Thursday, June 4, 2015

Jelang Akhir Rezim Assad?

“Arab Saudi Tak Lagi Peduli Siapa Di Antara Kami Yang Menang, Selama Bukan Isis.”

Setahun lalu, Presiden Suriah Bashar al-Assad dan para sekutunya memproklamasikan kemenangan mereka atas musuh-musuhnya. Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah, salah satu sekutu utama Assad, mengatakan bahaya bagi rezim Assad sudah lewat. Suriah, menurut Nasrallah, juga sudah lepas dari kemungkinan terbelah konflik sektarian. “Musuh-musuh Assad tak bisa menjatuhkannya, tapi mereka bisa saja terus merongrong,” kata Nasrallah kala itu. Sejumlah kemenangan kecil Negara Islam alias ISIS di Provinsi Latakia, di mata pemimpin milisi Syiah dari Libanon itu, tak banyak artinya. “Itu hanya operasi terbatas... tapi media kelewat membesar-besarkannya.” Siapa pun yang hendak bicara soal perdamaian di Suriah, menurut Nasrallah, dia harus datang kepada Assad. “Apa pun solusi politik untuk Suriah, harus dimulai dan diakhiri dengan Assad,” kata Nasrallah. Pernyataan Nasrallah terang ditujukan kepada semua pihak yang menghendaki Assad menyingkir dari Damaskus. Satu tuntutan yang tak akan dipenuhi oleh Assad dan sekutu-sekutunya. “Tak akan ada negosiasi yang berujung pada turunnya Assad.” Assad punya utang besar kepada Nasrallah dalam meraih “kemenangan” itu.

