Tuesday, May 5, 2015

Buku Penebar Fitnah, Kedustaan dan Kesesatan “Al-syiah hum ahlussunnah” (Bagian 3/ Penulisnya Sama)

BANTAHAN BUKU SYIAH YANG DIBAGI-BAGIKAN OLEH ANGGOTA DPR!

3 March 2015

                  

Buku diatas adalah buku yang dibagikan dalam acara Reses anggota DPR (Jalal) ke TARKA &DKM Sekecamatan Cimenyan kemarin tanggal 1 Maret 2015.
Reses atau Masa Reses adalah masa dimana DPR melakukan kegiatan di luar masa sidang, terutama di luar gedung DPR. Misalnya untuk melakukan kunjungan kerja, baik yang dilakukan anggota secara perseorangan maupun secara berkelompok.

Buku aslinya adalah:
                                           
Mengingat bahayanya buku ini, yaitu karena isinya yang berisi kedustaan, kesesatan dan fitnah maka kita perlu menulis tanggapan terhadap penulis buku tersebut dan terhadap isinya, agar masayarakat ahlussunnah yang mendapatkan buku tersebut tidak tersesat, lebih-lebih sudah ada orang yang mempromosikan buku tersebut lewat media.kompasiana.com
Di bagian pertama ini kita menulis tanggapan tetang siapa yang disebut dengan Prof. Dr. Muhammad Tijani ini.
Menurut Wikipedia Muhamad Tijani Samawi adalah kelahiran Tunisia tahun 1943. Tumbuh dalam keluarga bermadzhab Maliki dan menjadi anggota tariqat shufiyyah Tijaniyyah karena itu disebut al-Tijani dari pihak ibunya. Dia seorang sufi kemudian merubah haluannya menjadi syiah disela-sela perjalanannya dari Tunisa ke Libia kemudian Mesir, Lebanon dan Suria dan akhirnya ke Irak. Di sana dia bertemu dengan ulama-ulama Syiah dan terpengaruh dengan akidah mereka. Dan setelah kembali ke Tunis dia mulai mencari dan memilih syiah.
Syaikh Usman bin Muhammad al-Khamis hafizhahullah (seorang ulama Kuwait yang kesohor. Alhamdulillah pada bulan februari kemarin saya diterima oleh beliau di rumahnya di Kuwait dan berdiskusi) dalam kitabnya yang khusus untuk membantah Muhammad al-Tijani yang berjudul Kasyful Jani Muhammad al-Tijani (membongkar kedok penjahat si muhammad Tijani) mengatakan bahwa “muhammad Tinaji adalah seorang mutaalim yang menulis empat buku yaitu:
1.      Tsumma ihtadaitu (Akhirnya Kutemukan Kebenaran.)
2.      Fas alu ahla al-dzikri
3.      Liakuna maa alshadiqin ( Bersama Orang-Orang Benar)
4.      Al-syiah hum ahlussunnah
Dalam buku-bukunya ini dia mencela orang-orang yang benar dan tidak jujur dalam mengutip, persis seperti pendahulunya.”
Syaikh Usman Khamis menulis bantahan untuk keempat tijani tersebut untuk menjelaskan kedustaan tijani dan kezalimannya. Syaikh Usman sudah bertanya kepada para Ulama Tunisia tentang Muhammad Tijani ini –sebab ia mengaku sebagai ulama Tunisia- ternyata mereka tidak mengenalnya .
Kover buku syaikh Usman Khamis:
                                           

Syaikh Usman Khamis berkata: Tijani ini mengaku bahwa ia lulusan Universitas al-Zaitunah di Tunis, dan dia mengaku dulunya seorang sufi dari tarikat tijaniyyah, kemudian pindah ke Saudi arabiyah maka dia menjadi wahhabi yang gotek, lalu pulang ke tunis dan menyebarkan wahhabiyyah di tunis dan mengingkari shufiyyah dan lainnya. Kemudian pergi ke Beirut dan di kapal bertemu seorang yang bernama mun’im dan dia terkesan dengannya. Kemudian dia pergi ke Irak dan setelah itu dia menjadi syiah itsnay asyariyyah. Dia mengaku, tidaklah menjadi syiah kecuali setelah meneliti secara mendalam tentang kebenaran yang akhirnya dia temukan ini.
Andai saja dia jujur dalam hal ini maka kami pasti salut, akan tetapi sangat disayangkan, Muhammad tijani ini memenuhi kitab-kitabnya dengan kedustaan, tadlis dan talbis, sindiran dan celaan. ..
Dalam empat kitabnya itu dia focus pada mencela para sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. dan memang sejatinya syiah tidak memiliki apa-apa selain ini, saat mereka mendebat Ahlussunnah.”
Ini daftar isi buku “Al-Syiah hu ahlussunnah Nabi”:
                                                
Syaikh Usman menjelaskan:
Diantara celaan syiah terhadap para sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, bisa dibagi menjadi empat poin:
1.Kedustaan –kedustaan yang dibuat-buat oleh syiah atas para sahabat
2.Masalah-masalah ijtihadiyyah (yang tidak layak dicela)
3.Kesalahan-kesalahan kecil yang dibesar-besarkan dan ditambah-tambahi dengan kedustaan-kedustaan
4.Kesalahan yang memang dilakukan oleh sebagian sahabat tetapi tenggelam dalam lautan kebaikan para sahabat.
Seandainya Muhammad tijani jujur dalam klaimnya yaitu untuk mencari kebenaran niscaya dia tidak akan berdusta. Sebab orang benar tidak akan berdusta, dan orang batillah yang berdusta.”
Bukti diantara kedustaan Muhammad Tijani adalah:
1.Attijani mengatakan dalam buku Al-Syiah hum Ahlussunnah:” bahwa madzhab ahlussunnah adalah nawashib (yang menurut al-Khu’I nawashib lebih buruk/jahat dari pada yahudi dan nashrani) kemudian dia tidak mengakuinya:
                  https://www.youtube.com/watch?v=2yJ9lcFckMU
                         
  1. At-Tijani mengatakan bahwa Umar melarang mut’ah haji dan mut’ah wanita yang Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- lakukan (padahal Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- tidak melakukan mut’ah wanita). Saksikan video ini
                      
  1. Dia megatakan bahwa para sahabat nabi  murtad khususnya abu bakar dan umar, namun dalam kitabnya “kullul hulul” dia memuji abu Bakar dan Umar:
               https://www.youtube.com/watch?v=VU3Q7FYG-aw
                    
  1. Attijani mengklaim bahwa dia tidak mengambil saksi atau bukti kecuali dari bukhari dan muslim, ternyata tidak:
              https://www.youtube.com/watch?v=5czHLOxbD4I
                    


Dia begitu benci dengan sahabat abu sufyan t sampai mengatakan dalam kaset ceramahnya:” Tuhan yang rela dengan kematian abu sufyan dalam keadaan muslim dan abu thalib dalam keadaan kafir maka kami tidak menginginkan Tuhan ini!!”
  1.       https://www.youtube.com/watch?v=BoVzPfemDuo 
  2.            
                              
Tijani ingin Tuhan lain (sesuai dengan seleranya)!!!
Inilah sekilas tentang Muhammad al-Tijani penulis buku al-Syiah hum Ahlussunnah yangdibagikan dlm acara Reses anggota DPR (Jalal) ke TARKA & DKM Sekecamatan Cimenyan kemarin tanggal 1 Maret 2015.
Ini penerbit buku Syiah yg menyesatkan ini:
                                        
