair: “Kita tidak marah, kecuali melalui musyawarah, dan kami memandang Abu Bakar manusia paling berhak dengan pengangkatan itu, karena ia adalah teman Rasul di dalam gua, kami mengetahui pengalamannya, dan ialah yang diperintahkan Rasul untuk menggantikan beliau untuk memimpin shalat di saat Rasul masih hidup”. ( Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, juz II, hal.50).
Pernyataan Imam Ali ini menunjukkan bahwa ia mengakui kekhalifahan Abu Bakar. Jika kekhalifahan harus berdasar nash, tentu ia tidak akan mengakui kekhalifahan Abu Bakar.
Demikian juga para sahabat yang lain telah sepakat bahwa tidak ada wasiat dari Rasulullah mengenai Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti beliau. Disamping itu seandainya memang benar Nabi SAW bersabda demikian, pastilah akan terjadi, karena tidaklah beliau mengucapkan sesuatu melainkan dari wahyu yang diwahyukan oleh Allah dan Allah tak pernah menyelisihi perkataan-Nya/janji-Nya.
Bahkan ironisnya ada riwayat dari kitab Syiah yang dengan jelas menerangkan Rasulullah memberi tahu Khafsah, salah satu istrinya bahwa yang menggantikan beliau sebagai khalifah adalah Abu Bakar dan Umar. Diriwayatkan oleh al-Majlisi dan lainnya dari Imam Ja’far Shadiq berkata “Ketika nabi membisikkan kepada sebagian istrinya, yaitu Khafsah. Berkata Shadiq, ‘Dia telah ingkar dengan perkataanya’ ……..”Sesungguhnya Rasulullah memberi tahu Khafsah bahwasanya ayahnya (yaitu Umar bin Khatab) dan Abu Bakar Shidiq nanti bakal memimpin setelah beliau.” Maka keduanya (Abu Bakar dan Umar) mempercepat kematian Nabi dengan memberi racun. Lalu Allah memberitahu Nabi atas perbuatan kedua orang itu.” (Al-Majalisi, Biharul Anwar, Juz XXII/hal 246)
Meski riwayat tersebut dimaksudkan untuk mencela Abu Bakar dan putrinya serta Umar dan putrinya yang akan meracuni Rasulullah, namun penulis riwayat ini kurang jeli sehingga memasukkan cerita tentang Rasulullah yang memberitahu Khafsah bahwa ayahnya Umar dan sahabatnya Abu Bakar akan menjadi pemimpin atau Imam.*
Penulis adalah Sekretaris Umum Majelis Intelekual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jawa Timur
 Sumber Tulisan: hidayatullah.com


Siapa Syiah Sebenarnya?

Syiah terbahagi kepada berpuluh-puluh puak, bahkan ada yang mengatakan sehingga 300 puak. Terdapat Syiah Imamiyyah Ithna Asyariyyah, Syiah Zaidiyyah, Syiah Ismailiyyah, Syiah Kaisaniyyah dan banyak lagi. Tulisan kali ini hanya akan membicarakan tentang Syiah Imamiyyah Ithna Asyariyyah atau Syiah Jaafariyyah yang penganutnya agak ramai di Malaysia ketika ini.


Dr. Ali Ahmad As Salus dalam bukunya yang bertajuk Ma'a Al Ithna Asyariyyah fi Ushul wal Furug telah memulakan dengan petikan ini:

"Syiah Ithna Asyariyyah tidak semuanya sama, sebahagian mereka yang melampau yang kita lihat apa yang mereka tulis mengandungi perkara kufur dan zindiq, sebahagian yang lain menyeru kepada pandangan yang lebih sederhana dan ada juga yang mencampurkan antara pandangan yang melampau dan sederhana."

Rujukan Syiah

Tafsir Hasan Al Askari,Tafsir Al I'yasyi dan Tafsir Al Qummi.

Ketiga-tiga tafsir ini muncul pada kurun ketiga hijrah. Penulisnya mengkafirkan para sahabat khususnya Khulafa' Ar Rasyidin sebelum Saidina Ali dan semua yang membai'ah mereka. Penulisnya juga beriktikad Al Quran ada yang telah diselewengkan secara nas dan makna. Mereka beriktikad tentang Imamah 12 orang imam sehingga ke peringkat syirik. 