Bersama sponsor utama mereka, Iran, pasukan Assad dan prajurit Hizbullah bahu-membahu melawan ISIS, Front al-Nusra, Tentara Pembebasan Suriah, dan kelompok-kelompok anti-Assad lain. Sejak Nasrallah menyampaikan perintah kepada pengikutnya untuk membantu Assad lebih dari dua tahun lalu, ribuan prajurit Hizbullah mencemplungkan diri di medan perang Suriah. Bagi Nasrallah dan pengikutnya, mengangkat senjata untuk Assad bukan cuma menolong sesama muslim Syiah—Assad berasal dari keluarga Syiah Alawiyyah—tapi juga membayar utang budi. “Mereka para tentara bayaran dari Chechnya, Yaman, dan Libya hendak menjatuhkan Assad.... Dia telah banyak membantu kami dalam perang melawan Israel pada 2006. Sudah jadi tugas kami untuk menolongnya,” kata Mahmud, veteran perang 2006. Kehilangan suaminya dalam perang Suriah tak menghalangi Fatimah untuk mengirim dua anaknya kembali ke medan tempur di negara tetangga. Anak sulungnya, Wissam, 25 tahun, sudah pulang dari Suriah. Giliran Khodr, anak keduanya, berangkat berperang. “Aku sudah mengirim Khodr untuk mengikuti latihan selama satu bulan. Dia harus belajar menggunakan senapan supaya bisa menjadi pejuang seperti ayahnya,” kata Fatimah beberapa waktu lalu. Mereka, kata Wissam, tak akan membiarkan Assad jatuh dan ISIS berkuasa di Suriah. “Apakah kami harus membiarkan mereka datang dan menyembelih kami bak kambing seperti yang mereka lakukan terhadap umat Syiah di Irak dan Suriah? Tidak, kami akan mengalahkan mereka seperti kami mengalahkan Israel,” kata Wissam, penuh keyakinan. “Kami harus patuh kepada Syekh Hassan Nasrallah saat dia meminta kami berperang. Ayahku mati sebagai martir, dan kami siap mengikuti jalannya.”
●●●
Tak sarinya Presiden Suriah Bashar al-Assad muncul di layar televisi. Sejak kekuasaannya terus digoyang, Assad memang jarang tampil di televisi. Tapi, beberapa pekan lalu, tiba-tiba Assad berpidato di stasiun televisi milik pemerintah. “Hari ini kita sedang menghadapi perang, bukan sekadar pertempuran.... Perang bukanlah satu pertempuran, melainkan banyak sekali pertempuran,” kata Assad. “Kita tak sedang bicara soal puluhan atau ratusan pertempuran, melainkan ribuan pertempuran.... Dan hal yang biasa dalam pertempuran bila kita maju atau mundur, menang atau kalah.” Assad tak nongol di layar televisi tanpa alasan. Dia mesti meyakinkan para pendukungnya bahwa posisinya masih kokoh, tak tergoyahkan, meski sejak beberapa bulan lalu berita-berita soal kekalahan bertubi-tubi pasukan loyalis Assad dari milisi Front al-Nusra, ISIS, Ahrar ashSham, dan milisi-milisi anti-Assad lainnya terus bermunculan.
Dua video yang beredar di Internet beberapa waktu lalu mengabarkan bagaimana perubahan peta kekuatan di medan perang Suriah. Satu video menampilkan sekitar 1.700 prajurit milisi anti-Assad, Jaysh al-Islam, berparade di luar Kota Damaskus lengkap dengan sejumlah tank T-72 yang mereka rebut dari pasukan loyalis Assad. Satu video lagi merekam percakapan Kolonel Suhail Hassan, komandan kesatuan elite Brigade Harimau, dengan Menteri Pertahanan Suriah Fahad Jassim al-Freij, beberapa hari setelah Kota Jisr al-Shughour jatuh ke tangan gabungan milisi Jaish al-Fattah akhir April lalu. “Mereka butuh amunisi. Mereka tak punya lagi amunisi,” kata Kolonel Suhail lewat telepon. Setelah beberapa pekan menyerbu Kota Jisr al-Shughour dan Idlib di Provinsi Idlib, operasi besar-besaran milisi Ahrar ash-Sham, Front alNusra, Legiun Sham, dan Jaysh al-Sunna, yang tergabung dalam Tentara Penakluk alias Jaish al-Fattah, berhasil mengusir tentara loyalis Assad dari kota itu. Disokong oleh Hizbullah, Kolonel Suhail mencoba merebut kembali sejumlah desa di sekitar Kota Jisr al-Shughour, tapi mendapat perlawanan sengit dari milisi Jaish al-Fattah. “Seluruh Jisr alShughour sudah dibebaskan, tak ada lagi pasukan rezim di sini,” kata Ahmad, juru bicara Ahrar ash-Sham. Menurut dia, posisi Kota Jisr sangat strategis, karena bisa menjadi batu loncatan mereka untuk menyerang basis-basis utama kekuatan loyalis Assad di wilayah pesisir Suriah. “Bahkan Kota Jisr ini lebih penting ketimbang Idlib.... Sekarang wilayah pesisir ada dalam jangkauan tembakan kami.” Dua pekan lalu, giliran Mastouma, basis militer loyalis Assad terbesar di Idlib, dikuasai gabungan milisi yang dipimpin Front al-Nusra. “Seluruh tentara Assad sudah ditarik mundur dari Mastouma,” Al-Nusra menulis di Twitter.

Hanya berselang beberapa hari, giliran Kota Palmyra yang jatuh ke tangan milisi ISIS. Kemenangan gabungan milisi Jaysh al-Fattah menjadi kabar buruk bagi Assad. Milisi-milisi anti-Assad yang biasanya saling bertikai kini bisa bersatu melawan musuh bersama mereka, Bashar al-Assad. Negara-negara sponsor mereka—Turki, Qatar, dan Arab Saudi—punya andil besar mendamaikan milisi-milisi itu.