Nantikan bagian berikutnya
Buku bantahan milik Syaikh Usman Khamis bisa didapat di:

Tertawa Bareng Syiah

                                                
Inilah imam-imam Syiah yang berjumlah dua belas yang mereka yakini ma`shum (terbebas dari dosa):
1.Ali bin Abi Thalib (panggilan: Abul-Hasan; gelar:Al-Murtadha).
2.al-Hasan bin Ali (panggilan: Abu Muhammad; gelar: Az-Zaki).
3.al-Husain bin Ali (panggilan: Abu Abdullah; gelar al-Shuhada).
4.Ali bin al-Husain (panggilan: Abu Muhammad; gelar: Zainul-’Abidin).
5.Muhammad bin Ali (panggilan: Abu Ja’far; gelar al-Baqir).
6.Ja’far bin Muhammad (panggilan: Abu Abdullah; gelar: Ash-Shadiq).
7.Musa bin Ja’far (panggilan: Abu Ibrahim; gelar: al-Kazim).
8.Ali bin Musa (panggilan: Abu al-Hasan; gelar: al-Rida).
9.Muhammad bin Ali (panggilan Abu Ja’far; gelar:al-Jawaad).
10.Ali bin Muhammad (panggilan Abul-Hasan; gelar :al-Hadi).
11.al-Hasan bin Ali (panggilan: Abu Muhammad; gelar: al-Askari).
12.Muhammad bin al-Hasan “(panggilan: Abul-Qasim; gelar: al-Mahdi), (belum pernah dilahirkan, tetapi mereka mengklaim kelahirannya pada 256H).

Barangkali kisah Mahdi yang ditunggu ini adalah kisah yang terganjil yang pernah dikenal sejarah. Mereka telah menutup episode para imam dengan sandiwara yang sangat lucu dan seru. Mereka berhasil membuat tertawa para pecinta kisah dan novel. Semua orang yang mendengarnya atau membacanya akan memilih diantara dua: Tertawa atau berdo`a agar akal mereka cepat waras!

Ringkasan dari sandiwara ini adalah, imam mereka yang kesebelas yaitu Hasan Al-Askari tidak memiliki keturunan (mandul). Dia memiliki saudara bernama Ja`far. Saudara ini tidak mungkin jadi imam menurut syarat-syarat mereka. Mereka bimbang dan bingung, karena tidak hadirnya


anak (keturunan) bagi Hasan tidak hanya akan membatalkan imamah, akan terbongkar pula seluruh kebohongan mereka dan tertelanjangi seluruh klaim-klaim mereka. Merekalah yang telah membangun dan meletakkan dasar-dasar, syarat-syarat dan tanda-tanda imam. Bagaimana hal itu terjadi, bukankah mereka itu ma`shum dari salah dan lalai, yang dipilih langsung oleh Allah Ta`ala -seperti yang mereka yakini- karena itu goncanglah perkara Syi`ah, pecahlah persatuan syi`ah karena mereka sekarang tanpa imam dan tanpa agama.Sebab tidak ada agama bagi mereka tanpa adanya imam! Sebab imam adalah hujjah untuk penduduk bumi! Al-Qur`an bukanlah hujjah kecuali dengan hadirnya imam. Dengan imam, alam semesta terjaga. Akan tetapi imam telah mati dan alam masih utuh?!

Maka Syi`ah saat itu berselisih dan pecah menjadi empat belas golongan seperti keterangan An-Nubakhti atau lima belas kelompok seperti keterangan Al-Qummi. Dan keduanya adalah berasal dari abad ketiga Hijriah dan orang yang terdekat dengan peristiwa. Kami akan suguhkan kisah dengan lisan mereka sendiri dari kitab mereka sendiri. Di antara pembesar syi`ah awal adalah Filsuf Imam (lihat majali Al-Mumin,Tustari hal 177). Ia menjelaskan bagaimana kejadian saat itu:
“Sesungguhnya Syi`ah menjadi pusing setelah matinya Hasan Al-Askari. Mereka terpecah-pecah banyak sekali karena perbedaan pendapat.
Satu kelompok berkata bahwa Hasan bin Ali telah mati dan hidup lagi setelah matinya. Seandainya ia memiliki anak, tentu benarlah matinya dan tidak akan hidup kembali karena imamah berlaku untuk pengganti yang telah diwasiatinya.
Satu kelompok berkata, Ja`far adalah imam, bukan Hasan karena Hasan telah mati dan tidak memiliki keturunan, padahal imam tidak akan mati sebelum berwasiat dan memiliki pengganti.
Kelompok lain berkata bahwa imam sesudah Ali bukanlah Ja`far karena ia memiliki banyak hal yang tercela dan ia terkenal dengan itu, juga bukan Hasan karena ia telah mati. Seorang Imam tidak boleh mati sebelum memiliki pengganti (keturunan). Karena itu imam setelah Ali (Al-
Hadi,imam kesepuluh) adalah putranya yang bernama Muhammad ,(tetapi ia pun mati) mati pada zaman bapaknya.

Kelompok lain berkata,bahwa imam setelah Ali adalah Hasan (Al-Askari), dan setelah Hasan adalah saudaranya yang bernama Ja`far. Adapun apa yang diriwayatkan dari Ja`far bahwa imamah tidak boleh beralih kepada saudara setelah Hasan dan Husain itu manakala yang pertama
memiliki pengganti dari anaknya, jika tidak maka akan kembali kepada saudara karena darurat.

Pendapat yang banyak sekali,An-Nubakhti menutup makalahnya bahwa mereka terpaksa mengatakan bahwa Hasan (Al-Askari) memiliki putra. Bagaimana mungkin seorang imam yang telah terbukti
imamahnya dan nama baiknya yang sangat terkenal dikalangan khusus dan umum kemudian meninggal tanpa seorang pengganti.

Namun pendapat ini pun masih ada yang membantah. Mereka mengatakan bahwa Hasan tidak memiliki sama sekali karena kita telah menyelidiki dan menelitinya. Ternyata tepat tak diketemukan. Seandainya boleh bagi kita mengatakan yang semisal Hasan yang meninggal tanpa anak, bahwa dia memiliki anak yang  tersembunyi maka tentu kita boleh mengatakannya untuk setiap orang. Dan tentu  kita boleh mengatakannya Nabi bahwa beliau memiliki putra yang tersembunyi. Dan bahwa Abul Hasan Ar-Ridha meninggalkan tiga putra selain Abu Ja`far yang salah satunya adalah sang imam. Karena datangnya berita  tentang matinya Hasan tanpa putra seperti datangnya berita tentang wafatnya Nabi dengan tidak meninggalkan seorang putra. Padahal Abdullah bin Ja`far tidak meninggalkan seorang putra dan Ar-Ridha tidak memiliki empat orang putra. Anak tersebut jelas batil (tidak ada) tetapi ada benang penghubung yang benar yaitu istri simpanannya. Dia akan melahirkan seorang putra yang akan menjadi imam bilamana ia melahirkan.
Pendapat inipun disanggah kelompok lainnya, sampai………….
Singkat cerita, Akhirnya kelompok kedua belas yaitu Imamiyah berkata: “Yang benar bukanlah seperti yang diucapkan oleh mereka semua. Tetapi Allah memiliki hujjah dari putra Hasan bin Ali, jadi Imam tidak boleh dalam dua saudara setelah Hasan dan Husain. seandainya boleh, tentu benar ucapan sahabat ismail bin Ja`far dan madzhab mereka, dan tentu benar imamah Muhammad bin Ja`far, dan juga tidak boleh bumi ini kosong dari hujjah (imam). (Karena) sekiranya kosong maka tentulah bumi dan orang-orang yang ada diatasnya akan dibalik dan ditenggelamkan.
Karena itu kami percaya dengan matinya Hasan, bahwa dia memiliki putra dan tersembunyi, dan manusia tidak berhak mencari jejak langkah selagi memang tertutup, tidak boleh menyebut namanya dan tidak boleh bertanya tentang tempatnya. Mencarinya adalah haram, tidak halal dan tidak boleh”
Akhirnya selesailah sudah episode sandiwara dan anekdot yang lucu ini yang telah menghibur kita semua. Sungguh sebuah kisah dari kumpulan cerita seribu satu malam.

