Friday, April 1, 2016

Analisa Terhadap Klaim Syi’ah Atas Hadits Ghadir Khum ( Bagian 3/3 )

Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya yaitu : Analisa Terhadap Klaim Syi’ah Atas Hadits Ghadir Khum bagian-2 di mana dalam artikel ini diungkap kelemahan hujjah Syi’ah dalam usaha mereka menghubungkan ayat Al-Maidah : 67 dan Al-Maidah : 3 dengan peristiwa Ghadir Khum.

Mereka suka Bermain dengan ayat-ayat Al-Qur’an
Al-Islam.org (situs Syi’ah) berkata:
Di tempat ini, ayat Al-Qur’an berikut ini diturunkan :
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia… (Qur’an 5:67)

Kalimat terakhir pada ayat di atas mengindikasikan bahwa Nabi (s) begitu perhatian dengan reaksi dari umatnya ketika beliau menyampaikan risalah, tetapi Allah memberitahukan kepada beliau untuk tidak khawatir karena Allah akan melindungi beliau dari gangguan manusia.

Ini adalah klaim yang sering diulang oleh Syi’ah, yaitu bahwa ayat 5:67 diturunkan sehubungan dengan penunjukkan Ali ra sebagai Khalifah; dengan kata lain, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam seharusnya tidak khawatir tentang reaksi buruk dari sahabat terhadap deklarasi mengenai Imamah ataupun Khilafah Ali ra.

Seperti kasus yang biasa terjadi, para da’i Syi’ah tidak mempunyai keberatan bermain-main dengan Al-Qur’an dan menggunakan Al-Qur’an sesuai kehendak mereka. Pada kenyataannya, ayat 5:67 tidak mungkin diturunkan dalam hubungannya dengan penunjukkan Ali ra, yaitu karena ayat tersebut ditujukan kepada Ahlul Kitab ( Yahudi dan Nashrani). Syi’ah mengambil ayat tersebut di luar konteksnya, tanpa mempertimbangkan ayat-ayat yang berada tepat sebelum dan sesudahnya. Mari kita lihat :

66. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.

67. Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

68. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

Jadi kita lihat bahwa ayat sebelum dan sesudahnya berbicara mengenai Ahlul Kitab, dan dalam konteks ini ayat 5:67 diturunkan, untuk meyakinkan kembali Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau seharusnya tidak takut terhadap kaum Yahudi ataupun Nashrani dan bahwa beliau seharusnya menyampaikan dengan jelas Risalah Islam dimana akan dibuat tertinggi di atas kaum Yahudi dan Nashrani. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam diceritakan dalam ayat 5:67 bahwa beliau tidak seharusnya takut gangguan atau niat buruk dari orang-orang ini, dan dalam ayat selanjutnya 5:68 Allah berfirman bahwa apa yang diturunkan kepada beliau hanya akan “menambah kedurhakaan dan kekafiran pada kebanyakan dari mereka”. Ini adalah sangat jelas bahwa kita sedang membicarakan kelompok manusia yang sama, yaitu orang kafir diantara ahlul kitab yang membuat gangguan dan yang menjadi keras kepala dalam kedurhakaan dan kekafiran. Kita akan melihat dengan semakin jelas hubungan kedua ayat tersebut dengan memperhatikan kata kunci (key words) korelasi antara ayat 67 dan 68, yaitu terletak pada مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ “apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu” . silahkan dilihat tulisan yang kami cetak tebal dan digaris bawahi di dua ayat tersebut.

Pada kenyataannya, seluruh bagian dari ayat-ayat tersebut membicarakan tentang Ahlul Kitab. Dimulai dari ayat 5:59 dan terus berlanjut sampai 5:86, mari kita perhatikan :

59. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik ?

60. Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

61. Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”, padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (daripada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

62. Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu.

63. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.

64. Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

65. Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka kedalam surga-surga yang penuh kenikmatan.

66. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Quran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Diantara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.

67. Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

68. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

69. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

70. Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.

71. Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencanapun (terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

72. Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

73. Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

74. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

75. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).

76. Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

77. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”

78. Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

79. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

80. Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.

81. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.

82. Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.

83. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.).

84. Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?.”

85. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya).

86. Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.

