Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang
lelaki kami memenggal kepala-kepala musuh; lainnya menembaki mereka dengan
panah-panah, sehingga mereka berjatuhan dari menara-menara; lainnya menyiksa
mereka lebih lama dengan memasukkannya ke dalam api menyala. Tumpukan kepala,
tangan, dan kaki terlihat di jalan-jalan kota. Kami berjalan di atas
mayat-mayat manusia dan kuda. Tapi ini hanya masalah kecil jika dibandingkan
dengan apa yang terjadi di Biara Sulaiman, tempat dimana ibadah keagamaan kini
dinyanyikan kembali. Di sana, para pria berdarah-darah disuruh berlutut dan
dibelenggu lehernya.”
Kisah di atas bukan skenario film yang fiktif, tapi
sungguh-sungguh pernah terjadi. Itu adalah pengakuan seseorang bernama Raymond,
salah satu serdadu Perang Salib I. Pengakuan ini didokumentasikan oleh August C
Krey, penulis buku The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses and
Praticipants (Princeton and London: 1991).
Bagi kaum Muslimin, Perang Salib I (1096-1099) memang
menyesakkan. Menurut catatan Krey, hanya dalam tempo dua hari, 40.000 kaum
Muslimin dan Yahudi di sekitar Palestina, baik pria maupun wanita, dibantai
secara massal dengan cara tak berperikemanusiaan. Cara pembantaiannya tergambar
dalam pengakuan Raymond di atas.
Sepak Terjang Tentara Salib
Sejak tentara Islam yang dipimpin Khalifah Umar bin
Khattab (638 M) yang berhasil membebaskan Palestina dari dari kekaisaran
Byzantium (Romawi Timur) sampai abad ke-11 M, Palestina berada di bawah
pemerintahan Islam dan merupakan kawasan yang tertib dan damai. Orang-orang
Yahudi, Nasrani, dan Islam hidup bersama. Namun kedamaian itu seolah lenyap
ditelan bumi begitu Tentara Salib datang melakukan invasi.
Ceritanya bermula ketika orang-orang kekhalifahan
Turki Utsmani merebut Anatolia (Asia Kecil, sekarang termasuk wilayah Turki)
dari kekuasaan Raja Byzantium, Alexius I. Raja ini kemudian minta tolong kepada
Paus Urbanus II, guna merebut kembali wilayah itu dari cengkeraman kaum yang
mereka sebut “orang kafir”.
Paus Urbanus II segera memutuskan untuk mengadakan
ekspedisi besar-besaran yang ambisius (27 November 1095). Tekad itu makin
membara setelah Paus menerima laporan bahwa Khalifah Abdul Hakim—yang menguasai
Palestina saat itu—menaikkan pajak ziarah ke Palestina bagi orang-orang Kristen
Eropa. “Ini perampokan! Oleh karena itu, tanah suci Palestina harus direbut
kembali,” kata Paus.
Perang melawan kaum Muslimin diumumkan secara resmi
pada tahun 1096 oleh Takhta Suci Roma. Paus juga mengirim surat ke semua raja
di seluruh Eropa untuk ikut serta. Mereka dijanjikan kejayaan, kesejahteraan,
emas, dan tanah di Palestina, serta surga bagi para ksatria yang mau berperang.
Paus juga meminta anggota Konsili Clermont di Prancis
Selatan—terdiri atas para uskup, kepala biara, bangsawan, ksatria, dan rakyat
sipil—untuk memberikan bantuan. Paus menyerukan agar bangsa Eropa yang bertikai
segera bersatu padu untuk mengambil alih tanah suci Palestina. Hadirin menjawab
dengan antusias, “Deus Vult!” (Tuhan menghendakinya!)
Dari pertemuan terbuka itu ditetapkan juga bahwa
mereka akan pergi perang dengan memakai salib di pundak dan baju. Dari sinilah
bermula sebutan Perang Salib (Crusade). Paus sendiri menyatakan ekspedisi ini
sebagai “Perang Demi Salib” untuk merebut tanah suci.
Mobilisasi massa Paus menghasilkan sekitar 100.000
serdadu siap tempur. Anak-anak muda, bangsawan, petani, kaya dan miskin
memenuhi panggilan Paus. Peter The Hermit dan Walter memimpin kaum miskin dan
petani. Namun mereka dihancurkan oleh Pasukan Turki suku Seljuk di medan
pertempuran Anatolia ketika perjalanan menuju Baitul Maqdis (Yerusalem).
Tentara Salib yang utama berasal dari Prancis, Jerman,
dan Normandia (Prancis Selatan). Mereka dikomandani oleh Godfrey dan Raymond
(dari Prancis), Bohemond dan Tancred (keduanya orang Normandia), dan Robert
Baldwin dari Flanders (Belgia). Pasukan ini berhasil menaklukkan kaum Muslimin
di medan perang Antakiyah (Antiokia, Suriah) pada tanggal 3 Juni 1098.