Sumber:Gen syiah

Buku Penebar Fitnah, Kedustaan dan Kesesatan “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” ( Bagian 2 )

Kedustaan dan Tipu daya Dr. Tijani

Oleh: Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili
Ketiga: Kedustaan dan Penipuannya
Ada banyak contoh yang membuktikan kedustaan penulis, penipuan dan kebohongannya pada buku-bukunya, di antaranya adalah sebagai berikut:
Dalam kitabnya “Asy-Syi’ah Hum Ahlus Sunnah”,
“Sesuai dengan yang telah kita sebutkan bahwa kelompok yang menamakan diri dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka itulah yang menganggap sahnya Khulafa’ Rasyidun yang empat, Abu bakar, Umar, Utsman dan Ali, inilah yang diketahui manusia pada hari ini. Akan tetapi hakekat sebenarnya yang menyakitkan adalah bahwa Ali bin Abi Thalib sebenarnya tidak dianggap Khulafa Rasyidun oleh Ahlus Sunnah, mereka tidak mengakuinya bahkan kekhalifahannya secara syar’i. Ali bin Abi Thalib dimasukkan dalam kelompok al-Khulafa ar-Rasyidun pada waktu yang belakangan sekali, itu pada tahun 230 H, zamannya Ahmad bin Hambal. Adapun sahabat yang bukan Syiah, juga para khalifah, raja dan para amir yang memerintah kaum Muslimin dari zamannya Abu Bakar sampai zamannya Khalifah Abbasiyah, Muhammad bin Rasyid Al-Mu’atshim, tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.  Bahkan ada di antara mereka yang melaknatnya dan tidak menganggapnya termasuk bagian kaum Muslimin. Jika tidak, maka bagaimana boleh bagi mereka mencelanya dan melaknatnya di atas mimbar-mimbar” (Asy-Syiah Hum Ahlus Sunnah, hal 45)
Dia juga berkata, “Setiap itu kami katakan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak menerima kekhalifahan Ali kecuali setelah zamannya Ahmad bin hambal, benar, bahwa Ahmad bin Hambal yang mengatakan itu, akan tetapi Ahli Hadis tidak puas, sebagaimana yang telah kami sebutkan, karena mereka berqudwah dengan Abdullah bin Umar” (Asy-Syiah Hum Ahlus Sunnah, hal 49-49)
Klaimnya bahwa Ahlus Sunnah tidak mengakui kekhalifahan Ali dan tidak menganggapnya sesuai syar’i kecuali setelah zamannya Ahmad bin Hambal, dan bahwa sahabat juga seperti itu bahkan ada di antara mereka yang mengkafirkan Ali adalah kebohongan yang besar dan kedustaan atas nama Ahlus Sunnah wal Jamaah, dimana kecintaan kepada Ali ra. dan berloyalitas padanya, meyakini absahnya kekhalifahannya setelah tiga khalifah rasyidah, dimana dia yang keempat, merupakan suatu hal yang disepakati oleh Ahlus Sunnah di sepanjang masa dan di setiap tempat, dari masa sahabat sampai hari ini. Kemasyhuran masalah ini telah sampai pada tahap mutawatir antara yang khusus dan umum  di sisi Ahlus Sunnah. Juga menjadi hal yang penting dan diterima di sisi mereka. Tidak mungkin ada yang berani mendebat penetapan ini kecuali orang yang sangat bodoh atau yang tenggelam dalam kebohongan dan dusta.
Oleh karenanya, klaim sang rafidhy (selanjutnya yang dimaksud rafidhy adalah Dr. Muhammad Tijani) dalam masalah ini merupakan dalil yang paling terang dan bukti yang paling kuat atas kebohongannya yang sangat parah dan kedustaannya yang  besar.
Di antara contoh kedustaan dan penipuannya yang lain adalah perkataannya dalam kitabnya “Tsummah Ihtadaitu” (Akhirnya Kutemukan Kebenaran), “Di antara hadis-hadis yang saya ambil dan membuat saya berqudwah (menjadikan teladan) kepada Imam Ali adalah hadis-hadis yang ada dalam kitab-kitab shahih Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan saya sudah cek keshahihannya, dan Syiah di sisi mereka paling dha’ifnya, akan tetapi –sebagaimana biasanya- saya tidak akan berdalil dan tidak akan bersandar kecuali pada hadis-hadis yang disepakati oleh kedua pihak”(Tsummah Ihtadaitu, hal 172)