Sangat jelas sekali bahwa semua ayat-ayat di atas berbicara mengenai kaum Yahudi dan Nashrani, dan sungguh tidak masuk akal, kaum Syi’ah bisa “Cut & Paste” ayat Al-Qur’an sesuai dengan keinginan mereka. Ini adalah bentuk manipulasi terhadap firman Allah dan sebuah dosa yang besar yang akan membawa mereka kepada kekufuran. Namun juga, anda akan masih temui kaum Syi’ah secara umum mengklaim bahwa ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan Pidato di Ghadir Khum dan penunjukkan Ali ra. Jadi ini adalah tujuan akhir dari da’i Syi’ah dengan memutar balikkan Al-Qur’an dan hadits untuk menciptakan dongeng imajinasi bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menunjuk Ali ra sebagai khalifah.

Al-Islam.org berkata:

Di tempat ini, ayat Al-Qur’an berikut ini diturunkan :

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia… (Qur’an 5:67)

Beberapa referensi Sunni mengkonfirmasi bahwa turunnya ayat di atas terjadi tepat sebelum pidato Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam di Ghadir Khum:

(12) Dan banyak lagi seperti Ibnu Mardawaih dan lain-lain.

(1) Tafsir al-Kabir, oleh Fakhr al-Razi, komentar untuk ayat 5:67, jilid 12, hal 49-50, diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Al-Bara’ bin Azib, dan Muhammad bin Ali.

(2) Asbabun al-Nuzul, oleh Al-Wahidi, hal 150, diriwayatkan dari Athiyah dari Abu Sa’id Al-Khudri.

(3) Nuzul al-Qur’an, oleh al-Hafidz Abu Nu’aim diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri.

(4) Al-Fushul al-Muhimmah, oleh Ibnu Sabagh al-Maliki al-Makki, hal 24

(5) Durr al-Mantsur, oleh al-Hafidz As-Suyuthi, komentar terhadap ayat 5:67

(6) Fathul Qadir, oleh as-Syaukani, komentar terhadap ayat 5:67

(7) Fathul Bayan, oleh Hasan Khan, komentar terhadap ayat 5:67

(8) Syaikh Muhi al-Din al-Nawawi, komentar terhadap ayat 5:67

(9) Al-Sirah al-Halabiyah, oleh Nur al-Din al-Halabi, jil 3 , hal 301

(10) Umdatul Qari fi Syarah Shahih Bukhari, oleh al-Ayni

(11) Tafsir al-Nisaburi, jil 6, hal 194

Para da’i Syi’ah telah berdusta, tidak ada cara lain untuk menggambarkan tentang mereka itu, mereka menjadi terkenal kejahatannya karena kutipan sepotong-sepotong mereka. Di atas, Syi’ah memberikan dua belas sumber, Kita tampilkan saja sumber yang pertama, sedangkan sumber-sumber yang lain pada dasarnya setelah diteliti sanadnya lemah dan tidak bisa dipakai sebagai hujjah. Dasar pertama yang mereka pakai adalah Tafsir Al-Kabir Imam ar-Razi, Syi’ah mencoba membodohi Sunni dengan membuat seakan-akan Imam ar-Razi percaya bahwa ayat 5:67 ini turun di Ghadir Khum. Pada kenyataannya, Imam Razi mengatakan hal yang sungguh berlawanan dengan apa yang ada dalam kitabnya.

Imam Razi menyebutkan berbagai macam pendapat orang mengenai turunnya ayat tersebut. Beliau mendaftar 10 kemungkinan ketika ayat tersebut turun. Hal yang sudah diketahui dengan baik bahwa kebiasaan para ulama mendaftar adalah pandangan atau pendapat yang paling penting ditempatkan pada urutan yang pertama sedangkan yang paling tidak penting ditempatkan pada urutan yang terakhir. Ini seharusnya menarik para pendusta Syi’ah untuk mengetahui bahwa Imam Razi menyebutkan Ghadir Khum tetapi beliau tempatkan di urutan yang paling akhir, artinya dalam pandangan beliau hal tersebut adalah pendapat yang paling lemah yang mungkin terjadi.

