Tuesday, April 28, 2015

Tauhid Itu Mengesakan Alloh yang Satu, Kok Dibagi Tiga? [Dalil-dalil & Alasan Pembagian Tauhid, Asal-Usul Pembagian Tauhid, Akibat Tidak Mau Membagi Tauhid Menjadi 3]

aboeaswad.wordpress.com

Tauhid Itu Mengesakan Alloh yang Satu, Kok Dibagi Tiga? (1) [Dalil-dalil & Alasan Pembagian Tauhid]
Sebagian Saudara kita sangat fobi dengan pembagian tauhid menjadi tiga, (1) Tauhid Ar-Rububiyah, (2) Tauhid Al-‘Uluhiyah/al-‘Ubudiyah, dan (3) Tauhid al-Asmaa’ wa as-Sifaat. Bahkan barang kali ada yang menyamakan pembagian ini dengan aqidah TRINITAS kaum Nasrani yang meyakini Allah terdiri dari 3 oknum (http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/403-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-adalah-trinitas). wal iyaadzu billah. Ada juga yang mengatakan bahwa pembagian tersebut hanya akal-akalan dan bualan kaum salafi dan baru pertama kali dicetuskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh. Ada juga yang dianggap ulama, mengatakan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga menyelisihi akidah kaum muslimin!?  Benarkah hal tersebut?
Sebagai seorang muslim yang selalu mengedepankan ilmu atas perkataan, selayaknya kita menelaah akan hal yang sangat penting ini, agar aqidah kita selamat dari syirik dan penyakit hati lainnya.
Jawaban ringkas untuk menjelaskan ketiga macam tauhid tersebut adalah, mari kita tanyakan hal-hal berikut ini kepada masyarakat umum:
1. Apakah mengakui bahwa Allahlah satu-satunya yang Menciptakan, yang memberi rizqi, yang mengatur alam ini ? Jika ya, maka anda telah mentauhidkan Rubbubiyah Allah.
2. Apakah anda meyakini bahwa hanya Allah lah yang berhak untuk diibadahi? jika ya, maka anda telah mengakui Tauhid Ulluhiyah, yaitu mentauhidkan Allah dlm ibadah.
3. Apakah anda meyakini bahwa Allah mempunyai Nama dan sifat Yang Maha Sempurna dan Maha Agung ? jika ya, maka anda telah mengakui Tauhid ‘Asma wa sifat.
Namun jika anda tidak mengimani satu saja dari ketiga tauhid tsb diatas, maka anda telah rusak tauhidnya bukan? naudzubillah. (http://khansa.heck.in/pembagian-tauhid-adalah-untuk-mempermuda.xhtml)
Secara umum tidak ada yang menolak, karena Allah memang Maha Esa dalam ketiga hal di atas. Lantas kenapa harus ada pengingkaran jika maknanya disetujui dan disepakati..?? (http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/403-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-adalah-trinitas)
Tulisan ini mencoba menelaah pembagian ketiga jenis tauhid ini
A. Pembagian Tauhid dan Dalil-dalil yang Mendasarinya
B. Mengapa Tauhid harus Dibagi Menjadi 3?
Mari kita bahas satu persatu, semoga bermanfaat untuk saya khususnya dan bagi siapa saja yang membacanya
A. Pembagian Tauhid dan Dalil-dalil yang Mendasarinya
Tauhid menurut bahasa berarti: menjadikan sesuatu itu satu. Sedangkan menurut istilah syar’i berarti : Pengesaan terhadap Allah subhaanahu wa ta’ala dengan sesuatu yang khusus bagi-Nya, baik dalam uluhiyyah-Nya, rububiyyah-Nya, asma’ dan sifat-Nya. Dari definisi ini dapat diketahui bahwa tauhid ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu : Tauhid RububiyyahTauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asmaa’ wa Shifaat Allah. (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/10/pembagian-tauhid-menurut-ahlus-sunnah.html)
Pengertian dari masing-masing tauhid ini pernah saya ulas di: https://abumuhammadblog.wordpress.com/2013/01/07/hakikat-dan-kedudukan-tauhid/. Adapun dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:
1. Dalil-dalil yang menunjukkan tauhid rububiyyah:
a). Al Fatihah: 1 dan 2; b). Al A’rof: 54; c). Ar Ro’d: 16; d). Al Mu’minun: 84-89; e). Al Mu’min/Al Ghofir: 64; f). Az-Zumar: 62; g). Lukman: 25
2. Dalil-dalil yang menunjukkan tauhid uluhiyyah:
a). Al Fatihah: 1, 2, 4, dan 5; b). Al Baqoroh: 21; c). Az Zumar: 2-3; d). Az Zumar: 14-15; e). Al Bayyinah: 5;  f). Al-Anbiyaa’ : 25; g). An-Nahl : 36; h). Ali-’Imran : 18; i). Al-Qashash : 88; j). Al-Mukminun : 117; k). Huud : 101; l). Lukman : 30; m).  An-Najm : 23
3. Dalil-dalil yang menunjukkan tauhid asma’ wash shifat:
a). Al Fatihah: 3-4; b). Al Isro’: 110; c). Maryam: 65; d). Thoha: 8; e). Asy-Syuro: 11
Termasuk ayat-ayat yang mengumpulkan pembagian tauhid yang tiga adalah firman Allah tabaraka wa ta’ala dalam Surat Maryam.
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
 “Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kalian mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)? (QS. Maryam: 65)
Asy-Syaikh Al-‘Allamah Abdurrohman bin Sa’di rahimahullah (berkata) ketika menerangkan bentuk pendalilan dari ayat di atas (diringkas):
“Ayat ini mengandung prinsip yang agung yaitu: tauhidur- rububiyah, dan Allah ta’ala adalah Rabb, Pencipta, Pemberi rezeki, serta Pengatur segala sesuatu, dan tauhid al-uluhiyah wal ibadah. Allah ta’ala adalah Sesembahan yang Berhak untuk Diibadahi. Dan sungguh Rububiyah Allah mewajibkan adanya per-ibadahan serta pentauhidan-Nya. Oleh karena itu di dalam ayat tersebut terdapat fa’ dalam firmannya: فَاعْبُدْهُ. Ini menunjukkan kepada suatu sebab, yang maksudnya: karena Allah adalah Rabb bagi segala sesuatu maka Allah pulalah Dzat yang pantas disembah, maka sembahlah Allah…” (http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Other/Mengapa-Tauhid-Dibagi-Tiga.pdf)
Perhatikanlah pembagian tauhid menjadi tiga dalam satu ayat ini, yaitu:
1. Firman-Nya, “(Dia lah) Robb (baca: pencipta, penguasa, pengatur, dan pemberi rizki) langit-langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya.” adalah merupakan penetapan macam tauhid yang pertama, tauhid rububiyyah (mengesakan Allah dalam penciptaan)
2. Firman-Nya, “Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya.” adalah macam tauhid yang kedua, yaitu tauhid uluhiyyah (mengesakan Allah dalam peribadatan)
3. Dan firman-Nya, “Apakah kau mengetahui ada sesuatu yang menyamai-Nya.” adalah macam tauhid yang ketiga, yaitu tauhid asma’ & shifat. (http://almarwadi.wordpress.com/2012/09/27/klaim-bidahnya-pembagian-tauhid-serta-bantahan-atasnya/)
B. Mengapa Tauhid harus Dibagi Menjadi 3?
Sepengetahuan saya (Abu Muhammad), setidaknya ada 6 alasan syar’i, di balik pembagian tauhid menjadi 3, yaitu sebagai berikut:
1. Tauhid Ar-Rububiyyah saja Tidaklah Cukup
Alloh Jalla wa A’la telah menceritakan di dalam kitab-Nya tentang keadaan kaum musyrikin yang telah mengikrarkan Tauhidur-Rububiyah. Allah berfirman,
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (Az-Zukhruf: 87)
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ
Dan sesungguhnya jika kalian menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?”Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. (Al-Ankabut: 63)
أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sesembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kalian mengingati (Nya). (An-Naml: 62)
Dalil-dalil di atas adalah bukti bahwa mereka (kaum musyrikin) dahulu mengenal Allah dan mengetahui tentang rububiyah, kekuasaan serta pengaturanNya. Walaupun demikian, sekedar pengakuan tidaklah mencukupi dan menyelamatkan mereka. Hal ini dikarenakan kesyirikan mereka dalam tauhid al-ibadah yang merupakan makna “La Ilaha illallah”. Karena itu Allah ta’ala berfirman tentang mereka:
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (Yusuf: 106)  [http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Other/Mengapa-Tauhid-Dibagi-Tiga.pdf]
Ibnu Jarir At-Thobari -Imamnya para ahli tafsir- dalam tafsirnya (Jaami’ul Bayaan ‘an takwiil Aayi Al-Qur’aan tatkala menafsirkan surat Yusuf ayat 106), beliau berkata :
((Perkataan tentang penafsiran firman Allah “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali mereka berbuat kesyirikan” (QS Yusuf : 106)
Allah berkata : Dan tidaklah kebanyakan mereka –yaitu yang telah disifati oleh Allah dengan firmanNya وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya” (QS Yusuf : 105)- mengakui bahwasanya Allah pencipta mereka, pemberi rizki kepada mereka, dan pencipta segala sesuatu melainkan mereka berbuat kesyirikian kepada Allah dalam peribadatan mereka kepada patung-patung dan arca-arca dan menjadikan selain Allah sebagai tandingan bagi Allah dan persangkaan mereka bahwasanya Allah memiliki anak. Maha tinggi Allah dari apa yang mereka ucapkan. Dan para ahli tafsir berpendapat seperti pendapat kami ini)) (Tafsir At-Thobari 13/372)
Setelah itu Imam Ibnu Jarir At-Thobari menyebutkan perkataan para ahli tafsir dari kalangan para sahabat dan para tabi’in tentang tafsiran ayat ini. Beliau kemudian meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas –radhiallahu ‘anhumaa-, beliau berkata :
Termasuk keimanan mereka adalah jika dikatakan kepada mereka : Siapakah yang menciptakan langit?, siapakah yang menciptakan bumi?, siapakah yang menciptakan gunung?, mereka menjawab : Allah. Namun mereka berbuat kesyirikan” (Tafsir At-Tobari 13/373)
Ibnu Jarir juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Ikrimah –rahimahullah- beliau berkata:
“Termasuk kemimanan mereka adalah jika dikatakan kepada mereka : Siapakah yang menciptakan langit?, mereka menjawab : Allah. Jika mereka ditanya : Siapakah yang menciptakan kalian?, mereka menjawab : Allah. Padahal mereka berbuat kesyirikan kepada Allah” (Tafsir At-Thobari 13/373)
Ibnu Jarir At-Thobari juga meriwayatkan dengan sanadnya dengan beberapa jalan dari Mujahid -rahimahullah-, diantaranya beliau berkata :
“Keimanan mereka adalah perkataan mereka : Allah pencipta kami dan Yang memberi rizki kepada kami dan mematikan kami. Inilah keimanan (mereka) bersama keyirikan mereka dengan beribadah kepada selain Allah” (Tafsir At-Thobari 13/374)
Ibnu Jarir At-Thobari juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Qotaadah –rahimahullah-, beliau berkata :
Keimanan mereka ini, (yaitu) tidaklah engkau bertemu dengan seorangpun dari mereka kecuali ia mengabarkan kepadamu bahwasannya Allah adalah Robnya, dan Dialah yang telah menciptakannya dan memberi rizki kepadanya. Padahal dia berbuat kesyirikan dalam ibadahnya” (Tafsir At-Thobari 13/375)
Ibnu Jarir At-Thobari juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rahimahullah, beliau berkata :
“Tidak seorangpun yang menyembah selain Allah –bersama penyembahannya terhadap Allah- kecuali ia beriman kepada Allah dan mengetahui bahwasanya Allah adalah Robnya, dan Allah adalah penciptanya dan pemberi rizkinya, dan dia berbuat kesyirikan kepada Allah. Tidakkah engkau lihat bagaimana perkataan Nabi Ibrahim :
قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ (٧٥)أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الأقْدَمُونَ (٧٦)فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلا رَبَّ الْعَالَمِينَ (٧٧)
Ibrahim berkata: “Maka Apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?, karena Sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam (QS As-Syu’aroo 75-77)
Nabi Ibrahim telah mengetahui bahwasanya mereka menyembah (juga) Allah bersama dengan penyembahan mereka kepada selain Allah. Tidak seorangpun yang berbuat syirik kepada Allah kecuali ia beriman kepadaNya. Tidakkah engkau lihat bagaimana orang-orang Arab bertalbiah?, mereka berkata : “Kami memenuhi panggilanmu Ya Allah, kami memenuhi panggilanmu, tidak ada syarikat bagiMu, kecuali syarikat milikMu yang Engkau menguasainya dan dia tidak memiliki apa-apa”. Kaum musyrikin Arab dahulu mengucapkan talbiah ini” (Tafsir At-Thobari 13/376)
Inilah penafsiran sahabat dan para tabi’in, semuanya sepakat bahwasanya kaum musyrikin mengakui bahwa Allah pencipta mereka dan yang memberi rizki kepada mereka.
Allah banyak menyebutkan ayat-ayat seperti ini –yang menjelaskan pengakuan kaum musyrikin terhadap rububiyyah Allah- dalam Al-Qur’an dan tidak sekalipun Allah menyebutkan dan menjelaskan bahwasanya perkataan mereka tersebut hanya untuk membela diri. Bukankah tatkala Allah menyebutkan perkataan orang-orang munafiq yang dusta maka Allah menjelaskan bahwasanya perkataan mereka tersebut dusta dan bertentangan dengan keyakinan mereka. Dan hal ini banyak dalam al Qur’an. Maka jika seandainya pengakuan kaum musyrikin tersebut hanyalah dusta maka tentu akan dijelaskan oleh Allah meskipun hanya sekali. (http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/82-persangkaan-abu-salafy-al-majhuul-bahwasanya-kaum-musyrikin-arab-tidak-mengakui-rububiyyah-allah).
Selengkapnya bacalah situs tersebut
Namun, sekali lagi, hanya sekedar tauhid Rububiyah tersebut tidak terus menjadikan mereka kaum musyrikin arab tersebut mendapatkan label muwahhid dan selamat dari peperangan dengan Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Al-Quran mengabadikan kesyirikan mereka

