Wednesday, August 5, 2015

Surat Balasan Dari Penjara Damaskus


(Dalam Dekapan Takdir)

Bila kita mengetahui besarnya pahala dari setiap musibah, maka kita tidak akan pernah memohon agar musibah itu pergi dari kehidupan kita. Mungkin itulah yang membuat orang-orang besar itu teguh dalam menghadapi ujian.
Tiga bulan menjelang ajal semua peralatan tulis-menulis dibersihkan dari ruang tahanan Ibnu Taimiyah. Tak ada yang tersisa meski secarik kertas sekalipun. Walaupun demikian beliau tetap dibolehkan menerima surat yang datang dari murid-muridnya. Untuk membalas surat-surat tersebut, ia mencuci kertas surat yang masuk, menunggunya hingga kering lalu menulis surat balasan dengan arang diatas kertas yang sama.
Dalam kondisi sulit, terdzolimi, ditambah sepi dalam kegelapan Qal'ah Damaskus tak tampak keluh kesah dari raut wajah beliau. Baginya di dalam dan diluar sel tahanan sama saja.

Dalam salah satu surat balasan yang ditulisnya kurang lebih 45 hari sebelum wafat Ibnu Taimiyah berkata:
"Adapun kami Alhamdulillah berada dalam nikmat dan karunia yang setiap hari terus bertambah. 
Allah selalu memperbaharui nikmat-Nya, dari satu nikmat ke nikmat yang lain. 
Keluarnya buku-buku (dari ruang tahanan) merupakan nikmat yang paling besar. 
Sejak lama aku berharap agar buku-buku tersebut dikeluarkan, agar kalian bisa membacanya. 
Akan tetapi mereka enggan mengeluarkan Al-Ikhna'iyyah -bantahan terhadap Ikhna'i As Shufi-.
Adapun kertas-kertas yang di dalamnya ada balasan dari kalian sudah dicuci., 
Keadaanku baik-baik saja. 
Kedua mataku juga dalam keadaan baik, lebih baik dari sebelumnya.
Kami berada dalam nikmat yang sangat berlimpah dan tak terhitung banyaknya. 
Alhamdulillah... bagi-Nya segala puji, pujian yang banyak, baik dan penuh berkah.
Segala yang ditetapkan Allah di dalamnya terdapat kebaikan dan hikmah. 

إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Sesungguhnya Rabb-ku Maha Lembut, terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana." – (QS.12:100)
Seseorang tidak ditimpa keburukan melaikan karena dosanya.

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). ( QS. As-Syura : 30 )
Seorang hamba wajib bersyukur kepada Allah, memuji-Nya setiap saat, dan dalam kondisi apapun, juga hendaknya ia selalu beristigfar atas dosa-dosanya.
Syukur dapat membuat karunia bertambah
Istigfar dapat menolak murka-Nya
Dan tidaklah Allah menkdirkan sesuatu untuk seorang mukmin melaikan pasti baik baginya.
Bila ia diberi karunia, lalu bersyukur itu baik baginya, bila ditimpa musibah, lalu ia bersabar itu juga baik baginya"

-Sekian-

 (Al Uquud : 382-383)


Imam Ibnul Abdil Hadi mengatakan, "Saat buku-bukunya dikeluarkan dari ruang tahanan, beliau menyibukkan diri dengan Ibadah, membaca Al Qur'an, Dzikir dan Tahajud sampai beliau wafat. Di dalam perjara qal'ah beliau mengkhatamkan Al Qur'an sebanyak 80-81 kali. Pada khataman yang ke 81 beliau hanya bisa membaca sampai pada firman Allah:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ. فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa. (QS: Al-Qamar: 54-55)
(Al Uquud: 384)
Rahimullah...
Catatan:
Begitulah kehidupan orang-orang yang telah merasakan manisnya surga dunia sebelum surga akhirat. Syaikhul Islam mengatakan: "Di dunia ini ada surga, barangsiapa ketika di dunia tidk bisa memasukinya, maka dia tidak akan memasuki surga akhirat". Surga dunia itu adalah berdzikir kpd Allah,taat kpd-Nya, cinta kpd-Nya, selalu berusaha dekat dgn-Nya dan merindukan-Nya. Penghuni surga dunia adalah mereka yang hatinya terpaut kepada Allah. Engkau boleh memenjarakan raga mereka, tapi tidak dengan hati mereka. Karena mereka menjalani hidup dengan hati bukan dengan raga semata.
Beliau juga pernah berkata, “Apa yang hendak dilakukan musuh-musuhku terhadapku? 
Sesungguhnya surga dan tamanku ada di hatiku, kemana aku pergi ia selalu bersamaku, jika mereka memenjarakanku maka penjara adalah tempat menyepi bagiku, jika mereka membunuhku maka kematianku adalah syahid, jika mereka mengusirku maka kepergianku adalah rekreasi.” 
(Al Wabilush Shayyib hal 48)

IBNU TAIMIYAH DI MATA MUSUHNYA
Kata orang bijak "Pengakuan musuh adalah penghargaan terbesar dan kejujuran paling tinggi"
Ibnu Az Zamalkani adalah orang yang sangat kuat permusuhannya terhadap Ibnu Taimiyah, meskipun demikian kebencian itu tidak menghalanginya untuk berkata jujur tentang orang yang paling dibencinya. Dia mengatakan,
"Apabila Ibnu Taimiyah ditanya tentang permasalahan pada satu bidang ilmu, maka orang yang melihat dan mendengarkan jawabannya akan menyangka kalau Ibnu Taimiyah tidak menguasai kecuali bidang itu saja, dan yang menyaksikan akan berkesimpulan bahwa tidak ada yang menguasai dengan baik bidang tersebut kecuali dia.
Apabila para ahli fiqih dari berbagai madzhab duduk bersamanya, semuanya mendapatkan faidah darinya menurut madzhab mereka masing-masing, dimana faida-faidah tersebut belum mereka ketahui sebelumnya. Tidak pernah dia mendebat seseorang dan kalah dalam perdebatan itu. Tidaklah ia berbicara dalam ilmu syar'i atau ilmu lainnya melainkan pasti ia mengungguli siapa saja dibidang ilmu tersebut"

Ibnu Makhluf Al Qadhi mengatakan, ''Aku tidak pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah. Kami menyakitinya dan berbuat makar untuknya. Namun ketika dia mampu membalas perbuatan kami, dia justru memaafkan kami dan berhujjah demi membela kami ".
(Muqaddimah Fatawa Al Kubro: 46)
selesai
Madinah 16 shafar 1436 H
ACT El Gharantaly