Kita akan menampilkan komentar dari Imam Razi satu demi satu :

Para ulama tafsir menyebutkan banyak sebab turunnya wahyu tersebut :

Ayat ini diturunkan sebagai contoh untuk Rajam dan Pembalasan sebagaimana yang disebutkan sebelumnya dalam kisah mengenai kaum Yahudi.
Sebab ayat ini diturunkan karena celaan dan olok-olok terhadap agama oleh kaum Yahudi, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam hanya diam terhadap mereka, hingga ayat ini turun.
Ketika ayat berupa pilihan diturunkan, dimana bunyinya “wahai Nabi, katakan pada istri-istrimu” (QS 33:28), Nabi tidak menyampaikan ayat tersebut kepada mereka karena khawatir mereka akan memilih dunia, dan hingga ayat ini (5:67) turun.
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Zaid dan Zainab binti Jahsiy ra, Aisyah ra berkata : barang siapa menganggap Rasulullah menyembunyikan sebagian dari apa yang diturunkan kepadanya, maka dia telah melakukan kebohongan yang besar terhadap Allah, Allah telah berfirman : “Wahai rasul sampaikanlah..” dan apakah Rasulullah menyembunyikan sebagian dari apa yang diturunkan kepadanya, beliau akan menyembunyikan juga firman-Nya :”Dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya” (33:37).
Ini diturunkan berkaitan dengan jihad, kaum munafik membencinya, sedangkan beliau selalu menahan diri untuk mendesak mereka untuk berjihad.
Ketika firman Allah sedang turun :” Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (6:108), Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menahan dari mencaci sesembahan mereka, hingga ayat ini turun, dan Dia (Allah) berfirman : “Sampaikan.. “ kesalahan/kecaman tentang tuhan-tuhan mereka dan jangan sembunyikan, dan Allah akan melindungimu dari mereka.
Ayat ini diturunkan sehubungan dengan orang-orang Muslim yang benar, karena pada haji terakhir sesudah beliau mendeklarasikan aturan-aturan dan ritual haji, beliau berkata “ Sudahkan saya menyampaikan (nya kepadamu)? Mereka menjawab : Ya. Beliau berkata : Ya Allah saksikanlah.
Telah diriwayatkan beliau istirahat di bawah sebuah pohon dalam salah satu perjalanan beliau dan menggantungkan pedang beliau di pohon, ketika seorang Badui datang saat beliau sedang tidur dan menyambar pedang sambil berkata: “ Ya Muhammad, siapa yang akan melindungimu dari ku?” beliau berkata “Allah”, kemudian tangan Badui tersebut gemetar, pedang tersebut jatuh dari tangannya, dan dia membenturkan kepalanya ke pohon sampai otaknya terburai, kemudian Allah menurunkan ayat ini dan menjelaskan bahwa Dia akan melindungi beliau dari manusia.
Beliau selalu takut dengan Quraisy, kaum Yahudi dan Nashrani, maka Allah menghilangkan ketakutan ini dari hati beliau dengan ayat ini.
Ayat ini turun untuk menekankan keunggulan Ali ra, dan ketika ayat ini turun, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memegang tangan Ali dan berkata: “Siapa yang menganggap aku Maula, Ali adalah Maula-nya juga, Ya Allah jadikan teman orang-orang yang menjadikannya teman, jadikan musuh orang-orang yang memusuhinya. Tak lama kemudian, Umar menemuinya (Ali) dan berkata : “Ya Ibnu Abi Thalib! Selamat, sekarang anda adalah Maula-ku dan Maula setiap laki-laki dan wanita beriman.” Ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Bara’ bin Azib dan Muhammad bin Ali.


Anda seharusnya mengetahui kejadian dengan riwayat-riwayat ini banyak jumlahnya, ini lebih banyak sesuai untuk menjelaskan ayat tersebut Allah meyakinkan beliau perlindungan terhadap persekongkolan yang licik dari kaum Yahudi dan Nashrani dan memerintahkan beliau untuk mengumumkan pernyataan tanpa ada rasa takut kepada mereka. Hal ini karena konteks sebelum dan sesudah ayat ini menunjuk kaum Yahudi dan Nashrani; suatu hal yang tidak mungkin melemparkan sebuah ayat di tengah (dari ayat-ayat lain) sehingga asing terhadap apa yang ada sebelum dan sesudahnya.