Al Kafi, karya Al Kulani

Kitab ini kitab hadis yang terbesar. Mengandungi 8 juzuk, 2 juzuk yang pertama dikenali dengan nama Al Usul Min Al Kafi, juzuk 3 hingga 7 dikenali dengan nama Al Furu' min Al Kafi, dan juzuk terakhir dikenali dengan nama nama Ar Raudhah min Al Kafi. Pada Syiah, kitab ini menyamai taraf kitab Sahih Bukhari. Kitab ini ditulis oleh Muhammad bin Yaakob Al Kulaini yang merupakan murid Al Qummi, pemilik Tafsir Al Qummi. Buku ini mempunyai kedudukan yang sangat tinggi pada penganut Syiah dan telah disyarahkan oleh lebih 50 ulama Syiah yang lain. 

Kitab Tafsir Al Tibyan, karya Al Tusi

Penulis kitab ini ialah Al Tusi, seorang ulama besar Syiah Ithna Asyariyyah. Beliau menulis kitab ini dengan membawa pandangan yang sederhana dan cuba menentang kesesatan yang dibawa oleh orang-orang sebelumnya. Walau bagaimanapun, beliau terpengaruh dengan sebahagian akidah yang menyeleweng ketika menghuraikan tafsir ayat-ayat Al Quran.

Kitab Al Murajaat

Karya Abdul Hussein Syarafuddin Al Musawa "Hamba Hussein" ini merupakan sebuah kitab yang isi kandungannya dipetik daripada ulama Syiah yang melampau sahaja. Bahkan penulisnya menambah isi kandungannya menjadikan ia lebih syirik, lebih kufur dan lebih sesat. Beliau tidak memetik dari Kitab At Tibyan, karangan At Tusi. Penulis kitab ini dianggap sebagai Syiah Rafidhah yang paling melampau, zindiq dan kufur.

Kitab Lillah Summa Littarikh / Kenapa Aku Meninggalkan Syiah

Buku ini berjaya diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu oleh beberapa orang penuntut Al Azhar. Penulis buku ini ialah As Sayyid Hussein Al Musawi. Beliau cuba memperbetulkan fahaman yang melampau dalam Syiah Ithna Asyariyyah. Buku ini adalah contoh Syiah yang sederhana dan tidak melampau. Mereka menyanjung tinggi kedudukan para sahabat dan memuliakan ahlul bait sama seperti Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kedudukan ulama ahlul bait yang dianggap imam dibersihkan daripada iktikad yang syirik.

As Syiah Wal Tashih: As Sira' Baina As Syiah wal Tasyayyu'

Buku ini ditulis oleh Dr Musa Al Musawi. Buku ini juga antara buku Syiah yang sederhana. Penulisnya cuba mengajak penganut Syiah supaya tidak melampau dalam ajaran Syiah dan mengajak mereka kembali kepada ajaran imam-imam mereka yang sebenar.

Asal Usul Syiah

Perkataan 'Syiah' disebut beberapa kali dalam Al Quran. Antaranya:

"Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapan di antara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah." (Maryam: 69)

"Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang lelaki yang berkelahi; seorang  daripada golongannya (Bani Israel) dan seorang (lagi) daripada musuhnya (kaum Fira'un). Maka orang yang daripada golongannya meminta tolong kepadanya untuk mengalahkan orang daripada musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuh itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya)." (Al Qasas: 15)

"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)." (As Shoffat: 83)

Golongan Syiah sering berhujjah dengan mengatakan perkataan 'Syiah' disebut dalam Al Quran untuk mempertahankan kebenaran aqidah mereka. Tidak semestinya apabila disebut dalam Al Quran menandakan aqidah ajaran itu sahih. Fira'un, Namrud dan Haaman juga disebut di dalam Al Quran biarpun mereka sesat serta kufur. 

Perkataan 'Syiah' di dalam Al Quran membawa maksud pengikut. Syiah Ithna Asyariyyah ialah salah satu puak Syiah Imamiyyah yang dikategorikan oleh para ulama sebagai melampau. Mereka juga menggelarkan diri mereka dengan nama Syiah Ja'fariyyah, iaitu salah seorang yang mereka anggap sebagai imam mereka. Perkataan Itha Asyariyyah bermaksud dua belas, ataupun merujuk kepada 12 orang imam mereka. Khomeini dan Kerajaan Iran adalah pendokong kepada aliran ini. Mereka mendakwa sebagai umat Islam yang mempercayai 12 imam setelah kewafatan Rasulullah SAW dengan Saidina Ali sebagai imam yang pertama. Mereka juga mendakwa sebagai golongan yang mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW serta melebihkan mereka daripada sahabat-sahabat yang lain.

