Abdul Husein Musawi,
begitu juga syiah, tidak percaya bahwa Allah bisa dilihat di akherat. Tapi
riwayat dari buku syiah sendiri menyatakan sebaliknya.
Mereka
yang mengaku mengikuti ahlulbait, malah punya pendapat berbeda.
Biharul
Anwar, jilid 8 hal 126. Bab Al Jannah wa Na’imuha:
32:16. Lambung mereka jauh dari tempat
tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan
mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
32:17. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu
(bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Abu Abdillah berkata: Allah memiliki kemuliaan pada hambaNya yang beriman pada
hari jum’at. Jika tiba hari jum’at, Allah mengutus malaikat pada orang mukmin,
dengan membawa perhiasan, ketika tiba di pintu sorga, dia berkata : saya ingin
bertemu si fulan, lalu si fulan dipanggil: ini utusan Allah di depan pintu, dia
mengatakan pada istri-istrinya: pakaian mana yang menurut kamu paling baik?
Istri-istrinya menjawab: wahai tuan, demi Allah yang membolehkan anda untuk
tinggal di sorga, kami tidak melihat yang lebih baik dari ini, yaitu Allah
mengutus untuk menemuimu. Lalu dia menyarungkan satu kain dan melingkarkan di
dadanya dengan satu lagi, setiap dia melewati sesuatu pasti terkena cahayanya,
sampai tiba di tempat pertemuan. Ketika mereka berkumpul, Allah menampakkan
diriNya, saat mereka melihatNya, mereka langsung sujud, Allah berfirman: wahai
hambaKu, angkatlah kepala kalian, hari ini bukan waktu sujud dan waktu Ibadah,
Aku telah mengangkat beban dari kalian. Mereka berkata: wahai Rabb kami, apa
yang lebih baik dari yang Engkau berikan pada Kami? Engkau telah memberi kami
sorga, Allah berfirman : bagi kalian tujuh puluh kali lipat dari apa yang telah
Kuberikan pada kalian. Maka setiap mukmin membawa 70 kali lebih banyak dari apa
yang ada di tangannya pada hari jum’at…
Shahifah
Sajjadiyah dan Biharul Anwar, menyebutkan doa Ali bin Husein, yang dijuluki
Zainal Abidin, memohon agar dapat melihat Allah :
Dan rinduku padaMu tidak akan sembuh
kecuali dengan memandang wajahMu
shahifah
sajjadiyah, hal 417 , cet muassasah imam Al Mahdi. Biharul Anwar jilid 91 hal
151
Juga doa Ali Zainal Abidin:
Tuhanku, jadikanlah kami termasuk mereka
yang terpilih untuk dekat denganMu, dan menjadi waliMu, termasuk mereka yang
Eengkau pilih untuk Engkau cintai dan, mereka yang terpilih untuk Engkau buat
hatinya untuk rindu padaMu, mereka yang Engkau buat hatinya menerima
ketentuanMu, dan Engkau berikan pada mereka kesempatan untuk melihat wajahMu.
Shahifah
Sajjadiyah Kamilah hal 315, cet. A’lami, Biharul Anwar, jilid 91 hal 148
Begitu juga doa Ali Zainal Abidin:
Dan sejukkanlah mata dengan melihatMu pada
hari pertemuan denganMu,
Shahifah
Sajjadiyah Kamilah hal 331. Biharul Anwar jilid 91 hal 152
Jadikanlah diriku termasuk orang pilihan,
yang engkau tempatkan di tempat tertinggi di sorgaMu, dan engkau persiapkan
tempat di sorga kemuliaanMu, dan engkau sejukkan mata mereka dengan memandangMu
di hari pertemuan denganMu.
Shahifah
Sajjadiyah Kamilah hal 318, Biharul Anwar jilid 91 hal 149
Dalam Biharul Anwar jilid 86 hal 206-207, Imam Abu Ja’far berdoa agar dirinya
dan kedua orang tuanya dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Allah, dan
berdoa agar dapat merindu pada Allah:
Aku memohon untuk diriku, dan untuk mereka
berdua, pahala pada hari kiamat, ampunan pada hari pengadilan, kehidupan yang
dingin saat kematian menjemput, kesejukan mata yang tiada terputus, dan
nikmatnya memandang wajahMu, dan kerinduan pada pertemuan denganMu.
Ini
hanya contoh saja, sebenarnya dalam Biharul Anwar disebutkan lebih dari 10 doa
dari ahlul bait Nabi, termasuk salah satunya adalah Fatimah Az Zahra, putri
Nabi, istri Ali, dan ibunda Hasan dan Husein bin Ali.
Mereka berdoa agar dapat melihat Allah, karena melihat Allah adalah kenikmatan
yang tiada tara. Ini yang kita baca dari doa mereka.
Tapi tidak bagi abdul husein al musawi. Dalam pandangannya, manusia tidak dapat
melihat Allah baik di dunia maupun di akherat. Riwayat-riwayat ahlulbait di
atas tidak diindahkan oleh abdul husein. Abdul husein belum pernah membaca
biharul anwar.
Saya yakin syiah akan heran, bagaimana saya –MrShiaa- yang sering dituduh agen
zionis, wahabi, memecah belah umat, bisa lebih tahu tentang syiah daripada
ulama besar syiah. Apakah ini pertanda kualitas ulama syiah jauh di bawah
seorang wahabi yang dituduh zionis? Atau memang abdul husein sengaja menipu,
dengan mengatakan riwayat ini hanya ada di riwayat Abu Hurairah.
Dan syiah pun bergembira karena dapat menghujat Abu Hurairah. Sebenarnya syiah
perlu dikasihani, karena mereka ditipu tapi mereka tidak sadar. Bukannya sadar
dan mencoba lagi untuk memverifikasi pernyataan ulama-ulama syiah, malah mereka
marah-marah.
Kasihan, sungguh kasihan.
Status abdul husein di sini hanya bisa jadi dia bodoh, atau dia adalah seorang
penipu.
Inilah
figur ulama yang menjadi kebanggaan syiah Indonesia.