 (Tafsir Al-Kabir, Fakhr al-Razi, di bawah komentar terhadap QS 5:67, jld 12, hal 49-50)

Dengan kata lain, Imam ar-Razi menyebutkan 10 kemungkinan tetapi beliau menyatakan bahwa hanya satu pendapat yang kuat bahwa ayat tersebut turun tentang kaum Yahudi dan Nashrani dan karena inilah mengapa beliau menyebutkan kemungkinan tersebut di urutan yang pertama.

Sungguh ajaib, ensiklopedia Syi’ah penipu tidak menyebutkan bahwa Imam ar-Razi menyebutkan 10 kemungkinan dan menyatakan bahwa yang paling beralasan adalah pendapat pada urutan yang pertama? Alih-alih Syi’ah bertumpu pada kutipan sepotong, sungguh, mereka adalah orang-orang yang mencintai Taqiyah dan penipuan. Kami mengingatkan kepada kaum Sunni awwam untuk tidak terkesan oleh daftar referensi mereka yang panjang.

Sedangkan riwayat-riwayat yang lain yang disebutkan di atas, ternyata setelah diteliti sanadnya adalah bermasalah dan lemah. Tidak bisa dipakai sebagai hujjah, dan tampaknya kurang perlu jika dipaparkan di sini karena akan banyak memakan tempat.

Intinya, tidak satupun sumber Sunni yang terpercaya mengatakan bahwa ayat 5:67 turun di Ghadir Khum.

Sebagaimana yang kita ketahui dengan baik, peristiwa Ghadir Khum terjadi dekat dengan wafatnya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, ketika seluruh jazirah Arab telah ditundukkan oleh kaum Muslimin dibawah bimbingan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, termasuk di dalamnya Nashrani di Najran dan kaum Yahudi di Yaman. Lalu apa sebenarnya yang ditakutkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menyampaikan sesuatu ketika para pengikutnya telah bertambah banyak seratus kali lipat? Tidaklah masuk akal ayat ini diturunkan pada saat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berada pada puncak kekuasaannya. Tetapi lebih masuk akal, ayat ini diturunkan jauh pada awal-awal masa kenabian beliau ketika Islam masih sedang berjuang untuk bertahan, dengan menghadapi banyak musuh disekitarnya.

Al-Islam.org berkata:

Segera setelah Nabi (s) selesai menyampaikan hal itu, ayat Al-Qur’an berikut ini turun :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (Qur’an 5:3)

Ayat di atas mengindikasikan dengan jelas Islam tanpa menjelaskan kepemimpinan sesudah Nabi (s) tidaklah sempurna, dan penyempurnaan dari agama adalah pengumuman dengan segera mengenai pengganti beliau.

Ini adalah bikinan Syi’ah yang lain, Al-Qur’an 5:3 diturunkan pada akhir pidato perpisahan di atas bukit Arafah, hal ini tercatat dalam shahih Bukhari, shahih Muslim, al-Sunan dan lain-lain :

“ini (ayat : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu…”) turun pada hari Jum’at, pada hari Arafah…”

Ayat ini turun di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah pada haji Wada` ketika beliau berdiri di Arafah. Dan saat itu adalah merupakan moment yang sangat tepat bagi penutupan risalah agama.

Adapun Ghadir Khum terjadi sepulang beliau dari haji Wada’ menuju Madinah, berarti jarak dengan turunnya ayat ke-3 ini adalah 9 hari. Lantas bagaimana mungkin ayat 67 di atas baru turun setelah Al-Maidah ayat 3 yang merupakan ayat Al-Qur’an yang terakhir/penutup yang turun kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam?!.

Mengapa Al-Qur’an diam seribu bahasa sehubungan dengan penunjukkan Ali ra?, pasti, Allah akan telah menyebutkannya dalam Al-Qur’an jika hal tersebut sebuah perintah yang jelas, Mengapa Allah diduga menurunkan ayat 5:67 dan 5:3 seluruhnya untuk Ali ra dan keimamahannya, tetapi Allah tidak memilih dengan cara yang sederhana dengan memasukkan nama Ali dalam ayat-ayat tersebut dan membuat nya jelas bagi kaum muslimin bahwa Ali ra adalah pemimpin kaum muslimin selanjutnya yang ditunjuk dengan jelas? Dan yang lebih membingungkan, ayat-ayat tersebut sama sekali tidak berbicara soal khalifah maupun imamah. Sungguh hal yang menakjubkan bagaimana Syi’ah selalu mengatakan bahwa ayat-ayat ini berbicara mengenai keimamahan Imam Ali ra sedangkan Allah tidak pernah menyinggungnya sama sekali.