Perlu dijelaskan di sini, Syiah ini bukan seperti golongan Syiah yang ada di kalangan sahabat dan tabi'in yang menyebelahi Ali R.A. ketika berlaku persengketaan dengan Muawiyyah.

Tulisan ini dipetik daripada buku bertajuk, "Siapa Syiah Sebenarnya" karangan Ustaz Abdullah Din dan Ustaz Azfar Abdullah.

"Dan aku (Nabi Hud) tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu. Imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam" (As- Syu'ara : 127)


Akidah Syiah Imamiyyah Ithna Asyariyyah

Imamah dan Khilafah

Mereka mempercayai Imamah ialah jawatan penting yang diberikan kepada Saidina Ali R.A. selepas kewafatan Rasulullah SAW. Mereka mendakwa jawatan ini dilantik secara nas oleh Rasulullah SAW sebelum kewafatannya, bahkan jawatan ini kononnya dinaskan secara jelas di dalam Al Quran oleh Allah SWT. Pada mereka, sesiapa yang menolak imam-imam Syiah, dia menjadi kafir bahkan lebih kafir daripada Iblis.

Khomeini menulis dalam Hukumah Islamiyah:

Rasulullah SAW yang mulia telah dilantik oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi untuk menghukum ke atas manusia dengan adil dan tidak mengikut hawa nafsu. Allah telah menurunkan kepadanya wahyu supaya baginda menyampaikan apa yang telah diturunkan ke atasnya kepada orang yang menggantikannya. Rasul telah mengikut ketentuan ini dan telah melantik Amirul Mukminin, Ali sebagai penggantinya. Baginda di dalam membuat penentuan ini bukanlah didorong oleh faktor bahawa Ali adalah menantunya, atau Ali telah bekerja keras dan mempunyai khidmat-khidmat cemerlang, tetapi kerana Allah yang telah memerintahkannya supaya berbuat demikian

Mereka mempercayai jawatan ini diwarisi oleh keturunan Ali R.A. hingga Imam yang kedua belas, iaitu Imam Muhammad Al Mahdi bin Hasan Al Askari.

Imam-imam tersebut ialah:
1.                Imam Ali bin Abi Talib
2.                Imam Hasan bin Ali
3.                Imam Husin bin Ali
4.                Imam Ali Zainal Abidin bin Husin
5.                Imam Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin
6.                Imam Jaafar As Sadiq bin Muhammad Al Baqir
7.                Musa Al Kazim
8.                Imam Ali Ar Rida
9.                Imam Muhammad Al Jawwad
10.             Imam Ali bin Muhammad Al Jawwad
11.             Imam Hassan bin Ali Askari
12.             Muhammad bin Hasan Al Askari Al Mahdi

Di sisi Syiah, Imam mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada para Nabi dan Malaikat. Khomeini dalam bukunya Al Hukumah Islamiyyah, halaman 95:

Pastinya kekuasaan dan pemerintahan bagi Imam tidaklah bermakna terpencilnya dia dan kedudukannya yang sebenar di sisi Allah, dan kuasa itu tidak akan menjadikannya seperti pemerintah-pemerintah yang lain daripadanya. Sesungguhnya Imam mempunyai kedudukan yang terpuji, darjat yang tinggi juga merupakan khalifah yang mempunyai kuasa pembentukan yang tunduk kepada pemerintahan dan kuasa semua unsur di alam ini. Dan di antara perkara-perkara yang tidak dapat dipertikaikan lagi menurut mazhab kita ialah bahawasanya Imam-imam kita telah mempunyai kedudukan tinggi tetapi tidaklah sampai ke tahap yang dicapai oleh malaikat yang sentiasa berdampingan (dengan Allah) dan juga Nabi yang diutus. Riwayat-riwayat dan hadis yang ada pada kita telah mempastikan bahawa Rasul Agung SAW dan para Imam A.S. di sebalik dunia ini mereka adalah merupakan cahaya-cahaya yang telah diterbitkan oleh Allah dari 'ArasyNya, dan Allah menganugerahkan kepada mereka kedudukan dan darjat yang hampir dengan Allah yang hanya Imam sahaja yang mengetahuinya.

Terdapat juga dari kalangan Imam-imam A.S. sebagai berkata:

"Sesungguhnya bagi kami ada berbagai keadaan yang tidak dapat dicapai kecuali oleh Malaikat yang sentiasa berdampingan (dengan Allah) serta Nabi yang diutus."