Kemudian dia menyebut hadis-hadisnya:
-         Hadis: “Saya kota ilmu dan Ali pintunya”
-         Hadis: “Sesungguhnya ini adalah saudaraku, pemilik wasiatku, khalifah setelahku, maka dengarlah dan taatilah dia”
-         Hadis: “Siapa yang ingin hidup seperti peri kehidupanku, meninggal sebagaimana aku meninggal dan menempati surga ‘aden yang dibuat oleh Tuhanku maka hendaklah ia berwalikan kepada Ali setelahku dan berwali kepada walinya…” (Tsummah Ihtadaitu, hal 172, 176 dan 191)
(lihat: Al-Maudhu’at karya Ibnul Jauzi: 1/357, At-Tadzkirah fil Ahadits Al Musytahirah karya Az-Zarkasyi: 163, Al Maqashid Al Hasanah karya As-Sakhawi: 169,Kasyf Al Khafa’ karya Al-‘Ajluni: 1/203, Majmu Al Fatawakarya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: 4/410, Minhaj As Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: 7/299-354, Talkhis karya Adz-Dzahabi, dan Mustadrak karya Al Hakim: 3/139)
Ini merupakan kedustaan dan tipuan. Hadis-hadis yang disebutkan tidak ada dalam kitab-kitab shahih Ahlus Sunnah yang menjadi pegangan, mereka pun tidak menghukuminya sebagai hadis shahih, bahkan mereka menghukuminya sebagai hadis batil dan maudhu’, pada pembahasan mendatang kami tengahkan bantahannya terhadap penulis tentang hal itu, saya kemukakan ini hanyalah untuk menunjukkan kedustaannya yang dia klaim (shahih).
Di antara gambaran kedustaannya yang lain adalah apa yang dia klaim  tentang polisi-polisi di Madinah Munawwaroh yang memusuhi orang-orang yang berhaji dengan cara memukul mereka. Ia berkata,
“Suatu hari saya mengunjungi pekuburan Baqi’. Saya berdiri di sana sambil memberikan bentuk kasih sayang saya terhadap arwah Ahlul bait. Di dekat saya ada seorang tua yang menangis. Dari tangisannya saya tahu bahwa dia adalah orang Syiah. Kemudian dia menghadap kiblat dan shalat. Tiba-tiba secepat kilat seorang polisi datang menghampirinya. Polisi ini memperhatikan gerak-gerik orang tua ini dari tadi. Ketika orang tua ini sujud, dia ditendang dengan keras sekali hingga jatuh tersungkur. Dia pingsan tak sadarkan diri beberapa saat. Kemudian si polisi ini memukulnya lagi dan mencaci-makinya dengan kata-kata yang keji. Hatiku terharu melihat nasib orang tua ini, saya kira dia sudah mati. Saya mendekat dan ingin membelanya, kukatakan pada polisi ini, haram bagimu memperlakukan dia seperti ini, kenapa kamu menendangnya padahal dia sedang shalat? Dia menghentakku sambil berkata, ‘Diam kamu, jangan ikut campur, biar tidak kuperlakukan seperti dia’…..”(Tsummah Ihtadaitu, hal 82-83)
Perkataannya ini tidak lepas dari kedustaan dan kebohongan yang diketahui oleh setiap orang Islam yang pernah mengunjungi negeri ini, baik dia haji, umrah, atau selainnya dari para pekerja dan yang memiliki kebutuhan, mereka banyak sekali. Ada jutaan orang yang mengunjunginya dalam setahun. Mereka semua menyaksikan dan merasakan keamanan dan ketentraman yang dirasakan oleh para hujjaj dan pengunjung, juga ketenangan jiwa, dengan cara yang disediakan oleh Daulah Saudiyah Sunniyah Salafiyah berupa fasilitas umum dan bangunan-bangunan, serta sarana-sarana modern dalam berbagai aspek untuk melayani para hujjaj dan pengunjung. Kemudian juga usaha pemerintah dalam mengerahkan polisi untuk berjaga-jaga dalam rangka memberikan kemudahan kepada mereka dengan muamalah yang baik dan lembut. Sampai perjalanan haji dan umrah itu menjadi terasa seperti tamasya yang indah, dimana para hujjajdan orang yang umrah mendapatkan ketenangan dan ketentraman, semua ini tentu dengan karunia Allah kemudian pelayanan Daulah Saudiyah.
Adapun orang Rafidhah (Syiah), semua orang tahu bahwa mereka itu suka menimbulkan masalah dan kekacauan, terlebih lagi di musim haji. walaupun begitu, Daulah (Arab Saudi) diberi taufik oleh Allah untuk melawan kejahatan mereka dengan cara yang paling mudah, menghadapi keburukan dengan kebaikan. Dengan menjaga keamanan negeri ini yang Allah wajibkan kepadanya kemudian kepada kaum Muslimin.
Ini merupakan perkara yang tidak tersembunyi -dengan segala pujian untuk Allah- atas orang yang memperhatikan perkembangan terbaru, lebih khusus lagi bagi jutaan orang yang berhaji dan umrah pada setiap tahun. Maka siapakah yang diperangkap oleh pendusta lagi pendosa ini, dari cerita buatan Rafidhah dan tipu muslihat mereka terhadap kaum Muslimin?!! (Dialihbahasakan oleh lppimakassar.com)