Tauhid Itu Mengesakan Alloh yang Satu, Kok Dibagi Tiga? (2) [Alasan Pembagian Tauhid-2]

2. Seluruh Ayat Al-quran Menetapkan Tentang Pembagian Tauhid Tersebut
Di dalam menerangkan dalil-dalil Al-Quran yang menunjukkan pembagian tauhid, Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim berkata, setelah menyebutkan semua golongan yang kebatilannya disebut sebagai tauhid:
“Adapun tauhid yang diserukan oleh seluruh utusan Allah dan diturunkan dengannya kitabullah sangat bertentangan dengan itu semua (kebatilan yang dianggap tauhid-ed). Tauhid itu ada dua jenisnya: Tauhid fil ma’rifat wal itsbat (tauhid pengenalan dan penetapan) serta tauhid fith tholab wal qasd (tauhid permintaan dan

tujuan).
Adapun yang pertama: merupakan hakikat dari Dzat Rabb ta’ala, nama-namanya, sifatsifatnya, perbuatannya, ketinggian-Nya di atas arsy-Nya yang ada di atas langit. Pembicaraan-Nya melalui kitab-Nya, dan Dia mengajak bicara terhadap orang yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya, serta ketentuanNya yang bersifat menyeluruh, dan beragam hikmah-hikmaNya. Al-Quran telah benar-benar menjelaskan jenis ini dengan penjelasan yang begitu gamblang. Sebagaimana di awal Surat Al-Hadid, dan Surat Thoha. Pada akhir Surat Al-Hasyr dan awal Surat Tanzilus Sajdah. Awal surat Ali Imron dan seluruh ayat dari Surat Al-Ikhlas dan yang selainnya.
Jenis yang kedua, seperti yang terkandung didalam Surat Qul Ya Ayyuhal Kafirun (AlKafirun), dan di dalam firman-Nya, Ali Imron: 64.
Begitu juga pada awal Surat Tanzilul Kitab dan akhirnya. Awal surat Yunus, bagian tengah dan akhirnya. Awal surat Al-A’raf dan akhirnya. Sejumlah ayat dari surat Al-An’am. Dan pada kebanyakan dari surat-surat yang ada dalam Al-Quran, bahkan pada seluruh surat di dalam Al-Quran terkandung dua jenis tauhid ini.
Lebih dari itu, bahkan kita katakan dengan perkataan yang menyeluruh: bahwasanya seluruh ayat di dalam Al-Quran terkandung padanya at-tauhid, yang mempersaksikan dan yang selalu menyeru kepadanya. Karena Al-Quran isinya kalau bukan pemberitaan tentang Allah, nama-nama, sifat-sifat serta perbuatanNya dan ini adalah tauhid al-ilmi wal khobari (ilmu dan pemberitaan), maka isinya adalah dakwah kepada peribadahan untuk Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya dan meninggalkan semua yang disembah selain Allah dan ini adalah tauhid al-irodiy wath-tholabiy (kehendak dan tuntutan).
Selain itu isi Al-Quran kalau bukan perintah, larangan dan kewajiban untuk mentaati Allah dalam larangan dan perintahnya dan ini adalah hak-hak tauhid dan penyempurnanya, maka isinya adalah pemberitaan tentang karomah Allah terhadap orang-orang yang bertauhid dan taat kepada-Nya, dan apa-apa yang tentukan baginya di dunia dan perkaraperkara apa yang menyebabkan mereka menjadi mulia di akhirat dan ini adalah balasan mentauhidkan Allah.
Al-Quran juga mengandung pemberitaan tentang pelaku kesyirikan dan apa-apa yang Allah tentukan baginya di dunia serta berbagai balasan di dunia yang menyengsarakan mereka, dan apa saja yang akan menimpa mereka kelak dari berbagai adzab, ini merupakan pemberitaan tentang orang yang keluar dari ketentuan hukum tauhid. Maka seluruh Al-Quran mengandung perkara tauhid, hak-haknya dan balasan-balasannya. Begitu juga perkara syirik, pelakunya, serta balasan untuk mereka.
Asy-Syaukani Rahimahullah berkata di dalam muqaddimah kitab beliau yang mulia, Irsyaduts-Tsiqot ila Ittifaqisy-syaro’i’ ‘ala Tauhid wal-Miad wan-nubuwaat :
“Dan ketahuilah bahwa penyebutan ayat-ayat Al-Quran yang telah menjelaskan/menetapkan semua maksud dari tujuan-tujuan (tentang tauhid. Pent), dan