Satu lagi syubhat Syi’ah adalah bahwa setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan hadits ghadir khum di atas, Umar ra dengan serta merta memberi selamat kepada Ali ra, menurut Syi’ah hal itu menunjukkan bahwa Umar ra mengakui Ali ra sebagai pemimpin. Benarkah demikian?

Tak lama kemudian, Umar menemuinya (Ali) dan berkata : “Ya Ibnu Abi Thalib! Selamat, sekarang anda adalah Maula-ku dan Maula setiap laki-laki dan wanita beriman.”

Umar ra memberi selamat kepada Ali ra di sini tetap dengan tidak bergeser dari makna Maula yaitu sebagai teman yang dicintai, jika Maula di sini diartikan Pemimpin atau Khalifah, jelas hal ini tidak mungkin karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam masih hidup di tengah-tengah mereka saat itu, tidak ada 2 khalifah dalam saat yang sama dan wilayah yang sama. Apalagi jelas Umar ra mengatakan “sekarang anda adalah Maula-ku dan Maula setiap laki-laki dan wanita beriman” dan Umar ra tidak mengatakan misalnya “Nanti (waktu yang akan datang) anda adalah Maula-ku dan Maula setiap laki-laki dan wanita beriman” .

Sehingga terjemahan yang tepat adalah : “sekarang anda adalah teman yang aku cintai dan teman yang dicintai oleh setiap laki-laki dan wanita beriman”. Gambaran situasi saat itu adalah orang-orang sedang mengkritik dan menyakiti Ali ra, dan setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda seperti di atas, Umar ra langsung memberi hadiah kepada Ali ra mendahului orang-orang yang lain untuk menghiburnya dengan kata-kata yang baik yaitu berupa ucapan selamat, hal ini menunjukkan bahwa Umar ra sangat baik dalam memuji Ali ra, yang hal ini sangat bertolak belakang dengan klaim Syi’ah yang menggambarkan permusuhan antara Umar ra dan Ali ra. Menggambarkan Umar ra sebagai penindas Ali ra. Apakah kata-kata di atas pantas diucapkan oleh seorang yang membenci Ali ra sebagaimana yang diklaim oleh Syi’ah?.

Pujian yang serupa kepada Sahabat yang Lain

Pada kenyataannya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menyebut Ali ra sebagai Maula tidak dapat digunakan sebagai bukti untuk penunjukkan Ali ra sebagai khalifah. Banyak sahabat yang lain yang dipuji dengan gaya yang serupa, dan tidak ada seorangpun memahaminya bahwa sahabat tersebut ditunjuk dengan jelas sebagai imam-imam yang maksum. Mari kita lihat contoh, kita ambil hadits yang berhubungan dengan Umar bin Khattab ra.

3686 – حدثنا سلمة بن شبيب حدثنا المقرئ عن حيوة بن شريح عن بكر بن عمرو عن مشرح بن هاعان عن عقبة بن عامر قال Y قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لو كان بعدي نبي لكان عمر بن الخطاب
قال هذا حديث حسن غريب لا نعرفه إلا من حديث مشرح بن هاعان K حسن 

(5/619)

Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, bahwasanya Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam bersabda “Jika ada Nabi sesudahku, tentu yang akan menjadi Nabi adalah Umar bin Khaththab.”[HR. Tirmidzi, 5/619 No. 3686]

Apakah kemudian kaum muslimin ahlus sunnah yang dulu sampai sekarang memahami hadits di atas sebagai bentuk penunjukkan kepada Umar ra sebagai pengganti Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam? Padahal pujian Nabi shalallahu ’alaihi wasallam tersebut sudah cukup layak sekali untuk mengatakan bahwa Umar ra pantas sebagai khalifah sepeninggal beliau, Coba anda bandingkan dengan hadits Maula dalam hadits Ghadir khum di atas.

Demikian juga hadits di bawah ini

3689 – حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنْ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Pada umat-umat terdahulu ada beberapa orang Muhadatsun (Orang yang menerima ilham). Dan jika ada satu pada umatku yang seperti itu, maka Umar adalah orangnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (3689) dan Muslim(Fadha’ilish-Shahabah/23) pada bab ”min fadha’ili Umar radhiyallahu ‘anhu (keutamaan Umar radhiyallahu ‘anhu”. Diriwayatkan juga oleh Tirmidzi 5/622 No. 3693)).