Oleh: Dr. Ibrahim Bin Amir Ar-Ruhaili
Keempat:Kontradiksi Perkataan Tijani
Perkataan-perkataan penulis saling bertentangan satu dengan yang lainnya, begitu juga dengan pernyataan-pernyataan yang ia lontarkan. Hampir tidak ada masalah yang ia sebutkan kecuali terdapat kontradiksinya di tempat lain. Hingga hal ini menjadi ciri tersendiri kitab ini. Dan ini tidak mengherankan karena yang demikian adalah ciri khas para pengikut hawa nafsu dan pelaku bid’ah, karena sebenarnya perkataan dan pernyataan mereka dibangun atas pikiran-pikiran manusia semata dan hawa nafsu mereka, Allah I berfirman :
Seandainya Al Qur’an itu berasal dari selain Allah maka mereka akan mendapatkan di dalamnya pertentangan yang banyak. (Terjemahan QS. An-Nisa’: 82)
Berikut ini beberapa kontradiksi dalam kitab tersebut:
1.Dalam buku Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah ia mengatakan, “Satu dalil saja sudah cukup membuktikan kepada kita, sebagaimana yang telah kami sebutkan, bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah tidaklah dikenal kecuali pada abad kedua hijriah dengan menolak Syiah yang telah mengakui dan menjadikan Ahlul bait sebagai pedoman. Kami tidak mendapati sedikitpun dalam fiqh dan ibadah mereka yang bersumber dari Sunnah Nabawiyah yang diriwayatkan dari Ahlul Bait” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah, hal 300)
Perkataannya ini bertentangan dengan pernyataannya yang lain pada kitab yang sama, “Jika kita ingin memperluas pembahasan kita akan sampai pada kesimpulan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah-lah yang memerangi Ahlul Bait Nabi yang dipelopori oleh para pemimpin Bani Umayyah dan Abbasiyah. Oleh karena itu kalau Anda lihat aqidah dan kitab-kitab hadis mereka Anda tidak akan mendapatkan sedikitpun fiqh ahlul bait yang disebut-sebut. Bahkan, Anda akan temukan semua fiqh dan hadis mereka bersumber dari musuh-musuh ahlul bait” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah, hal 295)
Pada teks yang pertama ia mengklaim bahwa semua aqidah dan fiqh ahlu sunnah merujuk kepada Ahlul Bait, sedangkan pada teks yang kedua kebalikannya 180 %. Ia mengklaim bahwa ahlu sunnah mengambil semua aqidah dan fiqh mereka dari musuh-musuh Ahlul Bait dan juga fiqh Ahlul Bait tidak disebutkan sama sekali.   
2.Perkataannya, “Isyarat menunjukkan bahwa syiah mengambil hukum berlandaskan al Qur’an dan Sunnah dan tidak menambahkannnya sedikit pun, itu karena adanya teks-teks yang ada pada para Imam mereka di setiap masalah yang dibutuhkan oleh manusia” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah, hal 138)
Bertentangan dengan perkataannya, “Rangkaian ahli fiqhi mujtahid dimulai sejak zaman itu hingga hari ini saling bersambung tanpa ada yang terputus. Di setiap masa ada satu rujukan (marja’) utama atau beberapa rujukan milik syiah, mereka bertaklid kepada amalan para ulama yang dijadikan marja’ itu, sesuai dengan risalah-risalah ilmiah yang digali hukumnya oleh setiap ulama dari al qur’an dan sunnah, dan mereka tidak berijtihad kecuali dalam urusan kontemporer yang ada pada zaman itu disebabkan perkembangan ilmu dan teknologi” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah, hal 144)
Pada teks yang pertama ditegaskan bahwa syiah berpatokan pada teks alqur’an dan Sunnah, dan tidak menambahkannya sedikit pun, karena telah ada nash yang cukup bagi mereka pada setiap permasalahan.
Namun pada teks yang kedua ia katakan bahwa rangkaian para fuqaha’ mujtahidin syiah senantiasa bersambung dari masa ke masa, mereka menggali hukum dari teks-teks (Al Quran dan hadis) yang mereka butuhkan berupa permasalahan-permasalahan kontemporer.
3.  Perkataannya, “Adapun para Shahabat yang bukan golongan syiah, para khalifah, raja dan umara yang memerintah kaum muslimin sejak era Abu Bakar hingga masa khalifaan Abbasiah Muhammad bin Ar-Rasyid al Mu’tashim tidak mengakui kekhalifaan Ali bin Abu Thalib t bahkan ada diantara mereka yang melaknatnya, dan tidak mengannggapnya sebagai muslim” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah hal 45)
Juga perkataannya, ”Dan setiap itu kami katakan bahwa Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak mengakui kekhalifaan Ali bin Abu Thalib kecuali jauh setelah masa Imam Ahmad bin Hambal (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 38)
Teks-teks lain yang menunjukkan hal yang sama sangat banyak. (lihat: Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 24-49-152-229-230)
Semua ini bertolak belakang dengan perkataannya,“Adapun Ali bin Abu Thalib dibaiat oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar tanpa ada rasa paksaan dan itu secara menyeluruh kecuali Muawiyah dari syam” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 232)
Juga perkataannya, “Dan adakah penanya yang bertanya kepada Ibnu Umar dan yang berkata dengan ucapannya dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah, kapankah terjadi Ijma’ pada seorang khalifah dalam sejarah seperti yang terjadi pada Amirul Mukminin, khalifah Ali bin Abu Thalib?” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 231)
Begitu juga perkataannya tentang Ibnu Umar Radiallahu ‘anhuma,”Kami menganggap ia tidak mau membaiat Ali bin Abu Thalib yang kaum muslimin bersepakat (untuk membaiatnya)” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 232)
Kita tidak tahu, mana perkataannya yang kita bisa pegangi, apakah klaimnya bahwa Ahlu Sunnah tidak mengakui kekhalifahan Ali hingga zamannya Imam Ahmad bin hambal? atau ungkapannya bahwa para sahabat sepakat atas kekhalifaan Ali bin Abu Thalib sejak awal tanpa ada paksaan?
4.  Perkataannya, “Pada bagian ini sejarah telah menuliskan kepada kita bahwa Imam Ali adalah orang yang paling alim diantara para sahabat, dan para sahabat menjadikannya sebagai tempat untuk bertanya atas masalah-masalah penting. Dan kami tidak dapatkan bahwa Imam Ali pernah merujuk kepada salah satu dari mereka. Abu Bakar mengatakan, “Allah tidak menyisakan bagiku satu masalah rumit kecuali Abul Hasan (Ali) mengetahuinya” dan Umar bin Khattab berkata, “Seandainya bukan Ali, binasalah Umar”.(Tsumma Ihtadaitu hal. 173)
Pernyataan ini sangat bertentangan dengan perkataannya, “Mereka menjauhi Ali bin Abu Thalib, mereka menyelisihinya dan meninggalkannya serta tidak mengunjungi rumahnya. Tidak menyertainya dalam urusan apapun selama seperempat abad, supaya menjadi hina dan dijauhi oleh manusia …dan memang betul Ali salamullahi ‘Alaihi berada pada keadaan seperti itu selama masa khalifah Abu Bakar, Umar, dan Ustman bin Affan, semuanya menghinakannya, meredupkan cahayanya serta menyembunyikan keutamaan dan kemuliannya”(Fas’alu ahla adz dzikr hal 252).
5.  Perkataannya, “Dan hal ini tidak menjadikan kaum Quraisy takjub. Olehnya Kaum Quraisy kembali emosi setelah wafatnya Rasulullah r. mereka berusaha menghabisi semua keturunannya, mereka kelilingi rumah Fatimah dengan kayu bakar, seandainya bukan Ali yang menyerahkan diri dan mengorbankan haknya atas kekhalifahan, maka  ia akan memberi putusan buruk kepada mereka, dan Islam akan berakhir sejak hari itu” (Asy syiah hum ahlu Sunnah hal. 110-111)
Pernyataan ini ia tentang dan tolak sendiri ketika menjawab seorang penanya yang diakui bersumber darinya yaitu: Apakah Imam Ali rela terhadap apa yang terjadi dan membaiat al jama’ah?, ia menjawab,”Tidak, Imam Ali tidak ridha terhadap apa yang terjadi dan ia tidak diam. Bahkan ia berhujjah terhadap segala sesuatu, ia tidak mau membaiat mereka karena takut ancaman....Ali tidak diam. Sepanjang hidupnya, setiap mendapatkan kesempatan ia akan membalas orang yang mendzoliminya dan merampas haknya. Cukuplah apa yang ia katakan dalam khutbahnya yang terkenal di Asy-Syaqsyaqiyah sebagai satu dalil.(Fas’alu Ahla Adz-Dzikri hal 250-251).
6.  Perkataannya, “Kaum muslimin –tanpa ada perbedaan- telah sepakat untuk mencintai Ahlu bait. Dan untuk selainnya mereka berselisih faham” (fas’alu ahla adz dzikr hal. 164)
Ini bertentangan dengan perkataannya yang termuat dalam paparannya tentang Ahlu Bait, “Olehnya itu anda melihat mereka tidak memiliki wujud di sisi Ahlu Sunnah wal Jama’ah dan tidak pula terdapat dalam rentetan para Imam dan Khalifah yang mereka jadikan teladan, padahal salah satu dari mereka merupakan Imam Ahlu bait Alaihimussalam” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah hal. 238)
7.  Perkataannya, “Saya tambahkan bahwa Imam Ali ketika menjadi Khalifah, beliau segera mengembalikan kaum muslimin kepada sunnah nabawiyah. Dan hal pertama yang ia lakukan adalah membagikan harta baitul mal…” (Asy-Syiah hum Ahlu Sunnah hal 189)
Dan perkataannya, “Cukuplah Ali bin Abu Thalib mengembalikan manusia kepada Sunnah, hingga lebih dari pada para sahabat, mereka dikagetkan dengan hal bid’ah yang dilakukan oleh Umar” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 190)
Dan juga perkataannya, “Sesungguhnya amirul mukminin, Ali, tidak memaksa kaum muslimin untuk membaiatnya dengan memakai kekuatan, sebagaimana yang dilakukan khalifah-khalifah sebelumnya, namun beliau Salamullahi ‘Alaihi dalam menetapkan hukum selalu berpatokan kepada alqur’an  dan Assunnah, tidak merubah dan menggantinya” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 198)
Ini semua sangat bertentangan dengan perkataannya yang lain, “Jika saja Ali bin Abi Thalib alaihi salam -satu-satunya menentang- ia kerahkan kemampuannya untuk mengembalikan manusia kepada sunnah nabawiyah melalui perkataan, perbuatan dan hukum yang ia terapkan semasa khilafahnya. Akan tetapi itu tidak ada gunanya karena mereka sibuk dengan peperangan” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal. 260)
Begitu juga dengan perkataannya, “Ini dia kitab-kitab shahih mereka menjadi bukti benarnya apa yang kami katakan, bahwa beliau Salamullhu alaihi telah berusaha semaksimal mungkin menghidupkan sunnah nabawiyah dan mengembalikannya kepada asalnya. Akan tetapi tidak dapat diterima pendapat  orang yang tidak ditaati. Sebagaimana ketika ia mengatakannya sendiri” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal. 182)
Dan begitu juga dengan perkataannya, “Beliau menghabiskan masa kekhalifaannya dengan perang berdarah, sehingga ia mewajibkan suatu kewajiban terhadap orang-orang yang berpaling, orang-orang yang menyimpang dan orang yang murtad. Tidak ada yang keluar dari itu kecuali dengan Syahid (meninggalnya) beliau Salamullahi alaihi dan ia bersedih atas umat Muhammad”  (La akuuna ma’a ash shodiqin hal 81).