juga penetapan tentang samanya syariat-syariat dalam perkara ini. Tidaklah menyulitkan bagi mereka yang membaca Al-Quranul Azhim. Karena jika dia mengambil mushaf yang mulia kemudian berhenti di bagian yang dia inginkan, atau tempat yang dia suka, atau posisi yang dia kehendaki, niscaya dia akan menemukannya (perkara tauhid. pent) dalam keadaan terbentang luas di dalam Al-Quran, dari pembukaan sampai akhirnya”. (http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Other/Mengapa-Tauhid-Dibagi-Tiga.pdf)
Alasan tauhid dibagi tiga karena seluruh dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang berbicara tentang tauhid menunjukkan bahwa tauhid terbagi tiga, tidak lebih daripada itu. Karena hakikatnya seluruh ayat dan hadits yang berbicara tentang Allah ta’ala beredar pada tiga pembicaraan:
1) Pembicaraan tentang perbuatan-perbuatan Allah ta’ala seperti mencipta, member rizki, menguasai, mengatur dan lain-lain, maka kita yakini hanya Allah ta’ala sendiri saja yang mampu melakukan itu, tiada sekutu bagi-Nya. Inilah tauhid rububiyah.
2) Pembicaraan tentang kewajiban memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’ala dan menyalahkan semua bentuk peribadahan kepada selain-Nya. Inilah tauhid uluhiyah.
3) Pembicaraan tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya, kita yakini hanya Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam yang boleh menetapkan nama dan sifat bagi-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Ini adalah tauhid asma was sifat. (http://nasihatonline.wordpress.com/2013/03/13/mengapa-tauhid-dibagi-tiga/)
3. Pembagian Tauhid Merupakan Suatu Kebenaran Syar’i, yang Akan Diketahui Dengan Suatu Penelahaan
Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya penelaahan terhadap Al-Quranul Azhim telah menunjukkan bahwa mentauhidkan Allah itu terbagi menjadi tiga bentuk (diringkas):
Yang pertama: Tauhid dalam Rububiyah. Ini merupakan jenis tauhid yang terbentuk dalam fitrahnya orang-orang yang berakal. Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil firman Alloh dalam  surat: Az-zukhruf: 87; Yunus: 31; Asy-Syu’aro: 23; Al-Isro’: 102; An-Naml: 14; dan Yusuf: 106
Yang kedua: Mentauhid-kan Allah ta’ala dalam peribadahan kepada-Nya
Batasan tauhid jenis ini adalah perealisasian makna “La ilaha illallah”, yang tergabung di dalamnya penafian dan penetapan. Makna penafian dari perkataan tersebut adalah: melepaskan seluruh jenis sesembahan selain Allah, apapun bentuknya, dalam seluruh jenis peribadahan apapun bentuknya.
Adapun makna penetapan dari kalimat ‘La ilaha illallah’ adalah: meng-esakan Allah jalla wa’ala satu-satunya dalam semua jenis ibadah dengan ikhlas, dalam ketentuan yang telah disyariatkan oleh Allah melalui Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam , dan mayoritas ayat Al-Quran berbicara tentang jenis tauhid ini, dan hal ini merupakan sebab terjadinya peperangan antara para Rasul dan Umatnya. Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil firman Alloh dalam  surat: Shod: 5; Muhammad: 19; An-Nahl: 36; Al-Anbiya: 25; Az-Zukhruf: 45; dan Al-Anbiya: 108
Yang ketiga: Mentauhidkan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tauhid jenis ini dibangun di atas dua prinsip:
Pertama: Mensucikan Allah jalla wa ‘ala dari Men-serupakanNya dengan sifat-sifat makhluk-makhluk, Sebagaimana Allah berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” (Asy-Syuro: 11)
Kedua: Beriman dengan apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya atau disifatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang sesuai dengan kesempurnaan dan kemuliaanNya. Sebagaimana di dalam firman-Nya: “Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Asy-Syuro: 11)
Bersamaan dengan hal tersebut dilarang berusaha untuk mencari bagaimana hakekat sifat Allah (sehingga keluar dari keyakinan para salaf. Pent).
Berkata Asy-Syaikh Al-‘Allamah Bakr Abu Zaid rohimahullah:
“Pembagian yang diperoleh dengan penelitian ini sebelumnya telah dilakukan oleh para ulama salaf, sebagaimana yang telah di isyaratkan oleh Ibnu Mandah, Ibnu Jarir AthThobari dan yang selain keduanya telah mengisyaratkannya. Hal tersebut telah dijelaskan pula oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dan Ibnul Qoyyim, Begitu pula Az-Zubaidi di dalam kitab Tajul-‘Urusy, dan juga guru kami Asy-Syinqithi di dalam Adwa’ul Bayan semoga Allah merahmati mereka semua. Pembagian ini merupakan penelitian yang menyeluruh dari nash-nash syariat, sebagaimana hal yang sudah diketahui di kalangan para ulama yang membidangi dalam berbagai ilmu pengetahuan, sebagaimana upaya yang dilakukan para ahli nahwu di menelaah ungkapan orang Arab yang terbagi menjadi ism, fiil, dan huruf dalam keadaan orang-orang Arab tidaklah marah dan mencela para ahli nahwu, Dan demikianlah berbagai bentuk penelitian yang terjadi dalam berbagai disiplin ilmu” . (http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Other/Mengapa-Tauhid-Dibagi-Tiga.pdf) Selengkapnya, bacalah link ini
Asy-Syaikh Al-‘Allamah Prof. DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah berkata,
“Dan macam-macam tauhid itu ada tiga berdasarkan penelitian secara menyeluruh terhadap kitab Allah ta’ala dan sunnah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Dan ini adalah aqidah yang telah tetap di atasnya pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka barangsiapa yang menambah pembagian tauhid yang keempat atau kelima maka itu adalah tambahan dari dirinya sendiri (bukan dari ulama Sunnah), karena para ulama telah membagi tauhid kepada tiga bagian berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebab seluruh ayat Al-Qur’an dan seluruh hadits tentang aqidah (tauhid) tidak keluar dari tiga macam tauhid ini.” [At-Ta’liqot Al-Mukhtashoroh ‘alal Aqidah Ath-Thohawiyah, hal. 28]
Adapun tauhid keempat: hakimiyah yang dimunculkan oleh ahlul bid’ah sudah masuk dalam kategori tauhid rububiyah, sebab diantara perbuatan Allah ta’ala adalah menentukan hukum.
Demikian pula dari sisi kewajiban manusia hanya tunduk kepada hukum Allah ta’ala maka itu masuk pada tauhid uluhiyah. Sehingga tidak perlu dibuat pembagian tersendiri. (http://nasihatonline.wordpress.com/2013/03/13/mengapa-tauhid-dibagi-tiga/)
Baca juga fatwa dari
 Syaikh Ali Hasan bin Ali Al-Halabi di: http://almanhaj.or.id/content/2333/slash/0/pembagian-tauhid/ yang senada dengan penjelasan tersebut
Jadi,  pembagian tauhid menjadi tiga tersebut adalah pembagian secara ilmu dan merupakan hasil tela’ah seperti yang dikenal dalam kaidah keilmuan. Barangsiapa yang mengingkarinya berarti tidak ber-tafaquh terhadap Kitab Allah, tidak mengetahui kedudukan Allah, mengetahui sebagian dan tidak mengetahui sebagian yang lainnya. Allah pemberi petunjuk ke jalan nan lurus kepada siapa yang Dia kehendaki. (http://almanhaj.or.id/content/2333/slash/0/pembagian-tauhid/)
4. Pembagian Tauhid Dalam Syari’at yang Memiliki 2 fungsi, (1) Dalam Rangka Penjelasan dan (2) Dalam Rangka Menjaga Tauhid Dari Kesalahpahaman
Syari’at tidak ingin tauhid dipisah-pisahkan, bahkan ingin agar tauhid merupakan seusatu yang satu kesatuan. Hanya saja timbul penyimpangan dari kaum musyrikin yang memecah dan membagi tauhid, dimana mereka beriman kepada sebagian makna tauhid dan mengingkari sebagian yang lain. Maka datanglah syari’at untuk meluruskan mereka sehingga menjelaskan dengan cara membagi antara keimanan mereka yang benar (tauhid ar-rububiyah) dan keimanan mereka yang salah dalam tauhid (yaitu tauhid al-uluhiyah). Sehingga sering kita dapati bahwasanya Al-Qur’an berhujjah dengan keimanan mereka terhadap tauhid ar-rububiyah agar mereka meluruskan tauhid mereka yang salah dalam tauhid al-uluhiyah. Seperti firman Allah
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١)الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqoroh : 21-22)
Dalam ayat ini Allah berhujjah dengan pengakuan kaum musyrikin dan keimanan mereka terhadap Rububiyah Allah agar mereka juga mentauhidkan Allah dalam uluhiyah/peribadatan.
Baca kembali poin B. 1 di atas tentang penyimpangan kaum musyrikin arab yang hanya sekedar bertauhid Rububiyyah dan tidak bertauhid Uluhiyyah
Allah juga berfirman
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS Al-‘Ankabuut : 65)
Ayat ini menjelaskan bahwasanya dalam kondisi gawat kaum musyrikin mengesakan (tidak membagi) tauhid mereka sehingga ikhlas berdoa kepada Allah, akan tetapi tatkala mereka diselamatkan di daratan mereka kembali lagi melakukan pembagian tauhid dan menyimpang dalam tauhid al-uluhiyah.
Intinya : Pembagian tauhid nampak dan muncul pada makhluk lalu datanglah syari’at berusaha memperbaiki dan meluruskan pemahaman mereka yang keliru tentang tauhid. Jadilah timbul pembagian tauhid dalam syari’at yang memiliki 2 fungsi tersebut di atas. (http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/403-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-adalah-trinitas)
5. Pembagian Tauhid Ini Bukanlah Penimbulan/Pemunculan Suatu Makna Baru Yang Tidak Ada Di Zaman Salaf, Akan Tetapi Hanyalah Pembaharuan Dalam Istilah Atau Metode Penjelasan Dan Pemahaman
Kalau pembagian ini dikatakan bid’ah maka terlalu banyak penamaan dan pembagian yang kita hukumi sebagai bid’ah juga. Sebagai contoh misalnya  pembagian para ulama bahwasanya hukum taklifi terbagi menjadi 5 (wajib, mustahab, mubah, makruh, dan haram). Tentunya pembagian ini tidak terdapat dalam pembicaraan sahabat. Akan tetapi setelah diteliti dalil-dalil yang ada jelas bahwa kesimpulan hukum-hukum taklifi tidaklah keluar dari 5 hukum tersebut. (http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/403-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-adalah-trinitas)
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin berkata:
“Sebagian orang berpendapat bahwa membagi-bagi tauhid menjadi tiga (baca: tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma wa shifat) adalah bid’ah, karena yang semacam itu tidak diriwayatkan dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Sedangkan apa saja (yang dianggap) bagian dari agama padahal tidak datang dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka itu bid’ah.
Namun ini kita jawab, maka kita katakan, sesungguhnya banyak perkara sesuatu yang disusun oleh para ulama yang sebelumnya belum tersusun di masa Ar Rosul ‘alaihish sholatu was salam. Ini tidak perlu dijelaskan lagi. Orang-orang yang membaginya (tauhid) menjadi tiga tidak mendatangkan sesuatu yang baru, tidak pula mengingkari keabsahannya. Bahkan mereka membawakannya dari Al Quran & Sunnah, hanya saja mereka membaginya. Pembagian mereka ini berdasarkan perbedaan manusia di dalamnya. Sebagaimana yang akan kita terangkan (dalam pembahasan kitab), insyaAllah.Sekiranya kita menempuh jalan yang ditempuh orang yang nyeleneh ini, pasti juga kita katakan bahwa syarat-syarat, rukun-rukun, dan wajib-wajib shalat, rukun-rukun haji, wajib-wjib, dan larangan-larangannya, dan semisalnya, termasuk perkara bid’ah!Padahal kita tidak menyatakan (pembagian) ini sebagai bentuk ibadah kepada Allah, akan tetapi kita hanya menyebutkan ini sebagai bentuk mendekatkan ilmu kepada penuntutnya. Jadi, pembagian ini adalah sarana bukan tujuan.Maka yang benar -tidak ragu lagi-, bahwa pembagian tauhid menjadi tiga macam, dan menyebutkan syarat-syarat, rukun-rukun, wajib-wajib, serta perusak-perusak dalam ibadah-ibadah; ini semua diperbolehkan karena hanya sebagai sarana & pendekatan, serta meringkas sesuatu untuk penuntut ilmu. Kita juga ingat bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam biasa menyebutkan sesuatu dengan bilangan tertentu. Seperti: ‘Tujuh golongan manusia yang Allah naungi dengan naungan-Nya…’ [Riwayat Al Bukhari (660) & Muslim (1031) dari hadits Abu Hurairah], ‘Tiga golongan manusia yang tidak Allah ajak bicara di hari kiamat…’ [Riwayat Al Bukhari (2369 & 2672) & Muslim (107) dari hadits Abu Hurairaah], dan semisalnya. Ini termasuk macam dari pembagian.” [Syarh ‘Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah hal. 6-7 cet. ke-4 1431 H, Dar Ibnul Jauzi Mesir] {http://almarwadi.wordpress.com/2012/09/27/klaim-bidahnya-pembagian-tauhid-serta-bantahan-atasnya/}
6. Bahkan Pembagian Tauhid yang Tersirat Di Dalam Kalimat Tauhid (Laa Ilaha Illallah)
Bahkan kalimat tauhid “Lailaha illallah”yang merupakan pokok dan asas agama telah menunjukkan pembagian tauhid yang berjumlah tiga. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah –rahimahullah-:
“Di dalam syahadat La ilaha ilallah terdapat sifat ilahiyah yang merupakan asas dari tiga tauhid: Tauhid ar-rububiyah, tauhid al-uluhiyah, serta tauhid al-asma wa sifat. Agama para rasul serta apa-apa yang diturunkan kepada mereka selalu menyerukan permasalahan ini. Perkara ini juga merupakan pondasi terbesar yang tersirat di dalam kalimat “La ilaha illallah”yang sesuai dan terbukti dengan akal-akal serta fitrah”.Adapun sisi yang tersirat di dalam kalimat yang agung ini terhadap pembagian tauhid yang tiga, akan tampak secara jelas bagi orang yang memperhatikannya. Kalimat “Lailaha illallah”menunjukkan ketetapan suatu ibadah yang hanya untuk Allah serta menafikan peribadahan kepada yang selain-Nya. Sebagaimana kalimat ini menunjukkan pula atas jenis tauhid ar-rububiyah, karena sesuatu yang lemah tidaklah pantas dijadikan sebagai ilah (sesembahan). “Lailaha illallah”juga menunjukkan tauhid al-asma wash shifat, karena sesuatu yang kosong dari nama dan sifat bukanlah sesuatu apapun, bahkan dia tidak berwujud. Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama, “Al-Musyabbih (orang-orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-pent) merupakan penyembah berhala, Al-Mua’thil (yang menafikan sifat Allah) menyembah sesuatu yang tidak eksis, sedangkan AlMuwahhid (orang – orang yang bertauhid) menyembah penguasa bumi dan langit”. (http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Other/Mengapa-Tauhid-Dibagi-Tiga.pdf)
Sehingga, otomatis, bahwa setiap muslim yang telah bersyahadat dan mengulang-ulangnya dalam setiap sholatnya (baik yang wajib maupun yang sunnah) harus mengakui ketiga macam tauhid ini, agar aqidahnya lurus