Kedudukan seumpama ini ada juga pada Fatimah Az Zahra (A.S) tetapi tidaklah bererti beliau adalah seorang khalifah, pemerintah, ataupun hakim. Kedudukan ini adalah satu perkara lain yang berada di sebalik status khalifah dan kekuasaan. Sesungguhnya Fatimah bukanlah seorang hakim atau pemerintah ataupun khalifah, (ungkapan ini) tidaklah bermakna bahawa Fatimah tidak mempunyai kedudukan yang hampir (kepada Allah) itu, sebagaimana perkara tersebut tidak memberi erti bahawa ia adalah seorang perempuan biasa seperti perempuan-perempuan yang ada di masa kita ini.

Para imam ini kononnya bersifat maksum. Mereka menganggap para Imam ini bukan sahaja terpelihara daripada dosa kecil dan dosa besar, malah terpelihara daripada melakukan sebarang kesilapan dan kesalahan serta tidak terlupa. Pada mereka Imam mempunyai ilmu yang setaraf dengan Nabi. Yang membezakan antara Nabi dan Imam ialah Imam tidak diberikan wahyu. Pun begitu, mereka percaya imam mempunyi ilmu ladunni. Mereka juga mempercayai para Imam juga mempunyai mukjizat. Antara contohnya ialah:

Abu Jaafar Muhammad bin Jariri At Tabari berkata, "Saya telah melihat tuanku Imam Al Baqir AS membuat seekor gajah dari tanah, lalu beliau menaikinyadan terbang di udara ke Mekah dan kembali di atasnya. Aku tidak percaya berita tersebut sehinggalah aku bertemu dengan Imam Al Baqir lalu aku katakan kepadanya Jabir telah menceritakan begini, begini (kisah ini). Imam Al Baqir terus melakukan perkara yang sama (mengambil tanah dan membentuk seekor gajah) lalu menaikinya dan membawa aku bersamanya ke Mekah dan kembali semula."

Imam yang kedua belas ialah Imam Mahdi di sisi Syiah. Beliau dipercayai ghaib pada tahun 260 H di Samarra' dalam sebuah lubang. Imam Mahdi atau namanya Imam Muhammad bin Hasan Al Askari akan kembali memenuhi dunia dengan keadilan pada suatu masa nanti. 

Ar Raj'ah

Bermaksud kepercayaan bahawa para Imam akan dibangkitkan sebelum kiamat untuk menuntut bela dan menghukum orang-orang yang zalim yang telah merampas hak-hak mereka. Kepercayaan ini menjadi suatu kepercayaan yang disepakati oleh para ulama Syiah. Berkata Syeikh Mufid dalam Awail al Maqalat:

"Golongan Imamiyyah sepakat tentang wajibnya raj'ah atau kembalinya sebahagian besar orang-orang yang telah mati (sebelum kiamat)."

Mengkafirkan Sahabat

Contoh 1 - Abu Bakar dan Umar kafir

Dalam Kitab Bihar Al Anwar karya Muhamma Baqir Al Majlisi,

"Daripada Maula Ali bin Husin AS, aku bersama dengannya (dengan Imam Ali bin Husin) dalam khalwahnya. Aku berkata "Bolehkah engkau beritahu aku tentang keadaan dua orang lelaki ini iaitu Abu Bakar dan Umar". Dia berkata, "Kedua-duanya kafir dan orang yang menyintainya juga menjadi kafir."

Dan daripada Hamzah As Sumali beliau bertanya kepada Ali bin Husin tentang kedua-duanya lalu dijawabnya, 

"Kedua-dua mereka kafir dan menjadi kafir orang yang menganggap mereka sebagai pemimpinnya."

Contoh 2 - Semua Sahabat Murtad

Kitab Al Kafi karya Al Kulaini,

Daripada Abi Jaafar, "Semua manusia (sahabat) telah murtad selepas kewafatan Nabi SAW melainkan 3 orang". Aku bertanya, "Siapa mereka bertiga?" lalu jawabnya, "Miqdad bin Aswad, Abu Zar al Ghifari dan Salman al Farisi."

bersambung...( insya Allah ) 

Tulisan ini dipetik daripada buku bertajuk, "Siapa Syiah Sebenarnya" karangan Ustaz Abdullah Din dan Ustaz Azfar Abdullah.