Ini semua adalah beberapa contoh yang bersumber dari kitab-kitabnya berupa kesimpangsiuran dan kontradiksi. Seandainya saya ingin menyebutkan tentang ini saja -kekeliruan penulis dari kontradiksinya-, maka saya akan menyebutkan lebih banyak lagi, dimana kitab-kitabnya penuh dengan hal-hal seperti itu, cukuplah dengan contoh-contoh yang telah saya sebutkan, agar tidak terlalu panjang dan tetap tercapai tujuan yang ingin disampaikan yang dari itu semua jelaslah kontradiksi dan kegoncagan penulis, serta kebimbangannya yang dengannya kita ragu terhadap riwayat-riwayat yang ia nukil dan dalam mengambil pendapat-pendapatnya.
(Sebelum lanjut ke silsilah berikutnya kami ingatkan bahwa beberapa seri ini merupakan bantahan secara umum terhadap empat buku Dr. Muhammad Tijani, setelah bantahan umum ini selesai, kita akan masuk ke dalam bantahan secara khusus terhadap bukunya "Akhirnya Kutemukan Kebenaran", Insya Allah, Mudah-mudahan antum bisa bersabar menunggu)
(Dialihbahasakan oleh lppimakassar.com)

Buku Penebar Fitnah, Kedustaan dan Kesesatan “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” ( Bagian I )

Buku “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” yang dalam versi bahasa arabnya berjudul “Tsumma Ihtadaitu” karangan Dr. Muhammad At-Tujani As-Samawi merupakan salah satu buku di antara deretan buku-buku penebar fitnah, kedustaan dan kesesatan yang banyak menipu umat Islam. Mereka tertipu dari tutur bahasanya yang mengalir dan indah, sehingga dengan kebodohan mereka, mereka terlena dan terjatuh dalam perangkapnya.
Buku tersebut merupakan buku memoar kisah perjalanannya dalam mencari “kebenaran” dari berbagai negeri yang ia kunjungi. Sehingga alur cerita yang demikian menggugah banyak orang yang tidak menyadari pesan busuk yang terkandung di dalamnya.

Menurut sepengetahuan kami, belum ada buku berbahasa Indonesia yang membantah buku tersebut, padahal buku versi bahasa indonesianya sudah terbit sejak lama, sekitar tahun 1993 M. karenanya banyak orang yang tidak mempunyai refrensi memadai untuk menimbang isi buku itu. Kalau buku bantahan berbahasa arab itu sudah banyak, di antara yang kami punya adalah buku “Kasyf al Jani li Muhammad At-Tijani” karangan Syekh Utsman bin Muhammad Al-Khamis -hafizahullah-, kemudian buku “Al-Intishar li Ash-Shahbi wa Al-Aal Min Iftira’ati As-Samawi Adh-Dhaal” karangan Syekh Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili -hafizahullah- dan terkahir buku “Bal Dhalalta, Kasyfu Abathil At-Tijani Fi Kitabihi Tsumma Ihtadaitu”.

Maka lewat media ini kami berusaha menerjemahkan isi dari buku-buku di atas, terutama buku pertama dan kedua secara berseri, dan jika nanti sudah selesai kami berniat untuk menerbitkannya dalam bentuk buku terjemahan, insya Allah. 
Untuk memulainya kami nukilkan pengantar dari Syekh Utsman bin Muhammad Al-Khamis -hafizahullah- dalam buku beliau, “Kasyf al Jani li Muhammad At-Tijani”, yang berbicara tentang Profil At-Tijani.
Syekh Utsman Al Khamis berkata,
Tijani mengaku bahwa ia merupakan alumni dari Universitas Az-Zaitunah di Tunisia, ia dulu merupakan seorang Shufi menisbahkan diri ke dalam firqah At-Tijaniyah, kemudian ia pindah ke Kerajaan Saudi Arabia, di sana ia berubah menjadi seorang Wahabi dan ketika kembali ke Tunisia, ia menyebarkan faham Wahabi dan mengingkari faham Sufi dan selainnya. Kemudian setelah itu ia pergi ke Beirut dan bertemu di Bakhirah dengan seorang yang bernama Mun’im, ia terpengaruh dengannya. Kemudian ia pergi ke Irak, di sana ia berubah menjadi seorang Syiah Itsna Asyari, ia mengaku bahwa ia tidak menjadi seorang Syiah kecuali setelah melakukan pencarian yang sungguh-sungguh akan kebenaran yang pada akhirnya ia sampai padanya.
Semoga saja ia seorang yang jujur dalam pengakuan-pengakuannya, jika demikian kami akan menaruh tangan kami pada tangannya. Akan tetapi dengan kesedihan yang mendalam, ternyata kitab-kitabnya penuh dengan kebohongan, penipuan, pemutar-balikan, hal gila dan fitnah. Ini semua akan anda lihat dalam lembaran-lembaran buku ini.
Ia menitik beratkan satu pembahasan dalam keempat bukunya yang telah disebutkan (Tsumma Ihtadaitu, Fas’aluu Ahla Adz-Dzikri, La’akunu Ma’a Ash-Shadiqin dan Asy-Syi’ah Hum Ahlus Sunnah), yaitu mencela sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal sebenarnya Syiah tidak memiliki sedikitpun selain ini ketika mereka berdialog dengan Ahlus Sunnah. 
Mereka tidak punya argumen dalam hal ini, karena Ahlus Sunnah tidak mengatakan bahwa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam orang-orang yang maksum seperti pribadi-pribadi, bahkan mereka (Ahlus Sunnah) membolehkan di antara mereka terjatuh dalam kesalahan, akan tetapi mereka dengan kesalahan ini memuliakan mereka dan melihat kesalahan-kesalahan ini dengan pandangan orang yang adil, membandingakan antara kesalahannya yang sedikit dan kebenarannya yang banyak.
Di antara hal yang dengannya Syiah mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam itu terbagi menjadi empat bagian:
  
1.  Kebohongan-kebohongan yang didustakan kepada mereka yang sebenarnya tidak pernah terjadi
2.  Masalah-masalah yang merupakan ruang ijtihad
3.  Kesalahan-kesalahan kecil yang dibesar-besarkan kemudian ditambah dengan kebohongan-kebohongan.
4.  Kesalahan-kesalahan yang terjadi pada mereka yang tenggelam dalam lautan kebaikan mereka.

Seandainya saja Tijani jujur dalam pengakuan-pengakuannya, padahal ia sebenarnya pencari kebenaran, kenapa ia berbohong. Pembawa kebenaran itu tidak berbohong dan pembawa kebatilan-lah yang akan berbohong, wallahul Musta’an.