“Semuanya telah berubah. Mereka telah menyingkirkan semua perbedaan.... Arab Saudi tak lagi peduli siapa di antara kami yang menang, selama bukan ISIS. Saudi meyakinkan semua pihak bahwa musuh nyata kami adalah Iran,” ujar seorang pemimpin kelompok antiAssad. Ditekan ISIS dan milisi gabungan Jaysh al-Fattah dari pelbagai arah, Assad tak punya pilihan selain berpaling pada Iran dan Hizbullah. Dua pekan lalu, penguasa di Teheran sudah setuju memberikan utang kepada Assad senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13 triliun untuk membiayai perang di Suriah. Hassan Nasrallah juga siap mengirimkan tambahan ribuan prajuritnya untuk membantu tentara loyalis Assad. “Kami akan ada di manamana di Suriah,” kata Nasrallah. Menurut Nasrallah, mereka akan terus menggenjot operasi militer di daerah Qalamoun, sepanjang perbatasan Suriah dan Libanon. “Kami tak bisa menerima kelompok teroris dan takfiri di Bekaa dan Arsal.”
Assad mungkin semakin terpojok, tapi tak berarti minggu depan, bulan depan, atau setahun lagi bakal jatuh. Saat musuh-musuhnya terus merekrut prajurit, sejumlah milisi Syiah yang disponsori Iran, seperti Kataib Sayyid alSyuhada dan Liwa al-Imam al-Hussein, juga terus merekrut prajurit untuk “menolong” Assad. Menurut sumber di Libanon, Nasrallah sadar Assad tak mungkin mempertahankan setiap jengkal tanah di Suriah, atau merebut semua wilayah yang telah diduduki Al-Nusra atau ISIS. “Prioritas bagi Assad adalah mempertahankan Damaskus dan wilayah sekitar Damaskus, baru kemudian Aleppo dan sekitarnya,” kata Salem Zahran, wartawan Libanon yang dekat dengan Hizbullah. SAPTO PRADITYO | GUARDIAN | REUTERS | CNN | NYTIMES | DAILY STAR | AL-JAZEERA

Iran Kirim 15.000 Milisi Syi'ah Bayaran Asal Iran, Irak dan Afghanistan ke Suriah


Iran telah mengirimkan 15.000 petempur Syi'ah bayaran ke Suriah untuk membalikkan kekalahan pasukan pemerintah Suriah di medan perang baru-baru ini dan "bermimpi" untuk mencapai hasil tersebut pada akhir bulan ini, seorang sumber politik Libanon mengatakan kepada The Daily Star.

Pasukan milisi itu, terdiri dari warga Syi'ah Iran, Syi'ah Irak dan Syi'ah Afghanistan, yang dibayar minimal 3000 USD untuk terjun ke pertempurna, telah tiba di wilayah Damaskus dan di provinsi pesisir Latakia yang merupakan kampung halaman Assad, kata sumber tersebut.
Sumber itu mengatakan para petempur itu diharapkan menjadi ujung tombak upaya untuk merebut daerah-daerah di provinsi Idlib, di mana rezim telah mengalami serangkaian kekalahan di tangan koalisi Jaisyul Fath.

Jenderal Qasem Soleimani, komandan elit pasukan Quds Iran, berada di Latakia pekan ini untuk menopang persiapan kampanye tersebut, kata sumber itu.

Soleimani menjanjikan "kejutan" dari Teheran dan Damaskus.

"Dunia akan terkejut dengan apa yang kita dan kepemimpinan militer Suriah sedang persiapkan untuk beberapa hari mendatang," kata kantor berita resmi negara Iran IRNA mengutip perkataan jenderal tersebut hari Selasa (2/6/20150.

Rezim Presiden Suriah Bashar Assad setuju dengan berat hari terhadap rencana tersebut, yang diharapkan untuk mencapai dua tujuan, menurut sumber itu.

Salah satunya adalah untuk membalikkan moral pendukung rezim yang jatuh menyusul berbagai kekalahan di medan perang dan banyaknya jumlah korban tewas dari pihak mereka, sedangkan yang kedua adalah untuk mencapai keberhasilan tersebut pada akhir bulan ini, yang bertepatan dengan batas waktu bagi Iran dan kekuatan dunia untuk menyelesaikan kesepakatan interim tentang program nuklir Teheran.

Sebuah pembalikan nasib Damaskus, yang sangat tergantung pada bantuan dari Syi'ah Iran, akan meningkatkan pengaruh Teheran karena berhubungan dengan fase negosiasi penyelesaian pasca-Juni di beberapa bidang daerah bergolak, termasuk Suriah, kata sumber itu.

Pasukan rezim Bashar Al-Assad telah berada di bawah tekanan yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir - di Idlib mereka dikalahkan di beberapa lokasi oleh koalisi tujuh anggota pejuang oposisi yang termasuk milisi kuat Ahrar Al-Sham dan Jabhat Al-Nusrah, afiliasi Al-Qaidah di Suriah.

Pasukan rezim juga kalah di kota pusat Palmyra bulan lalu setelah kampanye singkat oleh Daulah Islam (IS). (st/tds)

Foto: 4 Milisi Syi'ah bayaran asal dari Afghanistan ditangkap mujahidin Suriah di Idlib.