Tauhid Itu Mengesakan Alloh yang Satu, Kok Dibagi Tiga? (3) [Asal-Usul Pembagian Tauhid]

C. Darimana Asal-Usul Pembagian Tauhid Menjadi 3? (Perkataan Para Ulama Salaf Terkait Masalah Ini)
Kitab-kitab salafush sholih sarat dengan pembagian tauhid tersebut, terkadang disebutkan secara langsung atau sesuatu yang tersirat, apabila dinukilkan semua tentang perkataan mereka dalam permasalahan ini, maka pembahasannya akan panjang. Akan tetapi, disini dicukupkan dengan sebagian nukilan dari para salaf umat ini, dan untaian ringkas dan mudah dari perkataan mereka yang mengandung penyebutan pembagian tauhid yang tiga. (http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Other/Mengapa-Tauhid-Dibagi-Tiga.pdf)
1. Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit yang wafat pada tahun 150 H berkata dalam kitab beliau Al-Fiqhul Absath :
“Allah itu diseru dengan suatu sifat yang tinggi bukan dengan sifat yang rendahan, karena sifat yang rendah bukanlah termasuk sifat rububiyah dan uluhiyah sedikitpun”.
Perkataan beliau: “Diseru dengan suatu sifat yang tinggi bukan dengan sifat yang rendahan”, padanya terdapat penetapan sifat ketinggian Allah. Dan ini termasuk ke dalam tauhid asma wash shifat yang di dalamnya terdapat bantahan terhadap orang-orang Jahmiyah, Mu’tazilah, Asya’iroh, Maturidiyah dan golongan lainnya yang menolak ketinggian Allah.
Perkataan beliau, “..termasuk sifat rububiyah”, padanya terdapat penetapan tauhid rububiyah. Adapun perkataan beliau, “..dan uluhiyah”. Di dalamnya terdapat penetapan tauhid uluhiyah.
2. Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi yang wafat pada tahun 321 H berkata dalam muqadimah kitab aqidahnya yang masyhur dengan nama Ath-Thohawiyah,
“Kami katakan dengan penuh keyakinan –dan semoga Allah memberikan curahaan taufiknya-, dalam masalah pengesaan terhadap Allah: Allah itu Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada sesuatu yang sepadan dengan-Nya, tidak ada sesuatupun yang mampu untuk mengalahkan-Nya, dan tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia…”.
Maka ucapan beliau, “Allah itu Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya”, tercakup di dalamnya pembagian tauhid yang berjumlah tiga, yaitu Allah adalah Maha Suci, Esa, dan tidak ada sekutu bagi-Nya di dalam kekuasaan-Nya. Maha Esa pula, tidak ada sekutu bagiNya dalam perkara uluhiyah-Nya. Dan juga Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Nya dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Kata beliau, “Tidak ada sesuatu yang semisal dengan-Nya”. Ini merupakan tauhid al-asma wash shifat. Ucapan beliau juga, “Tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan-Nya”, ini masuk ke dalam Tauhidur-rububiyah. Dan pada ucapan beliau, “Tidak ada sesembahan yang haq melainkan Dia”, ini merupakan