Akan kemukakan bantahan secara umum kepada At-Tijani dan Metodenya dalam menyusun buku-bukunya…


Oleh. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili
Sebelum membantah secara rinci masalah-masalah yang disebutkan oleh penulis (Dr. Muhammad At-Tijani, dan setiap disebutkan “penulis” maka yang dimaksud adalah Dr. Tijani) dalam bukunya yang pertama “Tsumma Ihtadaitu” (Akhirnya Kutemukan Kebenaran) saya harus menjelaskan terlebih dahulu cara dan metode yang ia gunakan dalam penyusunan bukunya, bagaimana tingkat kejujurannya, amanahnya, dan bagaimana kedalaman ilmunya, agar pembaca mengetahui itu semua sebelum masuk pada tahap bantahan.
Itu dengan cara menjelaskan tingkat kebodohan penulis (Dr. Muhammad At-Tijani), tipu dayanya, kedustaannya,tadlis (pemutarbalikan fakta) nya dan kontradiksi ucapan-ucapannya. Dan juga penjelasan bagaimana ia mengikuti prasangka semata dalam berbagai pernyatannya, tidak becusnya dalam menukil, melencengnya dari prinsip-prinsip dasar penyusunan sebuah karya ilmiah  pada buku-bukunya, penyimpangannya terhadap metode yang ia terapkan sendiri, bahkan penyimpangannya terhadap akidah Rafidhah yang sudah dikenal di kalangan mereka.
semua ini akan dipaparkan dengan cara menelaah perkataan-perkataannya, membandingkannya, kemudian mendialogkan masalah-masalah yang ia tulis pada keempat bukunya yang telah disebutkan.
Berikut perinciannya:
Pertama: Kebodohannya
Yang menunjukkan kebodohannya adalah apa yang ia tulis tentang dirinya, bahwasanya dia tidak memiliki perpustakaan khusus kecuali setelah seorang Rafidhah di Irak menghadiahkan kepadanya sekumpulan kitab, ia berkata, “Ketika saya masuk ke rumah saya, saya dikagetkan dengan banyaknya buku yang tiba sebelum saya dan saya tahu dari mana datangnya…..saya sangat senang, kemudian saya susun buku-buku itu dalam satu rumah khusus yang saya beri nama perpustakaan”(lihat “Tsumma Ihtadaitu, hal 86-87”)
Kemudian setelah itu dia berkata, “Saya pergi ke ibu kota, saya beli shahih Bukhari, Muwaththa’ Malik, dan selainnya dari kitab-kitab yang terkenal, saya tidak menunggu pulang ke rumah, di sepanjang jalan antara Tunisia dan Qafshah dalam angkutan umum yang saya naiki, saya buka-buka Shahih Bukhari, saya cari kisah Tragedi hari kamis dengan berharap agar tidak mendapatkannya, namun sayangnya saya mendapatkannya…..” (Tsumma Ihtadaitu, hal 88)
Silakan pembaca perhatikan ucapannya, “Kemudian saya susun buku-buku itu dalam satu rumah khusus yang saya beri nama perpustakaan”, seakan-akan dialah orang yang pertama kali membuat perpustakaan di rumah kemudian memberinya dengan nama ini (perpustakaan) yang dia kira belum ada orang yang mendahuluinya (dalam memberikan nama dengan nama “perpustakaan”), kemudian dia beli dua kitab shahih dan kitab-kitab yang terkenal dalam bidang hadis setelah sebelumnya dia tidak mempunyainya dan tidak mengetahuinya.
Dalam waktu yang sama, hampir-hampir semua kitab ini dimiliki oleh penuntut ilmu yang pemula, bagaimana lagi jika orang yang mengklaim dirinya ulama, kemudian memberanikan diri melakukan penelitian dan penyusunan dalam masalah yang paling kompleks dan paling rumit, yaitu masalah akidah.
Inilah dia. Penulis juga telah memperkenalkan dirinya bahwa dia tidak mempunyai ilmu-ilmu syari’i, dimana ia mengklaim –karena kebodohannya- bahwa dia tidak butuh pengetahuan perihal para sahabat dalam penelitiannya.
Ia berkata dalam nukilan perdebatannya dengan seorang alim sunni, “Ia berkata: ‘Anda tidak mungkin melakukan ijtihad sebelum anda mengetahui tujuh belas ilmu, di antaranya ilmu tafsir, bahasa, nahwu, sharf, balaghah, hadis, tarikh, dan lain sebagainya.’ Kemudian saya potong dan saya katakan, ‘Saya tidak berijtihad untuk menjelaskan kepada manusia hukum-hukum yang ada dalam Al Quran dan Sunnah atau ingin menjadi pemilik mazhab dalam Islam, tidak, akan tetapi agar saya mengetahui siapa yang berada di atas kebenaran dan siapa yang berada di atas kebatilan, untuk mengetahui jikalau Imam Ali berada di atas kebenaran atau Muawiyah misalnya, dan ini semua tidak harus menguasai tujuh belas ilmu tadi, cukuplah saya mempelajari peri kehidupan keduanya dan apa saja yang mereka perbuat sampai saya menjelaskan hakikatnya’.” (Tsumma Ihtadaitu, hal 150)
Saya katakan, dengan cara inilah penulis jatuh dalam banyak kesalahan dan kepandiran yang penuntut ilmu pemula saja tahu.
Seperti ungkapan dalam bukunya, Fas’aluu Ahla Adz-Dzikri“Jika anda bertanya pada mereka –Ahlus Sunnah- tentang orang-orang munafik yang pada mereka turun lebih dari 150 ayat dalam dua surat, At-Taubah dan Al-Munafiqun, mereka akan menjawab, ‘Dia itu Abdullah bin Ubay dan Abdullah bin Abi Salul’, setelah dua nama ini mereka tidak akan mendapatkan nama lain” (Fas’aluu Ahla Adz-Dzikri, hal 119)
Dia juga katakan, “Bagaimana mungkin orang-orang munafik hanya dibatasi pada Ibnu Ubay dan Ibnu Abi Salul yang sudah diketahui oleh seluruh kaum Muslimin” (Fas’aluu Ahla Adz-Dzikri, hal 119)
Dia telah terjatuh dalam beberapa kesalahan yang sangat ceroboh:
Pertama: Perkataannya, “Yang pada mereka turun lebih dari 150 ayat dalam dua surat, At-Taubah dan Al-Munafiqun”, jumlah ayat dari dua surat, At-Taubah dan Al-Munafiqun tidak sampai 150 ayat, At-Taubah berjumlah 129 ayat dan Al-Munafiqun berjumlah 11 ayat, dengan catatan bahwa tidak semua ayat itu berbicara tentang perihal orang-orang Munafik, 3 ayat akhir dari dari surat Al-Munafiqun tidak berbicara tentang orang-orang munafik, begitu juga pada surat At-Taubah banyak ayat-ayatnya yang tidak berbicara tentang perihal orang-orang munafik.
Dan yang dipahami dari perkataannya bahwa ayat-ayat yang turun berkenaan dengan orang-orang munafik terbatas pada dua surat, ini merupakan kesalahan yang lain, padahal banyak ayat yang turun berkenaan dengan orang-orang munafik tidak hanya pada dua surat tadi, seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa’, Al-Maidah dan lain sebagainya. (sebagai contoh, dalam surat Al Baqarah: 8-20, 204-206, dalam surat Ali Imran: 120 dan 154, dalam surat An-Nisa’: 60-66, 72-73, 138-146, dan dalam surat Al-Maidah: 41, 52 dan 53)
Kedua: Sangkaannya bahwa Ibnu Ubay bukanlah Ibnu Salul dan bahwa mereka itu dua laki-laki yang berbeda, padahal sebenarnya mereka itu satu orang, dia itu Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafikin dan pemimpin mereka di Madinah.
Ketiga: Perkataannya, “Setelah dua nama ini mereka tidak akan mendapatkan nama lain”, ini di antara kebodohannya yang murokkab (sangat bodoh), dia sangat lancang berbicara tanpa ilmu, tidak juga dengan kroscek terlebih dahulu. Jikalau perkataan-perkataan serampangan ini dirujuk kembali (dicek) kepada kitab yang paling masyhur tentang Sirah, yaituSirah Ibnu Hisyam, dia akan mendapatkan bahwa penyusun buku tersebut memaparkan dalam juz dua nama-nama kelompok besar orang-orang munafik lebih dari 10 halaman, beliau menyebutkan nama-nama mereka beserta nama bapak-bapak mereka, beliau juga menjelaskan sebagian ayat Al-Quran yang turun kepada mereka orang perorang. (lihat Sirah Ibnu Hisyam: 2/548-557)
Nama-nama ini selain dari pada nama-nama yang disebutkan oleh ahli tarikh dan ahli tafsir yang lain dalam kitab-kitab tafsir.
Juga di antara kebodohan penulis yang sangat fatal adalah perkataannya, “Para sahabat yang murtad seperti Mu’awiyah, Amr bin Ash, Mughirah bin Syu’bah, Abu Hurairah, Ikrimah dan Ka’ab Al-Ahbar dan selian mereka diganti dengan sahabat yang pandai bersyukur…..” (Tsummah Ihtadaitu, hal 158). Perkataan ini dan apa yang dikandungnya berupa penyimpangan dan kesesatan yang sangat jauh, untuk bantahannya silakan merujuk pada tempat pembahasan dalam buku ini (Al-Intihsar, Dr. Ibrahim bin Amir Al-Ruhaili), maka sesungguhnya ia mengandung kesalahan yang buruk dimana dia memasukkan Ka’ab Al-Ahbar sebagai sahabat padahal dia termasuk generasi Tabi’in, beliau masuk Islam setelah wafatnya Nabi Shallallahu alaihi wasallam, kemudian ia mendatangi kota Madinah di masa Umar radhiyallahu ‘anhu, ini sudah masyhur di kalangan ahlul ilmi, akan tetapi penulis dengan kebodohannya telah jatuh pada kesalahan berat dan gamblang seperti ini.
Secara umum, kesalahan-kesalahan penulis menunjukkan kebodohannya, perbekalan ilmunya yang sedikit. Yang saya kemukakan ini hanya sebagai contoh yang menunjukkan kebodohannya, sebelum masuk ke dalam perincian bantahan kepadanya, di tengah bantahan akan ada tambahan dari apa yang telah disebutkan di atas, Insya Allahu Ta’ala.