Sepanjang perjalanan menuju Palestina, Tentara Salib
membantai orang-orang Islam. Tentara Jerman juga membunuhi orang-orang Yahudi.
Rombongan besar ini akhirnya sampai di Baitul Maqdis pada tahun 1099. Mereka
langsung melancarkan pengepungan, dan tak lupa melakukan pembantaian. Sekitar
lima minggu kemudian, tepatnya 15 Juli 1099, mereka berhasil merebut Baitul
Maqdis dari tangan kaum Muslimin. Kota ini akhirnya dijadikan ibukota Kerajaan
Katolik yang terbentang dari Palestina hingga Antakiyah.
Teladan Shalahuddin Al-Ayyubi
Pada tahun 1145-1147 berlangsung Perang Salib II.
Namun pada peperangan ini tidak terjadi pertempuran berarti karena ekspedisi
perang tentara Eropa yang dipimpin oleh Raja Louis VII dari Perancis gagal
mencapai Palestina. Mereka tertahan di Iskandariyah lalu kembali ke negara
asalnya.
Perang besar-besaran baru terjadi sekitar empat
dasawarsa berikutnya pada Perang Salib III (1187-1191). Pada masa itu,
Kekhalifahan Islam terpecah menjadi dua, yaitu Dinasti Fathimiyah di Kairo
(bermazhab Syi’ah) dan Dinasti Seljuk yang berpusat di Turki (bermazhab Sunni).
Kondisi ini membuat Shalahuddin Al-Ayyubi, panglima perang Dinasti Fathimiyah,
merasa prihatin. Menurutnya, Islam harus bersatu untuk melawan Eropa-Kristen
yang juga bahu-membahu.
Melalui serangkaian lobi, akhirnya Shalahuddin
Al-Ayyubi berhasil menyatukan kedua kubu dengan damai. Pekerjaan pertama
selesai. Shalahuddin kini dihadapkan pada perilaku kaum Muslimin yang tampak
loyo dan tak punya semangat jihad. Mereka dihinggapi penyakit wahn (cinta dunia
dan takut mati). Spirit perjuangan yang pernah dimiliki tokoh-tokoh terdahulu
tak lagi membekas di hati.
Shalahuddin lantas menggagas sebuah festival yang
diberi nama peringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tujuannya untuk menumbuhkan dan membangkitkan spirit perjuangan. Di festival
ini dikaji habis-habisan sirah nabawiyah (sejarah nabi) dan atsar (perkataan)
sahabat, terutama yang berkaitan dengan nilai-nilai jihad.
Festival ini berlangsung dua bulan berturut-turut.
Hasilnya luar biasa. Banyak pemuda Muslim yang mendaftar untuk berjihad
membebaskan Palestina. Mereka pun siap mengikuti pendidikan kemiliteran.
Shalahuddin berhasil menghimpun pasukan yang terdiri
atas para pemuda dari berbagai negeri Islam. Pasukan ini kemudian berhasil
mengalahkan Pasukan Salib di Hittin (dekat Acre, kini dikuasai Israel) pada 4
Juli 1187. Pasukan Kristen bahkan akhirnya terdesak dan terkurung di Baitul
Maqdis.
Dua pemimpin tentara Perang Salib, Reynald dari
Chatillon (Prancis) dan Raja Guy, dibawa ke hadapan Shalahuddin. Reynald
akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti memimpin pembantaian yang sangat
keji kepada orang-orang Islam. Namun Raja Guy dibebaskan karena tidak melakukan
kekejaman yang serupa.
Tiga bulan setelah pertempuran Hittin, pada hari yang
tepat sama ketika Nabi Muhammad diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem dalam
Isra’ Mi’raj (bertepatan 2 Oktober 1187), pasukan Shalahuddin memasuki Baitul
Maqdis. Kawasan ini akhirnya bisa direbut kembali oleh pasukan Islam setelah 88
tahun berada dalam cengkeraman musuh.
Sejarawan Inggris, Karen Armstrong, menggambarkan,
pada tanggal 2 Oktober 1187 itu, Shalahuddin dan tentaranya memasuki Baitul
Maqdis sebagai penakluk yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang mulia.
Tidak ada dendam untuk membalas pembantaian tahun 1099, seperti yang dianjurkan
Al-Qur`an dalam surat An-Nahl ayat 127: “Bersabarlah (hai Muhammad) dan
tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu
bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada
terhadap apa yang mereka tipu dayakan.”
Permusuhan dihentikan dan Shalahuddin menghentikan
pembunuhan. Ini sesuai dengan firman dalam Al-Qur`an: “Dan perangilah mereka
sehingga tidak ada fitnah lagi dan agama itu hanya untuk Allah. Jika mereka
berhenti (memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan lagi, kecuali terhadap
orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 193)
Tak ada satu orang Kristen pun yang dibunuh dan tidak
ada perampasan. Jumlah tebusan pun disengaja sangat rendah. Shalahuddin bahkan
menangis tersedu-sedu karena keadaan mengenaskan keluarga-keluarga yang hancur
terpecah-belah. Ia membebaskan banyak tawanan, meskipun menyebabkan
keputusasaan bendaharawan negaranya yang telah lama menderita. Saudara
lelakinya, Al-Malik Al-Adil bin Ayyub, juga sedih melihat penderitaan para
tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk membawa seribu orang di antara
mereka dan membebaskannya saat itu juga.