tauhid al-uluhiyah.
3. Berkata Al-Imam Abu Abdillah Ubaidullah bin Muhammad bin Baththoh Al-‘Akbari -wafat pada tahun 387 H- di dalam kitabnya Al-Ibanah ‘an Syariati Al-Firqotin Najiyah wa Mujanibatil Firrqotil Madzmumah,
“Sesungguhnya prinsip keimanan kepada Allah yang wajib bagi para makhluk untuk meyakininya dalam menetap keimanan kepada-Nya ada tiga bagian:
Yang pertama: seorang hamba harus meyakini Rabbaniyah Allah. Yang demikian itu sebagai pemisah antara madzhab ahlu ta’thil yang tidak menetapkan adanya pencipta.
Yang kedua: seorang hamba harus meyakini keesaan Allah. Hal ini untuk membedakan dengan madzhab pelaku syirik yang menetapkan adanya pencipta namun mereka menyekutukan Allah dalam peribadahan-Nya.
Yang ketiga: dia harus meyakini bahwa Allah disifati dengan sifat-sifat yang dengannya Allah mensifati diri-Nya, seperi ilmu, qudroh, hikmah dan seluruh apa yang Dia sifatkan di dalam kitab-Nya.
Apabila telah kita ketahui bahwa kebanyakan orang yang telah mengakui Allah, serta mentauhidkan-Nya dengan dengan sesuatu yang mutlak, terkadang menyimpang dalam masalah sifat-sifat-Nya, sehingga penyimpangan mereka dalam masalah itu telah merusak tauhidnya. Ini karena kita lihat bahwa Allah ta’ala telah menyeru para hamba-Nya untuk meyakini setiap jenis dari ketiga hal (yaitu tauhid-pent) tersebut dan beriman dengannya.
Adapun seruan-seruan Allah kepada mereka untuk mengakui Rabbaniyah serta keesaanNya, tidaklah kami sebutkan, mengingat panjang dan luasnya pembahasan hal tersebut, Dan juga karena golongan Jahmiyah-pun mengakui bahwa mereka menetapkan keduanya (yaitu pengakuan rububiyah serta keesaan Allah –pent). Namun karena mereka mengingkari sifat-sifat Allah maka batallah pengakuan mereka terhadap keduanya” .Kemudian beliau memberikan dalil yang menunjukkan kebatilan perkatan Jahmiyah dalam penafian sifat.
Ini merupakan ungkapan yang sangat jelas yang memaparkan tentang pembagian tauhid yang tiga. Renungkan –semoga Allah menjagamu- ucapan Ibnu Baththah: “Ini karena kita lihat bahwa Allah ta’ala telah menyeru para hambaNya untuk meyakini setiap jenis dari ketiganya”. Padanya terdapat bantahan yang jelas terhadap orang-orang yang menyangka bahwa pembagian ini tidak terdapat dalam kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya sholallahu ‘alaihi wasallam.
4Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusy (wafat 520 H) menyebutkan dalam mukadimah kitab Sirajul Muluk :
“Dan aku bersaksi bahwa sungguh bagi Allah sifat rububiyah dan keesaan, dan dengan apa-apa yang Allah telah persaksikan bagi diriNya dari nama-namanya yang baik dan sifatsifat-Nya yang maha tinggi serta sifat-sifat-Nya yang maha sempurna”. Setelah itu beliau menyebutkan pembagian tauhid menjadi tiga.
5. Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi (wafat 671 H) berkata:
“Maka Allah adalah nama yang menunjukan keberadaan yang Haq, terkandung di dalamnya sifat-sifat ilahiyah, yang tersifati dengan sifat rububiyah. Maha Tunggal dengan keberadaan-Nya yang hakiki. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia” .
Beliau juga berkata, “Dasar kesyirikan yang diharamkan adalah berkeyakinan adanya sekutu bagi Allah ta’ala dalam ke-ilahiyan-Nya, dan ini adalah kesyirikan yang terbesar, dan kesyirikan yang dilakukan orang-orang jahiliyah. Bentuk kesyirikan yang selanjutnya adalah keyakinan adanya sekutu bagi Allah ta’ala di dalam perbuatan walaupun dia tidak meyakini ketuhanan hal tersebut, seperti perkataan orang-orang: “Sesungguhnya yang ada selain Allah Ta’ala memungkinkan untuk mengadakan dan menciptakan dengan tanpa adanya keterkaitan” . (http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Other/Mengapa-Tauhid-Dibagi-Tiga.pdf)
Bacalah ucapan ulama lainnya, seperti: Ibnu Mandah, Abu Yusuf Al-Qodhi, Al-Imam Abul Qosim Isma’il At-Taimi Al-Ashbahani, dan Ibnu Jarir Ath-Thobari terkait pembagian tauhid ini dalam artikel  di link tersebut
6. Ibnu Abi Zaid Al-Qairawany Al-Maliky ( wafat th. 386 H )
Di dalam muqaddimah kitab beliau Ar-Risalah Al-Fiqhiyyah hal. 75 ( cet. Darul Gharb Al-Islamy ) . Beliau mengatakan :
“Termasuk diantaranya adalah beriman dengan hati dan mengucapkan dengan lisan bahwasanya Allah adalah sesembahan yang satu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada yang serupa denganNya dan tidak ada tandinganNya…Pencipta segala sesuatu, ketahuilah bahwa Dia adalah pencipta hamba-hambaNya dan pencipta amalan-amalan mereka, dan yang menakdirkan gerakan-gerakan mereka dan ajal-ajal mereka ”
Perkataan beliau ” sesembahan yang satu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia “: ini termasuk tauhid Uluhiyyah
Perkataan beliau ” tidak ada yang serupa denganNya dan tidak ada tandinganNya ” : ini termasuk tauhid Asma’ wa Sifat
Perkataan beliau ” Pencipta segala sesuatu, ketahuilah bahwa Dia adalah pencipta hamba-hambaNya dan pencipta amalan-amalan mereka, dan yang menakdirkan gerakan-gerakan mereka dan ajal-ajal mereka ” : ini termasuk tauhid Rubiyyah.
Selanjutnya, diantara ulama belakangan yang membagi tauhi menjadi 3 adalah:
7. Syeikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithy ( wafat th. 1393 H ) di dalam Adhwaul Bayan (3 / 111-112), ketika menafsirkan Surat Al-Isro': 9
8. Syeikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, diantaranya dalam kitab beliau Kaifa Nuhaqqiqu At-Tauhid ( hal. 18-28 ) .
9. Syeikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, diantaranya dalam Fatawa Arkanil Islam ( hal. 9-17 )
10. Syeikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr ( pengajar di Masjid Nabawy ), diantaranya dalam muqaddimah ta’liq beliau terhadap kitab Tathhir ul I’tiqad ‘an Adranil Ilhad karangan Ash-Shan’any dan kitab Syarhush Shudur fi Tahrim Raf’il Qubur karangan Asy-Syaukany (hal . 12-20.)
11. Syeikh Abdul Aziz Ar-Rasyid, di dalam kitab beliau At-Tanbihat As-Saniyyah ‘ala Al-Aqidah Al-Wasithiyyah (hal. 14) .
12. Syeikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, di dalam kitab beliau Al-Mukhtashar Al-Mufid fi Bayani Dalaili Aqsamit Tauhid. Kitab ini adalah bantahan atas orang yang mengingkari pembagian tauhid, Dan lain-lain (http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/2009/06/asal-usul-pembagian-tauhid.html)
Jadi ternyata, pembagian tauhi menjadi 3 tersebut sudah didahului oleh para ulama sebelum Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, seperti: Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit, Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi, Al-Imam Abu Abdillah Ubaidullah bin Muhammad bin Baththoh Al-‘Akbari, Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusy, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Ibnu Mandah, Abu Yusuf Al-Qodhi, Al-Imam Abul Qosim Isma’il At-Taimi Al-Ashbahani, dan Ibnu Jarir Ath-Thobari, dan Ibnu Abi Zaid Al-Qairawany Al-Maliky. Dengan demikian, batallah argumen orang-orang yang mengatakan bahwa pembagian tauhid yang 3 ini hanya akal-akalan kaum salafi yang hanya mengekor (taklid) kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Sebagai tambahan informasi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah lahir pada tahun 661 H dan wafat pada tahun 728 H. (http://abufathurrahman.wordpress.com/2007/11/13/biografi-ringkas-syaikhul-islam-ibnu-taimiyyah/)
Hal ini menunjukkan bahwa dalam pembagian ini, ahlussunnah wal-jama’ah selalu mengikuti apa yang telah datang dari masa sebelum mereka. Tidak terdapat perbedaan di kalangan mereka. Dalam hal ini mereka mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah, dan selalu tegar di atas apa yang datang dalam keduanya. Mereka hanya mengikuti, tidak membuat bid’ah. Mereka hanya mengikuti teladan mereka, tidak memulai hal yang baru, dan yang menyelisihi mereka adalah ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu, Orang-orang yang ragu dengan Allah dan Rasul-Nya, yang menempuh selain jalan orang-orang yang beriman. (http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Other/Mengapa-Tauhid-Dibagi-Tiga.pdf)

Tambahan Faedah
a. Ternyata kaum Asyaa’iroh juga membagi tauhid menjadi 3, mereka menyatakan bahwa wahdaniah (keesaan) Allah mencakup tiga perkara,  ungkapan mereka adalah:

“Sesungguhnya Allah (1) maha satu pada dzatnya maka tidak ada pembagian dalam dzatNya, (2) Maha esa pada sifat-sifatNya maka tidak ada yang menyerupai sifat-sifatnya, dan (3) Maha esa pada perbuatan-perbuatanNya maka tidak ada syarikat bagiNya.
b. Abu Hamid Al-Gozali menyatakan bahwa tauhid yang berkaitan dengan kaum muslimin ada 3 tingkatan, karena beliau membagi tauhid menjadi 4 tingkatan, dan tingkatan pertama adalah tingkatan tauhidnya orang-orang munafik.
c. Sebagian ulama Ahlul Kalaam juga mengenal istilah tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah, yaitu Abu Mansuur Al-Maturidi

Tauhid Itu Mengesakan Alloh yang Satu, Kok Dibagi Tiga? (4) [Akibat Tidak Mau Membagi Tauhid Menjadi 3]