"Dan aku (Nabi Hud) tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu. Imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam" (As- Syu'ara : 127)
Posted by Abu Nu'man at 11:10 PM 



Hubungan Aswaja Indon Dan Syiah Dalam Menghadapi Wahabi Di Indonesia

Desember 23, 2014
Paranoid Aswaja Indon Menghadapi Wahabi
Aswaja Indon bukanlah sebutan untuk Aswaja yang banyak ditulis dalam sejarah perjalanan perkembangan paham paham Islam dari masa ke masa.Aswaja Indon lebih tepat sebuahmuara pemikiran Islam Kejawaan, atau sentralisasi kiblat beragama berdasarkan retorika berpikir Jawa.Terutama gagasan gagasan Walisongo, menjadi kiblat utama mereka menafsirkan Islam, sehingga tidak memerlukan legalitas agama dari Islam asalnya. Sebab terlalu banyak potensi kejawaan di dalamnya yang dikemas dengan kata ”Ulama Pewaris Nabi”, meskipun kenyataannya bukanlah warisan nabi yang menjadi standar keagamaannya.
Kata ”Aswaja” menjadi kependekan dari Ahlus-Sunah wal-Jamaah, justru tidak ada relevansinya dengan metode “Ahlus-Sunnah“yang terdapat dalam kitab kitab klasik.Nama “Aswaja” bisa disebut sekedar legalisasi kelompok tradisional guna meluluskan banyak ide-ide cemarlangnya dalam memasarkan paham-paham kejawaan yang dikemas dengan nilai amaliyah Islam.
Sama halnya dengan seorang yang pakai nama Nabi: ”Muhammad”, nama tersebut bisa dipakai semua orang, tetapi tidak berarti bahwa nama ”Muhammad” merupakan kepribadian orangnya.Aswaja Indon lebih tepat disebut jelmaan aliran-aliran ‘aqliyah, yang menempatkan akal manusia jauh diatas dasar dasar naqliyah. Sehingga lebih menyerupai sebuah alibi menguasai massa, bukan pada target agama yang monumental kenabian.
Itulah sebabnya Aswaja yang korelasi dengan kombinatif Jawa Islam sulit menerima paham-paham produk orang lain yang mengusik ketenangannya. Aswaja yang dibesarkan dan banyak diasuh oleh militansi lingkungan Syi’ah menjadi benteng utama perlindungan Syi’ah dalam membendung arus pemikiran Wahabi, kendati statement ‘wahabi’ menjadi lebih trendy di kalangan Syi’ah.
Aswaja cukup menjadi jembatan tol penyebarangan Syi’ah menuju wilayah orang-orang yang masih primitif dalam beragama. Maksudnya dalam mempertahankan ajaran-ajaran adat lewat jendela agama. Sebagai bukti dalam percaturan agama Islam, hanya Aswaja Indon dan Syi’ah yang memaksa umat agar menolak Wahabi, sekalipun dengan sekedar aksen kebohongan yang mereka buat.
Perpaduan Aswaja Indon dan Syi’ah sangat luar biasa, bahkan tak ada perbedaan dalam menangkis dakwah-dakwah Wahabi. Kedua kelompok ini dengan taqiyahnya selalu mengecilkan kata “wahabi” bukan dengan nalar ilmiah, tetapi apologetik yang disebut Taqiyah.
Misalnya perkataan perkataan Aswaja Indon tentang Al-Bany, seorang Ulama hadist abad moderen, bagaimana adab adab yang diajarkan di pesantren menjadi redup seketika, ketika kyai-kyai mereka berteriak lantang dengan menyebut ”wahabi” sebagai ajaran sesat.
Muncul serentetan kebencian yang di luar akal sehat : ”Albani desibut ngalbany, Utsaimin disebut ”Ngusaimin , Bin Baz, disebut si buta ngabas”.
Terhadap Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al Jauzi sebagai bapak yang melahirkan ‘ Muhammad bin Abdul wahabpun disebut juga dengan kata kata yang tidak beradab.
Syi’ah paling berhasil dan memetik buahnya dengan kekeruhan berfikir Aswaja, yang membuat aswaja Paranoid dengan Wahabi.
Tidak ada lagi sopan santun pesantren yang konon mengajarkan akhlaqul karimah;yang ada pembelaan membabi buta mereka dalam mempertahankan warisan adat (maaf bukan warisan Islam). Lewat aksi aksi kebencian dengan berbagai modus dan tipe anti kebencian yang mereka lontarkan.
Porsi terbesar di tentukan oleh KH. Said Aqil Siroj, seorang ketua Umum PB NU, mengaburkan wahabi dengan sebutan cikal bakal terorisme, meskipun tindakan kang said banyak yang menentangnya dari kalangan NU.
Tambahan admin : Tuduhan tersebut bisa dilihat di postingan ini
Jawaban dari tuduhan said aqil tersebut bisa dilihat disini
Ucapan ucapan Said Aqil siraj-pun melewati batas, dengan menggambarkan bom bom yang meledak di Indonesia dan negara negara Asing sebagai bagian dari sepak terjangan wahabi. Said Aqil Siroj paling lantang dan paling cerdas dalam membangun opini anti wahabi, dengan menyebut wahabi sebagai sebuah kelompok yang berbeda dengan Islam. Pengkafiran Said Aqil banyak ditiru santri-santri dari masyarakat muslim yang tergabung di NU, bahwa sumber terorisme adalah wahabi.
Hingga dalam berbagai wawancara KH. Said Aqil Siroj dalam berbagai media mengumandangkan anti wahabi, sebagai musuh agama. Sebuah rencana Syi’ah yang luar biasa, terlalu banyak ulama ulama yang masuk perangkap Syi’ah dan menjadi pembela kebatilan.