Beberapa pemimpin Muslim sempat tersinggung karena
orang-orang Kristen kaya melarikan diri dengan membawa harta benda, yang
sebenarnya bisa digunakan untuk menebus semua tawanan. [Uskup] Heraclius
membayar tebusan dirinya sebesar sepuluh dinar seperti halnya tawanan lain, dan
bahkan diberi pengawal pribadi untuk mempertahankan keselamatan harta bendanya
selama perjalanan ke Tyre (Libanon).
Shalahuddin meminta agar semua orang Nasrani Latin
(Katolik) meninggalkan Baitul Maqdis. Sementara kalangan Nasrani Ortodoks–bukan
bagian dari Tentara Salib—tetap dibiarkan tinggal dan beribadah di kawasan itu.
Kemenangan tentara Islam yang dipimpin Shalahuddin
membuat marah dunia Kristen. Mereka kemudian mengirimkan pasukan gabungan Eropa
yang dipimpin Raja Perancis Phillip Augustus, Kaisar Jerman Frederick
Barbarossa dan Raja Inggris Richard “Si Hati Singa” (the Lion Heart).
Pada masa ini pertempuran berlangsung sengit. Pada
tahun 1194, Richard yang digambarkan sebagai seorang pahlawan dalam sejarah
Inggris, memerintahkan untuk menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan
di antaranya wanita-wanita dan anak-anak. Tragedi ini berlangsung di Kastil
Acre.
Suatu hari, Richard sakit keras. Mendengar kabar itu,
Shalahuddin secara sembunyi-sembunyi berusaha mendatanginya. Ia mengendap-endap
ke tenda Richard. Begitu tiba, bukannya membunuh, malah dengan ilmu kedokteran
yang hebat Shalahudin mengobati Richard hingga akhirnya sembuh.
Richard terkesan dengan kebesaran hati Shalahuddin. Ia
pun menawarkan damai dan berjanji akan menarik mundur pasukan Kristen pulang ke
Eropa. Mereka pun menandatangani perjanjian damai (1197). Dalam perjanjian itu,
Shalahuddin membebaskan orang Kristen untuk mengunjungi Palestina, asal mereka
datang dengan damai dan tidak membawa senjata. Selama delapan abad berikutnya,
Palestina berada di bawah kendali kaum Muslimin.
***
Perang Salib IV berlangsung tahun 1202-1204. Bukan
antara Islam dan Kristen, melainkan antara Takhta Suci Katolik Roma dengan
Takhta Kristen Ortodoks Romawi Timur di Konstantinopel (sekarang Istambul,
Turki).
Pada Perang Salib V berlangsung tahun 1218-1221.
Orang-orang Kristen yang sudah bersatu berusaha menaklukkan Mesir yang
merupakan pintu masuk ke Palestina. Tapi upaya ini gagal total.
Kaisar Jerman, Frederick II (1194-1250), mengobarkan
Perang Salib VI (1228), tapi tanpa pertempuran yang berarti. Ia lebih memilih
berdialog dengan Sultan Mesir, Malik Al-Kamil, yang juga keponakan Shalahuddin.
Dicapailah Kesepakatan Jaffa. Isinya, Baitul Maqdis tetap dikuasai oleh Muslim,
tapi Betlehem (kota kelahiran Nabi Isa `alaihis-salaam) dan Nazareth (kota
tempat Nabi Isa dibesarkan) dikuasai orang Eropa-Kristen.
Dua Perang Salib VII (1248-1254) dan Perang Salib VIII
(1270) dikobarkan oleh Raja Perancis, Louis IX (1215-1270). Tahun 1248 Louis
menyerbu Mesir tapi gagal dan ia menjadi tawanan. Perancis harus menyerahkan
emas yang sangat banyak untuk menebusnya.
Tahun 1270 Louis mencoba membalas kekalahan itu dengan
menyerang Tunisia. Namun pasukannya berhasil dikalahkan Sultan Dinasti Mamaluk,
Bibars. Louis meninggal di medan perang.
Sampai di sini periode Perang Salib berakhir. Namun,
beberapa sejarawan Katholik menganggap bahwa penaklukan Konstantinopel (ibukota
Byzantium, Romawi Timur) oleh Sultan Muhammad II Al-Fatih dari Turki (1453)
juga sebagai Perang Salib. Penaklukan Andalusia, kawasan Spanyol Selatan yang
diperintah dinasti Bani Ummayyah, oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella (1492),
juga dianggap Perang Salib.
Sumber:
*[Agung Pribadi, Pambudi.) –
www.hidayatullah.com