D. Apa Akibatnya jika Tidak Mau Membagi Tauhid Menjadi 3?
Barangkali masih ada yang bertanya, memangnya apa salahnya jika tidak mau membagi tauhid menjadi tiga? Setidaknya ada 2 kesalahan fatal yang akan dialami oleh orang yang tidak mau meyakini tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan asma wa shifat adalah:
1. Hanya Meyakini Tauhid Rububiyah saja, Salah dalam Cara Beribadah yang Benar (yang Selamat dari Kesyirikan)
Hal ini sudah dijelaskan dalam poin B. 1 di atas.
Mereka juga menafsirkan syahadat Laa ilaaha illalloh sebagai
  • Tidak ada Tuhan selain Allah (Laa Robba illallah)
Ini adalah penafsiran yang batil dan di bawahnya ada beberapa penafsiran yang batil yang semuanya kembali kepada makna ini, yaitu :
a. Tidak ada pencipta selain Allah (Laa Kholiqa illallah)
b. Tidak ada yang menguasai atau memberi rezki kecuali Allah (Laa malika aw roziqa illallah)
c. Tidak ada yang sanggup mengadakan yang baru kecuali Allah (Laa qodira ’alal ikhtiro’ illallah) dan ini adalah penafsiran para ahli kalam dan filsafat.
Ketiga makna ini dan makna-makna yang semisalnya kita katakan bisa kembali kepada penafsiran tidak ada Tuhan selain Allah (Laa Robba illallah) , karena kata robbun (Tuhan) secara bahasa Arab mencakup 3 makna, yaitu Al-Kholiq (pencipta), Al-Malik (penguasa) dan Al-Mudabbir (pengatur) maka siapa yang meyakini bahwa Allah adalah Tuhannya berarti dia meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan dia, hanya Allah yang menguasai dia dan hanya Allah yang mengatur dirinya beserta seluruh makhluk.
Setelah ini dipahami, maka ketahuilah bahwa makna kalimat ini “Tidak Ada Tuhan selain Allah’ adalah benar, hanya saja yang bermasalah dan yang merupakan kebatilan kalau kalimat ini dijadikan sebagai makna kalimat tauhid laa ilaha illallah. Karena kalau kalimat tauhid ditafsirkan dengan penafsiran seperti ini maka berarti siapa saja yang telah mengakui hanya Allah sebagai Robb (Tuhan) –yakni sebagai pencipta, penguasa dan pengatur- maka berarti dia telah berlaa ilaha illallah atau telah masuk Islam, padahal orang-orang musyrikin dan ahlul kitab (Yahudi dan Nashrani) bahkan seluruh makhluk -kecuali beberapa kelompok kecil dari manusia- dari dahulu sampai sekarang semuanya mengakui bahwa ’Tidak ada Tuhan selain Allah’. Mereka tidak pernah ada yang mengatakan apalagi meyakini bahwa ada pencipta selain Allah atau ada yang menguasai dan mengatur alam semesta selain Allah, tidak sama sekali akan tetapi bersamaan dengan semua keyakinan di atas –yakni keyakinan hanya Allah sebagai pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta tanpa selainnya atau dengan kalimat lebih ringkas keyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah-, mereka tetap dikatakan musyrik dan kafir, tetap diperangi oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan tetap diperintahkan untuk mengucapkan Laa ilaha illalah, menunjukkan bukan makna ini yang diinginkan dari kalimat tauhid yang mulia ini. (http://almakassari.com/beberapa-penafsiran-batil-dari-kalimat-tauhid-%E2%80%9Claa-ilaaha-illallah%E2%80%9C.html)
Sekali lagi, lihat kembali bantahan atas keyakinan ini di poin B. 1 di atas.
Padahal tafsiran yang benar adalah sebagaimana perkataan ulama berikut ini:
Berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim dalam Madarij As-Salikin (1/18) :
“Nama “Allah” menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah) ma’bud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan dan ketundukan”.
Berkata Imam Ibnu Rajab :
Al-Ilah adalah yang ditaati dan tidak didurhakai karena mengagungkan dan memuliakan-Nya, merasa cinta, takut, berharap dan bertawakkal kepada-Nya, meminta dan berdo’a pada-Nya. Dan semua ini tidak boleh kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka siapa yang mengikutsertakan makhluk-Nya pada salah satu dari perkara-perkara yang merupakan kekhususan penyembahan (ibadah) ini maka dia telah merusak keikhlasannya dalam kalimat Laa Ilaaha Illallah. Dan padanya terdapat peribadatan kepada makhluk (kesyirikan) yang kadarnya sesuai dengan banyak atau sedikitnya hal-hal tersebut terdapat padanya”.
Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh :
“Dan ini banyak dijumpai pada perkataan kebanyakan ulama salaf dan merupakan ‘ijma (kesepakatan) dari mereka. Maka kalimat ini menunjukkan penafian penyembahan terhadap segala apa saja selain Allah bagaimanapun kedudukannya. Dan menetapkan penyembahan hanya kepada Allah saja semata. Dan ini adalah tauhid yang didakwahkan seluruh Rasul dan ditunjukkan oleh Al-Qur’an dari awal sampai akhirnya”.
Adapun dalil-dalilnya, antara lain: QS. Al-Baqarah : 256, Az-Zukhruf : 26-27, An-Nisa` : 36, Adz-Dzariy at : 56, Al-Baqarah : 29, An-Nahl : 36, Al-Anbiya` : 25, Az-Zukhruf : 45, Hud : 1-2, dan Az-Zumar : 2
Jadi, makna Laa ilaaha illallahadalah tidak ada sembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah.
Sebagai bukti terakhir atas hal ini, lihatlah bagaimana jawaban kaum musyrikin tatkala diperintah mengucapkan kalimat tauhid, spontan mereka menolak karena sangat mengetahui apa makna dan konsekwensi kalimat ini yaitu harusnya meninggalkan semua sembahan mereka dan menjadikannya hanya satu sembahan yaitu hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka betapa celakanya seseorang yang mengaku muslim yang Abu Jahl lebih tahu dan lebih faham tentang makna laa Ilaha illallah daripada dirinya. Wallahul musta’an. (http://almakassari.com/makna-kalimat-tauhid-laa-ilaha-illallah.html)
Baca selengkapnya tentang makna kalimat “Laa ilaaha illalloh” di situs tersebut
Kita dapati kaum asyairoh dalam buku-buku aqidah mereka menyatakan bahwa أَوَّلُ وَاجِبٍ عَلَى الْمُكَلَّفِ هُوَ النَّظْرُ (Yang pertama wajib bagi seorang mukallaf adalah pengamatan untuk meyakini adanya pencipta). Sehingga konsentrasi mereka adalah tentang penetapan akan adanya Tuhan Pencipta Yang Maha Esa dalam Penciptaan
Akibat dari salah penafsiran tentang laa ilaaha illallah ini akhirnya seseorang yang beristighotsah dan berdoa kepada selain Allah tidaklah terjerumus dalam kemusyrikan selama meyakini bahwa pencipta satu-satunya adalah Allah.
Karenanya kita dapati sebagian orang alim mereka (sebagian kiyai) terjerumus dalam kesyirikan atau membolehkan kesyirikan. Menurut mereka hal-hal berikut bukanlah kesyirikan :
– Berdoa kepada mayat, meminta pertolongan dan beristighotsah kepada mayat bukanlah kesyirikan, selama meyakini bahwa mayat-mayat tersebut hanyalah sebab dan Allahlah satu-satunya yang menolong
–  Jimat-jimat bukanlah kesyirikan selama meyakini itu hanyalah sebab, dan yang menentukan hanyalah Allah. Karenanya kita dapati sebagian kiyai menjual jimat-jimat
– Bahkan kita dapati sebagian kiyai mengajarkan ilmu-ilmu kanuragan atau ilmu-ilmu sihir. Karena selama meyakini itu hanyalah sebab dan Allah yang merupakan sumber kekuatan maka hal ini bukanlah kesyirikan.
– Sebagian mereka juga membolehkan memberikan sesajen atau tumbal kepada lumpur lapindo atau kepada gunung yang akan meletus, karena menurut mereka hal itu bukanlah bentuk kesyirikan kepada Allah. (http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/403-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-adalah-trinitas)
Naudzu billahi min dzaalik. Berikut bantahannya
Padahal, doa adalah ibadah yang sangat penting, yang jika diserahkan kepada selain Allah, maka merupakan syirik besar
Sesungguhnya doa merupakan ibadah yang sangat penting, karena pada doa nampaklah kerendahan dan ketundukan orang yang berdoa kepada dzat yang menjadi tujuan doa. Pantas saja jika Nabi bersabda :
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ : {وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ}.
“Doa itulah ibadah”, kemudian Nabi membaca firman Allah ((Dan Rob kalian berkata : Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan bagi kalian))” (HR Ahmad no 18352, Abu Dawud no 1481, At-Tirmidzi no 2969, Ibnu Maajah no 3828, dan isnadnya dinyatakan jayyid (baik) oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 1/49)
Al-Hulaimi (wafat tahun 403 H) berkata :
“Dan doa secara umum merupakan bentuk ketundukkan dan perendahan, karena setiap orang yang meminta dan berdoa maka ia telah menampakkan hajatnya (kebutuhannya) dan mengakui kerendahan dan kebutuhan kepada dzat yang ia berdoa kepadanya dan memintanya. Maka hal itu pada hamba seperti ibadah-ibadah yang dilakukan untuk bertaqorrub kepada Allah. Oleh karenanya Allah berfirman ((Berdoalah kepadaku niscaya akan Aku kabulkan, sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepadaku akan masuk dalam neraka jahannam dalam keadaan terhina)). Maka Allah menjelaskan bawhasanya doa adalah ibadah” (Al-Minhaaj fai syu’ab Al-Iimaan 1/517)
Ar-Roozi menyebutkan dalil yang banyak kemudian ia berkata :
“Allah berfirman ((Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang aku maka sesungguhnya aku dekat)), dan Allah tidak berkata ((Katakanlah aku dekat)), maka ayat ini menunjukkan akan pengagungan kondisi tatkala berdoa dari banyak sisi. Yang pertama, seakan-akan Allah berkata : HambaKu engkau hanyalah membutuhkan washithoh (perantara) di selain waktu berdoa adapun dalam kondisi berdoa maka tidak ada perantara antara Aku dan engkau” (Mafaatihul Goib 5/106)
Sungguh dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya berdoa kepada selain Allah merupakan kesyirikan sangatlah banyak. Diantaranya firman Allah  dalam surat QS Al-Ahqoof : 5; Al-Mukminun: 117; Asy-Syu’aroo: 213; An-Naml: 62; QS Al-Qoshosh: 88; dan Al-Jin: 18.
Rasulullah bersabda :
مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ
“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan berdoa kepada selain Allah maka masuk neraka” (HR Al-Bukhari no 4497)
Itulah dalil yg banyak yang menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah merupakan kesyirikan.
Allah dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam tidak pernah mengecualikan bahwasanya jika berdoa kepada makhluk dengan keyakinan bahwasanya makhluk tersebut (baik malaikat atau nabi atau wali) tidak ikut mencipta, mengatur, dan memberi rizki secara independent maka bukan kesyirikan. (http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/128-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-7-qperkataan-abu-salafy-berdoa-kepada-selain-allah-tidak-mengapa-selama-tidak-syirik-dalam-tauhid-rububiyahq)
Bacalah bantahan atas hal ini secara lebih luas dalam situs tersebut. Baca juga tentang bantahan terhadap orang yang menjadikan mayat orang sholih atau Nabi sebagai perantara dalam berdoa di situs http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab

Tauhid Itu Mengesakan Alloh yang Satu, Kok Dibagi Tiga? (5) [Akibat Tidak Mau Membagi Tauhid Menjadi 3, Lanjutan]