Kedua: Kekagumannya Terhadap Dirinya Sendiri
Keperibadian penulis dihiasi dengan berbangga atas dirinya sendiri, itu nampak di sela-sela pengabarannya tentang dirinya, dan mentazkiyah dirinya sendiri dalam banyak tempat di dalam buku-bukunya, di antara contohnya:
Perkataannya tentang perjalanan hajinya, “Karena itu saya mengira bahwa Allah-lah yang memanggilku, membimbingku, dan membawa saya kepada tempat itu di mana jiwa akan mati tanpa harus sampai kepadanya dengan berlelah-lelah dan mengharap” (Tsummah Ihtadaitu, hal 14)
Dia juga berkata, “Sebagai bimbingan rabbani yang lain, dijadikan untukku bagi setiap orang yang melihatku dari para delegasi akan mencintaiku dan meminta alamatku untuk bisa berkirim surat” (Tsumma Ihtadaitu, hal 14)
Dia berkata, “Mereka juga memberikan berita gembira kepada saya bahwa Shahib Az-Zaman, yakni Syekh Ismail, telah memilihku untuk menjadi Khashshatul-Khashshah, yakni orang yang paling dekat dengannya. Mendengar ini hatiku terasa gembira sekali. Saya menangis lantaran sangat terharunya pada karunia Allah yang terus mengangkatku dari makam yang tinggi, dari kedudukan yang baik kepada yang lebih baik lagi….”(Tsummah Ihtadaitu, hal 16)
Inilah dia sebagian perkataan penulis dalam menggambarkan dirinya sendiri, dan mentazkiah dirinya. Cukuplah itu sebuah keburukan bagi seseorang, kekurangan pada agama, ilmu dan akalnya, Allah swt berfirman,
“Maka Janganlah kamu mentazkiah (mensucikan) dirimu sendiri, Dialah yang mengetahui siapa yang bertakwa”(Terjemahan QS. An-Najm: 32),
Ia juga berfirman, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Perhatikanlah, bagaimana mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka)” (Terjemahan QS. An-Nisa’: 49-50)
Bersama dengan jatuhnya orang hina ini ke dalam bahaya yang besar, ternyata terkumpul juga padanya dosa yang lain, yaitu bangganya dia terhadap maksiat-maksiat seperti musik, banyaknya melakukan perjalanan ke negeri-negeri kafir, pengetahuannya tentang negeri-negeri itu, di mana dia katakan ketika ia berbicara tentang kunjungannya ke Mesir,
“….Tampaknya mereka kagum terhadap semangat, ketegasan serta keluasan wawasan yang kumiliki. Jika mereka bicara tentang seni, saya bernyanyi. Apabila mereka berbicara tentang zuhud dan kehidupan sufistik, kuceritakan bahwa saya dari tarekat Tijaniyah dan juga Madaniyah. Jika mereka bicara tentang dunia barat, kuceritakan kepada mereka tentang Perancis, London, Belgia, Belanda, Italia dan Spanyol yang sempat kukunjungi di masa-masa liburan musim panas. Bila mereka berbicara tentang haji maka kuceritakan bahwa saya juga telah menunaikan haji dan umrah. Kuceritakan kepada mereka tempat-tempat yang tidak mereka ketahui, sekalipun oleh mereka yang pernah pergi haji sebanyak tujuh kali, seperti Gua Hira, Gua Tsur, dan tempat dimana Nabi Ismail disembelih. Bila mereka bicara tentang sains dan penemuan-penemuan, kuceritakan juga tentang sains secara detail dan rinci. Bila mereka berdiskusi tentang politik, saja juga kemukakan pandangan-pandangan saya” (Tsumma Ihtadaitu, hal 23-24)
Sampai dia berkata, “Dan yang penting dari semua kisah yang telah saya ceritakan dalam penggalan ini adalah mulai membumbungnya perasaanku dan sikap mengagumi diri yang mulai timbul. Saya berpikir bahwa saya telah menjadi seorang alim yang berpengetahuan tinggi. Betapa tidak, ulama-ulama al-Azhar sendiri yang telah mengakui hal tersebut. Ada di antara mereka yang berkata: ‘Tempatmu sudah selayaknya di al-Azhar ini’. Dan yang lebih membanggakan lagi adalah bahwasanya Rasulullah saw memberikan izin kepadaku untuk melihat peninggalan-peninggalannya, seperti yang dikatakan oleh pegawai yang mengurus masjid Sayyidina Husain di Kairo…” (Tsummah Ihatadaitu, hal 24)
Maka selamat untuk penulis dengan kemuliaan ini. kemuliaan-kemuliaan inilah yang telah membuatnya bersungguh-sungguh untuk menetapi akidah Rafidhah, dan masuk dalam gerombolan Ibnu Saba’, Ibnu Al-Alqami, Nashir (Asy-Syirk) Ath-Thusi, Ibnu Muthahhir, Khumaini dan selain mereka.
Kita memohon kepada Allah dengan Kemuliaan-Nya dan Kemurahan-Nya keselamatan, ampunan dan akhir yang baik. Dan menjauhkan kita dan juga kaum Muslimin dari jalan kesesatan. (dialihbahasakan olehlppimakassar.com)
Sumber: Al-Intishar, Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili, hal 154-162