Coba lihat juga hadits tentang Abu Bakar ra.

وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً وَلَكِنْ أُخُوَّةُ اْْلإِ سْلاَمِ

Kalau aku mengambil seorang kekasih, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai khalil (kekasih), tetapi persaudaraan Islam lebih baik. (HR. Bukhari dengan Fathul Bary, juz 7, hal. 359, hadits 3654; Muslim dengan Syarh Nawawi, juz 15 hal. 146, hadits 6120)

Al-Khullah adalah kecintaan yang paling tinggi. Para ulama menyatakan bahwa derajat khullah lebih tinggi dari tingkatan mahabbah. Oleh karena itu seorang yang disebut sebagai khalil, lebih tinggi kedudukannya daripada habib. Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa Allah hanya mengambil dua orang manusia sebagai khalil, yaitu nabi Ibrahim dan Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan masalah mahabbah Allah sering menyebutkan dalam al-Qur’an, Allah mencintai orang-orang yang beriman, sabar, berjihad di jalan-Nya dan lain-lain.

Oleh karena itu, berdasarkan hadits-hadits ini dan banyak hadits serupa lainnya berbicara tentang sahabat yang lain, kita lihat bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menyebut Ali ra sebagai Maula (teman yang dicintai) bukanlah merupakan penunjukkan nabawiah untuk menjadikannya khalifah karena ada banyak hadits-hadits pujian serupa yang ditujukan kepada sahabat selain Ali ra. Syi’ah menolak semua hadits yang berkaitan dengan apa yang mereka tidak sukai dan menerima hanya hadits-hadits yang berhubungan dengan Ali ra. Maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa Syi’ah akan menerima riwayat hadits dari “Mickey Mouse” yang isinya pujian terhadap Ali ra dan menolak hadits-hadits pujian terhadap Abu Bakar ra ataupun Umar ra dan sahabat lainnya walaupun hadits–hadits tersebut diriwayatkan oleh imam Ali ra sendiri.

O iya satu lagi, mari kita lihat tambahan ke dua dari hadits Ghadir khum :

“Ya Allah, jadikan teman, orang-orang yang menjadi temannya, dan jadikan musuh orang-orang yang memusuhinya”

Bandingkan dengan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berikut ini mengenai Abu Bakar ra.

“…Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua (sebelum mereka masuk Islam). Namun kalian malah berkata, ‘Kamu adalah pendusta’. Berbeda dengan Abu Bakar yang membenarkan (ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan harta bendanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan) sahabatku?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu sebanyak dua kali. Sejak itulah Abu Bakar tidak pernah disakiti (oleh seorang pun dari kaum Muslimin. (HR. Bukhari)

Demikianlah, cara Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam membela sahabat-sahabat beliau yang memang mereka berhak untuk beliau bela pada kondisi yang memang memerlukan pembelaan beliau, baik itu Ali ra, Abu Bakar ra ataupun sahabat yang lainnya.

Kesimpulan :

Al-Qur’an surat Al-Maidah : 67 dan Al-Maidah : 3 turun tidak ada hubungannya dengan peristiwa Ghadir Khum dan tidak ada hubungannya dengan penunjukkan terhadap Ali radhiyallahu ‘anhu. Dan hadits-hadits mengenai keutamaan sahabat semacam Ghadir Khum juga banyak Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ucapkan kepada sahabat-sahabat yang lain, dan tidak ada di kalangan kaum muslimin ahlus sunnah menganggap hadits-hadits keutamaan semacam itu sebagai penunjukkan khusus kepada sahabat sebagai khalifah pengganti Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.  Wallahu A’lam biShowab.

Artikel di atas ditulis dengan banyak mengambil faedah dan disadur secara bebas dari artikel Ibn al-Hashimi, www.ahlelbayt.com dan dari beberapa sumber yang lain.

21 Responses : Lihat rujukan

Analisa Terhadap Klaim Syi’ah Atas Hadits Ghadir Khum ( Bagian 1/3 )
Analisa Terhadap Klaim Syi’ah Atas Hadits Ghadir Khum ( Bagian 2/3 )