2. Menyimpang (Ilhad) dalam Pemahaman dan Pengamalan atas Nama dan Shifat Alloh ‘Azza wa Jalla
Ketidakpedulian terhadap tauhid Asma wa Shifat dan hanya meyakini pengertian tauhid sebagai tauhid rububiyah semata (hanya meyakini bahwa Alloh adalah pencipta, penguasa, dan pengatur) akan menjerumuskan seseorang ke dalam berbagai bentuk penyimpangan (ilhad) dalam memahami nama-nama dan sifat Alloh. Hal ini merupakan kelaziman sebagai petaka dari kebodohannya terhadap ilmu yang agung ini, sedangkan para penebar syubhat kesesatan begitu laris di media.
Bentuk ilhâd (penyimpangan) dalam memahami nama dan sifat Allâh Azza wa Jalla bermacam-macam. Sebagian hukumnya sampai pada tingkat kesyirikan dan ada yang sampai pada tingkat kekafiran, sesuai dengan petunjuk dalil-dalil syariat yang ada [Al-Qawâ-‘idul Mutslâ hlm. 50] .
Macam-macam bentuk ilhâd tersebut adalah sebagai berikut:
aMengingkari sebagian dari nama-Nya atau mengingkari sifat-sifat dan hukum-hukum yang dikandung nama-nama tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh ahlu ta’thil (orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla ) dari kelompok jahmiyah dan selain mereka.
Perbuatan mereka ini termasuk ilhâd, karena kita wajib mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla serta sifat-sifat yang sesuai dengan kebesaran-Nya yang dikandung nama-nama tersebut. Maka mengingkari hal tersebut termasuk penyimpangan dalam masalah ini.
b. Menjadikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya menyerupai nama-nama dan sifat-sifat makhluk, sebagaimana yang dilakukan oleh ahlu tasybih (orang-orang yang menyerupakan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk).
Perbuatan mereka ini termasuk ilhâd karena perbuatan menyerupakan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk adalah kebatilan dan keburukan yang besar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat [asy-Syuurâ/42:11]
فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Maka janganlah kamu mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allah. Sesungguhnya Dia mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui [an-Nahl/16:74]
c. Menetapkan bagi Allâh Azza wa Jalla nama yang tidak ditetapkan-Nya bagi diri-Nya, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Nashrani yang menamakan Allâh Azza wa Jalla dengan nama bapak. Juga seperti perbuatan kaum filosof (ahli filsafat) yang menamakan Allâh Azza wa Jalla dengan al-‘illatul fâ’ilah (penyebab yang berbuat).
Perbuatan mereka ini termasuk al-ilhad, karena penetapan nama-nama Allah bersifat tauqifiyyah (harus berdasarkan dalil dari al-Qur’ân dan hadits yang shahih, tidak boleh ditambah dan dikurangi). Sebab, Allâhlah yang maha mengetahui nama-nama dan sifat-sifat yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.
dMenamai berhala dengan mengambil dari nama-nama Allâh Azza wa Jalla , seperti perbuatan orang-orang musyrik yang mengambil nama untuk berhala mereka al-‘uzza dari nama Allâh al-‘Aziz (Yang Maha Mulia dan Perkasa), demikian juga nama al-lata dari nama-Nya “al-Ilah” (Dzat yang berhak diibadahi)
Perbuatan mereka ini termasuk al-ilhad karena nama-nama yang Allâh Azza wa Jalla tetapkan bagi diri-Nya adalah khusus untuk diri-Nya semata-mata, sebagaimana firman-Nya:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu [al-A’râf/7:180]
Sebagaimana hak untuk diibadahi dan disembah khusus milik Allâh Azza wa Jalla semata, karena hanya Dia-lah semata yang menciptakan, memberi rezki, memberi kemanfaatan, mencegah kemudharatan, dan mengatur alam semesta, maka hanya Dia-lah yang khusus memiliki nama-nama yang maha indah, dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya. [Keterangan Syaikh al-‘Utsaimin dalam al-Qawâ-‘idul Mutslâ hlm. 49-50 dengan ringkas dan penyesuaian. Lihat juga keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Badâ-i’ul Fawâ-id hlm.179-180] .
e. Menyebut Allâh Azza wa Jalla dengan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan dan celaan, padahal Allâh Azza wa Jalla adalah Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua sifat tersebut, sebagaimana ucapan sangat kotor dari orang-orang Yahudi yang mengatakan:
إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ
Sesungguhnya Allâh miskin dan kami kaya [Ali-‘Imrân/3:181]
Juga ucapan kotor mereka:
يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ
Tangan Allâh terbelenggu [al-Mâidah/5:64] [Lihat Badâi’ul Fawâidhlm.179] . (http://almanhaj.or.id/content/3581/slash/0/penyimpangan-dalam-nama-nama-dan-sifat-sifat-allh-azza-wa-jalla/)
f.  Tahrif (menyimpangkan makna), yaitu mengubah atau mengganti makna yang ada pada nama dan sifat Allah, tanpa dalil. Misalnya: Sifat Allah marah, diganti maknanya menjadi keinginan untuk menghukum, sifat  Allah istiwa (bersemayam), diselewengkan menjadi istaula (menguasai), Tangan Allah, disimpangkan maknanya menjadi kekuasaan dan nikmat Allah.
gTakyif (membahas bagaimana bentuk dan hakikat nama dan sifat Allah), yaitu menggambarkan bagaimanakah hakikat sifat dan nama yang dimiliki oleh Allah. Misalnya, Tangan Allah, digambarkan bentuknya bulat, panjangnya sekian, ada ruasnnya, dan lain-lain. Kita hanya wajib mengimani, namun dilarang untuk menggambarkannya.
Karena hal ini tidak mungkin dilakukan makhluk. Untuk mengetahui bentuk dan hakikat sebuah sifat, hanya bisa diketahui dengan tiga hal:
a) Melihat zat tersebut secara langsung. Dan ini tidak mungkin kita lakukan, karena manusia di dunia tidak ada yang pernah melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
b) Ada sesuatu yang semisal zat tersebut, sehingga bisa dibandingkan. Dan ini juga tidak mungkin dilakukan untuk Dzat Allah, karena tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah. Maha Suci Allah dari hal ini.
c) Ada berita yang akurat (khabar shadiq) dan informasi tentang Dzat dan sifat Allah. Baik dari Al Qur’an maupun hadis. Karena itu, manusia yang paling tahu tentang Allah adalah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun demikian, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menggambarkan bentuk dan hakikat sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala. (http://yufidia.com/tauhid-asma-wa-sifat)
Contoh-contoh penyimpangan dalam nama dan sifat Allah Azza wa Jalla yang tersebar di masyarakat
Banyak contoh perbuatan ini yang terjadi di masyarakat, karena ketidakpahaman mereka terhadap urusan agama mereka, terutama masalah yang berhubungan dengan keyakinan dasar dan keimanan mereka, meskipun kebanyakan penyimpangan tersebut tidak separah dan tidak sampai pada tingkat kekafiran seperti bentuk-bentuk penyimpangan di atas. Meskipun demikian, tentu semua ini harus dijauhi karena sedikit banyak akan merusak keimanan dan mendangkalkan keyakinan seorang Muslim terhadap Allâh Azza wa Jalla .
Beberapa contoh penyimpangan tersebut, di antaranya:
a. Keyakinan sebagian orang yang tidak paham agama bahwa masing-masing dari Asmâul Husnâ (nama-nama Allâh yang maha indah) mempunyai khasiat khusus untuk mengobati penyakit tertentu.
Perbuatan ini jelas merusak keyakinan, bahkan mengandung pelecehan terhadap nama-nama Allâh yang maha indah, disamping itu juga merupakan perbuatan bid’ah yang sesat serta memalingkan manusia dari dzikir dan ruqyah yang bersumber dari al-Qur’ân dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.
b. Menjadikan nama-nama Allâh sebagai jimat dengan menulisnya pada kertas atau manik-manik kemudian di gantung pada kendaraan atau rumah, dengan tujuan untuk penjagaan dan perlindungan dari pandangan mata jahat, kedengkian, gangguan setan dan lain sebagainya.
Perbuatan ini jelas diharamkan dalam Islam, berdasarkan keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka sungguh dia telah berbuat syirik”[R. Ahmad (4/156) dan al-Hâkim no. 7513. Lihat Ash-Shahîhah no. 492]
c. Menulis nama-nama Allâh Azza wa Jalla pada pigura yang indah dengan tulisan yang dihiasi (kaligrafi) untuk dijadikan sebagai hiasan dinding, sehingga orang yang melihatnya akan kagum dengan keindahan tulisan dan hiasannya, bukan pada keindahan nama-nama-Nya apalagi untuk meningkatkan keimanan.