Tambahan admin :

Kyai NU membantah said aqil yang mencela sahabat, silahkan baca disini
Taqiyah taqiyah Aswaja yang ditebarkan di berbagai media selalu menyebut Wahabi sebagai islam radikalisme, tanpa memperhatikan sikap-sikap arogansi warga NU, banser, Anshor yang membabi buta mengobarkan permusuhan dengan cara merusak pengajian pengajian MTA, misalnya. Dalam hal ini NU berdiri yang paling Islam, ketika memporak-porandakan pengajian orang lain dengan sekedar asumsi : ”itu si MTA ngatain NU syirik dan bid’ah segala”.
Ketersinggungan NU ini bisa dilihat di situs resminya, bagaimana gaya NU menulis berita dan artikel anti wahabi. Dominan disebut provokasi NU terhadap kelompok-kelompok Islam. Terkadang menyuarakan Aswaja NU Indon sebagai kelompok pluralis sejati, walaupun pada intinya sangat standar ganda. Diantaranya mencela dan merusak kegiatan dan kelompok lain.
Densus 99 produk pemikiran Aswaja Indon, lebih memenuhi kriteria mata-mata NU dalam melacak kegiatan kegiatan Wahabi dalam berbagai arena. Bahkan dengan kekuatan otot Aswaja Indon bisa mengerahkan massa untuk memberangus paham lain yang tidak sejalan dengan Aswaja Indon, dengan alasan mengganggu kelompok mereka.

Contoh lain dari taqiyah NU, “wah wahabi keji, tidak mau membantu rakyat Palestin”, bahkan meminta rakyat Palestina meninggalkan negerinya. Padahal sejak perjuangan pembebasan rakyat Palestina tidak pernah terlepas dari Dana Arab Saudi.


Tambahan admin : Bantuan saudi untuk palestina begitu besar, silahkan baca disini
Juga pernah menyebut  wahabi mencabut nama “Israel” dari buku hitam musuh musuh Islam. Padahal kalau mau bercermin muka, Wahid Institute itu apa? dari mana dananya.
Termasuk dana dana dari Israel atas Yayasan Simon Peres itu dari mana. Terlalu banyak gaya dan taqiyah aswaja yang lebih dominan kalau disebut ”anak anak syiah wilayah jawa (aswaja)yang mengambil bagian menciptakan paranoid dalam kehidupan Aswaja dalam berdampingan dengan paham lain.
[selesai – dikutip dari : kompasiana dengan sedikit perbaikan kata].
*******
Saya berkata : Artikel di atas menarik, hanya saja pemakaian kata ‘taqiyyah‘ kurang tepat. Maknataqiyyah adalah : Menyembunyikan keimanan karena tidak mampu menampakkannya ditengah-tengah orang kafir dalam rangka menjaga jiwa, kehormatan dan hartanya dari kejahatan mereka. Mungkin kata yang tepat yang menggantikan kata ‘taqiyyah‘ dalam artikel di atas adalah ‘tuduhan’ atau ‘propaganda’ atau sejenisnya.

Tambahan :
Tidak semua ulama tokoh NU ini sejalan dengan sepak terjang bapak Said aqil siraj, silahkan lihat video para kyai tersebut yang menasehati said aqil siraj dan mengatakan tentang sikap para tokoh NU yang membela syiah itu merupakan berkhianat kepada pendiri NU, Hasyim asy’ari, silahkan lihat disini
Pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa SYIAH ITU KAFIR, silahkan lihat ulasannya disini