oleh Khaled Abu Toameh
Terjemahan dari naskah
asli: Why Arabs Loathe Hezbollah
Diterjemahkan oleh
Jacobus E. Lato
Pemimpin
HIzbulah, Hassan Nasrallah, anak didik sekaligus mitra Iran di Timur Tengah,
tampaknya sedang memimpin rakyat Libanon menuju malapetaka lain.
Pada 2006, Nasrallah memulai perang dengan Israel.Libanon pun
mengalami kerusakan besar-besaran. Perang itu meletus menyusul aksi penyergapan
oleh para gerilyawan Hizbulah di kawasan Israel yang menewaskan tiga tentara
Israel dan menyandera dua tentara lainnya.
Pimpinan Hizbulah, Hassan Nasrallah mengecam intervensi militer Saudi Arabia di Yaman, dalam sebuah sambutan yang diberikan di Beirut , 17 April 2015 lalu. (Sumber foto: nukilan video Press TV)
Kini, rakyat Libanon bakal membayar harga mahal lainnya. Kali ini,
karena Nasrallah terlibat dalam perang saudara di Suriah dan kecamannya yang
keras terhadap Saudi Arabia beserta negara-negara Arab lainnya atas konflik di
Yaman.
Dalam sebuah sambutan di Beirut, Jumad lalu, Nasrallah mengecam
"agresi" pimpinan Saudi atas Yaman. " Itulah tugas agama,
manusiawi, dan jihad kita untuk mengambil sikap. Dan semua anak laki-laki
negara itu harus menilai kembali tanggung jawab mereka dan menentukan sikap
yang tepat," urainya. "Intimidasi atau ancaman tak bakal mencegah
kita untuk terus menyatakan kecaman kita atas agresi melawan Yaman. Sasaran
nyata perang adalah untuk memperbaiki hegemoni Saudi – Amerika atas Yaman."
Ada alasan jelas
mengapa Nasrallah menyerang serangan udara pimpinan Saudi di Yaman. Dia
sebetulnya mengkhawatirkan nasib masyarakat Houthi yang didukung Iran. Padahal,
kelompok masyarakat itu sedang berupaya untuk menguasai negara Arab. Memang,
Nasrallah punya alasan yang tepat untuk khawatir. Kekalahan Houthis akan
dilihat sebagai kekalahan Hizbulah sekaligus Iran. Sebagai boneka utama Iran di
Timur Tengah (bersama Suriah, pimpinan Presiden Bashar Assad), Nasrallah ingin
melihat Iran menguasai hampir semua negara-negara Arab.
Nasrallah tampaknya bertekad untuk mencapai tujuan dengan korban
apapun. Dia tidak peduli jika rakyat Libanon membayar harga sangat besar akibat
aliansinya dengan Iran.
Serangannya terhadap Saudi Arabia dan sekutunya telah memicu rasa
takut bahwa warga negara Libanon yang sedang berdiam di Teluk akan menjadi yang
pertama yang harus membayar harga yang sangat mahal itu.
Situasi ini tepat seperti terjadi pada warga Palestina, ketika
mendukung invasi Saddam Hussein ke Kuwait pada 1990. Setelah Kuwait dibebaskan,
Emirat Kuwait dan negara-negara Teluk lain mengusir ratusan ribu warga
Palestina yang berdiam dan bekerja di sana.
Kini, terima kasih kepada kebijakan dan pernyataan publik
Nasrallah, karena warga Libanon yang berada di Teluk bakal mengalami nasib yang
sama.
"Ke manakah Nasrallah ingin bawa Libanon dan warganya dengan
sambutannya yang pedas menentang Saudi Arabia?" Tanya pemimpin Druz di
Libanon, Walid Jumblatt. "Sudahkah dia perhitungkan akibat kata-katanya
atas jiwa sekitar 50.000 warga Libanon yang sedang berdiam di Saudi Arabia?
Suara bodoh Nasrallah sama sekali tidak menguntungkan."
Jumblatt bukan satu-satunya politisi Libanon yang mengungkapkan
perasaan prihatinnya atas sambutan Nasrallah yang pedas terhadap Saudi Arabia
dan sekutunya.
Menteri Kehakiman Libanon, Ashraf Rifi mengatakan Nasrallah
seharusnya "malu" dengan berbagai serangan atas Saudi Arabia. Dalam
pandangan Rifi, Arab "mendukung berbagai institusi negara Libanon dan
tidak membayar pihak atau sekte manapun serta tidak menciptakan milisi."
Rifi melukiskan Hizbullah sebagai "sekedar alat" Iran yang
"mengorbankan diri dan rakyatnya demi sebuah proyek (Iran) yang
gagal…Hizbulah tengah mengubah Libanon menjadi ruang operasi untuk
menyebarluaskan hegemoni Iran."
Menteri Luar Negeri Libanon Gebran Bassil mengingatkan bahwa
negaranya bisa terjebak dalam kekacauan jika kekuatan-kekuatan politik di
Libanon bertaruh untuk bersaing dengan kekuatan asing sekaligus membawa konflik
kawasan ke dalam negeri tersebut.
"Kita tidak berhak untuk mempertaruhkan kekuatan asing dan
menarik konflik yang jauh lebih besar daripada Libanon dan Libanon sendiri
tidak mampu menanganinya," urai Bassil. Merujuk kepada Hizbulah, dia
menambahkan, "Jika satu kelompok, partai atan sekte masih ingin coba ini
setelah semua pengalamannya masa lalu yang gagal, kita sebetulnya
mempertaruhkan (subjecting) rakyat dan negara kita pada ancaman yang
eksistensial."