Perbuatan ini jelas tidak disyariatkan, karena perbuatan ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat . Juga karena nama-nama Allâh Azza wa Jalla terlalu agung dan mulia untuk dijadikan sebagai hiasan dinding dan rumah.
d. Menjadikan Asmâul Husnâ (nama-nama Allâh yang maha indah) sebagai bahan dzikir sehari-hari dengan membaca semua nama tersebut. Ada yang membacanya di waktu pagi dan sore, atau setelah shalat lima waktu, bahkan terkadang ada yang membacanya berulang-ulang sampai ratusan kali.
Adapun makna ‘berdoa dengan nama-nama Allâh’ seperti yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam surat al-A’râf ayat 180, juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, yang barangsiapa menghafal (dan memahami kandungan)nya maka dia akan masuk surga”[HR. al-Bukhâri no. 2585 dan Muslim no. 2677] , adalah menghapal nama-nama tersebut, memahami kandungan maknanya, dan mengamalkannya serta berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla dengan menyebut nama-Nya yang sesuai dengan permintaan yang kita sampaikan kepada-Nya.
e. Termasuk kesalahan besar dalam masalah ini adalah memberi nama seseorang dengan nama yang berarti penghambaan kepada selain Allâh Azza wa Jalla, seperi ‘abdun nabi (hambanya Nabi) atau ‘abdul ka’bah (hambanya ka’bah), ‘abdul Husain (banyak terdapat di kalangan Syiah) dan lain-lainnya.
Perbuatan ini diharamkan dalam Islam berdasarkan konsensus para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah, karena manghambakan diri kepada selain Allâh Azza wa Jalla adalah perbuatan syirik.
f. Juga termasuk kesalahan dalam masalah ini adalah membuang kertas, buku ataupun majalah yang bertuliskan nama-nama Allâh di sembarang tempat ataupun di tempat sampah yang bercampur dengan kotoran dan barang-barang buangan.
Perbuatan ini diharamkan dalam Islam, karena menunjukkan sikap tidak memuliakan dan mengagungkan nama-nama-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidak menjawab salam seorang Sahabat ketika beliau sedang berada di WC [Hadits hasan shahih riwayat Abu Dâwud no. 16 dan at-Tirmidzi no.90] , dalam rangka memuliakan nama Allâh Azza wa Jalla dengan tidak menyebutkannya sewaktu berada di tempat yang kotor dan najis [Keterangan Syaikh ‘Abdurrazzâq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr dalam Fiqhul Asmâil Husnâ hlm. 66-69 dengan ringkas dan penyesuaian] .
Cara untuk menyelamatkan diri dari penyimpangan dan dosa besar ini
Satu-satunya cara untuk selamat dari penyimpangan besar ini adalah dengan berdoa memohon taufik kepada Allâh Azza wa Jalla agar kita terhindar dari semua bentuk penyimpangan dan kesesatan dalam memahami dan mengamalkan agama ini.
Kemudian dengan berusaha mengikuti metode yang benar dalam memahami dan mengamalkan agama Islam, yaitu manhaj ulama Salaf, Ahlus sunnah wal jama’ah, yang telah direkomendasikan kebenaran pemahaman dan pengamalam Islam mereka oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar [at-Taubah/9:100] {http://almanhaj.or.id/content/3581/slash/0/penyimpangan-dalam-nama-nama-dan-sifat-sifat-allh-azza-wa-jalla/}
Berikut beberapa kaidah penting yang ditetapkan oleh para ulama, terkait nama dan sifat Allah:
a. Mengimani segala nama dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Alquran dan sunnah (hadits-hadits sahih).
Artinya, kita tidak membedakan dalam mengimani segala ayat yang ada dalam Alquran, baik itu mengenai hukum, sifat-sifat Allah, berita, ancaman dan lain sebagainya. Sehingga tidaklah tepat jika seseorang kemudian hanya mengimani ayat-ayat hukum karena dapat dicerna oleh akal sedangkan mengenai nama dan sifat Allah, harus diselewengkan maknanya karena tidak sesuai dengan jangkauan akal mereka.
b. Menyucikan Allah dari menyerupai makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya.
Ketika kita mengakui segala nama dan sifat yang Allah tetapkan, seperti Allah maha melihat, Allah tertawa, betis Allah, tangan Allah, maka kita tidak diperbolehkan menerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat makhluk.
c. Menutup keinginan untuk mengetahui bentuk hakikat sifat-sifat Allah tersebut.
Yang perlu kita imani adalah Allah memiliki sifat yang bermacam-macam dan Allah maha sempurna dengan segala sifat yang dimiliki-Nya. Dan untuk mengimani sesuatu tidaklah mengharuskan kita harus mengetahui hakikat zat tersebut. Sebagai contoh, kita meyakini adanya roh (nyawa) walaupun kita tidak pernah mengetahi bentuk dan hakikat dari roh tersebut. Padahal roh adalah sesuatu yang sangat dekat dengan manusia namun akal kita tidak pernah mampu mengetahui bentuk dan hakikatnya.
Termasuk larangan dalam hal ini adalah membayangkan bagaimana bentuk dan hakikat sifat Allah, karena akan membuka pada penyimpangan lainnya, yaitu penyerupaan dengan makhluk. Yang perlu diluruskan adalah, larangan untuk mengetahui bentuk dan hakikat dari sifat-sifat Allah bukan berarti meniadakan adanya bentuk dan hakikat dari sifat-sifat Allah. hakikat sifat Allah tetaplah ada dan hanya Allah-lah yang mengetahuinya. (http://yufidia.com/tauhid-asma-wa-sifat)
Oleh karena itulah manhaj Ahlus sunnah wal jama’ah digambarkan oleh para ulama sebagai metode berislam yang a’lam wa ahkam wa aslam [Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Dar-u Ta’ârudhil ‘Aqli wan Naqli 3/95 dan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Ash-Shawâ’iqul Mursalah 3/1134] (yang paling sesuai dengan ilmu yang bersumber dari al-Qur’ân dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang paling bijaksana dan sesuai dengan hikmah yang agung, serta paling selamat dari kemungkinan menyimpang dan tersesat dari kebenaran) {http://almanhaj.or.id/content/3581/slash/0/penyimpangan-dalam-nama-nama-dan-sifat-sifat-allh-azza-wa-jalla/}
Dengarkan juga kajian ilmiah tentang penyimpangan dalam memahami tauhid Asma wa Shifat disini
Simpulan dan Penutup
Setelah penjelasan ini, rasanya sangat dungu jika ada yang menyamakan pembagian tauhid menjadi 3 dengan trinitas. Mudahnya begini, Alloh yang Maha Esa, Robbuna, mempunyai nama dan sifat Al-Malik, Ilaahinnaas (‘Ilah-nya manusia, yang wajib menjadikan segala peribadatan hanya kepada-Nya), dan sifat-sifat mulia lainnya, seperti As-Sami’ (Maha Mendengar) dan Al-Bashir (Maha Melihat). Apakah akan disamakan dengan aqidah trinitas yang mana Allah adalah salah satu dari YANG TIGA? Semoga Alloh menjaga kita dari tipu daya dan kelicikan para penebar kesesatan.
Pembagian tauhid menjadi tiga disimpulkan dari istiqra’ terhadap nash-nash Al-qur’an dan As-Sunnah yang diwarisi dari para ulama terdahulu, bukan sesuatu yang baru, apalagi diklaim ‘akal-akalan’ kaum salafi.
Bahkan inilah aqidah yang benar yang semestinya seluruh kaum muslimin memilikinya dan tidak menyelisihinya, agar mendapatkan jaminan sebagai muwahhid yang pasti masuk surga dan tidak akan kekal di neraka
Asy-Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad berkata:
“Dan tidaklah seseorang itu beriman dengan tauhid, apabila dia tidak beriman dengan pembagian ketiga tauhid yang bersandarkan dari nash-nash yang syar’i, tauhid yang diinginkan secara syar’i adalah beriman kepada keesaan Allah di dalam rububiyah, uluhiyah, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka barang siapa yang tidak meyakini secara keseluruhan berarti dia bukanlah seorang yang bertauhid”.
Akhirnya, kami meminta kepada Allah untuk menganugerahkan tauhid yang murni serta iman yang bersih. Dan semoga Allah memberikan taufik kepada kita dalam mengikuti petunjuk penghulu para rasul serta imamnya orang-orang yang bertauhid, yaitu nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. (http://statics.ilmoe.com/kajian/users/ashthy/Other/Mengapa-Tauhid-Dibagi-Tiga.pdf)
Wallohu A’lam. Semoga Bermanfaat
Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari kiamat.
 Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat
Abu Muhammad
Palembang, 28 Jumadits Tsaniyah 1434 H/ 8 Mei 2013
Download dalam bentuk pdf, artikel: Tauhid Itu Mengesakan Alloh yang Satu, Kok Dibagi Tiga (1 s.d 5, lengkap)
comments on “Tauhid Itu Mengesakan Alloh yang Satu, Kok Dibagi Tiga?
tahqiq
Assalamualaikum
Maaf ustadz. Ada yg membantah… bgimana dg surah ali imran 80. Kenapa bukan ilaahan. Tapi arbaban? Itu berarti tdk ada namanya rububiyah dan uluhiyah…..artinya arbaban tetap tuhan pencipta sekaligus yang di ibadahi…
wa’alaikumus salam. Saya bukan ustadz, tapi insyaAllah saya jawab
1. Seandainya dia meyakini bahwa hanya Allah lah yang berhak untuk diibadahi, walaupun tidak tahu dalilnya, maka hal tersebut sudah menandakan tauhid uluhiyahnya sudah benar
2. Pendalilan tauhid tidak adanya tauhid uluhiyah hanya dengan ayat tersebut tidak semerta-merta menggugurkan dalil-dalil tauhid uluhiyah yang lain (sudah saya sebutkan di halaman ini)
3. Mengakui adanya rabb (tauhid rububiyah) berkonsekuensi menyembahnya-Nya satu-satunya (tauhid uluhiyah) [QS. Maryam: 65]
4. Memang terkadang di dalam Al Qur’an atau As Sunnah kata rabb dipakai dalam konteks pembicaraan tertentu sementara yang dimaksudkan adalah makna ilah, bukan semata-mata rabb dalam artian rububiyah. Seperti ayat yang disebutkan oleh penanya yaitu surat Yusuf ayat 39. Di dalam ayat itu disebutkan perkataan Nabi Yusuf ketika berdakwah di dalam penjara, “Hai dua orang temanku di penjara.
Manakah yang lebih baik; rabb-rabb yang bermacam-macam itu ataukah Allah ilah yang esa lagi Maha Kuasa?” Kata rabb dalam ayat ini digunakan dengan makna ilah. Untuk membuktikan hal ini marilah kita lihat sebuah hadits yang menceritakan perbincangan antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
salah seorang sahabatnya yang dulunya Nasrani yaitu Adi bin Hatim.
Dari Adi bin Hatim, suatu ketika dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini, “Mereka (ahli kitab) telah menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka itu sebagai rabb-rabb selain Allah.” (QS. At Taubah: 31). Maka aku (Adi) berkata kepada beliau, “Sesungguhnya kami dahulu tidak menyembah mereka.” Nabi menjawab, “Bukankah dahulu mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kemudian kalian pun ikut mengharamkannya. Dan mereka juga menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan kalian pun ikut menghalalkannya?” Lalu kukatakan, “Iya, betul demikian.” Maka Nabi bersabda, “Itulah yang dimaksud penyembahan kepada mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Tirmidzi meng-hasan-kannya).
Hadits yang mulia ini menunjukkan banyak pelajaran yang sangat berharga kepada
kita, di antaranya:
Adi bin Hatim memahami makna ayat ‘menjadikan pendeta dan rahib sebagai rabb’ ialah menyembah mereka. Ini menunjukkan bahwa kata rabb di sini digunakan dan dipahami dengan makna ilah/sesembahan bukan rabb dalam artian pencipta, dsb.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujui pemahaman Adi bin Hatim bahwa makna ‘menjadikan pendeta dan rahib sebagai rabb’ adalah menyembah mereka, bukan dalam artian menjadikan mereka sebagai pencipta, penguasa dan pengatur alam ini. Sehingga Nabi dan Adi bin Hati sepakat tentang makna rabb dalam ayat ini adalah dipahami dengan makna ilah.
Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa kata rabb di dalam ayat di atas (QS. Yusuf: 39) adalah dipakai dan harus dipahami dengan makna ilah, berdasarkan realita dan pemahaman terhadap kandungan ayat-ayat Al Qur’an yang lain dan juga tafsiran dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut.(http://muslim.or.id/aqidah/menyoal-pemaknaan-syahadat.html)

Tanya bagaimana dengan illahinas, manusia ilahi, apakah rob bisa jadi manusia.!!
Tidak ada terjemahan spt itu. Ilahinnaas, terjemahannya: ilah (ma’bud bi haqqin = Tuhan yang berhak disembah) nya (oleh) manusia.
Ibnu Askha
mana dalilnya?mana hadistnya?
SAYA
Kok kayak konsep trinitasnya umat Kristiani ya?
Sudah coba tanya umat Kristiani kenapa ada Allah, Yesus dan Roh Kudus belum?
Menurut mereka Tuhan itu ESA, tapi untuk berkomunikasi dan menyebarkan ajaran tauhid versi mereka, Tuhan bermanifestasi menjadi 3, yaitu Allah (Tuhan), Yesus (Tuhan dalam wujud manusia supaya bisa bertatap langsung kepada manusia demi menyampaikan tauhid dan wahyu Tuhan) serta Roh Kudus (atau bagi umat Katholik, Bunda Maria – pihak perantara antara Allah dan Yesus). Kan Nabi Isa alaihissalam tidak pernah mengajarkan hal ini, tapi kaum-kaumnya-lah yang menyelewengkan tauhid yang ESA yang dibawakan Nabi Allah Isa alaihissalam.
Di dalam Al-Qur’an dan Hadits pun tidak ada penjelasan mengenai tauhid trinitas. Beriman kepada Allah ta’ala hanya perlu dengan kalimat:
“AKU BERSAKSI BAHWA TIADA ILAH (TUHAN) SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH.”
Kalau memang ada pendapat ulama yang berpendapat bahwa tauhid trinitas itu benar adanya, lalu apakah Al-Qur’an dan Hadits salah dan pendapat ulama-ulama lebih benar?
Kan pendapatnya pengikutnya Yesus berpendapat bahwa Yesus (Nabi Isa alaihissalam) adalah Tuhan, padahal Nabi Isa mati-matian menetapkan tauhid TIADA TUHAN SELAIN ALLAH kepada umat Yahudi saat itu, tapi pengikutnya lebih benar?
Bukankah itu bid’ah (hal-hal baru yang berbentuk akidah yang tidak disampaikan oleh Allah ta’ala dan Rasul-Nya)?
Sudah baca artikelnya 1 s.d. 5 belum? kalau belum, mohon dibaca dulu baru berkomentar. kalau sudah baca tapi komentarnya masih kayak gini. MUSIBAH