Ketika Menteri Luar Negeri Libanon berbicara tentang
"pengalaman masa lalu yang gagal".dia jelas-jelas merujuk kepada
perang yang ditimbulkan Hizbulah atas Libanon.
Mantan Perdana Menteri Libanon, Saad Hariri mengatakan bahwa
pidato Nasrallah menentang koalisi pimpinan Saudi di Yaman merupakan
"jerit tangis." Dikatakannya bahwa Nasrallah sebetulnya mengikuti
jejak langkah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamanei, dengan
mengadopsi "kreativitasnya dalam membuat kesalahan, membuat interpretasi
salah, melakukan penipuan, unjuk kekuatan dan mobilisasi yang sektarian."
Ditambahkannya lagi bahwa Hizbulah "giat untuk mengamankan rejim [Suriah]
Bashar al-Assad dan peran Iran dalam menginfiltrasi Yaman dan campur tangan
dalam urusan Arab."
Produser berita TV Libanon, Hanadi Zaidan menuduh Nasrallah
bekerja demi kepentingan Iran sekaligus menentang negara asalnya, Lebanon.
"Hizbulah dan Sekretaris Jenderalnya [Nasrallah) hanya
satu-satuya pihak yang berenang melawan gelombang arus Arab dan Libanon, dengan
mengumumkan sikap setia buta mereka kepada burung Iran yang gelap," urai
Zaidan. " Dia [Nasrallah) berkerja untuk wujudkan agenda Iran melawan
Negara Libanon." Ditambahkannya bahwa Nasrallah dan "para tuan
Iran"-nya sudah dikejutkan oleh koalisi negara-negara Arab di Yaman
Ketika mempertimbangkan reaksi para komentator politik di Teluk,
jelas bahwa Nasrallah memang berusaha agar relasi Libanon dengan dunia Arab
Muslim yang didominasi oleh kaum Sunni benar-benar hancur dan tidak bisa
diperbaiki.
Para komentator ini, yang pandangan-pandangannya merefleksikan
pemikiran pemerintahan negaranya menggunakan kata-kata yang sangat keras
mencela Nasrallah. Beberapa dari mereka malah menjulukinya sebagai orang yang
"menyakitkan" dan "tidak tahu berterima kasih."
Letnan Jenderal Dahi Khalfan Tamim, Wakil Kepala Polisi dan
Keamanan Umum di Dubai menilai Nasrallah sebagai orang bodoh.
"Seorang teman memberi tahu saya bahwa Nasarallat [nama
samaran yang Tamim berikan kepada Nasrallah] mengatakan bahwa Iran campur
tangan di Yaman sebagai sebuah yayasan amal … Betapa bodohnya dia!" urai
Tamim.
Tariq al-Hamid, seorang editor dan analis politik kenamaan Saudi
mengatakan bahwa Iran dan Hizbulah "menjadi gila" akibat serangan
udara koalisi pimpinan Saudi melawan milisi Houthi dukungan Iran.
Al-Hamid menunjukkan bahwa Iran dan Hizbulah kini frustrasi karena
pukulan mematikan yang ditimbulkan oleh para sekutu mereka di Yaman.
"Mereka berharap bahwa dengan menguasai Yaman, Houthi bisa meningkatkan
semangat para pengikutnya, yang sudah frustrasi karena apa yang terjadi pada
mereka di Suriah," urainya. Semua kelompok masyarakat yang gila di kawasan
ini kini menjadikan Saudi Arabia sebagai target serangan. Apakah perbedaan
antara Hizbulah dan Al-Qaeda. Apakah perbedaan antara Iran dan Negara Islam?
Jawabannya sederhana. Mereka sedang bersaha untuk membangun sebuah kubu
pertahanan tempat berpijak di perbatasan dengan Saudi Arabia."
Ditujukan kepada pemimpin Hizbulah,seorang blogger Saudi menulis: "Engkau akan
membayar tindak kejahatan yang kaulakukan atas Libanon pada 2006, ketika kau
hancurkan Libanon dengan tindakan-tindakan anda yang gampangan. Semua yang kau
cari kala itu adalah melakukan demonstrasi karena banyak warga Arab dan Muslim
berdiri di belakang anda berkat tipuan kotormu." Blogger lain juga menulis; "Sudah
waktunya bagi negara-negara Arab untuk menangkap teroris Nasrallah dan membawa
di pengadilan karena ikut campur tangan dalam urusan Yaman dan kejahatannya
melwan Suriah serta pengkhianatanya atas negaranya sendiri, Libanon."
Nasrallah dan kelompok teroris Hibulah kini semakin terisolasi
dibandingkan sebelumnya di dunia Arab. Padahal, hingga beberapa tahun silam,
Nasrallah dipandang sebagai "pahlawan" dunia Arab karena
perjuangannya melawan Israel.
Kini, bagaimanapun, banyak masyarakat Arab tampaknya sudah sadar
terhadap kenyataan bahwa Nasrallah itu tidak ada apa-apanya, selain wayang,
boneka Iran yang tujuan satu-satunya adalah untuk melayani para tuannya di
Teheran. Ini, tentu saja merupakan khabar baik bagi para warga Arab moderat dan
Muslim di kawan itu. Tetapi masih tetap perlu dilihat apakah Pemerintah AS dan
kekuatan-kekuatan Barat lain juga terbangun dari tidur mereka dan menyadari
bahwa Iran beserta negara-negara pendukungnya memangmerupakan ancaman nyata
bukan saja bagi Israel tetapi juga bagi banyak negara Arab danMuslim.